2 Sherlock And Their Watson

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 March 2016

“Oi.. Sha minjem cutter dong!” teriak seorang teman yang seketika memecah lamunanku di kelas kala itu. Aku memang biasa melamun di kelas jika tugasku selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan. “Biasa aja dong Ron, kaget nih,” seruku dengan nada sedikit kesal. Roni adalah teman sebangkuku. Ini pertama kalinya aku punya teman sebangku. Karena dari dulu aku lebih suka duduk sendiri di bangku yang paling belakang. Ah, tempat yang sempurna untuk seorang penyendiri seperti aku. Tapi bukan berarti aku tidak punya teman, aku punya, tapi tidak banyak.

“Oh sorry-sorry si Shasa nih dari tadi dipanggil gak nengok nengok.”
“Ya iyalah gak nengok-nengoklah lo-nya di sini di belakang, si Shasa duduk di paling depan. Samperin aja sana,”
Sepuluh menit kemudian bel pun berbunyi dua kali, tanda jam pelajaran sudah habis.

“Ayo Kar ganti baju,”
“Oh iya Ron, sok duluan aja.” balasku.

Ah, sekarang pelajaran olah raga, pelajaran yang tidak terlalu aku sukai. Bukan karena fisikku yang lemah, tapi biasanya olah raga dilakukan secara kelompok: sepak bola, baket, voli, itu semua benar-benar bukan olah raga kesukaanku. Aku pun bergegas berganti baju lalu turun ke bawah menuju lapangan. Di tangga ada 2 orang yang menungguku. Sebelumnya aku berkata bahwa aku mempunyai sedikit teman. Ya, tepatnya ada dua, Satria dan Evan. Merekalah yang menungguku di tangga. Awal kami saling mengenal bisa dibilang merekalah yang menemukanku. Saat itu, saat kelas 1 aku sedang membaca novel “Sherlock Holmes” di kelas. Mereka lalu menghampiriku.

“Suka baca novel misteri juga ya? Suka kisah misteri?” kata Evan sambil duduk di sebelahku.
“E-enggak juga kok, cuman buat ngusir bosen aja,” balasku dengan sedikit gugup.
“Ikut club aku yuk, klub detektif gitu,”
“Ekskul?”
“Bukan sih, cuman buat seneng-seneng aja. Ngomongin hal yang kita suka aja.” jawabnya dengan ramah.

Entah bagaimana bisa, aku pun mau bergabung dengan klubnya itu. Kami berteman baru setahun, dari kelas 1 sma hingga kini. Memang bukan waktu yang lama, tapi mereka sudah mengenalku dengan baik. Mereka tahu bahwa aku suka duduk sendiri, padahal aku tidak pernah mengatakannya. Mereka tidak ada yang duduk sebangku denganku, bahkan menyuruh temannya agar memberikan bangku yang paling belakang itu untukku. Tapi karena ada murid murid yang pindah kelas, yaitu Roni, aku jadi punya teman sebangku.

“Ayo cepetan Na, kayaknya udah mau diabsen,” seru Satria dengan nada tinggi.
“Iya tunggu!” jawabku.

Sampailah kita di lapangan. Terlihat teman-teman sekelasku sudah siap berolah raga. Ada yang melakukan pemanasan kecil ada pula yang langsung bermain bola. “Anak-anak kumpul, kita absen dan pemanasan dulu,” guru penjas memanggil kita. “Loh, kamu kenapa gak pakai baju olahraga?” guru bertanya pada temanku yang bernama putri.
“Saya izin Pak, saya agak kurang sehat.” jawab putri. Memang putri terlihat pucat dan lemas. Sudah jelas dia tidak berbohong. Guru langsung percaya hanya dengan melihat kondisinya saat itu.

“Ya udah kamu istirahat dulu sana di UKS.” seru guru sambil memberikan menuliskan sesuatu di lembar absensi.
“Saya istirahat di kelas aja Pak, obat saya ada di tas,”
“Oh ya udah kalau gitu,”
“Pak! Saya izin ke WC Pak udah kebelet nih,” terlihat Evan sedang mengangkat tangannya untuk meminta izin.
“Oh silahkan, jangan lama-lama ya,”
“Ayo Kar anter.” seketika Evan langsung menarik tanganku.

Sekolah kami memiliki tiga lantai, lantai 1 untuk kelas 3, lantai 2 untuk kelas 2, dan lantai 3 untuk kelas 1. Dan di setiap lantai ada WC-nya. Dengan sedikit berlari aku dan Evan menuju WC yang berada di lantai 1. “Brak!!” tak sengaja aku menendang alat pel yang bersandar di dinding. Dan ternyata cleaning service pemilik alat pel itu juga ada di sana “Euh, hati-hati makannya.” sambil sambil menjitakku. Aku pun meminta maaf pada cleaning service tersebut, sementara Evan melanjutkan perjalanannya menuju WC.
“Udah?” tanyaku.
“Udah yuk.”

Jam pelajaran olah raga pun sudah selesai. Aku tidak merasa lelah karena aku tidak banyak bergerak.
“Eh jangan ke atas dulu, beli minum dulu lah,” seru Evan sambil menahan kausku.
“Aku tahu kamu gak cape, tapi mending kamu temenin kita aja dulu,” tambah Satria.
“Oke-oke,” mau tidak mau aku menemani mereka ke kantin.
“Beli minum aja ya, habis itu langsung ke atas. Ulangan MTK kan habis ini? Aku belum terlalu ngerti, jadi harus belajar dulu,” tambahku.
“Iya deh iya, ayo buruan makannya.”

Sesudah membeli minum kita langsung naik ke atas menuju kelas.

“Aaaaahhh….”

Kami mendengar suara teriakan seorang wanita di lantai atas. Kami pun langsung berlari menuju sumber suara. Sudah ada banyak orang berkumpul di depan kelas kami. Kami mencoba menembus kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi. Sekilas aku melihat sesuatu, seperti darah. “Hah!?” refleks aku berteriak. Aku sangat terkejut, bagaimana tidak? Yang aku lihat adalah seorang wanita yang sedang duduk membungkuk hingga kepalanya menyentuh meja berlumuran darah. Aku hanya bisa terdiam dengan mulut menganga. Aku mematung tapi pikiranku tidak bisa tenang. “Apakah dia mati? Siapa itu? Kok bisa sih?” kurang lebih itu yang aku pikirkan.

Tidak salah lagi wanita itu adalah putri. Aku melihat wajah kedua temanku. Wajah mereka terlihat sangat serius. “Apa mereka tidak kaget?” pikirku. Bola mata Evan tidak bisa berhenti bergerak melihat sekeliling. Sedangkan Satria hanya fokus pada satu titik dengan jemari tangan kanannya memegang dagu, seperti sedang menganalisis sesuatu. “Ngapain sih mereka?” Tak lama kemudian guru-guru berdatangan, menyuruh kami untuk minggir dan memberikan jalan.

“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya seorang guru. “Apa?” teriak seorang guru yang lain. Ya sudah pasti mereka kaget. Para guru menyuruh kami bubar dan ada guru yang sedang menelepon polisi. Para siswi ada yang menangis dan ada yang sampai jatuh pingsan. Suasananya benar-benar kacau. Kami bertiga hanya bisa terdiam, tapi aku yakin otak kedua temanku pasti memikirkan banyak hal yang tidak akan bisa ku tebak. Yang aku pikirkan? Tidak ada.

Keesokan harinya kita bertiga berkumpul di atap sebuah rumah yang tidak berpenghuni, tempat itu adalah tempat biasa kami berkumpul. Saat berkumpul kami biasanya menganalisis kejadian-kejadian tertentu, atau kadang-kadang bermain “Tebak-tebakan”. Sudah pasti kejadian di sekolah itu merangsang dan menggoda mereka. Tapi bukankah masalah ini terlalu serius untuk dijadikan mainan “Tebak-tebakan”. Dan juga sudah ada polisi yang mengurus. Tapi aku tidak berani mengungkapkan apa yang aku pikirkan tadi. Sudah pasti mereka tidak akan melewatkan kejadian ini. Jujur, aku memilih datang ke pertemuan ini karena aku penasaran dengan pemikiran mereka.

“So, semua udah tahu kan kita di sini buat ngomongin apa?” buka Evan. “Ada yang mau mulai?”
“Oke,” Satria membuka catatannya. “‘kasus pembunuhan di kelas 2 IPS 2’ pertama, pembunuhan dilakukan sekitar jam 11:45 tepat saat kita di kantin. Kedua, senjata yang digunakan untuk membunuh adalah sebuah cutter yang ditemukan dekat korban. Kalian tahu itu cutter siapa?”
“Shasa.” sahut Evan.
“Yap benar sekali. Sementara ini dia yang paling dicurigai. Polisi sedang mempelajari alibinya. Evan, coba kita dengar pemikiranmu,”

“Oke,” terlihat sekali Evan sangat bersemangat. “Satu, pembunuh bukan seseorang dari lantai 3. Kenapa? Karena pada sekitar jam segitu di lantai tiga lagi ada razia tas ,dan lainnya sudah pasti murid dilarang ke luar kelas. Dua, bukan juga dari lantai 1 kenapa? Karena tidak ada yang naik. Kejadian terjadi saat jam pelajaran dan piket tepat perada di dekat tangga, sudah pasti orang dari lantai satu yang naik akan ketahuan. Jadi kemungkinan korban dibunuh oleh seseorang dari lantai 2.” jelas Evan dengan antusias.
“Tunggu dulu!” aku memotong penjelasan Evan. “Dari mana kamu tahu di lantai tiga ada razia?”

“Oh itu,” Evan siap menjelaskan. “saat kita di kantin membeli minum aku mendengar anak kelas 1 sedang membicarakan tentang razia. Waktu pelajaran olah raga selesai bertepatan dengan jam istirahat. Itulah kenapa korban ditemukan saat orang-orang pada ke luar kelas. Dan di antara para guru di lantai 3 yang turun di sana ada wakasek kesiswaan. Di kantong bajunya ada sebuah gunting dan dia sedang memegang 2 bungkus rok*k. Sudah jelas bukan? Ngapain juga coba kesiswaan bawa 2 bungkus rok*k dan gunting ke lantai 3 pas jam istirahat?”

“Ah, I see,” kapalaku mengangguk.
“Udah Van?” tanya Satria, “Aku lanjut ya?”
“Ok silahkan.”

“Sudah jelas pembunuhan ini bukan pembunuhan berencana. Bukankah sekolah adalah tempat paling bodoh untuk melakukan pembunuhuan berencana, pas jam pelajaran lagi. Rencana macam apa itu? Apa gak ada tempat lain? Rute dia pulang sekolah kek misalnya. Terus senjata yang digunakan. Cutter? Sudah pasti ini digunakan karena hanya alat ini yang paling memungkinkan atau ditemukan pelaku. Kalau ini pembunuhan berencana sudah pasti dia membawa senjata sendiri,”

Mereka benar-benar hebat. Mereka bagaikan Sherlock Holmes dan aku Watson-nya. Apakah alasan mereka mengajakku bergabung karena mereka butuh “Watson” mereka? “Eh, gimana kalau emang rencana pelakunya memang untuk membuat Shasa sebagai tersangka? Jadi kayak double kill gitu.” agar tak terkesan hanya sebagai pendengar aku bertanya apa saja. “Kayanya enggak Na. Aku setuju sama Satria.” Evan yang menjawab.

“Kenapa?”
“Misalkan Shasa adalah X. Jika si pelaku memang berencana ingin membunuh korban menggunakan barang si X, apa yang dilakukan si pelaku?”
“Apa emangnya?” aku makin penasaran.
“Memastikan kalau si X membawa barang yang bisa dipakai,” jawab Satria.
“Tepat. Tapi waktu sebelum kejadian itu gak ada yang ngegeledah tas si Shasa kan? Semua fokus pada tugas. Satu-satunya yang melakukan hal itu cuman teman sebangkumu, Roni. Dia meminjam cutter-nya Shasa. Tapi Roni memiliki alibi. Dia orang yang paling awal yang sampai di lapangan dan langsung bermain bola. Jadi pelaku ingin si X yang ditangkap itu tidak terjadi.”

“Kesimpulannya orang yang membunuh putri adalah orang yang membunuh karena ada kesempatan, terlihat dari senjata yang digunakan adalah senjata yang ditemukan tidak sengaja di TKP. Orang yang dengan kebetulan mengetahui pada saat itu putri sedang sendiri di kelas. Dan juga –ini yang paling penting- orang ini hanya bisa bertemu dengan si korban di sekolah.” tambah Satria. Penjelasan mereka masuk di akal semua. Mereka memang hebat. Tapi semua penjelasan mereka membuat kasus ini lebih sulit lagi. Siapa yang bisa bertemu putri hanya di sekolah saja?

“Guru?” tanyaku.
“Bisa jadi,” jawab Evan. “Tapi kita butuh fakta yang lebih banyak lagi. Kita masih kekurangan materi.”
“Apakah kita benar-benar ingin mencari tahu siapa pembunuhnya? Jelas-jelas kita gak bisa. Materi yang kamu butuhkan pasti semua ada di tangan polisi. Gak mungkinlah polisi mau ngasih ke anak ABG kayak kita.” jawabku ketus.

“Mungkin menemukan pembunuhnya memang keinginan yang terlalu berlebihan. Tapi entah kenapa kasus ini seperti memanggilku, meminta untuk diselesaikan. Entah kenapa aku mempunyai keyakinan kita bisa menemukan pelaku. Kita hanya perlu lebih jeli lagi melihat kejadian itu. Dengan berada di TKP pada saat itu sudah menjadi modal yang bagus buat kita,” balas Evan. “Iya betul. Kita harus mengingat kembali detik-detik saat kejadian itu. Pasti ada yang terlewat. Ada sesuatu yang kita abaikan.” Tak lama handphone Satria berbunyi. Satria lalu mengangkat teleponnya.

“Halo. Iya.. apa? Kok bisa? Ya udah.. Terima kasih ya.”
“Ada apa Sat?” tanya Evan.
“Parah bro. Ini benar-benar parah,”
“Iya apa yang parah?”
“Shasa udah ditangkap polisi,”
“What? Kenapa bisa? Evan kaget, sangat kaget. Aku mengerti kenapa mereka kaget karena hasil di lapangan berbeda dengan apa yang mereka simpulkan selama ini.
“Ah permainannya sampai sini saja ternyata. Padahal aku ingin denger pemikiran mereka lebih banyak lagi.” pikirku.

“Ini gak bisa dibiarin. Kenapa bisa? Apa polisi udah sebegitu putus asanya? Pokoknya polisi salah tangkep. Kita harus cari siapa pembunuh yang sebenarnya.” Evan berbicara dengan tegas. Dan sekarang giliranku untuk kaget. Aku tidak percaya dia mengatakan hal itu. ‘polisi salah tangkep’. Ayolah. Sudah pasti Satria akan setuju. Begitu pula denganku. “Hari ini sampai di sini dulu. Kita cari materi dulu. Sat coba tanya anak-anak di lantai 2, pas semua orang pada ngumpul ada yang ngelihat orang yang bukan siswa engga?” seru Evan. “Siap bos,” jawab Satria.

Sudah beberapa hari ini kami berusaha tapi tak kunjung ada kemajuan. Para siswa yang ditanya oleh Satria menjawab bahwa dia tidak melihat siapa-siapa yang bukan siswa. Kami sudah kembali ke sekolah lagi. Melihat raut wajah kedua detektif ini membuatku merasa sedikit bersalah, karena aku tidak bisa membantu apa-apa dan tak bisa membantu Shasa –aku setuju dengan kedua temanku kalau Shasa bukan pelakunya. Raut wajah mereka seperti tidak tenang, bahkan mereka tidak fokus terhadap pelajaran. Dan di kelas sudah ada 2 bangku yang kosong tapi bukan bangku sebelahku lagi melainkan bangku Putri dan Shasa. Waktu istirahat kedua telah berakhir. Aku hanya menghabiskan waktu istirahatku di kelas. Bukan hal yang baru bagiku. Tapi melihat kedua temanku menghabiskan waktu istirahatnya untuk diam di kelas itu membuatku khawatir. Aku lalu berinisiatif untuk mengajak ngobrol mereka.

“Oi. Cemberut aja ini para detektif. Jangan diem aja biasanya juga gak diem. Harus semangat, tuh kayak yang lagi nyapu di luar sana.” kataku sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang menyapu di luar, seorang cleaning service.
“Satria!” terdengar ada suara wanita yang memanggil Satria di pintu kelas.
“Oh iya tunggu bentar,” Satria menghampiri wanita itu.
“Pacarnya Satria?” aku bertanya kepada Evan.
“Cewek itu bukan tipenya Satria. Pasti ada urusan lain,” jawab Evan. Setidaknya dia berbicara sekarang.
“Oh, gitu. Emang tipe ceweknya Satria kayak gimana?” aku mencoba membuat topik.
“Eh, guys. Abis pulang ini kita ngumpul ya?” potong Satria yang tiba-tiba datang dengan wajah sumringah.

Bel panjang 3 kali sudah terdengar menandakan sudah saatnya pulang. Aku benar-benar antusias, sudah lama aku ingin ngobrol dengan mereka lagi. Mungkin saja perkembangan masalah pembunuhan putri, atau wanita yang menemui Satria tadi meminta bantuan kepada kita.

“Kalian ingin tahu tadi cewek itu ngomong apa?”
“Ngomong apa sat?” tanyaku.
“Ngomong gini, ‘tadi waktu lihat Mbak Yati bersih-bersih aku jadi keingetan pertanyaan kamu itu. Waktu Putri meninggal Mbak Yati ada di lantai 2 tepatnya di depan kelas aku lagi bersih-bersih.'”
“Oh jadi cleaning service itu namanya Mbak Yati,” responku saat mendengar cerita Satria.
“Itu benar-benar titik terang yang benar-benar terang, saking terangnya sampai silau.” semangat itu telah kembali di diri seorang Evan.

“Kenapa bisa jadi titik terang?” tanyaku.
“Dengan fakta itu, aku menjadi sedikit yakin tentang pembunuhnya.” jawab Evan.
“Wah, masa? Gara-gara Mbak Yati ada di situ pas kejadian?”
“Dengan adanya Mbak Yati di situ banyak keanehan yang muncul Kar,” jelas Evan. “Satu, Mbak Yati udah jadi cleaning service lama banget. Masih inget waktu kejadian? Yah, waktu istirahat. Cleaning service bersih-bersih waktu istirahat? Come on man. Pas lagi anak-anak keluar kelas?”
“Iya sih. Aneh juga ya. Makin cape aja kerjanya.”

“Itu dia. Keanehan kedua. Masih inget waktu kamu nganterin aku pipis?”
“Masih,”
“Kamu nendang apa?”
“Aduh, apa ya?”
“Coba diinget lagi Kar,”
“Ah iya. Alat pel!” aku menjawab setelah cukup lama berpikir.
“Kau minta maaf ke siapa?”
“Mbak Yati.”

“Tepat sekali, ini membuktikan kalau: satu, Mbak Yati satu-satunya selain murid yang tahu kalau Putri naik lagi ke kelas mengingat kita ke WC bersamaan dengan Putri naik ke kelas. Sudah pasti Mbak Yati melihat putri naik. Dua, Mbak Yati sedang membersihkan lantai 1, waktu yang dibutuhkan juga banyak, mengingat dia hanya seorang diri dan membersihkan area yang cukup besar. Sudah pasti dia melewati lantai 1 dan langsung menuju untuk membersihkan lantai 2. Kenapa dia melakukan hal itu?” jelas Evan. “Bukankan Mbak Yati memenuhi kriteria kita? Orang yang bisa bertemu dengan korban hanya di sekolah.” Tambah Evan.

“Ya, kalau kita mengurutkan kejadiannya. Penjelasan Evan akan sangat logis,” kata Satria.
“Jam 10:15 Mbak Yati melihat Putri tidak ikut olah raga. Lalu ia yang tengah membersihkan lantai 1 mencoba naik ke lantai 2 juga. Setelah beberapa saat ia naik, itulah sebabnya piket tidak terlalu peduli karena berpikir Mbak Yati mau bersih-bersih. Lalu ia masuk ke kelas, sekali lagi tidak ada yang menyadari kehadiran Mbak Yati karena siswa di kelas lain tidak peduli apa yang akan dilakukan seorang cleaning service.”

“Lalu kemudian Mbak Yati melihat cutter yang tergeletak di meja Roni. Lalu membunuh Putri yang sedang istirahat, itu yang membuat Putri tidak berteriak, karena memang ia tidak menyadari kedatangan Mbak Yati. Mungkin kalau Mbak Yati turun ke lantai 1 pas waktu kejadian dia berpikir dia akan dicurigai jadi dia membuat seolah-olah dia sedang membersihkan lantai 2. Semuanya cocok, sangat cocok malah.” Satria menjelaskan.

“Tapi apa ya motifnya?”
“Aku sudah cari masalah itu. Kamu pikir aku mencurigai Mbak Yati tanpa sebab? Kata Evan. “Ayah Putri adalah dokter, kalian tahu?”
“Tapi dia terjerat kasus malpraktek kan?” jawab Satria.
“Nah. Tahu siapa korban malprakteknya? Itu anaknya Mbak Yati.”
“Wah dari mana kau tahu Van?” Tanyaku.
“Beberapa hari ini aku mencari latar belakang keluarga Putri. Karena aku agak curiga terhadap Mbak Yati aku jadi bertanya-tanya. Mereka bahkan tidak mengenal, perbedaan umur mereka jauh. Pasti ada hubungan dengan keluarganya Putri.”

Sudah terlihat jelas semuanya. Motif dan kronologi kejadian. Aku sangat senang dan sedikit tidak percaya. Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini. Mereka benar-benar melakukannya dengan serius. Menanyakan seluruh siswa di lantai 2 dan memeriksa latar belakang Putri. Sungguh di luar dugaan. Tapi bagaimana caranya memberitahu polisi dan menyelamatkan Shasa? Apakah mereka akan percaya?

“Tenang aja Kar. Mereka harusnya percaya.” kata Evan kepadaku.
“Hah? Bagaimana dia tahu apa yang aku pikirkan?”
“Sepertinya kita berangkat ke kantor polisi, nih.”
“Berangkat dong lebih cepat lebih baik.” seru Evan bersemangat.

Perjuangan kita berbuah manis penjelasan teman-temanku menjadi perhitungan bagi polisi. Polisi lau memeriksa Mbak Yati. Aku masih tidak percaya, mereka benar-benar hebat. Dan aku di sini hanya bercerita tentang kehebatan mereka itu. Aku menjadi Watson-nya mereka, setidaknya itulah yang bisa aku lakukan untuk 2 Sherlock ini. Lagi pula menjadi seorang Watson tidak terlalu buruk juga.

Tamat

Cerpen Karangan: Karna Andika
Facebook: Karna Andika
Kenalin saya Karna Andika. Seorang yang susah dapet kerja πŸ™ jadi biar ada kerjaan bikin cerpen deh. Saya ingin membuat cerpen-cerpen misteri, tapi mungkin di tengah tengah bisa berganti genre. Semoga cerita saya dapat diterima semoga cerita saya dapat berkembang menjadi lebih bagus lagi. WISH ME LUCK πŸ™‚

Cerpen 2 Sherlock And Their Watson merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emily

Oleh:
Sudah hampir 3 tahun, gadis itu bersekolah di sini, dan tahun ini adalah tahun terakhirnya bersekolah di Senior High School 2 ini. Namanya Emily, gadis dipenuhi misteri, ‘Nerd Mode’

I Said Seriously

Oleh:
“Sepi amat sekolahmu.” Kata Kak Reno. “Yaiyalah, Kak. Orang sekarang baru jam 6 kurang 15! Kakak, sih, kepagian nganterinnya.” Jawabku. Bersalaman dengan Kak Reno. Kemudian masuk. “Pagi, Pak. Sendirian

MyCerpen 3: Zombie Janda Mati

Oleh:
Merinding bercampur haru, mendengar cerita pacarku malam ini. Devi bercerita sampai larut malam habis. Gak tau kenapa? Malam minggu kali ini, gak seromantis malam mingguan sebelumnya, lebih angker, kejam,

Sosok Cantik Dalam Mimpi

Oleh:
Akhirnya bel sekolahku berbunyi. Pelajaran matematika pun otomatis berakhir. Setelah lama rasa penat mengumpul di otakku. Buku-buku yang tadinya berserakan, kurapihkan segera dan kumasukkan ke dalam tas. Aku pun

β€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “2 Sherlock And Their Watson”

  1. Nanda Insadani says:

    2 Sherlock and Their Watson ini mengingatkanku pada film Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika.
    Keep writing, bro! πŸ™‚

  2. aliifah tazkya says:

    bagus…… jadi inget sherlock holmes and watson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *