22:22

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Langkah pertama. Mataku melirik ke belakang. Angin kencang berhembus di belakangku. Aku merasakannya. Aku mendengarnya. Tapi, bukan angin. Kedua tanganku mulai terkepal. Napasku tercekat. Mataku menatap lurus ke depan. Waspada. Takut. Langkah kedua dan ketiga. Aku mulai memberanikan diri dengan suasana menegangkan ini. Aku mulai bisa berjalan dengan santai. Tapi, tidak dengan jantungku yang berdebar dan mataku yang terus melirik ke segala arah. Tiba-tiba, langkahku terhenti. Napasku kembali tercekat. Bibirku mulai bergetar. Suaraku menghilang seketika. Ada seseorang di belakangku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya. Sebuah tangan menyentuh pundakku tiba-tiba. Tubuhku dingin. Keringatku mulai bercucuran. Dan…

“Alina?” Seseorang memanggilku. Laki-laki. Bukan suara yang ku kenal. Berat. Pelan. Napasku kembali tercekat –atau lebih tepatnya masih tercekat. Aku merasakan hembusan napasnya yang begitu dingin menyentuh kulitku saat ia memanggilku. Tangannya masih menyentuh pundakku. Kali ini, disertai tekanan. Aku mencoba melirik tangannya. Bersarung hitam dan besar. Bibirku mulai bergetar. Mataku juga mulai berkaca. Tubuhku mulai kaku dan suhuku mulai tak menentu. Dingin. Panas.

“Twenty two, remember that?” Tanyanya pelan. “Alina, answer me, Remember that?!” Kali ini ia berteriak. “Answer me, Alina!” Perintahnya. bukan teriakan. Tapi tekanan. Bibirku terbuka. Tapi, aku tidak bicara, suaraku menghilang. Dan aku mulai menangis. Kepalan tanganku mengendur, setelah aku seolah mendapat keberanian dari dalam diriku setelah air mataku terjatuh. Tubuhku juga tidak selemas dan sekaku tadi. Napasku masih tak beraturan. Namun, aku sudah sedikit lebih tenang.

“Jangan menoleh, Alina! Jangan menoleh! Belum waktunya,” ucapnya, masih dengan tekanan.
Tangannya menahan pipiku saat kepalaku mulai bergerak ke belakang. Menggerakkan perlahan kepalaku ke arah semula. Dan lagi, napasku kembali tercekat. Aku menangis.
“Jangan melihat ke belakang, Alina!”
“Sekarang, tutup matamu, Alina!”

Aku mematuhi perintahnya. Air mataku mengalir. Dan saat itu, sebuah tangan menyeka air mataku. Kasar atau lembut, aku tidak begitu yakin. Mataku terbuka. Orang itu menghilang. Mataku sibuk mencari sosok itu. Tapi tidak ada yang ku temukan. Hanya cahaya remang di sekitar gedung. Tidak ada orang selain aku. Tubuhku berbalik ke belakang. Mataku menatap lurus. Tanganku tetap terkepal. Napasku kembali tak beraturan. Kakiku bergerak memasuki gedung. Tidak ada yang bisa ku lihat. Lampu di gedung ini sudah dimatikan sejak 2 jam yang lalu. Semua orang, tidak berani melewati atau memasuki gedung ini saat malam hari. Bahkan ruangan ini tidak dijaga dengan baik. Aku menghentikan langkahku saat aku masuk terlalu dalam ke gedung itu. Menundukkan kepala. Bola mataku bergerak. Lagi, aku menggigit bibir bawahku. Haruskah aku melanjutkannya?

Tiba-tiba, aku mendengar langkah. Langkah itu semakin mendekat. Napasku tercekat, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa berteriak. Suaraku menghilang. “Alina, kau tidak mematuhi perintahku.” Ucapnya. Bukan tekanan, ini suara Psikopat. “Alina?” Ia semakin mendekat. Suaranya begitu tajam seolah menyayat telinga orang yang mendengarnya. Tubuhku bergetar hebat. Darahku berdesir. Mengerikan. Tangannya meraih daguku dan mengangkatnya agar mata kita berpapasan. Saat itu, tangan kirinya bergerak di wajah dan leherku seolah pisau yang siap menyayat setiap inci di tubuhku. Ngeri. Sakit.

“Ingat aku?”
“Kau tidak ingat, ya? Alina, mau ku bantu mengingatnya?”
Aku menggeleng kuat. Air mataku mengalir semakin deras. Tangannya masih bergerak. Itu membuat kakiku semakin lemas. Namun aku tidak terjatuh karena kuatnya cengkeraman di daguku.

“Aku akan mengatakan persis seperti apa yang kau katakan 2 tahun yang lalu, ‘aku tidak peduli denganmu. Kau hanya laki-laki 22 tahun yang mendekatiku. Bahkan aku yakin, kau tidak bisa membunuhku.’ Itu yang kau katakan padaku.” Ucapnya sambil menatapku.
“Alina, itu terlalu menyakitiku,”
“Alina, biar ku tunjukkan seperti apa laki-laki 22 tahun yang kau hina 2 tahun yang lalu.”
“Kau diam, Alina? Aku pikir kau telah mengingatku!”

Tangannya melepas daguku. Aku tidak diam. Aku berbalik dan berlari dengan cepat. Secepat yang aku bisa. Kecepatan berlariku meningkat seiring dengan kecepatan laki-laki itu. Napasku juga semakin cepat. Suhu tubuhku juga berubah menjadi semakin tidak menentu. Panas. Dingin. Beberapa kali, aku menengok ke belakang. Ia berlari semakin cepat. Namun aku sudah terlalu lelah untuk berlari. Aku tidak bisa berlari lagi. Tuhan, lindungilah aku. Aku mulai melihat cahaya. Aku sudah semakin dekat dengan pintu. Aku menambah kecepatanku meski aku sudah tidak mampu lagi untuk berlari. Sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan selamat. Aku akan selamat! Begitu sampai, aku langsung menggoyang-goyangkan pintu, berharap pintu itu akan terbuka. Tapi nihil. Pintu terkunci. Dan sekarang, ia semakin mendekat. Aku berteriak. Jantungku kembali berdetak dengan kencang, mungkin bisa lompat jika terus dibiarkan. Tangisku kembali tumpah. Namun, tanpa ku sadari keberanianku semakin besar. Aku berhenti berteriak dan berbalik. Aku menatapnya. Menarik napas dalam. Dan mulai berbicara.

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa mengikutiku? Ada apa dengan angka 22?” Tanyaku.
“Kau masih belum paham?” Tanyanya, lebih santai namun penuh tekanan.
“Aku belum yakin siapa kau ini. Tapi, kenapa kau baru muncul sekarang? kenapa tidak muncul 2 tahun yang lalu? 22? Aku ingat, hari ini! Kau! Bagus, kau akan membunuhku? Kau ingin menyamakan tanggal lahir dengan tanggal kematianku? Ber*ngsek!” Teriakku. Aku menarik napas dalam. Mengakhiri celotehan panjangku. Aku tidak memperhatikan dia lagi. Aku terlalu lega sekarang, hingga lupa dengannya.
“Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you… Happy Birthday.. Happy Birthday .. Happy.. Birth.. Day.. To.. Alina.”

Mataku melirik ke sumber suara nyanyian itu. Ke bagian kanan. Tempat paling menakutkan di gedung ini. Tapi aku tidak takut, aku terlalu kebal untuk merasa takut. Setelah hampir dibunuh, tidak mungkin aku merasa takut lagi. Bahkan untuk melihat hantu. Aku tidak akan takut lagi. Aku melihat 3 orang berdiri di sana. Berdiri, hanya terlihat kepala mereka yang tersinari cahaya remang dari lilin-lilin kecil. Dan kue yang dibawa oleh seorang wanita. Mereka.. mereka adalah teman-temanku. Tidak.. Mereka adalah sahabatku. “Berhenti di situ!” perintahku, setengah berteriak. Aku melihat sekeliling. Laki-laki itu menghilang. Ke mana? Apa ini? Aku menggelengkan kepala. Kali ini napasku terdengar seperti orang marah. Aku menatap ketiganya tajam. Sementara mereka hanya menatapku heran.

“Ini tidak lucu! Membuatku masuk dan membunuhku! Ini tidak lucu sama sekali!”
“Apa yang kau bicarakan?” Ucap Irane.
“Ha?” tanyaku heran.
“Benar kami membuatmu masuk,” Ucap Sandy.
“Tapi kita tidak membunuhmu!” Sambung Adit.
“Kalian bercanda?”
“Tidak!” Sanggah Adit.
“Kenapa kau berteriak tadi. Sesuatu terjadi?” Tanya Adit, lagi.
“Tiup lilinnya dan ayo ke luar. Aku mulai takut,” Ucap Irane.

Aku meniup lilin sesuai perintah. Mereka tertawa, lupa akan segala ketakutan mereka yang mungkin mereka rasakan tadi, bahkan Adit yang sempat menanyaiku sepertinya juga lupa. Namun aku tidak, aku masih memikirkannya. Memikirkan ke mana ia pergi. Kami meninggalkan tempat itu segera. Di perjalanan seseorang dari nomor yang tidak ku kenal menelepon.

“Halo? Alina?” Suara itu, suara yang membuatku berhenti. Suara berat dan lembut. “Aku akan selalu di belakangmu. Tapi tenang, aku tidak akan menyakitimu. Aku janji. Dan kita tidak akan bertemu seperti ini lagi. Percayalah! Kau memiliki teman–teman yang baik dan mereka menganggapmu teman yang baik juga. Aku senang mengetahui itu. Maaf!” Sambungan telepon terputus. Aku menoleh. Keningku berkerut. Aku ingat sesuatu.

“Randy?” Ucapku lirih.
“22:22.” Ucapku lagi, lirih.

The End

Cerpen Karangan: Eka Indrayani
Blog: mewkakara.blogspot.com

Cerpen 22:22 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Xeo Kedua

Oleh:
Sinar mentari begitu terik hari ini. Keringat panas bercucuran dari kening jenong Xeo. Seperti biasa hari ini ia bergembala bebek miliknya sendiri di lapangan depan kampungnya. Ia begembala ratusan

Benang Waktu

Oleh:
Hari itu masalah menerpaku layaknya hujan badai. Rasanya banyak sekali kesalahan yang kubuat di sekolah hari itu. Kepalaku pusing layaknya roller coaster dan hatiku serasa diremukkan pada hari itu.

Gadis Dalam Gelap

Oleh:
Di dalam rumah yang tak pernah menyalakan lampu tersebut, ternyata ada seorang gadis yang hidup di dalamnya. Penduduk kampung mengira rumah itu telah kosong sejak kejadian tiga bulan yang

Penunggu Lorong Kelas (Part 1)

Oleh:
Sekolah merupakan tempat yang penuh dengan pengalaman masa muda. Tak terkecuali pengalaman horor dan mengerikan. Banyak diantara kita sering mendengar kisah-kisah horror yang disebar melalui bibir ke bibir oleh

Gagak Hitam

Oleh:
“Kalian tidak tahu sisi lain dari diriku. Sisi lain dari diriku sangat tertutup. Sisi lain diriku gelap. Kalian tidak akan pernah tahu diriku yang sebenarnya,” — Pagi ini terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *