Rindu, Aroma & Anjing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 13 October 2021

Ada juga masa Maryam benar-benar tak dapat bertemu dengan laki-laki kurus yang bodoh itu. Dan lagi-lagi Pono, tak pernah berkata ke mana ia pergi. Kemudian tumbuhlah benalu. Asyik menggelayuti isi kalbu. Menghisap tenaganya sedemikian hebat, membuatnya rebah di antara tanah basah sisa hujan kemarin. Tak dapat bertemu seperti biasa, tertawa dan menari, atau bernyanyi, tak dapat bercerita, tak dapat mengatakan apa-apa. Hanya sekedar saling adu pandang atau genggam jemari saja tak bisa.

Dibiarkannya benalu itu tumbuh subur, menghisap sari pati tubuhnya, menikmati tiap tetes darah yang terserap dengan senyum bergelora. Menikmati sesak yang menyiksa di dada. Menikmati jiwanya berkelana mencari-cari si lelaki, pergi, sementara tubuhnya nyaris binasa. Namun tak apa.

Pono memang serupa bayu. Sesuka hatinya saja dirasanya bisa menghembus ke mana ia mau. Ia datang sebentar meniupkan damai, untuk kemudian esok pagi menghilang dengan menyisakan gelak tawa. Itu hari-hari yang begitu penuh tanya dan harap. Terkadang Pono berikan badai topan yang menghantam lemah tubuhnya, yang telah sebegitu ringkih dan rapuh. Mengirim burung-burung gagak dan mencabiki daging tubuhnya, lalu membiarkan tulang belulangnya berserakan di jalan-jalan raya.

“O, rindu. Rindu yang itu-itu juga,” Gumamnya.

Dirobeknya buku-buku puisi menjijikkan penuh kata-kata cinta. Dibakarnya dengan bara yang menyala pada matanya. Semua kertas berisi rangkaian kata biasa-biasa saja itu hangus jadi abu. Begitu pula lagu-lagu cinta, cinta yang itu-itu saja. Cengeng. Terasa seperti rengekan manusia yang tiada punya daya guna untuk hidup lagi. Dibantingnya radio ke bumi. Ia ingin dengar lagu-lagu kasar penuh hentak dan distorsi. Suara-suara yang membantunya menikmati kerinduannya. Dan jiwanya pun menari. Menari dengan pengharapan si lelaki akan datang kembali. Ia tahu pasti. Maka ia menunggu.

Hari-hari penantiannya juga dilaluinya dengan tidur di atas rel kereta, terjun dari gedung pencakar langit yang tinggi, memburu harimau di hutan belantara, berteriak-teriak di bus kota, menciumi tangan tukang minta-minta, menyumpahi orang-orang yang baru turun dari mobil mewahnya, sepanjang hari tertawa-tawa, dan banyak hal lainnya, begitu caranya ia tetap bahagia.

Siang ketika Pono dan dosen pembimbingnya sedang menikmati segelas kopi di kantin kampus, tiba-tiba tercium aroma sesuatu. Ia bangkit dan dicobanya mengendus lebih dalam. Diraihnya tas dan berjalan mengikuti aroma itu. Meninggalkan sang Dosen beserta kertas-kertas memuakkan itu.

“He, Pono, bab tiga belum selesai dibahas!” Protes sang dosen.
“Kapan-kapan saja, Mas, saya ada urusan mendadak.” Jawabnya dari ujung kantin.

Pono terus berjalan dan mengikuti kemana aroma itu membawanya, rasanya memang aroma yang tak asing lagi. Seolah itu GPS yang memandunya berjalan ke sebuah tujuan. Ia mengendus dan mengendus, memastikan kemana ia berjalan, layaknya anjing gila kelaparan mencari makanan di tempat-tempat sampah. Ia memasuki stasiun. Aroma itu menuntunnya pada sebuah bangku panjang tempat penumpang menunggu kereta. Duduk ia di sana. Hidungnya terus menghirup aroma itu. Wangi, wangi sekali.

Aroma itu tenggelam bersamaan ketika bunyi bel tanda kereta datang, lantas aromanya kembali menuntunnya masuk ke dalam kereta. Ia bangkit dan masuk, mengikuti hidungnya, duduk di bangku penumpang dan terus saja menciumi aroma itu. Tapi tak ada apa-apa di sana. Berpasang-pasang mata melihatnya berkali-kali mengendus, ke bawah bangku, untuk menemukan sumber dari aroma itu, tapi tetap saja tak ada apa-apa di sana.

“Bocah edan!” Maki seorang perempuan tua di sebelahnya ketika hidung Pono mencoba mengendus aroma tubuhnya. Bukan itu bukan aroma tubuh si perempuan tua.

Ia terus duduk dan menikmati aroma sama-samar itu sampai ketika kereta tiba di stasiun kota. Aroma itu menguat, digiringnya keluar dari kereta, membuat keributan karena berlarian di sepanjang koridor, menubruk orang-orang yang sedang berjalan perlahan. Ia tak peduli, ia terus berlari. Andai saja orang-orang itu dapat mencium aroma yang ia hirup itu, maka pastilah mereka akan gila dibuatnya seperti dirinya.

Ia keluar stasiun dan terus mengikuti aroma itu, diendusnya kesana-kemari, aroma itu menguat dan terus menguat, menariknya, seakan tak sabar hendak segera tahu ia pun terus berlari. Ia berlari di sepanjang trotoar dan memasuki sebuah toko buku.

Pono semakin keranjingan tak tahan lagi. Dan terus mengikuti aroma itu. Diendusnya rak-rak buku, jajaran buku-buku yang tertata rapih, aroma itu menghilang kembali. Pono kecewa dan berjalan keluar, meninggalkan penjaga dan kasir yang hanya melihatnya keheranan. Ketika ia keluar dari toko buku, satpam memeriksa tubuhnya barangkali ia mencuri sebuah buku, namun tak ditemukan apapun sehingga ia dibiarkan pergi. Barangkali tampangnya begitu mencurigakan, dan tiba-tiba aroma itu kembali datang, merayunya untuk mendekat. Ia beranjak pergi.

Diikutinya aroma itu kembali, membawanya ke sebuah taman. Barangkali itu aroma bunga-bunga di sana. Tapi percuma hidung Pono mengendusnya satu-persatu, tak ada satupun bunga di sana punya aroma seperti itu.

Pono mengelilingi kota, mencari sumber aroma itu, ia sudah dibawa ke emperan pertokoan, museum, pekuburan tua, kedai kopi, pemukiman kumuh pinggir kali, gedung bioskop, tempat pertunjukan teater, kampung tempat ia menonton wayang, pinggir danau, pedagang makanan kaki lima malam hari, tapi tak jua menemukan sumber aroma itu.

Ia dibuat kesal, maka sepanjang jalan ia memaki-maki.
“Bangsat! Aroma apa ini!”

Setengah putus asa. Diikutinya aroma itu dengan langkah yang mulai lelah. Terus menuju pada sebuah apartemen. Menaiki elevator, dan dibawanya Pono pada sebuah kamar, di mana Maryam tinggal. Ia berdiri di sana, di depan pintu. Agak lama, Sampai aroma itu memudar pula.

Ia benar-benar merasa putus asa pada akhirnya dan hendak memutuskan pergi, tapi tiba-tiba saja pintu itu terbuka, seorang gadis bergaun merah keluar dari sana dan memanggilnya,

“He, laki-laki tolol!”
Suara yang menggema di koridor itu membuat Pono menengok ke belakang, menemukan sosok yang selama ini telah lama pergi, Maryam.
“Aku meneleponmu dan kamu tidak menjawab, brengsek!”

Pono duduk di sofa, melihat perempuan itu baru saja selesai memasak dan menghidangkan dua piring nasi goreng, masih panas.
“Ayo makan, kau pasti lapar, kan?”

Kadang ada juga perasaan dikala Maryam jengkel dengan kelakuan Pono, pemuda kurus yang kerjaannya melayang-layang di udara kosong itu. Pono sering sekali melayang dan melayang, kenapa juga ia harus memilih jadi angin? Berlagak seenaknya terbang kesana-kemari, menghembus datang dan pergi, juga kadang menjelma badai dan mengamuk semaunya, menghancurkan tulang-belulang perempuan yang sudah rapuh dan bertambah rapuh itu. Padahal, alangkah lebih mudah jika saja Pono menjelma sebagai anjing. Ya, lucu pastinya. Membayangkan pemuda berambut gondrong itu menjulurkan lidahnya, lalu akan diajaknya Pono bersalaman. Pintar, ia menyerahkan kakinya untuk bersalaman. Ia begitu penurut. Lihatlah, sekarang dia sedang memakan makanannya di piring pada lantai apartemennya, dan ia makan dengan lahap sekali.

Bila saja ia jadi anjing penurut yang lucu dan pintar, akan diberikannya daging segar yang disukainya, atau susu, lalu ia boleh memandangi wajah Maryam lama dengan tatapan manja, lidahnya menjulur, liurnya membasahi karpet, lucu, lucu sekali. Maryam akan memandangnya, dan melihat ekornya bergoyang-goyang karena senang. Maryam pastilah akan turut melonjak-lonjak kegirangan, mengajaknya menari. Hal itu pasti akan membuatnya merasa gemas. Lalu, si gadis akan menepuk-nepuk punggungnya dan memeluk tubuh kurusnya.

“Ya, ya, anak pintar.”

Kalau saja Pono pintar semacam itu, Maryam pastilah akan mengajak Pono berkeliling, dan takkan bisa ia lari terlalu jauh karena ikatan tali kekang yang dikalungkan di lehernya. Pastilah begitu menyenangkan, berjalan-jalan pada sore hari yang indah, dengan angin semilir yang begitu tenang, ke taman kota yang bisa mereka datangi setiap hari. Lalu akan diajaknya ia bermain lempar tangkap, ia akan menangkap segala yang dilempar Maryam, dan ia tidak perlu khawatir pasti dirinya amat bahagia.

Bila begitu, bukan Maryam yang terus-terusan menunggunya, jadi ia takkan merasai lagi ada benalu tumbuh subur menggelayuti isi kalbunya. Pono akan dengan tenang menungguinya, bila ia pergi untuk bekerja ke taman bunga, Pono akan berbaring sepanjang hari di kamar apartemennya. Biar saja lama pun dia tidak akan protes, karena dia anjing. Dia akan setia terus menunggunya pulang. Iya kan? Kalau ia bosan biarlah ia mencoba menggigit ekornya sendiri, atau melompat-lompat, atau bermain-main di ranjang.

Selain itu kamar apartemennya pasti juga akan aman karena takkan ada yang berani mencuri pula, pasti Pono akan dengan gagah berani menjaga dan melindunginya, juga barang-barang berharga di sana. Ia takkan lagi merasai resah barang sedikit. Bila suatu hari pemburu tua itu datang lagi mengusik hidupnya, menodongkan senapan ke arahnya, Pono pasti akan mengerahkan seluruh tenaga dan keberaniannya untuk menyerang, dan kemudian menggigit leher pemburu tua bangka itu sampai mati. Atau ia juga rela menyerahkan jiwanya bila harus mati tertembak oleh sang pemburu, bukan seperti ketika itu, diam saja dan menyerahkan dirinya pada takdir.

Tapi Maryam heran, mengapa tubuhnya itu tak kunjung gemuk dan malas makan, barangkali si anjing kurus itu cacingan. Wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat. Tapi tenang Maryam akan membawanya ke klinik hewan untuk memberinya suntik. Dan ia akan segera kembali makan dengan lahap dan bermain-main dengan riang.

Kalau Pono bandel, seperti bertingkah diluar kendalinya, Maryam juga tinggal menghukumnya. Ia takkan diberi makan daging segar, dan ia juga tak bisa keluar kamar. Rasakan! Siapa suruh nakal?

Nyatanya manusia tidak bisa disamakan dengan anjing. Anjing pun barangkali tak sudi bila disamakan dengan manusia. Apalagi manusia seperti Pono. Kalaupun ia bisa berani, rela berkorban, setia, penyayang dan penurut, barangkali kemungkinan ia manusia setengah anjing. Itupun kalau anjingnya mau jadi setengah manusia seperti dirinya.

Memikirkan hal itu, Maryam jadi kesal sendiri, lalu dijewernya kuping pemuda kurus itu yang sedang menikmati nasi gorengnya.

“Apa-apaan sih? Sakit, tahu!”

Jakarta, 15 Februari 2020

Cerpen Karangan: Mas.ubi
Facebook: Facebook.com/ayyubi.kun
Seorang Mahasiswa tingkat akhir

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Rindu, Aroma & Anjing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cia dan Pia Mau Beli PS4

Oleh:
“Piaaaaaa! Ciiiaaaaa!” Sebuah teriakan menggelegar dari sebuah rumah di dalam komplek perumahan padat penduduk. Teriakan itu membuat panik semua warga. Seketika, 8 unit mobil patroli polisi dan 4 unit

Gak Lucu

Oleh:
Sebulan full ini idup gue udah gak karuan, waktu udah gak teratur, makan aja udah lupa. Tidur slalu malem ampe jam empat subuh, eh gue tidur, solatpun ketinggalan bro,

Berlibur Ke Bali

Oleh:
Hari hampir senja, matahari mulai malu-malu menutup diri di ufuk barat. Seorang cowok remaja belia terlihat sedang berlari-lari berjuang untuk menyelamatkan diri. Guk guk guk! Anjing-anjing itu menyalak dan

Super Tenang

Oleh:
MALAM itu waktu menunjukan 22.44. pria itu terlihat masih mematung seperti ada beban yang begitu berat di pundaknya. Dirinya tetap terdiam di kursi ruang tunggu. Hanya duduk sendirian dengan

Kentut Palsu

Oleh:
Bruuuuutt… terdengar samar di telingaku. Ku lihat di sekitarku tampak acuh dan damai. Apakah hanya aku yang mendengarnya? Udaranya mulai merambat, sedikit demi sedikit bau yang tercium seperti Zombie

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *