Aku Terjun Ke Dunia Untuk Melahirkan Anak Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Ciremay, Jawa barat. Hiduplah seorang Bidan terkemuka di desa tersebut, sebutlah Bidan Wati (samaran). Ia adalah bidan separuh baya yang memiliki kepribadian baik dan sabar ketika menghadapi pasiennya, ia mempunyai rumah yang begitu luas dan mempunyai dua pintu dari berbeda sisi, yang satu pintu ruang prakteknya terletak di bagian depan rumah dan pintu kedua berada di samping rumah yaitu pintu rumah pribadinya.

Tok… Tok… Tok…
Tepat pukul 00.00 bidan Wati terperanjat dari tidurnya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu ruang prakteknya, segera ia membuka pintu dan didapati seorang pasien yang sudah siap melewati persalinan. Pasien tersebut tak didampingi sang suami ataupun saudaranya, ia hanya ditemani bayi dalam perutnya saja tanpa menjinjing tas berisi perlengkapan untuk calon bayinya seperti kain pernel, baju, gurita dan sebagainya tidak seperti pasien pada umumnya. “Nyalira wae neng? (Sendirian saja neng?)” Tanya bidan Wati sembari mempersiapkan alat medisnya. “Muhun (iya).” jawab sang pasien dengan singkat.

Dua jam berlalu bayi telah lahir dengan selamat, begitu pun sang ibu. Bidan Wati memberikan pakaian bayi dan kain pernel berwarna hijau daun bermotif boneka beruang untuk membungkus (bedong) sang bayi, bayi pun disusui oleh sang ibu di sebuah ranjang dan mereka pun tertidur pulas setelah melewati jerih payahnya melahirkan, Bidan Wati hendak beristirahat dan kembali ke rumahnya meninggalkan ibu dan bayi tersebut di ruang prakteknya.

Esok paginya ia kembali ke ruang prakteknya dan betapa terkejutnya bidan Wati bahwa pasiennya sudah tak ada ditempat tidurnya, ia berusaha mencari ke kamar kecil tak ditemukan, lalu ia mencari ke pekarangan rumah tetap tak ditemukan. Lalu ia kembali ke ruangan praktek ditemukan sebuah KTP tergeletak di atas ranjang, ya KTP si pasien. Bidan Wati beranggapan bahwa si pasien melarikan diri karena tidak mempunyai biaya untuk membayar persalinan, maka dari itu ia hanya meninggalkan sebuah kartu identitas. Keesokkan harinya bidan Wati menelusuri alamat yang tertera di KTP pasien tersebut, alamat tersebut terletak di seberang desa. Ia berusaha mencari alamat tersebut dan menanyakan kepada seseorang yang ia temui di tengah-tengah pencariannya.

“Pak, terang alamat ieu? Namina anu (Pak, tahu alamat ini? Namanya tak disebutkan)” tanya bidan Wati kepada seseorang. “Oh atuh jalmi ieu mah tos ngantunkeun sapuluh dinten ka tukang, tuh bumina nu cet hejo. (Oh orang ini sudah meninggal sepuluh hari yang lalu, itu rumahnya bercat hijau.)” ujar seseorang sembari menunjuk rumah sang pasien. Betapa syoknya jantung bidan Wati mendengar ucapan seseorang itu sontak membuat wajahnya pucat seketika, badannya terkulai lemas. “Sawengi ngalahirkeun di abi (semalam melahirkan di tempat saya).” Ujar bidan Wati.

Lalu bidan Wati diantar menuju rumah sang pasien dan bertemu keluarganya, menceritakan kejadian-kejadiannya lalu dengan rasa penasaran bidan Wati meminta sanak keluarganya untuk mengantarkan ke makam di mana wanita tersebut dikebumikan guna memastikan. Alangkah terkejutnya ketika bidan Wati tiba di samping makam wanita tersebut, dan alangkah terkejutnya lagi di atas tanah kuburan yang masih basah tersebut tergerai rapi kain pernel berwarna hijau daun bermotif boneka beruang yang ia berikan untuk sang bayi. Setiba di rumah bidan Wati memikirkan hal aneh yang telah terjadi padanya, sehingga ia jatuh sakit karena mengganggu pikirannya. Setelah kejadian aneh tersebut desa itu menjadi sepi dan angker. Sesekali beberapa masyarakat melihat sosok hantu berambut panjang.

Cerpen Karangan: Risya
Facebook: holysuci16[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Aku Terjun Ke Dunia Untuk Melahirkan Anak Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Seorang Pun

Oleh:
“Genaa..!! Sudah jam berapa ini?” Teriakan Ibu membangunkanku di pagi hari yang dingin. Langsung ku bangkit dari kasurku yang agak berantakan dengan sprei sedikit terlepas. Dengan perasaan agak kesal

Wasiat

Oleh:
Dimana aku, berlalu. Membawa semua.. semua? semua? “Oh my God. Lusiiii?” aku terpaksa berteriak karena tak tahan lagi mendengar ocehan Lusi. Aku yang berusaha menghafal puisi yang ku buat

Tersisa Misteri

Oleh:
Pagi yang baik untuk memulai hari. Temperatur tak biasa mengeriapi kulit membuat tubuhku merasa berbeda. Kini aku berada di telaga Sarangan. Salah satu tempat rekreasi jawa timur yang menyuguhkan

Misteri Gudang Tua

Oleh:
Namaku Karinna Sisillia, aku dan keluargaku baru saja pindah ke rumah baru kami. Rumah itu dibeli ayah 2 minggu yang lalu. Aku tinggal bersama mama, papa, kakak dan pembantuku.

Simpul Waktu

Oleh:
Kalau saja dulu… kenapa aku tidak melakukan itu saja dulu. Itulah yang aku selalu pikirkan, penyesalan. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMA ini. Rasanya aku ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *