Unconcious (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 10 September 2015

Brreemm!! Brreemm!!
Tit! Tit!

“aaarrrghh!”
“ughh ouch!!”
“Kenapa kasur gue kasar sih?! kayak tembok aja” keluhku sambil mengusap-usap jidat yang sakit akibat terbentur benda keras tadi.

Ku lirik sekeliling dengan mata setengah merem melek.
“uh kok rame” bisikku kaget. Mungkin pandanganku masih belum jelas maka kembali ku kucek-kucek kedua mataku. Kemudian sekali lagi ku fokuskan dengan keadaan tempatku berbaring sekarang.
“wuohh where the hell am I?!! (di mana gue)” teriakku setengah panik. Heran melihat suasana sekeliling yang hiruk pikuk di tengah-tengah kemacetan Kota.

Bergegas ku bangun beranjak dari aspal trotoar tempat ku baringkan tubuh ini. Tanpa mau berpikir panjang secepat kilat ku ayunkan kedua kaki melarikan diri dengan sejuta pertanyaan berputar di dalam kepala ini yang semakin terasa berat.
“gila! kenapa gue laper banget ya?” desisku sambil memegang perutku yang keroncongan.

Kepanikanku bukan cuma sampai di situ saja karena pas saat ku menengok pada sebuah kaca toko di depanku.
“Siapa itu!!!” kataku setengah teriak seraya menuding pada sosok bayangan dari pantulan kaca itu.
Tampak berdiri seorang pria compang-camping berjenggot lebat menatap balik terbelalak.
“oh no! no! no!”

Ku jalari dengan jemari-jemariku setiap jengkal wajah, tubuh, semuanya. Memastikan bahwa ini bukan mimpi. Bingung, takut, tegang bercampur aduk menjadi satu. Sampai-sampai akhirnya aku sadar dan tak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh kulit, kemudian aku pun terkulai lemas di emperen toko menyadari bahwa memang benar pria yang menatapku ini adalah aku.

“oi orang gila! pergi sana jangan mangkir depan toko ane trus. Oe cuma bikin pelanggan-pelanggan ane kabur aja!” usir pria China seraya menarik-narik lenganku dengan paksa. Darahku mendidih seumur hidup tak ada satu orang pun yang pernah berani menyentuhku tanpa izin.
“lepasin gue!” ku kibaskan tanganku mencoba melepaskan diri dari genggaman erat pria kurang ajar ini.
“berani-beraninya lo nyeret gue! lo gak tahu siapa gue?!” bentakku keras di depan mukanya. Bukannya ia menggubris permintaanku tadi. Si pria china ini hanya menatapku heran dan kemudian, “huahaha! huahaha! haha”
Si china long leng ini malah heboh tertawa tanpa sebab.

Kadang jika kita kehilangan suatu benda yang sangat kecil seumpama seperti peniti yang ingin kita pakai terjatuh ke bawah meja belajarmu, kemudian kita mulai mencarinya pada tempat di mana peniti itu terjatuh. Tetapi sayangnya, kamu tidak menemukannya di setiap sudut manapun. Seakan-akan peniti tadi sudah hilang berpindah ke dimensi lain atau entahlah raib begitu saja. Tentunya yang kita rasaakan hanya kekesalan dan kekecewaan.

Karena saat ini peniti itu adalah peniti terakhir yang kau butuhkan. Itulah perasaan yang ku alami sekarang karena sekeras apapun ku mencoba mempertanyakan apa yang terjadi kepada otakku. Namun My precious stupid brain selalu men-shutdown saat ku mencoba menggali informasi apapun yang ingin ku ketahui. Tak ada pilihan lain harapan satu–satunya adalah harus menanyakan pada si bodoh di depanku yang masih asyik memegangi perutnya yang geli akibat tertawa. Menyebalkan! Uugghhh!

“woi udah woi! apa yang lucu sih” teriakku menghentikan tawanya yang menjengkelkan membuatku ingin memotong lehernya saja saat ini juga.
“hahaha oe.. haha.. sekarang.. haha sudah bisa ngomong ya? haha, atau ane yang sudah mulai gila haha.. bicara sama orang gilaaa hahaha” jawabnya diselingi tawa.
Ku kepalkan kedua telapak tanganku. Hampir terkikis sudah. Grrrr! Aku bersumpah kalau nih orang gak diem sekarang juga, aku gak jamin dia bisa pulang dengan leher yang utuh!

Seperti habis hujan terbitlah pelangi. Akhirnya ia merasakan aura puncak kemarahan yang tersirat di wajahku membumbung tinggi memberi warna merah menyala kulit putihku. Ia tatap sekali lagi, tawanya pun terhenti. Seketika tampak raut ketakutan di wajah pria ini ketika melihat posisiku yang siap tempur. Badannya mulai bergetar diambilnya langkah mundur seraya hendak lari menghindar dariku.

“O..o” batinku. Dengan sigap ku genggam dan ku tarik lengan bajunya, sembari terus mempererat genggamanku tak sudi melepaskan cengkeramku dari lengannya.
“uhk o..o..oe mau apa? jangan ber..ani berani sama a..a..ne ” suaranya terbata -bata. “ane panggil polisi buat oe!” lanjutnya mengancam.
“Hah dia pikir dia bisa memenjarakanku, yang ada juga sebaliknya” pikirku menyeringaikan senyuman sinis ala JIGSAW.
Ku rasa sekarang giliranku untuk tertawa. Hahaha!!

Dasar rakyat jelata menyedihkan. Aku tak habis pikir kenapa banyak sekali rakyat jelata di dunia ini. Keberadaan mereka tak berguna, toh mereka hanya bisa menuhin dunia dan mengakibatkan global warming, kerusakan di mana-mana dan juga menjijikan.

“Tapi tenang Ardi sekarang lo butuh bantuan pria jelata ini” batinku.
“lo tahu siapa gue, dan kenapa gue ada di sini?” tanyaku To the point. Dan sekali lagi bukannya menjawab pertanyaanku ia malah melongo menatapku asing seperti baru pertama kali bertemu denganku. Tatapannya sangat berbeda dibanding beberapa menit lalu.
“ehhmm!!” dehemku menunggu jawabnya.
“oh uh bukannya oe selalu di sini?” jawabnya ringan.
“maksud lo gue selalu di sini gimana?! Dan kenapa baju dan penampilan gue seperti ini!” tanyaku tak sabar.

Ia membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan marathon yang ku tujukan. Tetapi sebelum terucap satu kata pun yang ke luar dari mulutnya.
“Dan sebaiknya lo jujur, kalau gak gue bakal potong leher dan lidah lo lalu gue jadiin gantungan kunci sekalian. oke!” lanjutku mengancam.
Matanya terbelalak mendengar keseriusan nada ancaman yang terlontar dari mulutku. Dia pun menelan ludah sebelum mengambil napas panjang bersiap menjawab pertanyaan yang jawabannya tak bisa ku bayangkan sekalipun.
“oe sudah di sini kurang lebih 7 tahun. Dan oe adalah ORANG GILA”

Pandanganku kabur jauh melebihi ketika ku bangun pagi tadi. Aku tak sanggup lagi mendengarkan penjelasan pria china yang dari tadi panjang lebar ia menjawab dan menceritakan kehidupan 7 tahunku yang tak terasa tanpa sadar ku jalani selama ini. Kehidupan yang entah berawal dan berakhir sampai di mana bahkan aku sendiri pun tak percaya, apa yang terjadi saat ini pun aku tak yakin ini juga nyata. Namun semua mimpi hakikatnya mimpi buruk. Tentulah itu hanya harapan kosong jikalau berharap ini hanya bunga tidur semata. Setelah beberapa kali ku cubit kulit yang terasa sakit membuktikan bahwa ini bukan memang bukan alam mimpi atau ilusi semata.

Aku ingin pulang. Mataku sayu, tubuhku lemah tak kuat lagi menahan kebingungan jiwa kosong yang menerpa sanubari. Apa yang terjadi? Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa yang harus ku lakukan? Kenapa pertanyaan model tak berguna seperti ini selalu muncul saat keadaan seperti ini. Ini tak ada gunanya lagi ku ratapi hal yang sudah terjadi. Apapun alasannya Tuhan pasti menentukkan semua yang terbaik untuk makhluknya. Masalahnya tak mungkin ku temui jalan keluarnya secepat yang ku mau. Dan selama ini aku adalah tipe orang yang jauh dari kata sabar. Yang jelas sekarang aku jauh dari kehidupanku dulu. Dan aku harus mencari tempat bernaung untukku sekarang. Tapi di mana? Aku tak punya uang.

“Aaarrrgggghhhh!!! batinku berteriak.
“ayo oe masuk dulu aja di rumah ane, kalau oe mau” tambahnya gemetar.

Sebenarnya pantang bagiku menerima bantuan dari orang lain. Namun apa aku punya pilihan?
“Tidak” batinku ngilu menerima kenyataan yang harus ku tanggung.
“Yah!” bisikku sangat pelan hampir tak terdengar suara yang ku paksakan ke luar sangat berat terasa menyenggol egoku yang setinggi Burj Khalifa.

Bersambung

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Blog: Mella memey seyy tumblr
Facebook: Nekkayz

Cerpen Unconcious (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boyband Dalam Kardus

Oleh:
Panggil aja gue JONES, temen temen gue yang ngasih panggilan itu. Emang sih gue gak tahu arti dari panggilan itu, tapi gue rasa gue suka panggilan itu, gue pikir

O Seram

Oleh:
“AhhhHH…“, Teriakan Dewi mengagetkanku dan Alex. Dengan lincah Aku segera mencari Dewi yang barusan bilang kalau ingin cuci muka. “Kamu kenapa Dew?” Sambil membuka pintu Aku bertanya kepada Dewi

Pirouette Kue Ulang Tahun

Oleh:
Sara keluar dari stasiun dengan langkah ringan, merasa senang bisa lepas dari sesak kerumunan penumpang Jumat sore. Tumit sepatunya berkeletak-keletak tiap kali menapaki trotoar yang masih basah setelah hampir

Am I Cinderella? (Part 1)

Oleh:
“Yosi bangunnnnn. Jam 6 lebih banyak banget nih. Kakak mau upacara. YOSI!… YOSI!…” “YOSIIIIII.” Teriakku sambil berjalan ke kamar. “KEBLUK! YOSI! Bangun! Jam 6 lebih nih kamu belum mandi

Balada Skripsi

Oleh:
Aku tak mau berlarut-larut dalam penyelesaian skripsi ini. Semenjak keluar daftar dosen pembimbing di akhir bulan April 2015 kemarin sangat banyak cobaan silih berganti menerpa jalan hidupku. Mulai dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *