159 Prasangka Buruk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 March 2016

Mereka memanggilnya Bang Mo. Ya, sangat sesuai dengan fisiknya yang begitu bulat seperti bakso. Para tetanggaku tidak pernah bertanya mengapa ia selalu mengendarai gerobak satenya itu dengan sangat kencang ketika malam telah tiba. Aku sungguh penasaran, ditambah lagi dengan sosoknya yang pendiam dan misterius walaupun wajahnya kelihatan baik. Sekali-kali aku pernah menyinggung soal dirinya yang seperti pembalap ketika membawa motor usang bergandeng gerobak sate itu.

“Biasa, dek. Ngejar target.” Hanya itu jawabannya, tak pernah lebih. Aku tahu ia tak serius, kelihatan dari cara menjawabnya penuh dengan tawa paksaan. Rasa penasaran dalam hati ini semakin menjadi-jadi ketika ku tahu ternyata ia mengendarai gerobak sate itu masuk dalam hutan-hutan yang penuh dengan pohon kelapa sawit. Ia bukan tukang sate biasa, pikirku. Aku menceritakan hal ini kepada ayahku. Walau ku yakin berat rasanya mendapat kepercayaan seorang ayah dari cerita sok mistisku ini.

“Halah, mungkin abang itu cuma mau pipis makanya dia masuk ke sawit-sawit.” Ucap ayah sambil membaca koran langganannya seraya menyeruput kopi hangatnya.
“Kalau Ayah nggak percaya, entar malam kita selidiki ya! Gimana, mau?” Aku mencoba membuat ayah tertarik dengan ceritaku. Ia menatapku dengan tajam, lalu melepaskan kacamatanya dan melipat koran yang sedang ia baca.
“Bagas, kamu nggak boleh menyimpulkan ini misterius! Bisa saja abang sate tersebut seperti itu hanya karena masalah sepele.”
“Ini waktu yang tepat, Yah! Malam jumat.”

Sementara hari masih siang, aku pergi bermain ke rumah Irfan. Tidak ada salahnya kalau aku juga mengajak si kutu buku ini berpetualang di malam jumat. Tapi ia juga orang yang sama seperti ayah, tak percaya hal-hal yang berbau mistis begini. Belum tentu juga ini mistis, karena belum terselidiki apa sebenarnya rahasia yang dimiliki tukang sate itu.

“Lah, aku juga nampak, kok.” Irfan langsung menutup buku yang ia baca.
“Nah, kamu di mana? Kalau aku di warung Pak Tono! Kan, warungnya itu menghadap jalan masuk menuju sawit-sawit yang dilalui Bang Mo.”
“Aku menjenguk si Abdi tadi malam. Kebetulan banget tuh rumah Abdi bersebelahan dengan warung Pak Tono.”
“Tunggu, Abdi sakit? kapan? kenapa?”
“Ini dia yang namanya kisah misteri! Untuk lebih jelas, sebaiknya kita tanya saja langsung sama Abdi.”
“Loh, kenapa nggak kamu aja yang nanya tadi malam?”
“Lupa, bro! Hehehe..” Irfan langsung berlari ke luar rumah.

Rumah Abdi begitu ramai. Para warga di sekitar rumahnya datang berbondong-bondong seperti sesuatu yang hebat telah terjadi. Bahkan Irfan sampai tertabrak oleh warga yang sibuk berlari menuju rumah Abdi. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam dan yakin kalau aku akan kuat menghadapi apa yang akan ku lihat nanti. “Anu.. si Abdi kerasukan, leh.” Apa? Kerasukan? Tidak biasanya Abdi kerasukan. Abdi itu anak yang fisik dan mentalnya kuat, bahkan ia juga jarang melamun. Aku semakin penasaran saja dan mencoba menerobos kerumunan warga yang memenuhi halaman rumah Abdi. Mungkin saja ini ada kaitannya dengan misteri Bang Mo. “.. dia selalu mengotori tempatku! Aku nggak akan pergi kalau nanti malam dia masih saja datang ke tempatku.”

Aku merinding mendengar teriakan makhluk yang merasuki tubuh Abdi. Apa maksud dari perkataannya itu? Para warga yang menyaksikan kejadian ini pada berbisik satu sama lain membahas apa maksud perkataan makhluk tersebut. Pak Tono, selaku ahli agama di desa ini, hanya menggelengkan kepala. Ku rasa ia tidak sanggup lagi untuk mencoba mengusir makhluk tersebut dari tubuh Abdi. Tapi, ‘Dia’ siapa? Inilah akibat hanya mendengar sepotong perkataan makhluk halus itu tadi. Aku sama sekali tak mengerti apa yang sebelumnya terjadi pada Abdi.

“Tolong, pergilah dulu dari tubuh anak ini. Kau hanya akan menambah ketakutan di desa kami! Kami berjanji tidak akan membiarkan orang itu mengotori tempatmu lagi! Jika nanti malam masih saja ia berani mengotori tempatmu, maka kau boleh membawa anak ini pergi.”
“Apa?! Enak aja bapak mengorbankan anak saya! Saya tidak mau.” Ayah Abdi, pak Mahdi marah-marah dan tidak terima dengan keputusan Pak Tono. “Mas.. Mas! Sudahlah, Mas! Itu satu-satunya cara agar anak kita dapat kembali untuk sementara ini! Dan nanti malam, kita akan menangkap tukang sate itu.”

Ya ampun! Ternyata benar dugaanku! Kejadian ini ada kaitannya dengan Bang Mo, bahkan memang dia yang menjadi fokus dari kejadian ini! Ini membuat rencanaku dengan ayah menjadi batal, karena kini seluruh warga desa akan siap siaga di rumah Abdi untuk menangkap Bang Mo. Jam di dinding rumah Pak Mahdi menunjukkan pukul delapan. Ini adalah waktu dimana Bang Mo datang dan menelusuri jalan ke dalam hutan persawitan di depan rumah Pak Mahdi. Sesuai kesepakatan, makhluk yang merasuki tubuh Abdi tadi memang telah pergi. Namun, Abdi masih saja pingsan dan belum tersadar. Sungguh pucat tubuh anak muda yang dipangku oleh Bu Ani, ibu Abdi, tersebut. Ku tatap wajah Bu Ani yang sungguh mencerminkan ekspresi sedih yang mendalam. Tangan keriputnya tak henti-henti membelai rambut anak semata wayangnya itu. Kini, rumah Pak Mahdi sudah dipenuhi warga setempat yang sedang bersiap siaga untuk mengadili Bang Mo.

“Hei, kenapa si gendut itu nggak muncul-muncul!?”
“Dia mungkin sudah tahu soal kabar ini makanya dia nggak datang.”
“Ah, datang nggak datang, kita harus tetap mengadilinya dan memberinya pelajaran! Dasar tukang sate nggak tahu diri.”
“Bapak-bapak, sudahlah. Jangan marah-marah dulu. Tenangkan hati, usahakan jangan diutamakan perilaku kekerasan yang berlebihan. Nah, sekarang, di mana Pak Mahdi?”

Benar juga! Dari sehabis maghrib tadi, Pak Mahdi tidak kelihatan! Ke mana dia, tanyaku dalam hati. Para warga menjadi saling bertanya satu sama lain. Suasana menjadi tambah misterius. Di keadaan seperti ini, ayah Abdi malah hilang entah ke mana. “Katanya tadi dia mau mencari kayu besar untuk memukul tukang sate itu. Tapi belum kembali juga sampai sekarang,” Ujar Bu Ani cemas.

“Ya ampun, kenapa sampai segitunya Pak Mahdi, Bu?” Salah satu tetangga Bu Ani, Bu Lela, merasa heran dengan sikap Pak Mahdi yang sepertinya sungguh kelewatan menghadapi masalah ini. “Bagas, Irfan! Tolong kalian pergi ke perempat jalan di dekat pos kamling desa sekarang! Perasaan saya mulai nggak enak,” Aku dan Irfan sangat terkejut. Tiba-tiba Pak Tono memerintahkan kami untuk pergi mengecek keadaan. Tanpa pikir panjang, kami pun langsung ambil langkah seribu. Ku tatap wajah Irfan penuh perasaan takut dan aku, aku tidak terlalu takut, tapi sangat takut!

“Gas, kamu harus janji nggak akan meninggalkanku pergi nanti.”
“Ih, kamu kok kayak perempuan gitu sih, Fan? Risih aku jadinya.”
“Dengar, Gas! Ini sungguh situasi yang sangat mencekam! Aku nggak nyangka kenapa akhirnya kita ikut terlibat.”
“Irfan! Kita bukan terlibat, tapi hanya berpastisipasi! Kamu tahu, sebelum ke rumah Abdi, tadi pagi aku bersama Ayahku berencana untuk menyelidiki masalah perihal Bang Mo malam ini. Eh, malah akhirnya satu kampung ikut.”
“Eh, iya! Ayahmu juga nggak kelihatan di rumah Abdi dari tadi sore.”

Tap! Aku menghentikan langkahku. Kakiku jadi gemetar, seluruh anggota tubuhku menjadi dingin. Mataku terbelalak seketika melihat kejadian tak biasa di hadapan mataku. Di ujung perempatan jalan, Pak Mahdi terbaring dengan balok kayu besar di atas tubuhnya. Wajahnya yang penuh luka memberi gambaran bahwa sebelumnya ia telah dihajar oleh seseorang. Aku dan Irfan pun langsung berlari menghampiri ayah Abdi yang babak belur itu.

“Pak Mahdi! Pak! Bapak kenapa? Kok bisa babak belur begini!?” Tanyaku sambil menyentuh dan memegang wajahnya yang penuh luka. “Apa Bang Mo yang membuat Bapak menjadi begini?” Irfan membuang balok kayu yang berada di atas perut buncit Pak Mahdi. Pak Mahdi tidak berkata satu patah kata pun. Ia masih sadar, hanya saja mungkin ia sudah tidak kuat untuk mengangkat tubuhnya dari tanah berbatu ini. Matanya masih terbuka dan kini menatapku dengan tajam.

“Ku harap kau kuat untuk..”
“Irfan!! Di belakangmu.”

Hal yang mengagetkan kini terjadi pada kami. Di belakang Irfan terdapat seorang pria bertopeng wayang golek yang ingin menghantamnya dengan balok kayu yang ia lemparkan tadi. Syukurlah, Irfan segera menghindar dan menarik bajuku untuk mengajak lari dari tempat ini.

“Gila! Siapa itu, Gas?”
“Mana aku tahu! Dia pakai topeng! Kita harus cepat berlari ke rumah Abdi agar terhindar dari kegilaan pria bertopeng itu dan juga melaporkan hal ini kepada Pak Tono.”
“Menurutku dia itu Bang Mo! Karena tubuhnya gendut dan bulat seperti bakso.” Aku menoleh ke belakang dan ternyata pria bertopeng itu kelelahan dan berhenti mengejar kami. Ini membuatku semangat untuk terus berlari agar para warga desa segera tahu apa yang telah terjadi di perempatan jalan tadi.

“Bang Mo?”

Pak Tono dan para warga berdiri dan diam menatap Bang Mo yang wajahnya juga babak belur seperti Pak Mahdi. Kini aku telah mendapat kesimpulan bahwa pasti pria bertopeng tadilah yang telah menghajar Bang Mo dan Pak Mahdi. Tapi, aku malah menjadi bingung dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku sama sekali tak mengerti. Lalu, wajah siapa yang ada di balik topeng wayang golek tadi?

“Jelaskan, sebenarnya apa yang telah terjadi. Kami semua tak mengerti! Kami kira kaulah yang dimaksud makhluk yang merasuki tubuh Abdi tadi.”
“Baiklah, saya akan jelaskan. Terserah Bapak Ibu mau percaya atau tidak. Sebenarnya, saya hanyalah tukang sate biasa yang ingin berkunjung ke kuburan Ayah saya.”
“Apa? kuburan? bagaimana bisa di ladang sawit seperti itu ada kuburan?”

“Tiga belas tahun yang lalu, ayah saya adalah tukang sate juga. Ia berjualan di sini selama dua tahun karena ia merasa satenya laris manis di desa Bangun Harapan ini. Namun, ketika ia sudah di puncak kelarisannya, seseorang mulai menumbuhkan rasa dengki padanya. Orang itu mengganti sate Ayah saya dengan daging binatang yang haram. Hal itu diketahui warga, sehingga membuat warga marah dan karena terlalu emosi telah ditipu, warga menghabisi Ayah saya dan menguburnya di tempat yang tak pantas.” Aku dan semua warga yang menghadiri acara interogasi Bang Mo terdiam dan bahkan ada yang menangis.

“Jadi, kau anaknya? Wak Lus, kan? Ya ampun, kami jadi merasa bersalah. Siapa warga di sini yang tega terhadap orangtua seperti itu?”
“Dia orang yang sama yang memukuli saya dan Pak Mahdi. Dia jugalah yang mengotori kuburan Ayah saya dengan kotoran-kotoran sapi,”
“Astaga! Dasar manusia berhati busuk! Ternyata suamiku juga dihabisinya! Di mana ia sekarang?” Bu Ani kelihatan mulai histeris.
“Kami menemukannya terbaring penuh luka di perempatan jalan, Bu! Kami tadi juga hampir dihajarnya juga.”
Seketika Bu Ani langsung pingsan dan para warga kaget mendengar cerita singkat kami.
“Saya tak menyangka Desa Bangun Harapan mempunyai manusia seperti orang itu! Mo, apakah kamu tahu siapa dia?”

Bang Mo terdiam sejenak. Ia memandangi warga yang sedang mengelilinginya. Entah apa yang sedang dipikirkannya sehingga ia belum berani menjawab pertanyaan Pak Tono. Menurutku, ia bukan tidak berani menjawabnya tapi tidak mau. Mungkin di dalam hatinya ada juga rasa dendam terhadap warga Desa Bangun Harapan yang telah berprasangka buruk terhadap dirinya terutama ayahnya sendiri. Aku sangat yakin seluruh warga di kampungku ini sebelumnya pasti telah berprasangka buruk terhadap Bang Mo. 160 orang, itu bukanlah angka yang sedikit untuk prasangka buruk terhadap seorang tukang sate. Kini, suasana jalan di depan rumah Abdi yang kami penuhi menjadi hening. Semua mata tertuju pada gerak-gerik tubuh bulat Bang Mo.

Bug!

Aku dan tak terkecuali warga yang meramaikan acara ini menjadi kaget dan terkejut. Seketika Bang Mo terkapar dengan mulut berbuih. Tubuhnya kejang-kejang dan mata mendelik ke atas. Itu menggambarkan bahwa Bang Mo telah diracuni. Tanpa pikir panjang lagi, semua warga segera menghampiri Bang Mo yang sedang sekarat. Ada yang menjerit ketakutan, menelepon ambulans dan polisi, sedangkan Pak Tono dan beberapa warga lain menggotong tubuh Bang Mo ke teras rumah Abdi. Aku jadi takut sekali dan mencoba lari dari keramaian ini. Aku melangkah mundur dengan perasaan yang entah seperti apa. Tubuhku gemetar, keringat dingin ke luar dari permukaan kulitku, wajah dengan ekspresi takut itu sudah pasti. Ku pejamkan mata dan berharap bahwa ini semua hanya mimpi buruk!

“Lihat, bukankah racun serangga adalah bahan yang tepat untuknya?”
Pria bertopeng wayang tadi sekarang berada di belakang punggungku! Aku tersentak kaget dan mencoba menjerit.
“Sekarang, tolong Ayah, Bagas..”
“..bawa Ayah ke kantor polisi.”

Tamat

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani

Cerpen 159 Prasangka Buruk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


There’s Something in Dieng (Part 1)

Oleh:
“Tuut.. Tuut,” Suara tiupan peluit kereta yang sedikit memekakkan telinga berbunyi dengan nyaringnya menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Tepat pukul tiga sore kereta ekonomi jurusan Jakarta–Pekalongan yang aku

Keabadian Cinta

Oleh:
“Aku sayang sama kamu,” ucap Kak Vincent perlahan dengan tatapan penuh kesungguhan. “A..a..akuu,” perkataanku dihentikan oleh jari telunjuk Kak Vincent yang menempel di bibirku. “Kamu nggak perlu jawab apapun,

The Call

Oleh:
Drrr… Drrr… Drrr… Getar ponsel di atas meja berhasil membangunkan Lidya yang sedang berada di alam mimpi. Dengan mata yang setengah terbuka, Lidya meraba-raba meja belajar dan mengambil ponselnya.

Sembunyi

Oleh:
Ibu mencariku. Di tangannya membawa semangkuk bubur sore. Tangan kiri mangkuk, yang kanan sendok. Siap menyodokkan sesuap demi sesuap ke dalam kerongkonganku. Aku bersembunyi pada ujung dahan pohon besar

Misteri Kelas Baru

Oleh:
Namaku Ulfah aku sekolah di SMP di desaku kelas 7/1. Tapi sekolahku kekurangan kelas, oleh karena itu kepala sekolah memutuskan untuk membangun kelas baru. Semester 2 murid kelas 7

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *