Amnesia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 December 2018

Aku kehilangan ingatanku semejak kecelakaan itu, padahal memori merupakan aset berharga yang dimiliki seseorang. Katanya, aku terjatuh dari tangga di sekolahku dan katanya pula, ada yang mendorongku hingga jatuh. Akan tetapi, aku tidak bisa mengingat apa-apa, entah itu namaku, umurku, keluargaku, sahabatku, dan keseharianku. Kenyataan bahwa aku mengalami amnesia memang bukan suatu hal yang mudah diterima dan kedua orangtuaku dibuat sangat terpukul oleh hal ini. Aku masih mengingat betul wajah kedua orangtuaku saat aku tidak mengenal mereka, histeris tampaknya.

Setelah beberapa bulan di rumah sakit, akhirnya aku dapat kembali menjalani kehidupanku pada normalnya. Ternyata aku merupakan siswi yang duduk di bangku SMA dan namaku adalah Darla. Menjalani keseharian tanpa ingatan memang menyulitkan, namun dengan bantuan orangtua dan teman sekelasku, hal yang menyulitkan tidak lagi menyusahkan diriku.

Hari ini, aku kembali pergi ke sekolah dengan anggapan supaya aku dapat mengingat kembali memoriku yang hilang. Setelah sekian lama berada di rumah sakit, akhirnya aku masuk ke kelasku kembali. Sapaan hangat dari teman-teman sekelasku membuat hatiku gembira, apalagi mengetahui bahwaa mereka semua ramah terhadap diriku.

“Darla! Akhirnya kamu baikan juga yaa,” seru seorang perempuan berambut pendek yang sedang berjalan ke arahku. Dalam hati, aku bertanya-tanya tentang identitas orang ini.
“Kau tidak apa-apa? Kudengar kau mengalami amnesia,” berdampingan dengan perempuan berambut pendek itu, seorang perempuan lainnya berkata kepadaku. Dilihat, tampaknya kedua orang ini adalah sahabat.
“Terimakasih sudah menanyakan. Aku tidak apa-apa kok,” aku menjawab mereka berdua dengan senyuman halus. “Umm, boleh tahu kalian ini siapa?”

Dengan itu, mereka memperkenalkan diri masing-masing, mengingat kondisiku ini. Perempuan berambut pendek itu bernama Linda, sedangkan temannya yang satu lagi bernama Erna. Setelah mereka beritahu, aku jadi mengetahui bahwa ternyata kami bertiga ini ternyata adalah sahabat. Hal ini menjelaskan mengapa mereka begitu dekat denganku. Berkat bantuan mereka, aku dapat menjalani kegiatan sekolah dengan lancar. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama-sama. Berada bersama mereka membuatku merasa nostalgia. Tampaknya ikatan pertemanan di antara kami dapat membantu aku mendapatkan kembali ingatanku.

Teman-teman sekelasku juga dengan ramah mau menolongku. Namun, tidak semuanya. Ada satu siswi yang tampak aneh bagiku. Ia tidak pernah mau mengobrol denganku dan setiap kali aku mencoba untuk menghampirinya, ia tampak ketakutan lalu pergi begitu saja. Sebenarnya, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kami? Atau apakah aku pernah berbuat salah padanya? Ada yang tidak beres tampaknya.

“Hei Linda, Erna,” aku memanggil kedua sahabatku, berusaha bertanya dan mencari informasi mengenai siswi itu.

“Oh, kamu maksud si Wanda? Dari dulu dia memang cewek aneh. Terus, dia itu juga sering jadi korban bully karena sikap anehnya itu,” jelas Erna kepadaku. Linda sendiri mengangguk setuju.
“Terus ya, kamu harus tahu ini, Darla. Waktu hari kecelakaanmu di tangga, Wanda ada di situ loh. Tampaknya dia yang mendorongmu. Itu sih rumor yang kudengar, tapi bisa saja benar. Hati-hati kamu, Darla,” tambah Linda kepadaku.

Setelah percakapan itu, aku mulai bertanya-tanya akan kebenaran rumor itu. Aku juga jadi penasaran tentang kecelakaanku dan siapa yang tega berbuat seperti itu kepadaku. Lalu, aku pun mulai mencari informasi dari Linda dan Erna mengenai orang yang mungkin berbuat seperti itu. Dugaan pertamaku, yang pasti adalah Wanda. Bukan hanya memberikan tatapan aneh itu, rumor mengenainya sebagai pelaku kecelakaanku membuatku curiga.

Dugaanku selanjutnya adalah Maria. Ternyata, setelah kecelakaanku, ia tidak berani datang ke sekolah. Entah apa alasannya, namun sampai sekarang ia masih saja tidak ke sekolah. Ini tampak mencurigakan, apalagi setelah Linda dan Erna bercerita bahwa Maria adalah musuhku. Katanya, Maria adalah siswi cantik yang populer, namun setelah aku masuk ke sekolah ini, ia tersaingi olehku dan menaruh dendam padaku.

Lalu, juga ada pria satu ini bernama Hans. Aku juga menaruh dugaan padanya karena setelah diceritakan, ia adalah stalkerku. Sempat, waktu itu ia menyatakan cinta padaku, namun aku menolaknya. Karena itu, ia bisa saja mencelakakanku dengan motif balas dendam.

Semakin ku bertanya kepada kedua temanku ini, semakin aku mendapati bahwa musuhku ternyata banyak. Hal ini makin memperluas orang-orang yang mencelakakan aku. Tapi, untung saja aku punya teman sebaik Linda dan Erna yang mau saja membantu aku.

Waktu pun menunjukkan pukul tiga dan akhirnya waktunya untuk pulang. Aku pamit duluan kepada kedua sahabatku, karena jika pulang terlalu larut, orangtuaku pasti khawatir. Dengan itu, aku keluar dari kelas dan berencana untuk pulang. Langkahku terhenti ketika aku hendak berjalan melalui sebuah tangga. Tampaknya, inilah tempat kecelakaanku. Aku mengamat-amatinya sebentar, namun aku tidak bisa mengingat apa-apa. Kukira, dengan pergi ke tempat kejadian, aku dapat mengingat seusatu.

“Darla!” aku mendengar seseorang memanggil namaku dari belakang. Suaranya terdengar penuh dengan keraguan dan ketakutan. Saat kulihat dari siapa asal suara itu, aku melihat Wanda. Tiba-tiba perasaanku menjadi buruk. Teringat kembali rumor-rumor itu. Bagaimana bila ia ke sini untuk mendorongku dari tangga lagi? Tampaknya, Wanda dapat merasakan apa yang terjadi. Langsung saja ia berusaha meyakinkanku.

“Darla, dengarkanlah aku. Aku bukanlah orang yang mendorongmu!” Selagi ia berbicara, aku berusaha menatap matanya dan entah mengapa, aku yakin bahwa ia tidak berbohong.

“Dan ini, bacalah,” ia memberikanku selembar kertas. “Bacalah, dan kau akan mengerti. Aku tidak bisa menceritakannya langsung karena aku tidak boleh berlama-lama bersamamu. Takutnya, orang itu akan melihat kami bersama.”
“Siapa? Orang itu?” Aku bertanya padanya dengan penuh tanda Tanya.
“Kau akan mengerti nanti. Pokoknya cepat baca kertas itu dan pergi dari sekolah ini. Ia akan mencoba untuk membunuhmu lagi! Sampai jumpa, Darla. Berati-hatilah,” Dengan itu, Wanda langsung mengangkat kakinya dan pergi dari hadapanku. Aku masih bingung tentang apa yang terjadi, namun aku mengikuti perkataan Wanda dan membaca surat yang ia beri. Isi surat itu begitu mengejutkan. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayai apa yang ia tulis atau tidak. Jika memang benar, aku benar-benar dalam bahaya. Aku pun langsung berjalan menuju tangga untuk pulang.

Namun, tiba-tiba aku tidak bisa merasakan kakiku di lantai. Aku telah didorong! Seakan waktu berjalan lambat, aku dapat merasakan tubuhku terjatuh dan menghantam kerasnya lantai. Darahku perlahan mengalir dari kepalaku, benar-benar nyata rasanya. Tanganku menggenggam kertas yang Wanda berikan kepadaku, dengan tulisan yang berantakan karena terburu-buru, beginilah isinya:

‘Darla, aku tidak bisa berbasa-basi seperti yang biasa kita sering lakukan. Aku sempat mendengar percakapanmu dengan orang-orang itu. Aku ingin memberitahu kamu bahwa bukanlah aku yang mencelakakanmu! Bukan juga Hans dan bukan juga Maria! Kau mungkin tidak ingat, tapi aku dan Maria adalah sahabatmu, bukan mereka! Dan Hans bukan penguntitmu, tapi dia adalah kekasihmu. Yang mencelakakanmu itu adalah orang-orang itu. Orang-orang yang sering kita bully itu. Mendengar kejadian yang menimpamu, Maria jadi ketakutan untuk datang ke sekolah, begitu pun aku. Namun, aku berusaha keras untuk datang supaya dapat mengingatkanmu. Mereka hendak membunuhmu. Saat mereka tahu kau masih hidup, mereka akan terus mencelakakanmu. Waspadalah!’

Tampaknya, memang benar apa yang Wanda tuliskan padaku. Akulah yang selama ini terlalu bodoh untuk percaya, percaya kepada kebaikan mereka. Sebelum matakku tertutup rapat, aku dapat melihat figur dua orang perempuan yang sedang berdiri di atas tangga. Tentu saja, itu adalah Linda dan Erna. Akan tetapi, bukan hanya mereka. Aku dapat melihat teman-teman sekelasku tersenyum puas sebelum aku benar-benar kelihangan kesadaranku.

Cerpen Karangan: Yuuki Hikari

Cerpen Amnesia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Novel Berdarah

Oleh:
Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Wiko. Bibi Nur datang sambil membawa secangkir kopi panas

Wednesday Boy

Oleh:
Prittt!!! Prittt!!!! Suara peluit yang khas milik guru olahraga membuatku langsung menutup telinga, aku menggerutu kesal melihat pak Hari menyuruh kami untuk ganti baju lebih cepat. Oh ya, namaku

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2)

Oleh:
Saat itu, dasar curug begitu dipadati pengunjung. Beberapa anak kecil riang bermain air yang jernih, sedang para orangtua di belakang mengawasi. Sejumlah muda-mudi asyik mengabadikan foto, beberapa yang lain

Bakat (Part 2)

Oleh:
Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Dinda. Dia yang selalu ada di saat aku sedang berada dalam masa-masa sulit. Seperti sekarang ini, aku tahu dia akan selalu ada untukku. Setiap

Bayangan Di Balik Kegelapan

Oleh:
Malam itu terasa sangat sunyi ditambah cuaca begitu dingin sehingga terasa begitu mencekam. Kebetulan malam ini aku sendirian di rumah, karena Ayah sedang ada pekerjaan ke luar kota. “Kreeeetttt,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *