The Crazy Boy (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2017

Aku menyeberangi jalan raya seperti orang gila. Ya ampun! Ini sudah jam 07.10. lima menit lagi pelajaran akan dimulai, aku pasti akan telat dan Bu Nara sebagai guru BK pasti akan mengulitiku hidup-hidup.

Criitttt…
Ya Ampun, suara decikan itu benar-benar memekakkan telinga. Aku menoleh dan mendapati seorang pengendara motor ninja putih sedang berjuang mempertahankan motornya yang sedang berposisi miring melaju menggesek aspal dan mengeluarkan suara decitan yang bisa membuat orang tuli mendengar lagi. Ini seperti adegan Lorenzo yang terjatuh saat disenggol oleh lawannya.

Motor ninja itu akhirnya berhenti, pengemudinya tampak lega sekali dan baik-baik saja kelihatannya. Tapi beberapa saat kemudian, dia membuka helmnya dengan kasar lalu berjalan dengan langkah cepat ke arahku lengkap dengan wajahnya yang mengeras seperti panci kosong yang dipanaskan dan akan meledak sebentar lagi. Dan panci kosong itu, maksudku wajahnya… benar-benar meledak, tepat di depan wajahku.
“HEY! CEWEK GILA! KAMU MAU MATI YA, HAH!! KALAU SUDAH TIDAK MAU HIDUP, SANA LOMPAT DARI GUNUNG EVEREST! NGAPAIN NGAJAK-NGAJAK ORANG SEGALA!!”
A..apa, i..itu barusan apa? Dia memarahiku habis-habisan di tengah jalan begini, orang-orang berkerumun di sekitarku seperti menonton acara pemotongan sapi kurban saja. Dan dia.. dia berteriak kencang sekali pas dan tepat dan cocok dan sangat… sangat, di depan wajahku. Apa-apan ini, memangnya apa salahku?
“SEKARANG PURA-PURA TIDAK TAHU HAH!!” teriaknya lagi. Dan aku hanya memperlihatkan wajah congekku yang tidak tahu apa-apa.
“Kau tidak lihat keadaan motorku?” katanya masih dengan nada tinggi, tapi tidak setinggi tadi sambil menunjuk ke arah motornya yang sudah lunglai tak berdaya di tengah jalan dan dua meter dari motor itu ada sebuah ban hitam yang tak kalah menyedihkannya, tergeletak tanpa ada yang menolongnya. Dan ban malang itu ternyata milik motor ninja yang lebih malang itu.

“Dan lihat keadaanku!” sahutnya mengalihkan perhatianku ke arahnya. Aku menelusurkan pandanganku ke tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wao dia memakai sepatu Kickers berwarna cokelat yang super duperr keren. Mataku naik ke area yang lebih atas, ternyata lututnya terluka karena celana di bagian lututnya sobek. Ya ampunn.
Hm hm.. ternyata dia tinggi juga. Badannya sedikit berotot, dan pas sekali seperti seorang atlet. Wajahnya?… ya ampun, bibirnya cute sekali seperti bibir Neni, anak perempuan rumah sebelah yaang berumur 3 tahun. Dan hidungnya seperti dibentuk dengan sempurna, menjulang pas. Dagunya sedikit runcing memopang rahangnya yang terlihat lembut tapi tegas, kulitnya mulus tanpa binti-bintik atau jerawat sama sekali. Baru kali ini aku melihat laki-laki seganteng dia secara langsung, biasanya kan cuma lewat layar.

Wajahnya punya beberapa defenisi, ganteng, keren, cool, manis, cute, dan juga cantik. Semuanya menyatu dan terbentuklah dia, dia yang sedang berdiri sangat dekat denganku bahkan aku bisa mendengar deru nafasnya yang berlari-larian seperti mengejar copet sapi subuh-subuh. Dan bagian terbaiknya adalah ketika aku menatap matanya yang berkilat seperti berlian dan berwarna hitam bening. Oh tidak, biarkan aku pingsan sekarang.
Satu… dua… ti
“Sudah puas? Kau harus tanggung jawab!!” teriakannya itu membatalkan niatku. Dari semua kelebihan yang dia punya akhirnya aku menemukan kelemahannya, yaitu dia suka berteriak kayak penjual obat keliling.
“A..aku… aku” sahutku akhirnya terbata-bata.
“Kau tadi menyeberang seperti unta, aku sudah pip pip berapa kali dan kau tidak mendengarku dan akhirnya begini, aku hampir saja kehilangan nyawaku. Kau lihat motor itu kan?! Itu rusak parah dan aku tidak bisa memakainya lagi. Itu mahal tau, mahal sangat mahal!” paparnya, menyebutkan kata mahal berulang-kali di telingaku seperti aku gadis miskin yang tidak bisa ganti rugi. Tapi emang iya sih.. tapi kalo segitu mahalnya kenapa bannya bisa copot kayak gitu, aku kan bukan raksasa yang mempenyokkan motornya itu.
“Ok ok, aku akan ganti rugi!” kataku dengan nada sedikit tinggi karena kesal diteriaki terus sama orang ini. Aku tersentak menyadari sesuatu, hey ini sudah lewat lima menit. Aku melirik jam tanganku, 07.20.
Alamaw… mati dehh bener-bener jadi sate panggang nih aku.
“Kita selesaikan nanti ya, aku udah telat abiss nih” kataku cemas sambil berlari dari tepi jalan yang menyesakkan itu. Baru beberapa belas langkah, tiba-tiba ada yang memegang pergelangan tanganku dengan kuat. Aku menoleh dan mendapati cowok itu “Kau pikir mau ke mana… setelah berbuat kriminal sekarang kau mau kabur, hah!!”
“Aku tidak kabur! Aku telat nih…”
“Aku tidak mau tau, harus ganti rugi sekarang. Lima jutta” What? 5 juta? dia pasti bercanda,
“Nggak usah pake nganga gitu, ini motorku harganya selangit begitu pun dengan biaya perbaikannya”
Dapet dari mana aku uang 5 juta. bahkan kalo aku ngemis-ngemis sambil guling-guling di jalan raya selama 5 tahun pun nggak akan cukup.
“Ya ampun, itu bukan salahku sepenuhnya, kamunya aja yang tadi balap-balapan aku kan cuma nyeberang doang. Lagipula aku udah telat nih, aku akan ganti nanti”
“Kamu pikir aku kambing, bisa dibodohin begitu. Kamu pasti mau kabur dan nggak mau tanggung jawab!”
“Nggak akan!” teriakku frustasi, dia masih saja memegang pergelangan tanganku dengan kuat sampe terasa perih.
“pasti!”
“Nggak!”
“Kamu mau kaburr!!”
Dasar nyebelin, jika saja aku ini naga, aku pasti akan menyemburkan api ke muka songongnya itu.
“Oke, aku nggak punya uang sekarang. Aku juga nggak punya barang berharga yang bisa kamu ambil sebagai jaminan. Jadi bagaimana?”
“Bagaimana apanya? Kamu pikir aku akan kasihan padamu dan membiarkanmu pergi? Jangan harap!!” tuturnya dengan seringai jahat.
“Lalu kau mau apa?”
“Kemarikan ponselmu” perintahnya. Apa dia akan menyita ponselku? Fusshh untunglah aku tidak bawa ponsel kikiki…
“Aku tidak bawa”
“Kalau begitu nomormu!” perintahnya lagi.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Aku akan meneleponmu sampai ponselmu pecah kalau kau berusaha kaburr!!”
“OK!! 085360xxxxxx” dia menekan digit-digit angka di smartphonenya yang wwawww.
“Sudah selesai. Karena kau kismin dan bau, serta tidak punya uang aku akan berbaik hati.” Bau? Kismin? Aku akui kalo aku memang nggak punya uang dan miskin? tapi bau? Hei aku udah luluran pake strawberry tadi. Dasar penciumannya itu payah sekali. Tapi dia bilang mau berbaik hati kan. Oh thanks God!

Baru saja aku mengucapkan kesyukuranku, tiba-tiba cowok ini memotongnya dengan sebuah perkataan yang membuat mulutku menganga-nganga.
“Kamu harus jadi pacarku, sekarang!!” katanya dengan nada tegas. Alamaw… apa lagi ini.
“Kamu gila ya!” teriakku kesal, seenak ilernya aja huh…
“Lalu kamu mau diapain? Aku nggak bisa jual kamu karena nggak akan ada orang yang mau. Udah pendek, kecil, dekil, ingusan lagi”
Haa? Apa dia bilang, hei!! Ini pelanggaran HAM, masa aku dihina gitu. Ok, aku emang pendek dan kecil tapi dekil, ingusan? Nooo… nggak bisa lihat apa dia kalo kulitku semulus pantat bayi. Dan ingus? masa sih hidungku yang seksi ini beringus, nggak mungkin.
“Jadinya kamu harus bersyukur, karena aku mau menerima kamu. Sekarang sana pergi!” suruhnya sambil melepaskan pegangannya pada tanganku dan mendorongku. Apa-apaan, dia nggak nunggu jawaban dariku dan langsung menyuruhku pergi begitu saja, begitu saja.
Ok Masha, shabar shabar! Mungkin dia gigolo yang dikirimkan Tuhan untuk menguji pagimu. Aku berbalik ingin pergi dan dia kembali mencegahku, apa-apan sih dia. Dasar sinting.
Dia menarik jepitan rambut Doraemonku yang berwarna pink lembut dari rambutku. “Ap…” aku baru mau memprotes tapi dia menyela.
“Ini sebagai jaminan, yahhh walaupun ini barang murahan tapi kau pasti sangat menyayanginya mengingat kau gadis kismin dan bau.” Hinanya padaku sambil terkekeh cengengesan. Setelah puas, dia pergi meninggalkanku begitu saja.

Fusshhhh… sudah kuduga aku akan ada di sini, dengan koleksi keringat yang terus-terusan berjatuhan dari tadi kayak pasukan tentara yang meluncur ke dasar jurang untuk berperang. Wait, ngapain ngomongin keringat?
Iisshhhh… piala ini bener-bener nggak ada habisnya. Aku harus membersihkan piala ini satu persatu sampai ke sudut-sudutnya setelah menyapu dan mengepel lantai ruang piala. Ya ampun… Bu Nara sunguh teganya dirimu, teganya.. teganya

Aku merasakan kelegaan sesaat setelah semua kerjaanku rampung dan masuk kelas dengan wajah cengengesan. Pasalnya aku kembali dilempari jurus semburan naga oleh Pak Bondan lantaran mengomeliku sambil menyemburkan ilernya tepat di depan wajahku satu persatu dan aku langsung merasakan gerimis di dalam ruangan tertutup ini.
Dan aku menghabiskan sisa waktu mengajar Pak Bondan dengan terus menerima jurus semburan naganya di wajahku. Anak-anak pada cekikikan menahan tawa mereka, dan aku yakin sebentar lagi cekikikan itu meledak menjadi tawa terbahak-bahak. Dan benar saja, setelah Pak Bondan meningalkan kelas, semuanya pada ketawa kayak orang kesurupan sambil memegangi perut dan menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Kamu abis dari Gym yah. Wahahahahaa”
“Mukamu Sha, sumpah… indah banget. Kayak titik-titik embun di pagi buta mahahahahahhaha”
“Wehehehehehe”
“Hohohohohohoho”
“Hihihihihihihi”
“Huhuhuhuhuhu”

Mukaku merahhhhh. Sumpah! Selama aku hidup hampir 18 tahun aku nggak pernah sesial ini. Mau tau kelanjutannya? Mau tau kesialan apa lagi yang akan kudapat? Yahhh masih ada, masih banyak.

“Nama saya Mars Bintang Haruke”
Aku terlongo-longo dan ternganga-nganga melihat siapa pemilik suara itu. Itu cowok yang tadi, cowok yang membuatku harus dijadikan hamba sahaya sama Bu Nara dan cowok yang membuatku terkena jurus semburan naga bertubi-tubi oleh Pak Bondan serta cekekekan kesurupan ala teman-temanku. Si ninja gila itu ngapain di sini. Aku baru sadar kalo dia ternyata pake seragam sekolah yang sama denganku, dasar unta… aku hanya sibuk memperhatikan wajahnya yang seperti mahakarya dari tadi.

Si ninja gila ini bersikap sok manis di hadapan semua orang dengan memamerkan senyumnya yang kayak kuda kebelet pup. Dan dia sama sekali berpura-pura tidak mengenalku yang saat ini tengah duduk bengong tepat di hadapannya karena bangkuku ada di posisi tengah barisan paling depan, huh… atau mungkin dia kena Amnesia setelah insiden tadi. Wusshhh syukurlah…

Ffihhhh… tidak ada pelajaran yang berlangsung dengan damai dan tenang. Nyatanya banyak tangan yang berkelebat di jendela dan juga muka-muka abstrak yang sesekali terlihat setengah-setengah. Huh cewek-cewek di luar sana pasti sedang lompat-lompat kayak orang gila di jendela buat memastikan tentang keberadaan si ninja gila itu.

Trdtttttttt…
Itu bunyi bel istirahat, akhirnya… aku bisa makan juga. Roh dan jiwaku lelah dari tadi. Seperti sebuah tradisi yang turun temurun, aku berjalan bergandengan ke luar kelas bersama sobat karibku, Luna nggak pake Maya tanpa sepatah kata pun. Saat kami baru akan melewati pintu, tiba-tiba ada sepasukan anak monyet yang menyerbu kami, kami pun oleng seketika dan terombang-ambing. Hisss… anak-anak monyet itu berteriak kegirangan, ada yang membawa bunga, cokelat, minuman, de.el.el. mereka berlari ke arah si ninja gila sambil tersenyum-senyum kayak abis operasi ambeien.
Aku dan Luna berusaha untuk menyeimbangkan badan kami yang sedikit linglung karena serangan yang tiba-tiba itu.

“Nama kamu Mars ya… waooo keren”
“Nama kamu Bintang ya… itu cool bangeet”
“Nama keluarga kamu Haruke ya, kamu pasti blasteran Indo-Jepang, ya kan?”
“Ini buat kamu.. “
“ini ini ini”
sahut mereka tanpa henti sambil terus menyodorkan barang-barang yang mereka pegang ke arah si ninja gila.
“Terima kasih” si ninja gila itu cengengesan sok tersenyum manis, ffihh… closet mana closet, mau muntah nihhh.
“Kamu udah punya pacar?”
“Ya ya udah punya pacar belum?”
“Iya pengen tau nihhh”
Ngapain aku buang-buang waktu nontonin film nggak laku begitu. Aku sama sekali nggak tertarik. Aku meraih tangan Luna berbalik hendak pergi tapi tiba-tiba ada suara yang menyebut namaku.
“Masha..? dia pacar kamu?”

Aku harap ada yang penasaran dengan kesialan-kesialan yang akan menimpa hidupku selanjutnya. Kalo penasaran baca aja ya part selanjutnya

Cerpen Karangan: Herlisa Cikis
Facebook: Herlisa Cikis

Cerpen The Crazy Boy (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerpenku Hanya Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Hari sudah pagi, matahari mulai menyinari bumi, dan orang-orang mulai beraktivitas, namun berbeda dengan seorang gadis yang berkelahiran 8 maret 1998, yang bernama Khansa Assofa Arista. Ia masih terlelap

Berawal Dari Kebencian

Oleh:
“Kringgg” bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk masuk ke kelas, hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Namaku Dana Syahputra, biasanya orang memanggilku Dana. Aku baru masuk SMA N

Buku Diary Pengantar Cinta

Oleh:
Namaku Sela. Aku menyukai sahabatku sediri yang bernama Dion. Aku sayang dia sangat sayang tapi dari raut wajahnya Dion tidak menyukaiku, dia hanya menganggapku sebagai sahabat saja. Aku tak

Bayi Super

Oleh:
“Hei, apa kau merasa budaya ini memberatkan kita sebagai anak sekolah? terutama laki-laki?” tanya Hafid yang duduk di pinggir sungai di tepian kota bersama Yoko dan Shinta. “Apa ini

Lembayung Senja (Part 1)

Oleh:
Suara bel yang nyaring dan panjang adalah alunan kebahagian bagi setiap murid. Mereka akan langsung mengemas barang-barangnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang setelah seharian menyebu akal dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *