The Quirky Life Of Beang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 January 2019

Namaku Beang. Tadinya aku suka namaku. Lalu secara kebetulan kemarin aku nonton sebuah anime. Di dalamnya ada karakter Lalat bermuka penguin yang suka makan kotoran. Mungkin karenanya akhir-akhir ini aku jadi suka melotot pada Si cowok berkacamata di dalam kelasku. Dia seperti mencurigaiku. Jangan-jangan…

“Nek, kenapa Bapak dan Ibu menamaiku Beang?” tanyaku suatu hari. Aku yakin nama unikku punya sejarah yang pasti eksentrik.

Kening Nenek berkerut, ya meski sudah berkerut, kini makin berkerut mirip kulit kismis kering. “Hmm—mungkin karena Ibumu dulu ingin terus mengingat nama itu, jadinya dia menamai kamu nama yang sama.”

Tuh, kan. Nama orang bersejarah. Ajib, dah!

“Nama siapa, Nek?” tanyaku antusias. Dari pantulan kepala botak Pak supri—yang baru saja lewat, aku menangkap mataku yang berkaca-kaca, mengingatkanku pada karakter manga-manga shoujo*.

“Eyang.” jawab Nenek datar sambil terus mengunyah daun sirih dicampur kapur barus.

Jeng… jeng…!!!

“Hah?” aku melongo, “Ulang lagi Nek. Kayaknya aku nggak denger tadi.”

Musik background tadi salah putar. Ini bukan film Tr*nsformer apalagi S*ci 2.

“Dulu Ibu kamu ngefens sama Eyangmu, tapi kemudian Eyang meninggal. Jadi supaya nggak lupa, Ibumu menamaimu Beang.”
“Apa hubungannya? gak ada mirip-miripnya sama sekali. Nenek pasti salah inget, iya kan. Kemarin aja Nenek nyasar di toilet tetangga sampe dua hari gak balik-balik.” sungutku tak terima.
“Oalah terserah kamu, Ndok. Nenek inget betul waktu acara pemberian nama, Ibumu bilang Eyang—maunya, tapi karena dia lagi pilek jadi tukang urut dengernya Beang, jadilah kamu Beang.” penjelasan Nenek membuatnya batuk-batuk. Ludahnya muncrat kemana-mana. Tapi tenang, aku sudah pakai helm.
“Pokoknya aku yakin Nenek salah, titik.”
Dan berakhirlah kilas balik sejarah namaku. Kita kembali ke kisah Si kacamata di kelasku.

Si kacamata gelagatnya sungguh membuat linu orang yang melihatnya. Dia seperti orang yang sedang kebelet, harusnya ia pergi ke jamban bukan malah menyelinap ke gudang penyimpanan alat orahraga. Ahh… jangan-jangan…
Tentu saja, aku mengekornya.

Si kacamata sedang membuka salah satu pintu lemari gandeng yang biasanya untuk menyimpan alat kebersihan, keperluan olahraga, dan lain-lain. Kemudian tanpa diduga ia masuk ke dalam lemari, dan tak lupa menutup kembali pintunya. Aku melongo. Sedang apa dia? bukannya di dalam lemari itu sempit sekali. Kenapa dia ngumpet di situ? jangan-jangan dia mau setor di dalam sana!

Aku segera membuka paksa pintu lemari yang dimasuki Kacamata tadi.

“Eh.”

Sepasang mata melotot kala melihatku. Aku membeku.

Hening.

Hening.

“Ngapain kamu di sini?” pekikku. Jeda tadi kebanyakan. Kemudian tanganku melingkar di dada. “Hei, jawab!”
Aku merasa Hitler. Ha-ha-ha…

“A-aku… ”
“kamu sendiri ngapain?” tanyanya pura-pura bego.
“Aku kesini mau cari pintu lemari peninggalan Doraemon yang bisa kehubung ke rumah Zeus,” sindirku dengan nada super arogan. Kadang aku ingin sekali nabok diri sendiri.
Si kacamata hanya menatapku dengan tatapan tidak mengerti.

“Please deh, kamu bego atau bego sih. Gue di sini tentu aja karena ngeliat kamu masuk ke dalam lemari. Manusia mana yang ngumpet di dalam lemari saat kebelet he?” kataku panjangxlebar.
Dahi Si kacamata bertaut, “Sumpah aku mabok.” jawabnya, “kamu sadar nggak kalau bahasa kamu sama sekali nggak bisa dipahami makhluk bumi. Atau kamunya aja yang lagi mabok?”
“A-apa?” Anak ini! nggak sopan banget sih. Ya, meskipun banyak orang yang bilang kalau tingkahku lebih mirip orang teler dan bahasaku hanya bisa dipahami bangsa Alien. Tapi ya…

Derap langkah sepatu di luar pintu terdengar makin mendekat. Kami saling berpandangan. Lalu suara gagang pintu seperti akan dibuka, “Aduh, pintunya susah dibuka nih.” kata suara orang di luar sana.

Untung pintu itu agak macet jadi selama suara itu terdengar masih mencoba, “Cepat sini!” lirih Si kacamata. Aku tak punya pilihan, dan segera masuk ke dalam lemari bersama Si kacamata.

Cklek!
Ah… mereka berhasil. Aku baru ingat, kenapa tadi aku tak masuk ke pintu lemari lain saja. Di sini sempit sekali. Bokongku nyaris menempel dengan perutnya. Ugh.

Hening.

Aku memfokuskan pandangan ke depan. Aku dapat melihat dari lubang udara lemari. Satu cowok dan cewek di depan sana. Gelagat mereka mencurigakan.

Beberapa menit kemudian mataku membulat melihat adegan dari lubang pintu yang bergaris-garis itu, membuat jantungku mulai berpacu.

“Itu sebabnya aku di sini,” suara Si kacamata diucapkan dengan nada amat pelan, kalau aku tak cukup dekat aku pasti tak dapat mendengarnya. “tempat ini terkenal dengan spot strategis untuk pacaran di sekolah.” lanjutnya dengan nada yang tak yakin kumengerti.

Aku menelan ludah. Selama kurang lebih sepuluh menit, aku telah menanjak ke fase Monalisa.

“Ahh… gila panas banget…!” keluhku usai keluar dari lemari. Pasangan tadi sudah ngacir lima menit yang lalu.
Kemudian suasana menjadi kikuk. Hanya suara angin dan sorak-sorai siswa yang terdengar jauh entah-melakukan-apa di luar sana.

“Kenapa kamu ngintipin kayak begituan?” tanyaku, “kamu mesum atau…?”
Bola mata si kacamata keliatan sampai ke tepi kacanya saking kagetnya. “Bukan, bukan!” katanya dengan nada panik, “kamu salah paham. Aku bukan… aku bukan orang mesum!”
“Terus?”
“Aku hanya… ”
“Hanya?”
“Aku cuma… ”
“Cuma?”
“Aku hanya…”
“Woi, mata empat! Lo ngerjain gue ya?” dari tadi hanya cuma hanya cuma. Lo pikir gue sebego itu?”
“Oh, nggak ya?” balasnya sambil garuk-garuk tengkuk kepala.
Grrrrrr!!!

Dengan kekuatan penuh aku menarik kerah bajunya, “Ngaku nggak lo! kalo nggak, gue bakalan laporin ke gur—eh nggak, gue bakal bikin selebaran terus gue sebarin ke seluruh penjuru dunia dan isinya photo lo dengan deskripsi super duper menarik. Gue jamin tujuh turunan lo gak bakal bisa ngapus noh sejarah.”

Si kacamata hanya menatapku dengan tatapan tak kumengerti. Ketika aku melihat di mana aku menaruh tanganku, nyaliku langsung melempem. Dia… terlalu jangkung.

Ternyata tadi bukannya kerah baju yang kutarik, eh, malah kolornya. Jadi situasinya sontak kikuk. Pelan-pelan aku meregangkan genggamanku, lalu mendongak—mata kacamata masih tetap lurus menatapku, aku jadi agak salting lalu terpaksa melakukan gerakan-gerakan peregangan;rentangkan tangan ke atas, bawah, kiri, ke kanan. Pas banget seperti orang yang sedang pemanasan tapi karena aku tidak suka olahraga, jadinya badanku bergerak lebih mirip cacing kepanasan. Tak lama kemudian aku lupa tadi aku ngomong apa ya?

Merasa ngos-ngosan, aku berhenti, “E-ehem … seperti yang kubilang tadi. Kamu ngerti kan?” Sorot mata Si kacamata jelas-jelas tidak mengerti. Aku meringis. Aku juga nggak mengerti. Lebih tepatnya, Aku lupa.
“Uh…, oke.” jawab Kacamata.

Aku nyengir, “Oh ya, nama kamu siapa sih. Aku cape manggil kacamata terus di dalam otakku.”
“Oh, aku nggak tau kamu juga punya otak.”
“Apa?!” aku melotot.
“Maksudku, namaku Rio.”
“sebaiknya kita balik ke kelas. Jam rehat udah hampir usai.” lanjutnya. Kemudian dia memutar badan dan mulai berjalan. Aku di belakangnya. Aku lupa saat itu kami sedang berada di ruang legendaris. Alhasil ketika kami keluar semua mata tertuju pada kami. Seorang cowok dan cewek. Keluar dari dunia Monalisa. Jangan-jangan…

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Blog / Facebook: Ma mumei

Cerpen The Quirky Life Of Beang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sialnya Bocah

Oleh:
“Alamak… susah betul lah cari cerita yang berbobot ni… ei, ada sesiapa yang mau membantu saya tak?” tanya seorang anak Malaysia di hutan belantara Kalimantan. Suasana hening tak menentu,

Balada Hape sama Pemilik Hape

Oleh:
Pada suatu malam gue jalan-jalan sendiri di pinggir kali Brantas. Pemandangannya gelap. Maklum malam hari kan gelap. Lalu gue duduk sambil memejamkan mata. Pandangannya semakin gelap. Karena udah tempatnya

I like You, She like You, You like…

Oleh:
“Nay, cepet dong!” keluh Shina, sahabatku. “Iya Shina cerewet!!” ucapku sambil menekankan nada bicaraku. “Yuk Shin!” ajakku. Kami segera naik Taksi yang sudah di pesan Shina. Rencananya, hari ini

Ini Bukan Ragaku

Oleh:
Seperti biasanya aku hidup dengan “Membosankan”. Kadang aku sering berimajinasi menjadi pria tampan, kaya, dan disukai banyak wanita. Tapi semua itu terhenti ketika temanku memanggil.. “Hai daffa melamun terus..”

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Aku berjalan seorang diri, menerobos beberapa kerumunan orang di tempat ini. Entah kenapa, perutku terasa mual setiap kali aku melihat keramaian seperti ini. Aku juga tak tau, angin apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *