Unconcious (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 10 September 2015

Pahit! Itulah kata pertama yang muncul di otakku ketika baru masuk pintu toko si china itu. Segala macam bau-bauan kayak ramuan jamu atau apalah namanya, menyengat menyerang lubang hidungku tajam. Maksudku sangat-sangat tajam. Entahlah ini bau apa. Mungkin juga menyan kali ya?
“dukun dong haha.. ngaco gue” batinku

Si china masuk ke dalam balik pintu meninggalkanku sendiri duduk di bangku ruangan aneh yang entah harus ku gambarkan bagaimana. Banyak banget barang-barang warna merah di sini. Mulai dari kursi, vas bunga, lampu, bahkan kertas-kertas kecil bergelantungan kayak di film-film vampir Boboho gitu. Mungkin benar emang dia dukun, pendeta, atau mungkin pengusir vampir.
“Ah gak mungkin, masa pengusir vampir kok takut sama orang gila kayak gue aja haha..” batinku lucu mengingat ekspresi muka si china tadi waktu ku pelototin.
“kenapa lo cengar-cengir” suara cewek membuyarkan hiburanku. Ku tengok ke arah suara itu.

Busyeetttt.. Ini gue di mana? kok ada partnernya jackie chan juga. Bukan yang cowok tapi yang cewek. Kalau gak salah namanya Charlene choi. Yah mirip banget sama nih cewek. Cuma sayang nih cewek pake kepang dua. Jadi kayak culun gitu. By the way nih cewek judes banget. Dia kira dia bisa tanya-tanya gue dengan kasar apa. Sorry gak banget!

“Woii ditanya kok diem aja. Kenapa lo cengar-cengir?” ulangnya menanyaiku. Nyebelin juga nih cewek. Ngapain ku jawab yang ada juga ku tatap sinis muka nih cewek. Walaupun mulus juga sih mukanya. Gemesin gimana gitu.
“Aaahh ko malah ngelamun sih!” teriak batinku.
“lo bisu atau masih tetep gila?” tanyanya ngeyel.
“GUE GAK GILA!” teriakku sontak.

Berani-beraninya ngatain gue gila. Dia kira dia siapa!
“oh ternyata bisa ngomong juga, ya udah sini ikut gue” ucapnya sambil menggerak-gerakkan ujung tulunjuknya. Mengisyaratkanku untuk mengikuti dia yang udah berjalan di depan. Dikira gue anjing apa. Kamprett!

Gak ada pilihan akhirnya gue pun ngikutin si kepang ini dari belakang kayak anak anjing. Ugghh dosa apa sih gue sampe harus ngalamin semua ini. Sebentar, atau memang ku sudah membuat banyak dosa sehingga sekarang nasib ini menimpaku. Kata orang karma masih berlaku. Apa ini yang disebut Karma? Terasa nyeri dalam dadaku seperti ada yang tergores dalam sana. Tapi aku gak yakin apa itu hati atau cuma rasa lapar tadi. Yang jelas otakku masih belum berfungsi. Setiap ku mencoba mengingat semakin berat dan pusing saja yang kurasa.

Akhirnya sekali lagi aku merasa seperti orang gila. Aku masih belum percaya dengan semua ini. Dengan kenyataan kalau aku sudah jadi gembel gila di jalanan selama 7 tahun bahkan lebih.
“Oi ngelamun aja lo, ntar makin gila tahu” ucapnya.
“Sono masuk!” lanjutnya menuding kamar mandi di depannya.
“Ngapain?” tanyaku pura-pura bego.

Padahal gue tahu nih cewek pengen gue bersih-bersih. Hell! gue juga udah risih banget dengan jenggotku yang hampir kayak Dumbledore.
“lo bego apa emang bego, ya mandilah terus cukur tuh jenggot. Bikin ngeri aja kayak kepala sekolahnya Harry potter aja” ucapnya sambil memasang muka jijik.
“Yang bego lo kali. Dumbledore aja gak tahu” jawabku ngrasa pinter.
“Apa?! lo bilang apa?” ucapnya sambil deketin kepang beracunnya ke mukaku. Gak tahu tuh kepang udah terkontaminasi apa aja iya kan?
“Gak ada, sono minggir” kataku nyelonong masuk kamar mandi.
“Dasar jenggot” gumamnya menggerutu.
“gue denger.. Ke..pang!” kataku menyerukan kata terakhirku.

Ia menoleh dengan wajahnya yang kaget bola matanya melotot hampir copot kaya robot. Hehe.. berirama yah. Sebelum ia sempat membuka mulutnya. Aku tutup pintu kamar mandi di depan mukanya tak lupa pula aku memberinya juluran lidah plus kedipan mata. 1-0 buat miss kepang. Yay!

Lega rasanya udah kembali ke wujudku yang semula. Dari pada tadi gue kayak orang utan. Entah berapa kilo tuh rambut dari seluruh tubuhku.
“wooii jenggot! ngapain lo jadi patung di situ” ahh suara si kepang lagi. Kapan hidupku tenang.
“Gue udah gak jenggotan kali” jawabku kesal.
“Bodo. Ikut gue” katanya datar.

Makin jadi nih cewek. Tapi gue udah gak punya energi untuk ngeladenin dia. Bukan ‘cinta ini membunuhku’ melainkan, ‘Lapar ini membunuhku’. Kedua kalinya gue jadi puppy lagi di belakangnya. Terkilas sebuah bayangan di mana aku biasa dikawal bersama bodyguard-bodyguardku ke mana-mana. Aku masih tak mengerti kenapa sepertinya otakku berjalan seenaknya sendiri. Buktinya bila aku yang mencoba mengingat malah otakku menolak. Bahkan ngasih rasa pusing tiada tara sebagai hukumannya. Jadi kayak Kera Sakti aja. Wah gak bener ini!

Meja mereka kecil bunder lagi plus tentu aja piring dan mangkok-mangkok merah di atasnya. Gak minum darah aja sekalian.
“Dasar keluarga vampir” batinku.
“Silahkan duduk” kata pria china tadi.

Perlahan aku duduk di kursi kecil menatap makanan yang ada di atas meja ini.
“makanan apa ini?” kataku sambil menutup hidungku dengan telapak tanganku.
“HAI LO.. KALAU GAK SUKA JANGAN MAKAN!” teriak si kepang dengan suara kencang. Hampir pecah gendang telingaku karenanya.
“Meilin. duduk!” kata si pria china setengah teriak.
“Tapi Papa…” jawab si kepang.

Si pria china hanya menatapnya tajam. Namun cukup membuat si kepang bandel ini tunduk lalu duduk tanpa sebuah kata lagi. Ku rasa si pria ini Ayahnya. Tadi dia panggil Papa padanya. Dan nama si cewek ini Meilin. Hmmm nama yang bagus tapi kayaknya aku bakal panggil dia kepang aja. Pas kok!
“Terserah oe mau makan atau tidak, kami hanya punya ini” ucap pria china sembari kembali menyumpit nasi dari mangkoknya.

Laparku tak tertahan sudah tingkat ibu kota. Aku tak bisa diam saja melihat makanan-makanan aneh di depanku ini. Tak ada pilihan. Terpaksa ku sendok nasi pada mangkokku lalu pelan-pelan ku tujukkan menuju bibirku. Untuk pertama kalinya aku mencoba makanan yang entah terbuat dari apa ini. Ku kunyah pelan-pelan sangat berhati-hati seakan-akan nasi ini bakal meledak di dalam mulutku. Hmmm enak juga.
Cukup perlu kata itu saja. Kemudian aku menjadi kesetanan. Maksudku ternyata aku benar-benar lapar sehingga ku santap semua berbagai makanan di depanku dengan kecepatan rekor muri. Bahkan aku sempat melirik ke arah dua orang bapak-anak di sampingku tersenyum melihat tingkahku. Aku tak peduli.

Di sinilah aku di samping si kepang ini lagi. Karena Ayahnya menyuruhnya untuk mengantarkanku ke kamar tidur untukku tidur malam ini. Kami hanya berjalan tanpa kata. Bukan kikuk, hanya perutku terlalu kenyang. Jadi males deh.

“Nih kamar lo” tudingnya pada pintu di depannya.
“oh” jawabku jadi bingung gue harus ngomong apa ya.
“oh ya by the way kalian dukun ya hehehe” lanjutku cekikikan. Mencoba melawak dari pada bingung ya kan.
“iya” jawab si kepang dengan nada datar.
“Serius lo” sahutku pura-pura kaget. Gak mungkin banget, mereka turunan china tapi dukun. Sampai kapanpun gak nyambung Jet-li sama Mak erot.
“hahahaha..” Gak tahan tawa ku lepaskan imajinasiku semakin liar membayangkan duet antara, “oh sial!”
“Lo bercanda kan?” tanyaku mulai panik mataku mau copot hampir jantungku pun melompat. Bagaimana tidak, lihat wajah si kepang ini tanpa emosi apapun. Alias blank. Berarti artinya bener dong mereka adalah.
“Hahaha” kali ini bukan aku yang tertawa tapi si kepang. Aku sadar dia baru aja ngerjain gue. Kamprett!
“Hahaha lihat muka lo tadi haha..” katanya sambil memperagakan muka aneh idiot sambil terus diselingi tawa hebohnya. Gue yakin muka panikku tadi gak separah kayak peragaan si kepang. Menjijikkan sumpah!

Berkali-kali ku mencoba menyela tawa iblisnya untuk membela diri. Tapi yah itu sia-sia. So gue tutup pintu di depan mukanya yang masih ngakak.
“Hari yang melelahkan, fiuuhh” batinku.

Ku baringkan tubuhku di atas kasur. Sekejap mataku terlelap dengan kilasan otakku yang menyadarkan bahwa masih panjang hari esokku.

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Blog: Mella memey seyy tumblr
Facebook: Nekkayz

Cerpen Unconcious (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


6.25 AM

Oleh:
Aku memeluk dia. Sial benar-benar memeluk. Apa ini nyata? “Indah, kamu mau apa? Nonton, makan atau jalan-jalan?” dia bertanya sembari menatapku dengan pandangan bertanya, kerutan di keningnya seperti menandakan

Hohoho

Oleh:
Bruuk! Kulempar tasku begitu sampai rumah. Hari ini capek sekali. Ini hari Selasa, hari pertama MOPD. Masa Orientasi Peserta Didik Baru. Kemarin aku harus tidur sampai jam sebelas malam

Jeritan Malam

Oleh:
Malam semakin pekat. Kegelapan yang menyelimuti malam di Kampung Gandaria membuai kehidupan dalam kesunyian yang dalam. Semilir angin yang berhembus mengantarkan sang Dewi Malam ke dalam tapuk penguasa malam.

Pangeran Kesiangan

Oleh:
“KRINGGG” Alarm berbunyi dengan keras, hingga membuatku terbangun. ku lihat jam udah nunjukkin pukul 06.00, WAAHH!! gawat bisa telat ni!! akupun bergegas menuju kamar mandi untuk segera mandi. Gak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Unconcious (Part 2)”

  1. Muhammad Aldino says:

    ceritanya seru bikin aku penasaran,lanjutin dong hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *