Toko Buku Kacang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 14 August 2017

Hai nama gue Tiara Eviani, inilah sedikit cerita gila karena salah baca nama toko buku. Semuanya berawal dari perjalanan menuju salah satu hotel Bintang tujuh min Bintang lima di daerah Majalengka.

Nikmatnya tidur di perjalanan gue hancur karena lagu sambalado yang dinyanyikan Ayu ting ting bervolume tinggi menggema di telinga gue. Gue matiin telephone yang buat telinga gue bolong karena volume tinggi itu. Sekali lagi handphone gue berdering dengan volume dan lagu yang sama. “Berisik lo mah cabe gendats” “cabe matiin sambalado lo” suara beberapa orang buat gue kesel, ditambah dering yang tak kunjung berhenti. “Iyeee” gue pun mengangkat Telephone yang buat gue darah tinggi.

“Heh lo biawak buntung, napa baru angkat hah?” Suara cempreng di sebrang sana, siapa lagi kalau bukan suara kakak gue yang namanya Mikha. “Brisik lo odong-odong. Rempong banget sih pake Nelphone segala” “eh lo ayam sayur, sopan dikit sama kaka lo napa? Lagi di mana lo?” “Iyeee, gue di Majalengka mau nengok temen gue yang patah tulang yang asrama dulu di tukang urut, gue menuju ke hotel Bintang tujuh min Bintang lima” “Gue tau itumah, di jalan apa?” “Gak tahu emang gue yang bikin jalannye? Pokoknya di depan toko buku kacang… udahlah gue ngantuk byeee kakak gue yang cantik kaya kripset” telephone gue matiin.

2 hari berlalu gue udah sampe di rumah, di kawasan Jakarta Timur.
“Bi si odong-odong ke mana?” Bi tuti malah diem aja dengan wajah yang bingung “kak mikha maksudnya” lanjut gue. “Oh, non mikha lagi lahiran di Rumah Sakit non” jawab bi tuti pembantu baru yang masih tak tahu siapa odong-odong itu. “Ya udah bi makasih” gue berlari sekencang-kencangnya dengan kecepatan penuh menuju depan rumah, lalu menuju mobil gue yang umurnya sudah tua kayak buyut gue.

Sampailah gue di kamar, dimana kakak dan ponakan gue dirawat di sana. “unchhh ponakan gue cantik banget, kaya tantenya” gue pun menggendong bayi yang tadinya ada di pangkuan kak mikha si odong-odong. “Kaya ibunya lah, emang lo yang ngelahirin” celetuk kak mikha. “Iyeee kaya ibunya jelek” jawab gue.

7 Bulan berlalu.
“Heh lo de, mau apa sih lo kok ngiler terus?” Air mata keluar dari mata bulat gue, bukan karena sedih melihat ponakan gue yang terus ngiler tapi karena debu hinggap di mata gue. “Kacang” ponakan gue yang baru berusia 7 Bulan berkata demikian. Wajah gue mungkin terlihat bingung seratus persen, menatap wajah ponakan gue yang tadi berkata “kacang”.

Kemudian ada seseorang yang berbicara “gue inget de, waktu lo bilang lagi di depan toko buku kacang di daerah Majalengka itu sebenarnya gue ingin dibeliin buku sama loe di sana” nampaknya dari tadi kak mikha berdiri di belakang gue yang duduk di kursi Taman. “Terus?” Tanya gue “Gue Kasih lo 17 juta, tapi lo harus beliin gue buku di toko buku kacang!”

Dengan terpaksa demi ponakan kesayangan gue, gue pergi ke Majalengka bersama pacar gue yang gue panggil wawan. Beberapa jam perjalanan akhirnya kami sampai di hotel yang dulu pernah gue kunjungi. Gue dan pacar gue yang tercinta tidur di hotel karena jam sudah menunjukkan pukul 00:18, kebetulan gue dan wawan sudah ngeboking kamar. Dan jangan curiga ya, gue sama dia gak tidur sekamar kok hanya sebelahan aja kamarnya. Pacar gue itu tajir, kalo soal hotel dia yang bayar katanya. Sebelum tidur gue buka internet cari tempat atau alamat toko buku kacang.

Tapi nihil, tak ada pencarian yang pas dengan alamat yang gue tuju. “Toko buku kacang” memang sih agak aneh namanya tapi emang gue pernah lihat toko itu, toko yang lumayan agak besar dan juga lumayan megah dan sepertinya berisi banyak buku.

Pagi pun tiba, hawa dingin menyapa namun tak mendinginkan suasana hati gue. gue buka pintu, terlihat sosok tampan yang membawa sepucuk bunga mawar yang indah. Gue bohong, bunga mawarnya layu mungkin saja si wawan nemu punya orang, tapi sudahlah segitu juga lumayan. “Ayo masuk” ucap gue agak manja. “Ihhh” balas wawan wajahnya menampakkan ekspresi tak suka dengan gaya bicara gue yang ala syahrini. “Dasar karpet Taman lu, gue ngomong manis malah digituin, sana pergi!” gue tutup pintu kamar namun dihentikan oleh tangannya “maafin gue seblak goreng” balasnya yang tersenyum manja. Kami pun memasuki kamar berdua. *tidakmelakukanapapunhanyamenyusunstrategi.

Setelah strategi berhasil kami susun, gue dan wawan pun mulai memasuki mobil untuk mencari toko buku kacang secara manual tanpa bantuan google.

Beberapa jam berlalu. “Heh TOA jangan nyanyi terus lo, hayati lelah dengernye.” ujar wawan yang menyebalkan. “Eh lo aki-aki sabar napa, mata gue juga lelah cari toko buku kacang, gue nyanyi dikit biar mencairkan suasana gitu. Ya udah kita makan dulu aja noh di rumah makan sana” jawab gue yang panjang lebar, menunjuk sebuah rumah makan.

3 hari berlalu.
“Sumpah gue lelah dengan hidup gue ini, oh tuhan mana toko buku kacang??” Gue menangis tersedu-sedu *lebay “oh tuhan napa gue punya pacar ke dia?” Jawab wawan yang berteriak “bunuh gue wan” lanjut gue yang berkata lemah “udahan lah becandanya, terus mau cari lagi toko buku kacang?” Tanya wawan yang membuat gue teringat pada toko buku yang buat kami tak kunjung pulang ke Jakarta “gue lelah wan, kita pulang aja ke jakarta gak papa kalau ponakan gue ngiler terus udah nasibnya kali” “oh ya udah deh, Bagus kalo gitu… kita pulang!!!” Wawan terlihat bersemangat.

“Stopppppp!!!” Teriak gue yang tak sengaja melihat tempat yang sudah tiga hari gue dan wawan cari. “Apeee lagi?” Tanya wawan santai tak melirik ke arah gue, menghentikan mobilnya “itu toko buku kacang” Jawab gue yang menunjuk sebuah toko buku dengan latar warna pink “eh lu bego, dasar kresek asin, makroni basah, emak-emak rempong. Bego ya lu, pantes gak ketemu itu bukan toko buku kacang pea itu toko buku kencana!”… *krik-krik.

Ternyata oh ternyata, pantas saja gue dan wawan tersayang gak nemu toko buku itu, karena gue salah baca kawan. Pengalaman tergilaaaa.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Ahhhhh terinspirasi dari kesalahan membaca sebuah toko di kawasan kota Yogyakarta saat studitour… renita melviany, biasa dipanggil rere. Siswa SMA yang seperti ini, konyol, suka becanda gitu deh…

Cerpen Toko Buku Kacang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cuma Mimpi

Oleh:
Semalam aku bermimpi lagi. Mimpi yang penuh misteri. Rasanya aku berada di 2500 tahun yang lalu. Dalam mimpi itu aku melihat seorang lelaki yang berada di atas sebuah bukit.

Boyband Dalam Kardus

Oleh:
Panggil aja gue JONES, temen temen gue yang ngasih panggilan itu. Emang sih gue gak tahu arti dari panggilan itu, tapi gue rasa gue suka panggilan itu, gue pikir

Negeri Jepreth

Oleh:
Chapter 1 Alkisah, di sebuah negeri yang bernama jepreth, ada 3 orang yang sangat jahat yang selalu meneror rakyat. Negeri tersebut awalnya bernama negeri aman sejahtera, tapi dikarenakan ketiga

Batuk Versi Sharmay

Oleh:
“Batuk apa saja yang membatalkan salat?” Kali ini Ustadz Boerhan Ibrahim atau yang lebih masyhur dipanggil UBI mengevaluasi materi minggu lalu kepada para santriahnya. Seorang gadis berjilbab cokelat membenarkan

BMW

Oleh:
Perawakannya sedang, kulitnya sawo matang, matanya bundar, punya lesung pipi kalau tersenyum, hidungnya mancung dan berbibir tipis, kesimpulan? Cowok yang ada di barisan depan dekat mimbar mesjid itu membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Toko Buku Kacang”

  1. Dinbel says:

    Haahaaaahaaaa, kocak ya ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *