Serial Kim Jong Un (Part 1) Mesin Pembunuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 December 2017

Akim, Ijong, Samiun adalah tiga sahabat. Mereka dilahirkan di hari tanggal dan tahun yang sama. Mereka tumbuh tanpa mengenal siapa orangtua kandung mereka. Mereka tinggal di panti asuhan yang sama. Dan ke mana-mana selalu bersama. Orang-orang pun memanggil mereka Kim Jong Un. Mereka juga diadopsi oleh seorang konglomaerat tua yang sama. Yang seminggu kemudian meninggal. Kakek itu tidak memiliki anak dan istri. Jadi seluruh harta kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan itu jatuh ke tangan mereka. Tapi mereka tetap rendah hati. Di sekolah mereka tidak menunjukan diri sebagai anak orang kaya.

Kini mereka mulai menginjak remaja usia mereka telah 13 tahun dan mulai mengenal cinta. Mereka bertiga naksir sama kakak kelas mereka. Namanya, Yaumil, Wafa dan Aulia. Hal itu bermula ketika masa orientasi siswa. Mereka bertiga melongo melihat gadis cantik yang sedang berbicara di depan mereka. “Jong lihat deh yang ada tahi lalat di bawah matanya cantik ya?” Tanya Kim pada Jong. “Yang tahi lalatnya di atas bibir itu lebih manis” jawab Jong. “Yang tahi lalatnya di hidung itu mirip artis dangdut idolaku”. Ucap Un menimpali. Karena belum berpengalaman ini untuk pertama kalinya bagi mereka. Akhirnya google pun jadi tujuan. “Bagaimana cara mendapatkan hati gebetan” itu yang mereka tulis. Dari banyaknya kata di artikel itu yang menjadi pusat perhatian mereka yaitu tak kenal maka tak sayang dan pengorbanan.

Saat itu mereka bertiga berjalan menuju taman. Dan melihat Yaumil, Wafa, dan Aulia sedang duduk di taman membaca buku pelajaran. Karena hari ini ulangan. Kim Jong Un berusaha memperkenalkan diri. Kim menawarkan tangannya pada Yaumil, Jong pada Wafa dan Un pada Aulia. Tapi mereka dikacangin. Tawaran mereka tidak dihiraukan Yaumil, Wafa dan Aulia. Yaumil, Wafa, dan Aulia pergi meninggalkan tiga cowok tampan itu karena merasa terganggu. Tapi mereka tidak menyerah besoknya mereka coba lagi ketika bertemu di jalan tapi sama dikacangin. Besoknya lagi dicoba saat makan di kantin dan tetap dikacangin juga. Sekedar ingin berkenalan dengan cewek paling populer di sekolah itu sudah susah. Apalagi kalau ingin dekat, jauh-jauh ke pacar itu yang mereka rasakan.

Hari ini mereka heran kenapa Yaumil, Wafa, dan Aulia tidak ada di sekolah. Mereka pun mencoba mencari tahu. Dan ternyata kata bu guru Yaumil, Wafa, dan Aulia sakit.

Teng-teng, bunyi bel tanda pulang sekolah. Semua murid pun keluar kelas termasuk Kim Jong Un.

Kini mereka bertiga sudah berada di halte menunggu kendaraan umum lewat. Menurut bu guru jarak sekolah dengan rumah cewek yang mereka taksir cukup jauh jadi harus tiga kali naik angkutan umum. Dan kini mereka sudah berada di angkot yang ketiga, tinggal 2 km lagi mereka akan sampai di rumah sang pujaan hati.

Saat di angkot itu mereka duduk berhadapan dengan tiga orang wanita yang memakai pakaian putih-putih. Kim Jong Un berpikir pasti tanteu-tanteu montok ini dokter dan setelah berkenalan ternyata mereka bertiga adalah ilmuwan. Sesuai dengan lencana yang bertuliskan hurup A yang terpasang di baju mereka masing-masing. Nama mereka juga berinisial A. yaitu Ana, Alvi dan Anita.

Saat itu cuaca memang panas di luar. Kim Jong Un merasa kepanasan terasa seperti di dalam oven dan rasa haus tak terelakan lagi. Jadi air minum yang diberikan tanteu-tanteu montok tadi itu pun mereka minum. Satu orang satu botol dan air itu habis sekali minum. Setelah air itu habis tiba-tiba kepala mereka terasa pusing dan mereka pun tak sadarkan diri.

Ketika sadar Kim Jong Un sudah dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat mereka terbaring di dalam sebuah laboratorium. Di sekeliling mereka terdapat tabung-tabung berisi organ tubuh manusia dalam sebuah larutan cairan kimia. Kim bangun dia berhasil membebaskan diri keluar dari laboratorium itu dan mencari teman-temannya di ruangan lain. Tapi Kim salah masuk ruangan. Dia malah masuk ruangan ketiga ilmuwan jahat tadi. Dia mendengar semua apa yang mereka bicarakan. Ternyata mereka bertiga adalah ilmuan jahat yang menjual organ dalam manusia. Dan organ tubuh itu diganti dengan program-program robot canggih dan akan dijadikan mesin pembunuh. Organ tubuh itu akan dijual ke sebuah rumah sakit di luar negeri dan mesin pembunuh itu akan dijual ke sebuah agen intelejen militer rahasia.

Saat itu Kim melihat tanteu Alvi sudah bersiap-siap dengan peralatan bedahnya untuk mengeksekusi Jong dan begitu juga tanteu Anita yang sudah siap untuk mengeksekusi Un. Mereka hanya menuggu tanteu Ana yang sedang menelepon agen intelejen rahasia itu bahwa mesin pembunuh baru bisa dikirim besok pagi dan juga menelepon pihak rumah sakit bahwa organ tubuh itu 2 jam lagi siap dikirim. Kim kaget bahwa nyawa sahabatnya sedang dalam bahaya. Dia pun bermaksud keluar dari ruangan itu. Tapi dia ketahuan dia tak sengaja menyenggol vas bunga dan memecahkannya.

Kim berhasil keluar dari ruangan tapi ketiga iblis itu mengejarnya. Dan kim sekarang sudah ada di bibir jurang. Tapi tiga wanita itu mendekatinya semakin mendekat-semakin mendekat dan kim akhirnya jatuh ke jurang. Karena merasa Kim sudah mati ketiga wanita itu pun pergi meninggalkannya.

Kim belum mati. Ketika jatuh tangannya masih sempat memegang akar gantung pohon beringin yang ada di bibir jurang itu. Akar gantung itu panjang menjuntai. Dia berusaha untuk naik ke atas jurang namun tak bisa. Rasa lelah pun dirasakan oleh otot-otot di tangannya. Perlahan-lahan cengkraman kuatnya pun pada akar gantung itu ia lepaskan. Dalam hatinya ia berkata “maafkan aku kawan-kawan aku tak bisa menolong kalian, dan maafkan juga aku. Karena aku telah berdosa pada kalian. Aku akan mati dengan tenang sedangkan kalian akan hidup tersiksa. Maafkan aku” Dia pun menutup matanya dan melepaskan pegangannya itu.

Kim merasakan ada sesuatu yang dingin sedingin es memegang tangannya. “Mungkin inikah kematian, mungkin dia malaikat maut yang telah memegang tanganku.” Pikirnya. Dia pun penasaran ingin melihat seperti apa rupa dari malaikat maut itu. Kim pun membuka matanya. Dia pun melihat tangan malaikat maut yang memegang tangannya tadi. Tapi dia merasa aneh. “Kok malaikat maut pake batu akik ya?. Merah delima lagi.” Perasaan anehnya bertambah setelah dia mendengar suara malaikat maut itu. “Kok aku kenal suaranya ya? Kayak suara si Anto? Temenku yang udah seminggu gak masuk sekolah” Suara itu semakin keras. “Woy buruan berat nih” ternyata itu benar suara si Anto teman sekelasnya si penggemar batu akik. Tangan kananya memegang tangan Kim dan tangan kirinya memgang tali. Tapi Kim tidak meraih talinya dia malah melihat bengong wajah anto yang pucat. “Ah kelamaan” ucap Anto sembari melemparkan Kim dengan kekuatan supernya ke atas jurang.

“To kenapa lo jadi gini” ucap Kim. “Udah ceritanya nanti saja”. Jawab Anto sembari membawa lari Kim secepat kilat. Kim pun kaget “waaa…”

Anto membawa Kim ke ruangan dimana Jong dan Un berada. Dan ternyata Jong dan Un belum dieksekusi. Setelah melepaskan tali yang mengikat Jong dan Un. Mereka pun dibawa lari secepat kilat oleh Anto dan kembali suara itu terdengar dan kali ini lebih banyak suara “waa… waa… waa…”.

Anto membawa Kim Jong Un ke pinggir danau di tengah hutan karena ia merasa tempat ini paling aman dan tidak akan terdeteksi oleh mesin pembunuh lain. Di sana Anto pun menceritakan kisah hidupnya kenapa ia bisa sampai jadi mesin pembunuh. “Aku waktu itu baru pulang dari apotek. Aku membeli obat untuk ibuku yang sakit. Lalu aku naik angkutan umum. Di dalam angkot itu aku duduk behadapan dengan Tanteu Ana, Alvi dan Anita. Aku pikir mereka orang baik. Aku hanya melihat dari wajah dan penampilannya saja. Jadi ketika mereka memberiku minum. Aku minum saja. Karena saat itu aku sangat kehausan. Lalu aku pingsan dan setelah bangun. Aku jadi seperti ini. Tapi aku masih ingat ibuku. Aku pun pergi ke rumah dan ternyata ibu sudah meninggal. Lalu ilmuwan itu memanggilku kembali ke sini. Aku tak bisa menolak apalagi melawan. Ketika mereka memerintahku. Tapi aku tahu saat mereka memerintahku hal pertama yang aku rasakan adalah sakit kepala yang teramat sangat. Dan sekarang pergilah kalian karena kalau tidak aku akan membunuh kalian.” Tanpa pikir panjang kim jong un pun lari dan Anto pun mengejarnya. Mesin-mesin pembunuh yang lain datang ikut membantu. Mereka ada yang terbang dan ada yang keluar dari dalam tanah.

Sebelumnya Anto berwasiat bahwa Kim Jong Un harus bersembunyi di dalam gubuk pinggir hutan ini. Karena gubuk ini dilindungi oleh semacam energi gaib sehingga tidak bisa dimasuki oleh seseorang atau sesuatu yang bersifat jahat. Anto telah membuat sebuah lorong bawah tanah. Lorong itu menghubungkankan gubuk dan laboratorium. Dimana tidak seorang pun tahu. Hanya Anto dan tuhan lah yang tahu.

Kim Jong Un berhasil masuk ke dalam gubuk itu. Mesin pembunuh itu mencoba masuk namun tak bisa termasuk Anto sendiri. Gubuk itu memang ajaib termasuk orang yang sedang marah pun tidak akan bisa masuk ke dalam gubuk itu. “Jika kalian punya jiwa nasionalisme kalian pasti mau melakukan itu, kalian harus menyelamatkan para pemuda harapan bangsa. Masa depan Bangsa ada di tangan kalian” kata-kata itu yang memotivasi Kim Jong Un untuk menghentikan kasus penculikan ini. Dimana sebelumnya mereka hendak pergi dari hutan setelah berhasil lolos.

Karena marahnya para mesin pembunuh itu lalu membakar gubuk itu. Lalu mereka pun pergi. Karena mengira Kim Jong Un tidak mungkin selamat. Sementara itu Kim Jong Un telah memasuki lubang yang dibuat oleh Anto. Lalu mereka pun berjalan memasuki lorong menuju laboratorium terkutuk itu dan sampailah mereka di laboratorium itu. Mereka pun masuk ke dalam ruang pemrogaman. Dan alangkah kagetnya mereka ternyata tanteu-tanteu montok itu berada di sana. Tidak ada jalan lagi untuk mundur. Setelah berunding, Kim Jong Un memutuskan untuk melawan saja. Kim pun maju dan mengajukan penawaran.

“Dulu aku kalah melawan kalian bertiga, dan aku rasa itu tidak adil. Sekarang kita tiga lawan tiga dan aku rasa itu baru adil. Kalau kami menang kalian hentikan penculikan ini dan menyerahkan diri kalian ke polisi. Kalau kalian yang menang. Kalian boleh menjadikan kami mesin pembunuh. Bagaimana?”

Tanpa dipikir panjang para tanteu itu pun menerima penawaran itu karena yakin pasti menang. Kim melawan tanteu Ana, jong melawan tanteu Alvi dan Un melawan tanteu Anita. Tapi mereka salah duga. Kim jong Un ternyata sangat kuat. Ini karena obat yang diberikan Anto sewaktu di hutan. Obat itu seharusnya diminum oleh para tanteu montok itu namun Anto mencurinya. Akhirnya di ronde yang pertama Kim Jong Un pemenangnya.

Waktu istirahat sebelum ronde dua dimulai. Para tanteu montok itu pun mengatur siasat. Dan akhirnya mereka menemukan cara bagaimana mengalahkan Kim Jong Un. Akhirnya Kim Jong Un kalah. Setelah melihat tanteu Ana berubah menjadi Yaumil tanteu Alvi menjadi Wafa dan tanteu Anita menjadi Aulia. Sebenarnya itu halusinasi mereka akibat cairan zat kimia yang dicampurkan pada minuman yang dicampurkan pada minuman mereka. Sewaktu mereka beristirahat. Oleh seorang oknum.
Kim jong Un tidak bisa melawan. Mereka lemah terhadap orang yang mereka cintai. Tanpa bersusah payah Kim Jong Un berhasil diikat kembali. Mereka kembali pingsan.

Kim sadar dan membuka mata dia melihat Anto Jong dan Un, Sedang melepaskan ikatannya. Sembari melepaskan Anto berbicara “saat kalian memasuki ruang pemrogaman tadi sebenarnya tanpa kalian sadari aku telah mengikuti kalian. Aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan benar saja. Di ruangan itu malah ada 3 tante nakal itu. Saat kalian ke luar ruangan untuk bertarung. Aku dengan cepat masuk ruang pemrograman itu. Aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memprogram semuanya. Tapi pertarungan kalian berhasil mengalihkan perhatian mereka. Sehingga aku tidak ketahuan. Aku pun berhasil memerintah semua mesin pembunuh untuk membantuku meringkus tanteu-tanteu itu. Dan aku berhasil. Aku juga sudah memanggil polisi. Sekarang bantu aku”.

Dia pun lalu mengajak Kim Jong Un ke sebuah ruangan yang cukup luas. Lalu dia pun memanggil semua mesin pembunuh itu dan menyuruhnya berbaris dengan rapi. “Nah sekarang ikuti aku” ucap Anto sembari memencet sebuah tombol yang ada di punggung mesin pembunuh Itu. Dan mesin pembunuh itu pun mati. Kim Jong Un tidak mengikuti apa yang Anto lakukan. Karena semua mesin pembunuh yang berjumlah 100 itu dengan secepat kilat sudah dimatikan oleh Anto. Ternyata Anto hanya pamer kehebatan saja. Itu sebagai tanda salam perpisahan dari Anto untuk Kim Jong Un.

“Aku punya 3 permintaan untuk kalian…” belum sempat Anto melanjutkan ucapannya tiba-tiba tercium bau gas dan ternyata itu berasal dari pipa gas yang bocor tepat di belakang Anto sekarang berdiri. Dalam hatinya “bahaya. bisa terjadi ledakan.” Gas pun dengan cepat memenuhi seisi ruangan. Dan dengan cepat Anto memegang tangan Kim dan Jong dan membawanya keluar. Tapi ia lupa bahwa Un masih di dalam. Anto pun kembali lagi ke dalam ruangan itu dan tidak lama kemudian terjadilah ledakan itu. “Tidak” teriak Kim dan Jong mereka merasa Anto dan Un masih di dalam. Mereka manangis histeris meratapi nasib diri.

Tapi tiba-tiba Un dan Anto sudah ada di belakang mereka “udah tak usah ditangisi masih banyak kok tanteu-tanteu montok di luaran sana” Kim dan Jong berbalik karena merasa mengenal suara itu dan benar itu suara Un. Lalu memeluk Un dan Anto. “Aku gak mau kehilangan kalian, hidupku akan terasa hampa tanpa kalian. Kumohon kali ini jangan pergi lagi” ucap Kim dan Jong yang mengeluarkan kata-kata puitis bergantian. “Lebay lo, ayo pegang tanganku” ucap Anto. Kim Jong Un pun memegang tangan anto dan wush Anto pun kembali berlari secepat kilat.

Dan sampailah mereka di rumah Kim Jong Un yang megah. Lalu Anto pun berkata “aku belum sempat mengatakan 3 permintaanku tadi. Ok sekarang waktunya. Pertama aku ingin membawa kalian keluar dari sana. Dan sudah aku lakukan, kedua tolong pencet tombol di punggungku ini agar aku bisa mati dengan tenang dan ketiga makamkan aku dengan layak dan aku ingin dimakamkan tepat di samping makam ibuku”.

Kim jong Un pun mengabulkan 3 permintaan terakhir Anto itu dan bagi mereka Anto adalah Pahlawan. Pahlawan tanpa terima kasih. Karena sampai kematian Anto pun mereka bertiga belum sempat mengucapkan terimakasih pada Anto.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kartono Anwar
Blog / Facebook: Kartono-Bilang.blogspot.com / Kartono Anwar Nasution
Penulis: Kartono Anwar, dari Garut Jawa Barat
Email: anwar_kartono[-at-]yahoo.com
pangerankartono[-at-]gmail.com

Cerpen Serial Kim Jong Un (Part 1) Mesin Pembunuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacarku Idolaku

Oleh:
Ku awali pagi ini dengan penuh semangat. Seperti biasanya aku selalu menunggu cowok idolaku berangkat sekolah. Aku murid SMP kelas 2 di sekolah swasta Jakarta. Sedangkan idolaku itu sudah

Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Cowok Biasa

Oleh:
Gue Raga, cowok biasa. Satu sekolah cuma kenal gue sebagai kapten futsal SMA Garuda. Selebihnya gue siswa. Di kelas gue cuma bisa raih peringkat tiga. Untuk jadi yang pertama

Menyumpahinya 12 kali

Oleh:
Damar yang kala itu baru saja pulang dari kampus berpapasan dengan Indah. Mereka berbincang mengenai tugas yang baru saja diberikan oleh dosennya. “Tugas itu sulit sekali lah, aku bingung

Latihan Drama

Oleh:
“Hey nanti kumpul ya untuk latihan drama?” kataku. “kenapa tidak besok saja? Sekarang gue mau pergi bersama saudara!” tanya Ernest. “Iya, sekarang gue juga sibuk” kata Gunawan dengan ikut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Serial Kim Jong Un (Part 1) Mesin Pembunuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *