Tukang Comot Dompet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 November 2021

Gue Andika. Mahasiswa semester satu di salah satu perguruan tinggi di kota kembang. Baru lulus sekolah menengah beberapa bulan lalu. Gue punya temen namanya Eza, dia orang sunda tulen. Beda dengan gue yang setengah campuran jawa tengah. Gue kenal dia waktu masa orientasi kampus.

Sebagai orang kampung dan lahir dari keluarga dengan ekonomi pas pasan membuat gue mau gak mau nyari kerja sambil kuliah. Nah, si Eza ini punya kerjaan. Dia ngajak gue. Bukan kerja di PT apalagi di perusahaan. Dia adalah pencopet yang ulung. Dia ngajakin gue nyopet. Awalnya gue ogah ogahan, itu kan kerjaan haram. Gini gini juga gue masih punya iman, walopun cuma dikit sih. Eza bilang lumayan hasilnya, sehari bisa dapet ratusan ribu. Tergantung sih, tergantung dari isi dompet korban. Eza bagaikan setan yang selalu membujuk gue buat ikut jejak dia.

“Jangan takut Dik, selagi lo punya tekad dan keberanian. Lo pasti berhasil.” Ucapnya suatu hari. Berhasil pala lo!. Kalo gue ketauan gimana?. Mau ditaro dimana muka gue?. Ucapku dalam hati.

Namun, setan adalah setan. Selalu membujuk manusia yang nggak berdosa sama sekali kayak gue (halahh) ini buat ikut terjun dalam dunia hitam nan kelam. Gue pun ikutan. Setelah mempertimbangkan aspek aspek kehidupan gue yang serba kekurangan, tanpa memikirkan ajaran agama dari orangtua gue yang selalu bilang inget terus sama yang diatas. Gue terjerumus ke dunia percomot dompetan alias nyopet. Gue resmi bergabung.

Gue dan Eza bagaikan dua setan yang datang dari neraka untuk mencomot dompet orang orang. Target kami ibu ibu yang lengah, anak sekolah yang bawa hp di tasnya dan juga mahasiswa macam kami yang baru dapat kiriman dari kampung. Memanglah pelaku kejahatan selalu diberi jalan yang mudah dalam melakukan kejahatannya. Dalam hitungan minggu gue udah jadi pencopet yang bisa dibilang cukup handal. Penghasilan kami sekali nyopet dibagi dua. Lumayan lah bisa buat makan sehari hari dan bayar kosan. Semenjak jadi pencopet gue ngga harus muter otak bagi uang kiriman dari kampung. Gue belajar mandiri meski caranya yang salah.

Hidup itu kayak roda. Nggak selalu ada diatas terus, ada kalanya muter ke bawah. Hari itu gua lagi kena apesnya. Eza ngajakin gua nyopet, mumpung hari libur katanya. Mengisi waktu luang. Kita naik angkot warna kuning, penumpang ramai. Kita berdua nyari posisi yang enak buat nyopet. Target kita ibu ibu berbaju biru yang bawa tas belanjaan kecil yang ia taruh disamping. Gue yang jadi eksekutor dan Eza jadi pengamat lingkungan siapa tau ada yang liat.

Gue udah ambil ancang ancang, tiba tiba angkot berhenti. Penumpang masuk, gadis gadis muda nan modis itu masuk mengisi kursi yang kosong. Ternyata mereka adalah teman kampus gue. Mereka bertiga adalah Tina, Nana dan Titik. Mereka nyapa gue, otomatis gerakan tangan gue yang mau nyopet terhenti. Gue basa basi dulu lah sama mereka. Gue agak salting karena salah satu dari mereka adalah cewek yang gue suka, dia adalah Nana. Gadis cantik putih bersih dan anggun. Sejenak Nana membuat gue lupa akan misi yang harus dikerjakan. Tapi beruntungnya Eza nyadarin gue dengan memberi isyarat melalui deheman. Gue mencoba fokus lagi dengan ibu ibu berbaju biru disamping gue. Entah hari itu gue lagi sial apa gimana, gue kena batunya. Saat ibu ibu itu lengah dan tangan gue nyomot dompetnya, si Tina mergokin aksi gue.

“Dikaa!! Ngapain tangan lo grepe grepe??! Lo mau ngapain!!” Pekik Tina. Membuat semua orang menatap gue, gue menelan ludah. Gue ketuaan!, eh salah ketauan maksudnya. Muka gue merah padam, juga muka Eza. Ibu ibu itu menoleh ke gue, memeriksa tasnya. Dompetnya udah raib, pindah ke perut gue.

“Loh dompetnya ngga ada! Kamu copet yah??!” Tuduh ibu ibu itu. Seketika suasana ramai sudah diangkot itu. Gua dan Eza dipukul ditendang dicincang (enggak lahh). Gue ngerasa malu apalagi sama Nana sang pujaan hati, dia melihat dengan jelas. Gue akhirnya ngaku dan kita berdua digelandang ke kantor polisi. Kita ngga dipenjara kok cuma bayar beberapa ratus ribu aja.

Gila, efek dari kejadian itu merembet kemana mana. Semua orang di kampus tau kita berdua tukang nyopet. Dasar trio cewek pengadu!, eh Nana mah enggak. Dasar duo cewek pengadu!. Gara gara mereka gue kena apes sendiri. Dan mau dimana gue taro muka gue sekarang?. Gue malu dan gue nyesel. Kalo aja waktu bisa diputer dijilat dan dicelupin. Ehhh

Tamat

Cerpen Karangan: Seli Oktavia
Facebook: Selliiii Oktav Ya
Email: oktaviaa1001[-at-]gmail.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Tukang Comot Dompet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zombie and Plant

Oleh:
Pukul 20.00 WIB. Penyelidikan di rumah tersangka pencurian… “Ah!!! Itu pencurinya!!! Tangkaaappp!!!” Teriakan ala suku mongol ini berasal dari seorang kawanku yang bernama Meranti. Perlu penjelasan lebih lanjut bahwa

Penyesalan Dan Rindu Yang Tak Berujung

Oleh:
Aku termenung sendiri di kursi kesayanganku. Menyesali kejadian 3 tahun lalu yang telah kulakukan padanya. Saat itu aku memutuskanya tanpa alasan tapi entah mengapa aku selalu menyesalinya dan selalu

Ikhlas

Oleh:
“Dito, sekarang kamu kemas barang-barangmu ya! Jangan sampai larut malam, karena besok pagi kita sudah harus pindah rumah.” Himbauan Papa kepada Dito. “Hmmmm yaudah deh pa.” saut Dito sambil

Kisah Tak Sampai

Oleh:
“Dear Diary, Semenjak aku mengenal dia, yang aku rasa itu beda. Yang selalu di pikiranku cuma dia. Kadang bosen, kadang pula itu yang bikin aku jadi semangat setiap hari.

Hantu Bus Karona

Oleh:
Bus Karona julukan mobil angkutan umum di kotaku. Ciri khas mobil ini berwarna kuning dan ada juga yang berwarna oranye terang dengan lis hitam mirip mobil antar jemput anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *