Ada Tapi Tak Terlihat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

“Aku tidak percaya hantu” Doni berkata dalam hatinya sendiri.
“Hantu itu hanyalah kebohongan yang diberitahukan kepada anak-anak agar mereka tidak berbuat nakal” sambungnya.
Seketika dia membuyarkan lamunannya, bel sekolah sudah berbunyi. Itu artinya pagar sekolah sebentar lagi akan ditutup. Doni berlari menuju sekolah dengan harapan tidak terlambat untuk kesekian kalinya.

Doni memang anak yang lalai dan juga pemalas. Dia sering terlambat dan lupa dalam segala hal. Meskipun begitu, dia memiliki teman-teman yang baik dan selalu bermain dengannya. Ana, Joy dan Rini, mereka adalah teman baik Doni. Ana berambut pendek, tidak terlalu tinggi, dan dia suka memotret dan menulis. Joy tinggi, pintar dan jago bermain basket. Banyak wanita yang terpikat olehnya, tetapi dia tetap memilih untuk dekat dengan teman-teman terbaiknya. Rini tomboy, dari kecil dia sering bermain bersama laki-laki. Mereka bertiga adalah teman baiknya Doni.

“Don!!” sapa Joy. “Hampir telat lagi ya?”. Doni pun menuju ke arah Joy, “Iya nih, bangun telat”. Doni duduk di sebelah Joy sembari menunggu guru masuk ke kelas.

Kelas berjalan seperti biasa, membosankan. Doni berharap ada hal yang seru hari ini. Tapi dia belum menemukan satupun hal yang membuat dia tertarik. Doni memutuskan untuk langsung pulang saja seusai sekolah. Tapi, hari ini dia memutuskan untuk melewati jalan yang berbeda untuk ke rumahnya. Dia mengambil jalan memutar yang cukup jauh. Sialnya, awan tiba-tiba menjadi gelap.

Langit itu berubah menjadi gelap, ditutupi awan hitam yang menandakan akan terjadi badai yang sangat kuat. Langit seakan-akan ingin memuntahkan apa saja yang ada di dalamnya. Hujan rintik-rintik mengawali perubahan cuaca tersebut, Doni memutuskan untuk mencari tempat berteduh sebelum badai benar-benar datang.

Di sanalah dia, di sebuah rumah tua dengan dua lantai, Doni berteduh. Rumah itu seperti rumah yang telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, tidak terawat. Rumah itu memiliki halaman yang didominasi oleh semak liar, jendela yang sudah hampir lepas, dan langit-langit yang dipenuhi oleh sarang laba-laba. Doni tidak terlalu peduli dengan rumah yang lebih mirip rumah hantu daripada rumah orang itu. Dia tidak percaya hantu.

Beberapa suara aneh menggangu telinga Doni. Seperti suara ketukan dari pintu bagian dalam rumah. Doni penasaran, dia mulai mencari tahu asal sumber suara tersebut.
Dia mendorong pintu depan dengan perlahan untuk memastikan itu hanyalah tikus yang sedang menggigiti pintu. Bunyi itu berhenti sejenak. Kemudian bunyinya semakin keras, “TOK!! TOK!! TOK!!”. Dia mendorong dengan lebih keras. Ternyata, pintunya tebuka dan tidak terkunci.

Dia memberanikan diri untuk masuk. Benar-benar gelap dan berantakan. “Sepertinya sudah tidak ada orang yang tinggal di tempat kotor ini” serunya. Dia menyalakan handphone-Nya sebagai sumber cahaya. Dia melangkah lebih jauh ke dalam rumah.

Bunyi yang sama didengarnya kembali. tapi kali ini dari arah lantai dua. Doni masih penasaran apa yang membuat bunyi itu.
Dia naik ke lantai dua melewati tangga yang dipenuhi sarang laba-laba di pegangan tangganya. Anak tangganya dipenuhi debu yang sangat tebal, hingga menimbulkan jejak kaki ketika menginjaknya. Doni menaiki anak tangga satu persatu sembari memperhatikan sekitar secara perlahan.

Petir dan gemuruh membuat suasananya benar-benar seperti rumah hantu yang didiami oleh nenek sihir. Doni menaiki anak tangga terakhir dan menuju ke sebuah ruangan dimana suara itu berasal.

Ketika dia masuk ke dalam ruangan, petir menyambar dengan sangat kuat sehingga terlihat kialuannya dari kaca jendela ruangan tersebut. Sesosok makhluk mirip serigala berdiri dengan mata kemerahan dengan tatapan ke arah Doni. Cahaya dari petir tadi membuat Doni benar-benar melihat makhluk itu dengan cukup jelas.

Makhluk itu mendekat, semakin mendekat ke arah Doni. Saat itu, Doni langsung melupakan pikirannya tentang hantu itu mitos, makhluk ghaib tidak mengganggu manusia. Dia lari dengan sangat cepat keluar dan menuruni tangga tersebut. Dia terjatuh saat menuruni tangga. Doni melihat ke belakang. Makhluk itu sudah berada tepat di anak tangga paling atas. Dia bergegas keluar dari rumah itu walaupun suasana di luar masih hujan deras. Doni bergegas pulang dan masuk ke kamarnya sambil menggigil.

Besoknya, Dia bercerita kepada teman-teman baiknya. Mereka heran kenapa Doni beranggapan bahwa itu hantu werewolf seperti di film-film dan komik-komik, padahal dia tidak pernah percaya soal hantu.

“Don, dimana kau melihatnya?” tanya Joy. Doni menjawab, “Di rumah tua di Jalan Anggrek”. “Kalau tidak salah pemilik rumah itu sudah meninggal lima tahun yang lalu deh” Ana memperjelas. “Dia mati bunuh diri” sambung Ana.
“Bisa jadi hantu itu jelmaan pemiliknya hihihi…” Rini menggoda. Doni semakin merinding mendengar perkataan Rini.
“Jangan bergurau deh, nanti sore kita akan pergi ke sana untuk mamastikan” Joy berkata dengan berani. “Apa kau yakin?” Doni masih ketakutan. Joy hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Doni.

Kelas berjalan seperti biasa. Semuanya menunggu usainya pelajaran di sekolah. Terutama Doni dan teman-temannya, karena ada yang harus mereka lakukan sore ini. Mengunjungi rumah hantu.

Bel sekolah sudah berbunyi, menandakan usainya pelajaran terakhir di sekolah. Semua murid bergerombol keluar dari kelas, ada yang dijemput dan ada juga yang membawa sepeda. Hiruk pikuk mereka tidak berlangsung lama. Sekolah sudah mulai sepi.

Doni dan teman-temannya sudah berada di depan rumah tersebut. Dengan berbekal lampu senter, Joy memimpin sekawanan mereka ke dalam rumah yang menyeramkan itu.
Suara yang sama yang didengar Doni pada waktu itu kembali muncul. “Itu suaranya” Doni semakin ketakutan. Semuanya mulai waspada dan berlindung di belakang Joy.

“TOK!! TOK!! TOK!!” suara itu semakin keras dari arah ruangan kemarin.
Mereka masuk ke ruangan itu. Terlihat sosok yang sama yang dilihat Doni kemarin. Mereka berteriak dengan keras, “Aaaaa….”. Joy mengarahkan senternya ke arah makhluk itu. Ternyata itu adalah seekor anjing yang sudah tua dan besar. Anjing itu selalu menabrak sesuatu. Ternyata anjing itu buta, hanya bisa melihat dengan suara-suara di sekitarnya. Itulah alasan dari suara ketukan yang selalu terdengar, dia selalu menabrak sesuatu. Saat mendengar suara Doni kemarin, anjing itu ingin bermain dan mendekatin Doni. Tetapi, Doni malah lari ketakutan seolah-olah anjing itulah yang ingin menerkamnya.

Mereka semua tertawa lega mengetahui hal itu. Mereka berniat membersihkan dan merawat anjing tua itu. Mereka memberinya nama Fera yang berasal dari kata fear, karena telah berhasil menakuti Doni hingga dia sempat percaya hantu.

Cerpen Karangan: Maulana Malik Y
Blog: maulanamalik9.blogspot.co.id

Cerpen Ada Tapi Tak Terlihat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Time

Oleh:
‘Hari ini kita ketemu ya.’ Gubrak!! Hatiku tersentak kaget melihat isi sms darinya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia mengajakku untuk bertemu. Tapi tetap saja, aku selalu kaget.

Luna, Si Anak Pemalu

Oleh:
“Luna!! buku kamu ketinggalan!!” Aku berteriak sambil melambaikan buku catatan bahasa indonesia miliknya. Dia tampak ragu untuk melangkah, tapi akhirnya dia menghampiriku juga. “Terima kasih…” ucapnya sambil menunduk, setelah

Teman

Oleh:
“Teman untuk bersuka banyak. Namun teman untuk berduka tak ada.” Dulu sebelum menjadi diriku yang sekarang, kukira teman-temanku yang banyak ini hanya ada pada saat aku bahagia. Awalnya tak

Loser (Part 2)

Oleh:
Hari itu, sama seperti hari yang lain. Tesan masuk ke dalam bus saat pulang sekolah dan duduk diujung kursi belakang sambil memejamkan matanya, pura-pura tidur agar tidak perlu ngobrol

Bungee Jumping

Oleh:
“A-aku takut…” kata Farhan pelan sambil melihat pada teman-temannya yang ada di dalam mobil. Ia menyangka bahwa temannya akan mentertawakannya ketika ia mengakui bahwa ia takut… Tapi teman-temannya malah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *