AmneSia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 December 2015

Aku pulang dengan langkah kaki cepat ketika senja mulai turun sedikit demi sedikit dan langit mulai mendung. Terhitung sudah lima bulan, semenjak amnesia mulai menjalari otakku ini. Beruntung amnesia ini hanya bersifat sementara, sehingga aku hanya perlu bertemu orang-orang yang mengaku kenal denganku dan bertanya tentang nama lengkapnya. Maka tiba-tiba otakku mulai melakukan adegan flashback untuk mengingat segala masa lalu dengan mereka, dan akhirnya aku mulai mengingat siapa dia sebenarnya bagiku.

Aku melewati sebuah minimarket tepat di sebelah selatan sekolah. Jalan raya di depannya mulai ramai oleh aktivitas pulang para pekerja di daerahku. Tepat di depan minimarket tersebut, ada seorang perempuan cantik seumuranku berdiri. Ia menatapku dengan tajam sambil menyungging senyum manisnya. Ku kira ia melihat seseorang di belakangku, sehingga aku tidak menghiraukan dan melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Dimas!”

Aku membalikkan badan dan menatap perempuan itu. Aku merasa gugup ketika ia menghampiriku.
“Kamu Dimas, kan? Kau masih lupa denganku? Sudah tiga kali kita bertemu.”
Aku hanya diam. Biasanya jika memang aku pernah bertemu dan mengenal seseorang, otakku akan mencari data masa lalu saat bersama dengannya. Itu yang ku rasakan selama ini. Namun anehnya semua itu tak berlaku ketika aku bertemu dengan perempuan yang satu ini, karena kata dia, dia sudah bertemu denganku tiga kali.

“Oke, tak apa jika kau masih belum ingat. Tapi bolehkah aku minta nomor teleponmu? Siapa tahu aku membutuhkannya.”
Ku berikan dua belas digit nomor teleponku dengan lancar. Namun mulutku tak mau bergerak ketika aku ingin menanyakan siapa namanya. Mulutku kaku.
“Terima kasih, Dimas. Kau mau pulang? Dengan jalan kaki? Ya sudah, hati-hati ya.”
Senyumnya muncul lagi. Ku balas senyumnya dan langsung beranjak pergi. Pikiranku kaku. Tak ada sambutan maupun pertanyaan untuknya. Apa yang salah dari diriku terhadap dia?

“Hei, Man. Kemarin sore waktu pulang sekolah, aku bertemu perempuan cantik, loh.” Ku ceritakan kepada Rahman, teman sekelasku.
“Kamu bertemu perempuan cantik? Ah, mungkin itu tadi mimpi tidurmu tadi, ya?”
“Hei, kenapa kau tak percaya padaku?!”
“Kau kan pernah terkena amnesia, bahkan sampai sekarang. Benar bukan?”
“Jadi ku ceritakan atau tidak?”
“Oke, maaf. Silakan bercerita.”

“Begini ceritanya. Kemarin aku pulang agak malam. Di depan minimarket itu, aku disapa perempuan cantik.”
“Perempuan cantik menyapamu? Ku rasa amnesiamu mulai memburuk.”
“Hei, jangan mengejekku terus! Kata dia, dia sudah bertemu denganku tiga kali. Seharusnya aku bisa mengingat waktu pertama kali aku bertemu dengannya. Namun aku tak ingat sama sekali.”
“Hmm, oke. Lalu?”
“Lalu dia meminta nomor teleponku, berterima kasih, dan aku melanjutkan perjalanan.”

“Bahkan kau tidak menanyakan siapa namanya?”
“Nah, anehnya mulutku seakan tak mau menanyakannya. Aku gugup.”
“Wah, baru bertemu perempuan cantik saja sudah gugup. Laki-laki macam apa kau ini?”
Ejekannya benar-benar menyakitkan. Beruntung, aku mulai sabar.

“Mungkin, itu adalah rahasia di otakmu yang tidak boleh tersentuh.”
Ternyata sejak tadi Kevin yang berada di sebelah Rahman mendengar ceritaku. Pendapatnya menarik.
“Bisa juga, sih. Tapi mengapa?”

Senja mulai datang dan waktu di sekolah hari ini sudah selesai. Sekolah mulai sepi dan aku pulang di waktu terakhir sebelum gerbang sekolah ditutup. Aku ke luar kelas dengan terburu-buru. Tiba-tiba ada seorang perempuan menghalangi pintu kelas dan membelakangiku sehingga hanya punggung dan rambut panjangnya saja yang tampak. Rambutnya tergerai tertiup angin senja dingin yang membuatku merinding, dengan bajunya yang berwarna putih kemilau, menciptakan suasana yang semakin mengerikan.

“Dimas?” Suaranya lemah memanggilku. Ia menoleh ke kiri dan sorot matanya tajam menatapku. Kali ini ia menghadapku.
“Kau?” Suaraku bergetar. Ternyata perempuan yang ku temui kemarin.
“Hai, Dimas! Maaf tidak menghubungimu dulu sebelum kita bertemu. Ayahku memaksa untuk segera bertemu denganmu untuk melihat keadaanmu sekarang.”
“Ayahmu?”
“Ayo ikutlah denganku. Tenanglah, Ayahku sudah menunggu di depan.”

Langkahku goyah mengikutinya. Masih ada kebingungan di pikiranku, bahkan aku belum sanggup menanyakan siapa namanya. Di lahan parkir sekolah, ada sebuah mobil berjenis SUV berwarna putih dan tampaknya mewah dan mahal. Namun anehnya mobil sebagus itu tampak cacat. Spion mobil bagian kiri tampak berbeda dengan bagian spion mobil lainnya. Perempuan itu mengetuk kaca jendela mobil beberapa kali. Kaca itu turun dan menampakkan seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahun duduk di balik kemudi mobil tersebut. Kemeja batiknya bermotif parang rusak dan tampak berwibawa namun sederhana. Senyumnya melebar ketika ia melihatku. Di bawah mata kanannya, ada bekas jahitan luka kecil yang tampak sudah tua dan keriput. Ku perhatikan lagi dengan teliti. Kemeja batik parang rusak? Bekas jahitan luka?

Aku pulang dengan langkah kaki cepat ketika senja mulai turun sedikit demi sedikit dan langit mulai mendung. Terhitung sudah delapan belas bulan, semenjak kurikulum pendidikan ini mulai memenuhi pikirankuku ini. Beruntung semua ini hanya proses yang bersifat sementara, sehingga aku hanya perlu bersabar dan menjalaninya satu persatu dengan ikhlas di hati. Jika aku mulai pesimis, aku akan mulai memotivasi diri, menahan keletihan. Aku melewati sebuah minimarket tepat di sebelah selatan sekolah. Jalan raya di depannya tampak lengang, tak seperti biasanya. Pada waktu yang tepat, aku menyeberangi jalan itu untuk menggapai sisi jalan yang lain. Lajur jalan yang menuju arah selatan tampak lengang.

Pandanganku mengarah ke belakang, melihat dari kejauhan tentang sebuah mobil berjenis SUV berwarna putih menyalip dengan kencang sebuah truk Pertamina yang melaju dengan kecepatan stabil namun tak melebihi batas. Ku geserkan tubuhku ke sisi paling pinggir jalan itu. Angin senja dingin bertiup kencang seakan mendorongku agar berjalan lebih cepat. Namun tiba-tiba ada angin yang lebih kencang membentur kepala bagian belakang. Ku rasa itu bukan angin.

“DUUAAAAAKKKKK!!”

Pecahan-pecahan kecil kaca terlempar menuju tanah, diikuti seluruh tubuhku yang terpental mencium tanah. Dunia berputar cepat di mataku. Posisiku tengkurap dan darah membasahi rambutku. Darah juga mengucur deras di pelipis kananku. Beruntung, ada seseorang yang berbaik hati mengubah posisi badanku menjadi menghadap langit. Ia seperti meneriakkan sesuatu ke segala arah, namun aku tak bisa mendengarnya. Mataku meredup ketika seseorang berkemeja batik parang rusak berlari mendekati mataku. Ku lihat ada segores luka kecil di bawah mata kanannya. Ah! Bahkan di waktu seperti ini aku masih melihat hal-hal yang tidak penting. Ada seorang perempuan cantik seumuranku berwajah khawatir. Bajunya putih kemilau layaknya bidadari. Namun pandanganku mulai menghitam dan berbintang. Ku lemparkan senyum kepada perempuan itu.

“Hai, Amne Sia…”
“Amne Sianna Dewi Puspita”

Cerpen Karangan: Dimas Misbachul Ichsan
Facebook: Dimas Misbachul Ichsan

Cerpen AmneSia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Pertama Pindah Sekolah

Oleh:
“Yana, ke kantin yuk?” “Eh, aku sudah bawa bekal” “Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya” Aku mengangguk tersenyum. Ini hari pertama aku di sekolah baru, karena

21:09

Oleh:
Aku masih saja terdiam mencoba memahami apa yang telah terjadi. Jeritan dan tangisan yang menyayat hati, darah yang mengalir membuat pandanganku menjadi gelap “sher, sher bangun” darimana suara itu

Lily (Part 1)

Oleh:
Matanya melotot, badannya bergetar, berkeringat dingin, loyo, dan lunglai. Lily menjerit, berteriak tidak karuan, meminta bantuan, namun ia tidak berharap ada orang datang dan memberinya bantuan. Tik, tok, tik,

Jimat Bertuah

Oleh:
Di sebuah rumah tua yang berada di ujung desa, seorang anak sedang bermain catur melawan ayahnya, seharusnya pada jam-jam itu si anak sedang bermain bola voli di lapangan desa,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “AmneSia”

  1. Raihanur says:

    Waa keren critanya..
    Ide crita mnarik.
    Good story…

  2. Nisaa says:

    Wahh bagus banget ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *