All of Her

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 6 January 2018

Gelapnya malam membuat bulu kudukku meremang. Apalagi di sini sama sekali tak ada pemukiman penduduk. Hanya ada hamparan ladang gandum yang sangat luas. Kota terdekat dari sini hanyalah Bomont yang berjarak 30 kilometer di utara.
Masalahnya, saat ini mobilku sedang mogok, dan tak bisa kuperbaiki. Aku sudah menelepon seorang kenalan mekanik, dan dia baru bisa datang besok. Jadi aku harus tidur di mobil SUV ini.

“Tolong! Tolong!” Mungin baru satu jam mataku terpejam. Terdengar suara minta tolong seorang perempuan yang mengetuk-ngetuk kaca mobilku berulang-ulang. Aku khawatir, jangan-jangan ada penjahat di sekitar sini. Dengan hati-hati, aku mengintip keluar jendela. Aku punya sebuah pisau buah yang cukup tajam untuk pertahanan diri. Jika itu memang dibutuhkan.
Mataku terbelalak saat melihat seorang gadis berambut pirang tergeletak tak sadarkan diri di sebelah kiri mobilku! Dialah yang tadi berteriak minta tolong padaku. Aku langsung membuka pintu dan menghampiri gadis itu. Posisinya miring, sehingga kulentangkan tubuhnya dengan hati-hati.

“Miss. Kau tak apa-apa?” ucapku, sembari menepuk-nepuk pelan pipinya. Aku berharapa dia segera sadar. “Miss. Kau tak apa-apa?” ulangku.
“Arghh,” erang gadis itu, saat mulai tersadar. Matanya kembali terbuka, dan bergerak-gerak hingga hanya menemukan wajahku. Ia terkejut saat melihatku, dan berusaha menjauhiku. Namun, setelah kesadaranya mulai kembali total, ia kemudian malah memelukku. “Tolong aku! Tolong aku! Aku baru melarikan diri dari Jessie! Ia menyalahkanku, dan hendak memukuliku!” erang gadis itu, ketakutan.
“Oke, Miss. Oke. Tenang. Aku ada di sini. Katakan siapa dirimu, dan siapa itu Jessie?” kataku, mencoba menenangkanya. Gadis ini masih memelukku, dengan wajahnya ditempelkan ke dadaku.
“Ak-aku Abby Hart. Jessie adalah orang yang sering mengganggu kami! Dia terus saja memaksa kami menjadi jahat sepertinya!” raung Abby. Ia mulai menangis. Air matanya membasahi kaus hitamku.
“Haruskah kita menelepon polisi?” usulku.
Abby menggeleng berulang kali. “Tidak tidak tidak! Kami sudah pernah menghubungi polisi. Juga 911. Namun, Jessie pandai bersembunyi. Polisi tak bisa menemukanya. Mereka malah memarahi kami. Kumohon. Kami tak punya tetangga yang bisa membantu kami. Mungkin saja Jessie nanti akan kembali, dan menyakiti kami lagi!” isak Abby.
“Baiklah. Kau mau aku mengantarmu pulang? Aku bisa mengawalmu sampai ke rumah. Di sana kau bisa berlindung sembari menelpon polisi jika terjadi sesuatu,” usulku.
“Tapi aku tidak mau pulang! Bagaimana jika seandainya Jessie kembali lagi setelah kau pergi!” raung Abby.
Aku berpikir sejenak. Harus kuakui aku mulai iba pada gadis ini, meskipun ceritanya masih belum terlalu jelas. “Baiklah. Kau tidak keberatan kalau aku tidur di rumahmu? Aku bisa berjaga, sembari menunggu temanku besok. Mungkin dia bisa membantu,” usulku.

Abby menyetujui usulku. Mobil SUV aku kunci dan kutinggalkan. Aku tak khawatir, karena mobil itu punya desain keamanan khusus yang membuat seorang penjahat harus berpikir ulang bila ingin mencurinya. Aku mengantarnya dengan sebuah sepeda gunung yang selalu kusimpan di jok belakang mobil. Ia duduk menyamping di frame, sedangkan aku yang mengayuh.

Rumah Abby jaraknya sekitar tiga kilometer dari mobilku. Letaknya persis di tengah-tengah perladangan gandum, dan tak ada rumah lain lagi di dekatnya. Abby bercerita, kalau ia tinggal di sana bersama seorang temanya yang bernama Wanda. Abby juga bercerita, kalau rumah itu adalah warisan dari kedua orangtuanya yang telah meninggal. Kedua orangtua Abby juga sudah meninggal empat tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan mobil. Semua cerita itu semakin membuatku merasa iba pada gadis ini.
Tapi bagaimana bila kau melihat cerita lain yang terungkap di baliknya?

Abby telah tidur di kamarnya. Aku dengan besar hati lebih memilih tidur di sofa ruang keluarga. Saat tengah malam aku terbangun, dan ingin buang air kecil di toilet. Saat itu aku melewati dapur, dan melihat Abby sedang mencuci piring di wastafel. Spontan aku menanyainya, “Kau belum tidur, Abby?”
Abby berbalik dan berkata, “Abby sedang tidur di kamar. Kau pasti belum mengenalku. Aku Wanda. Aku baru pulang kerja tadi.”
Mataku terbelalak! Kenapa Abby mengaku kalau dirinya Wanda? Atau apakah Wanda itu saudari kembarnya Abby? Tapi pakaian Wanda sama persis dengan yang dikenakan Abby saat tidur! Ada apa ini? Tanpa bisa membendung rasa ingin tahuku, aku bergegas menuju kamar tidur Abby.
“Hei, kau belum memperkenalkan dirimu,” ujar ‘Wanda’ di dapur. Aku mengabaikanya.

Kamar tidur Abby kosong saat aku mendatanginya. Ini membuatku semakin bingung. Setelah sekitar dua menit melihat-lihat, aku kembali keluar. Aku nyaris terlompat saat menyadari ‘Wanda’ sudah berada di ambang pintu kamar Abby.
“Ross?” tanya Wanda. Ia terkejut kenapa aku baru keluar dari kamar Abby.
“Wanda?” balasku.
‘Wanda’ menggelengkan kepala pelan. Ia berujar, “Kenapa kau memanggilku seperti itu? Aku Abby, Ross. Wanda sedang di dapur. Kalian sudah berkenalan?”
Aku diam terpaku, sembari berusaha keras memahami apa yang terjadi sebenarnya.
“Ross?” tanya Abby, bingung dan tak menyadari maksud sikapku. Gadis itu lalu menoleh ke belakang, dan berujar gembira, “Hei. Lihatlah. Itu Wanda. Wanda, sudahkah kau berkenalan dengan Ross?” tanya Abby pada kekosongan di belakangnya. Abby bicara sendiri!
Aku bergerak menyamping. Detak jantungku mulai berpacu. Secara insting aku berusaha menjauhi Abby. Aku mulai takut dengan gadis itu. Aku yakin kalau Abby adalah penderita gangguan jiwa. Mungkin saja semua yang ia ceritakan padaku adalah akibat dari gangguan jiwanya.

Abby memejamkan mata sesaat, lalu ia berubah menjadi Wanda. “Hei, Ross. Aku Wanda Clayton. Senang berkenalan denganmu,” ujar Wanda, memperkenalkan diri.
Aku tak kuasa lagi menahan rasa takutku! Aku langsung berlari!
“Ross?” tanya Wanda. Aku mengabaikanya.
Aku langsung berlari menuju pintu depan, tapi ternyata pintu itu sudah dikunci. Aku berinisiatif untuk keluar lewat jendela, namun seseorang memukul tengkuku hingga aku pingsan!

Aku tersadar dengan rasa sakit yang luar biasa di kepalaku. Aku tak tahu di mana aku berada, tapi tahu kalau aku sudah dipindah di suatu tempat di rumah ini. Mungkin ini sebuah loteng. Kedua tangan dan kakiku diikat hingga aku tak bisa bergerak.
“Kau sudah sadar? Maaf atas ketidaknyamanan tadi,” ujar suara Abby/Wanda.
Aku berusaha bicara, tapi baru tersadar kalau mulutku sedang dilakban. Melihat itu, Abby/Wanda melepaskan lakban di mulutku. Aku segera berteriak tolong, namun Abby/Wanda langsung meninju mulutku hingga berdarah! Aku bersyukur tak ada gigiku yang copot.
“Sekali berteriak, atau aku akan membunuhmu!” geram Abby/Wanda.
“Kau monster, Abby!” balasku. “Maaf. Atau mungkin kau Wanda!”
Gadis itu kembali memukul wajahku, lalu menggeram keras lima senti di depan wajahku. “Jangan sebut nama itu lagi! Aku benci mereka berdua! Mereka selalu mengatakan kalau aku, Jessie Snell, sebagai orang jahat. Padahal, mereka berdua sama jahatnya karena juga ingin membunuh Cassie!” Lalu Jessie langsung terdiam setelah menyebutkan nama terakhir. Ada raut ketakutan yang tak kumengerti di wajahnya. Tapi ia langsung berusaha menghilangkan ekspresi itu.

Kini aku mulai paham dengan apa yang terjadi. Jessie adalah bagian dari kepribadian lain gadis itu, bersama dengan Wanda, dan Abby. Tapi, aku belum bisa menyimpulkan siapa itu Cassie.
Belum sampai aku berpikir lebih jauh, Jessie kembali menempelkan lakban itu di mulutku. Aku hanya bisa diam. Aku harus segera memikirkan rencana untuk bisa keluar dari tempat ini.

“Aku harus pergi,” ujar Jessie. “Jangan berharap kau bisa lari dari sini!” imbuhnya, seraya meninggalkanu di loteng sendirian. Aku akan terus terjebak di tempat itu hingga sekitar empat hari. Aku terus diikat, dan bila waktunya makan, aku akan disuapi oleh ‘Jessie’, ‘Abby’, ataupun ‘Wanda’ secara bergantian. Saat Abby ataupun Wanda yang sedang menguasai tubuh gadis itu, mereka selalu menyatakan permintaan maaf karena tak bisa membantuku. Mereka bilang, kalau salah satu dari mereka membantuku, maka Jessie akan muncul dan membunuhku dengan kejam. Kalau aku harus ke kamar mandi, maka todongan senapan pemburu dari Jessie harus selalu ada sebagai kawalan darinya. Aku pernah mencoba melawan saat Jessie mengikatku. Waktu itu aku baru dari kamar mandi. Tanpa segan, Jessie langsung menggoreskan sebuah pisau dapur di bahuku!

Suatu ketika, aku menemukan sebuah korek api kecil di salah satu sudut loteng. Dengan bersusah payah, aku mencapainya, dan berusaha membakar tali yang mengikatku denganya. Aku sungguh beruntung bisa lepas setelah satu jam berjibaku.
Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berencana untuk keluar lewat jendela loteng. Namun, sebuah rak arsip keluarga mampu membuatku berpaling. Aku membuka beberapa arsip, dan menemukan beberapa hal yang membuatku menghela nafas dalam-dalam.

Dalam arsip itu dijelaskan, bahwa rumah ini adalah milik keluarga Smith. Mr dan Mrs Smith mempunyai seorang anak perempuan tunggal bernama Cassie Smith. Sejak usia sepuluh tahun, Cassie sering berfantasi tentang dua orang teman khayalan bernama Abby dan Wanda, serta seseorang yang ia takuti bernama Jessie. Orangtua Cassie, yang khawatir tentang kondisi anaknya, membawanya ke psikiater bernama dr. Susan O’Neil (di situ ada lampiran kartu namanya.) Dokter O’Neil mendiagnosis bahwa Cassie mengalami Multiple Personality Disorder, atau kepribadian ganda.

Dalam arsip dijelaskan, bahwa dokter O’Neil sering menggunakan terapi hypnosis pada Cassie. Cara lain yang sering ia gunakan adalah sering-sering memanggil nama Cassie, saat kepribadian yang lain sedang muncul. Kedua cara itu ia anggap efektif, dan selama dua tahun terapi, dokter O’Neil menyatakan kalau Cassie sudah sembuh.

Namun, beberapa bulan setelah kesembuhan Cassie, keluarga Smith mengalami musibah. Mr dan Mrs Smith mengalami sebuah kecelakaan mobil dan meninggal. Cassie Smith menjadi yatim piatu, dan mewarisi rumah ini beserta seluruh asset keluarga yang lain di usianya yang baru delapan belas tahun. Cassie menolak tawaran polisi untuk menyelidiki kematian kedua orangtuanya, meskipun ada rumor bahwa mobil yang ditumpangi oleh orang tuanya kondisi remnya tidak berfungsi saat terjadi kecelakaan. Selesai.

Sekarang aku paham. Sangat paham. Dokter O’Neil keliru. Cassie Smith belum sembuh total dari diagnosisnya. Ketiga kepribadian itu muncul lagi setelah beberapa bulan Cassie dinyatakan sembuh. Mungkin saja salah satu dari kepribadian Cassie adalah penyebab dari kematian kedua orangtua Cassie, karena keduanya dianggap membahayakan eksistensi mereka. Lalu mereka pun juga menyingkirkan Cassie yang menjadi kepribadian asli gadis itu. Abby bisa jadi yang paling tahu soal Cassie, sehingga ia pun mengklaim kalau rumah ini adalah rumahnya, dan orangtua Cassie yang meninggal ia anggap orangtuanya.
Aku masih menimbang-nimbang. Memilih antara membantu Cassie, atau langsung melarikan diri, dan memanggil kembali dr. Susan O’Neil, atau siapapun psikiater yang ada.

Kuputuskan aku akan membantu Cassie terlebih dahulu. Aku harus membawanya keluar dari sini. Aku takut kalau Jessie/ Abby/Wanda akan terlebih dahulu menebak rencanaku, lalu kabur dari sini dengan tubuh Cassie.
Lalu, seperti sebuah keberuntungan yang tak terduga, aku menemukan sebuah kotak P3K di tempat itu. Aku bersyukur isinya masih lengkap, dan kuambil sebotol alcohol dari situ. Setelah itu aku bersembunyi di sebelah kiri pintu loteng, menunggu kedatangan mereka.

Jessie/Abby/Wanda masuk ke loteng tak lama setelah aku mempersiapkan alcohol dan sebuah sapu tangan. Ia begitu marah (sehingga aku langsung tahu kalau itu Jessie) saat mengetahui kalau aku tak lagi di tempat sebelumnya. Ia lalu maju tiga langkah lebih ke dalam loteng. “Sial. Di mana Ross!?” geram Jessie. Ia tak menyadari kalau aku ada di belakangnya.

Aku langsung menyergapnya dari belakang. Sialnya, ternyata refleknya jauh lebih cepat dari dugaanku. Ia langsung menangkap tangan kananku (yang membawa sapu tangan beralkohol), dan membantingku. Beruntung botol alcoholnya dari plastik sehingga tak pecah, dan menumpahkan isinya.
Aku mengerang kesakitan. Aku baru tersadar kalau tenaga Jessie begitu kuat walau dengan tubuh Cassie yang cukup mungil itu. Belum sempat aku mencoba bangun, tiba-tiba sebuah tendangan keras kaki kanan Jessie membuat posisi tubuhku bergeser hingga nyaris satu meter. Kembali hanya erangan yang keluar dari bibirku.

Harus kuakui, tubuhku memang lemas. Sangat lemas. Tiap hari Jessie hanya memberiku makan sekali di pagi hari. Nah, pagi ini saja aku belum makan. Aku kembali mencoba bangun. Namun, lagi-lagi Jessie menendangku tanpa ampun. Dan bukan hanya sekali, namun berulangkali ia menendang dan menginjak-injak tubuhku hingga darah keluar dari mulutku.

“Sudah kubilang, jangan membuatku kesal!” geram Jessie. “Tapi tampaknya orang sepertimu memang susah sekali diajak kompromi. Mungkin sebaiknya kita akhiri saja semua ini,” imbuhnya, seraya mengeluarkan sebuah pisau dapur. Tak salah lagi, dia akan menghujamkanya ke tubuhku. Aku ingin melawan, tapi aku sudah terlalu lemah, sehingga hanya bisa pasrah. Mungkin ini memang takdirku untuk mati di tangan seorang pasien rumah sakit jiwa.
Jessie menyeringai kepadaku dengan begitu menggerikanya. Ia mungkin masih ingin menyiksaku lebih lama lagi, tapi mungkin juga tidak. “Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan, Ross tersayang?” ujarnya.
Entah kenapa, saat itu ada satu kata yang ingin kuucapkan pada monster ini.
“Cassie…”

Raut wajah Jessie tiba-tiba berubah ketakutan. Itu mengejutkanku. Tapi setelah itu aku langsung teringat, kalau itu adalah salah satu cara dr. Susan O’Neil untuk menyembuhkan Cassie. Jadi aku mengulanginya berulangkali, hingga Jessie merasa tak nyaman dan menutup telinganya.
“Apa yang kau katakan?! Hentikan!” geram Jessie, takut. Ia berniat langsung menghujamkan pisau dapurnya padaku, tapi seperti ada sesuatu yang menahan tanganya. Aku tidak takut, dan terus menyebut nama itu.
“Abby, Wanda, bantu aku!” geram Jessie pada dua kepribadian lain itu.
“Kami takut, Jessie! Maaf!” balas Abby/Wanda seketika, lewat bibir Jessie.

Kondisi Jessie memberiku kesempatan untuk mengambil botol alcohol yang tadi jatuh. Kutuangkan isinya pada sapu tanganku, dan segera ketekankan pada wajah Jessie. Itu memang bukan chloroform, tapi baunya masih cukup kuat untuk membuat Jessie pingsan.

Aku menang. Aku nyaris tertawa karena baru lolos dari maut. Aku segera mengikat tubuh gadis itu, dan menelepon bantuan.

Satu Tahun Kemudian di RSJ Bomont
Bangsal 07. Itulah petunjuk yang diberikan oleh petugas resepsionis. Cassie baru saja dipindah dari bangsal 10 yang lebih terisolasi. Dan, dokter O’Neil telah mengizinkan kerabat dan teman-teman Cassie untuk mengunjunginya.
Keadaan Cassie memang menunjukkan peningkatan, tapi dokter O’Neil tidak mau buru-buru menvonis sembuh Cassie. Ia tak mau membuat kesalahan seperti sebelumnya.

Ini adalah kunjungan pertamaku, dan Cassie sendiri baru benar-benar mengenalku saat ini. Namun, ia mengucapkan sesuatu yang membuatku tersenyum.
“Kenapa aku merasa seperti sudah mengenalmu? Dan anehhnya, kau seolah seperti telah berjasa menyelamatkan hidupku. Apakah itu aneh?” ujar Cassie, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Ya. Itu memang aneh,” jawabku, sembari tersenyum.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Facebook: Danang Sasmi (Facebook)

Cerpen All of Her merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Tribute Hall

Oleh:
Semakin ku membuka mata, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Kakiku seperti akan meledak. Ku merasa berjam-jam lamanya aku tidak sadarkan diri dalam posisi berdiri dengan tali tambang yang melilitku

I’m Death and He’s My Soulmate

Oleh:
Aku dan DIA bagaikan kucing dan tikus, apa mau dikata dialah yang mengharap semua ini terjadi. Sejak kejadian setelah malam itu kita seakan-akan seperti tak mengenal satu sama lain.

Misteri Dina

Oleh:
Hari ini adalah hari yang sangat buruk, karena hujan deras dan petir yang terus menggelegar, dan keadaan yang sangat gelap. Aku terduduk merenung di bangku sekolahku yang kosong, keadaan

Halusinasi (Part 1)

Oleh:
Ya Tuhan, dingin sekali… Gemeretuk gigiku semakin keras. “Cepatlah Chie!” Ran melepas tanganku yang sejak tadi di genggamnya. Aku berjalan terseok-seok, nafasku tersengal, suaraku tercekat dan pandanganku buram. Belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *