Toilet Yang Berbahaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 November 2017

Rasa cemas, gelisah, was-was dan takut itu yang menghampiri gue jika menumpang BAB di rumah orang lain. Rasa tak enak hati mungkin itu yang menjadi faktor utamanya. Ya karena boker gue lama. Sebenarnya sih cuma 5 menit, tapi karena ada gadget jadi 55 menit. Makannya gue lebih memilih toilet umum. Ya walaupun bayar yang penting hati gue tenang. Atau di empang. Sekalian bagi-bagi rejeki sama ikan. Kan jadi pahala juga. Sedekah.

“hey bro ke mana aja lo?”
“Mulut lo bau kaya toilet.”
“Ah hidung lo aja deket sama mulut.”
“Bisa aja lo.”

Itu percakapan yang selalu gue mulai dengan diki sebelum menjalani hari. Iya Diki itu sahabat sejati banget buat gue. Dia selalu ada di saat gue sedih ataupun bahagia. Tapi saat-saat seperti itu akan gue rindukan karena setelah lulus smp ini Diki akan pergi ke Balikpapan karena ayahnya dipindah tugaskan ke sana.

Gue adalah orang yang mudah penasaran, banyak sudah kasus yang gue pecahkan. Baik di sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggal gue. Kali ini gue bertekad dalam hati gue untuk memecahkan kembali sebuah misteri, ini adalah misteri sekaligus misi terakhir gue di sekolah ini, dan juga sebagai salam perpisahan dengan sekolah ini. Untuk misi terakhir ini gue ajak Diki. Karena gue sedikit takut, karena ini menyangkut hantu. Gue dan diki memang penakut sama-sama takut hantu. Tapi gue berusaha memotivasi diri gue untuk melawan rasa takut itu, karena kalau tidak dilawan rasa takut itu akan menghantui seumur hidup. Dan inilah saatnya, kalau bukan sekarang kapan lagi.

Gue juga memotivasi Diki, tetapi tak semudah yang gue kira. Tapi beberapa mangkuk bakso gratis akhirnya mampu meyakinkan hatinya. Setelah Diki menghabiskan baksonya gue pun mengajak dia menuju ke toilet angker di sudut sekolah. Kami berjalan menuju toilet itu. Dan sekarang kami sudah bisa memandangnya, lalu aroma bunga melati pun mulai tercium. Persis seperti di film-film yang biasa kami tonton berdua di rumah. Ya walaupun saat menonton mata kami ditutup pakai sarung. Di film itu kalau tercium aroma bunga mawar itu tandanya hadirnya pocong, dan kalau tercium aroma melati itu tanda hadirnya kuntilanak. Itu kalau jarak kita sama hantu jauh. Tapi kalau sudah dekat wangi itu aku akan berubah menjadi bau busuk yang teramat sangat.

“Kuntilanak” ucap kami berbarengan, sepertinya kami memikirkan hal yang sama. Gue tahu Diki akan melarikan diri makanya gue pegang tangannya. Semakin dekat dengan toilet itu semakin terasa berat langkah kami. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh kami, wajah pucat pasi terpancar dari wajah kami. Dan akhirnya Diki pingsan, karena tak tahan dengan bau dari toilet itu. Bau yang telah menggantikan aroma melati yang sedari tadi menemani perjalan kami. Gue juga mau muntah. Tapi bukan karena bau busuk dari toilet itu tapi karena gue melihat muntah Diki. Dia muntah dulu sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Gue tinggalkan diki gue fokus dengan toilet itu. Gue tatap tajam toilet itu. tapi perasaan bersalah gue sama Diki muncul. Akhirnya gue berbalik ke belakang. Tapi alangkah kagetnya gue, Diki tidak ada. Perasaan takut gue bertambah, gue berpikir bahwa diki dibawa hantu. Gue gak percaya sejauh ini, ini persis seperti adegan dalam film kuntilanak yang gue tonton. Pertama bau melati, lalu berubah menjadi bau busuk. Dan teman dari tokoh utama itu pun sama dibawa hantu. Cuma bedanya di film tidak ada adegan muntahnya.

Tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan. Karena tidak bisa dibuka. Akhirnya gue dobrak pintu toilet itu Gue berhasil masuk ke dalam. Dan setelah itu gue tidak ingat apa-apa lagi. bau aroma melati, bau aroma masakan dan bau asem telah merasuk ke dalam hidung gue, lalu terbukalah kedua mata ini. Gue pun melihat ada bu Mirna, ibu kantin, dan Diki yang telah sadar dari pingsannya.

Bau aroma melati adalah bau bu Mirna dan ternyata dia juga yang telah mengikuti gue dan Diki sewaktu menuju toilet tadi. Dia mengikuti kami bersama tiga anak PMR dan membawa Diki yang pingsan tadi. Mereka juga sudah memanggil gue untuk menjauhi toilet itu tapi entah kenapa saat itu gue tak mendengar panggilan mereka. Jadi itu bukan bau kuntilanak dan Diki tidak dibawa hantu. Aku pun paham.

Bau masakan adalah bau ibu kantin, dia coba mengejar kami karena gue belum bayar baksonya. Dan bau asem adalah bau Diki, dia belum mandi. Dia telat datang ke sekolah, jadi dia tidak sempat mandi. Dia juga tidak sempat sarapan, makannya ketika aku traktir bakso tadi makannya lahap banget kaya orang kesurupan.

Di perjalanan pulang kami kembali menemui toilet itu. Ternyata toilet itu sedang di perbaiki. sekarang. Klosetnya yang sudah rusak diganti dan di belakang toilet kami melihat sebuah mobil sedang menyedot tinja dari septic tank. Agar tak ada korban selanjutnya seperti Gue dan Diki. Karena gas yang keluar dari kloset itu sangat teramat berbahaya. Itu adalah gas metana.

“Dik, seandainya gue tewas di dalam toilet itu dan gak ada yang nemuin jasad gue mungkin saja gue yang jadi hantunya” canda gue pada Diki sembari berjalan pulang meninggalkan sekolah.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kartono Anwar
Blog / Facebook: Kartono_Bilang.blogspot.com / Kartono Anwar Nasutio
Penulis: Kartono Anwar, dari Garut Jawa Barat
Email: anwar_kartono[-at-]yahoo.com
pangerankartono[-at-]gmail.com

Cerpen Toilet Yang Berbahaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Terbalaskan

Oleh:
Suatu hari ada seorang wanita yang bernama anita, dia adalah wanita yang ceria dan juga cukup cerdas, namun suatu ketika dia mengalami suatu masalah yaitu dia telah jatuh cinta

Sang Detektif

Oleh:
Hari ini, Indri menangis. Handphone baru pemberian Ayahnya hilang. “Sebelum salat, aku letakkan di dalam tas. Saat selesai salat, handphone itu hilang. Huhuhu.” ucap Indri sambil menangis. Wali kelas

Nostalgia di Putih Abu Abu

Oleh:
Masih ku ingat saat-saat aku masih memakai seragam putih abu-abu, saat ku jatuh hati pada guru ku sendiri, pacaran bersama pacar sahabatku, saat ku menangis karena lelaki yang sangat

Saat Misteri Terungkapkan

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, lagu berjudul “Waktu” karya Bondan Prakoso itu terdengar khas tepat di sebelah kamar kos ku. Entah apa yang membuat yudi, begitu panggilan pemilik kamar sebelah sangat

Skor Imbang

Oleh:
Mata Satria berkedip-kedip sebelah di saat dia tak sengaja bertatap muka dengan seorang cewek di mini market. Cewek cantik itu tersipu malu dan beranjak pergi. Edo yang berada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *