Anak Kecil Dalam Mimpiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

“Aku merindukan pertemuan itu melintasi malam yang sunyi aku mencarinya.”

Langit basah dan bunga-bunga yang sengaja ditanam di pot-pot kecil menggigil dingin. Jalan dan lorong-lorong dipadati air yang kebingungan mencari tempat berdiam, tidak cukup hanya lewat selokan hasil buatan. Iya, hujan mengguyur kota menyandera kehangatan, angin bersikukuh mengantarkan dingin memaksa semua orang bersembunyi dibalik selimut tebal atau memeras kehangatan cinta.

Aku berdiam diri dalam kamar tubuhku kaku, hawa dingin terus menusuk kulit meremas tulang, pintu dan jendela terpaksa kututup rapat agar dingin tidak semakin puas dengan kenakalannya, Bulu-bulu halus berteriak memintaku membiarkan selimut menelan badanku. Astaga aku tidak leluasa menyaksikan gelap bertatapan dengan sepi ingin rasanya kulepas teriakan keras memecah kebisuan memetik puisi rindu di ranting-ranting khayalku.

Aku disekap kejadian tak terduga, peristiwa ini pelan-pelan mengantarkan aku pada sebuah kejadian yang sama sekali tidak ingin aku ingat bahwa hal tersebut pernah terjadi dalam hidupku. Aku terapung dalam waktu masa lalu, kembali lemah nyanyian sunyi kamarku menggiringku pada ratap kepedihan setengah tahun silam bayangan wajah suamiku, seorang laki-laki yang telah mencampakkanku begitu saja memadati ruang sadarku aku kehilangan daya gemetar dalam ketakutan. “Kenapa aku meneteskan air mata?”, aku tidak percaya pada diriku sendiri bahwa aku akan kembali mengingat kejadian itu padahal aku sudah berusaha sekuat mungkin menguburnya dalam kubangan lupa. Hidupku seperti tidak ada harganya dikacaukan oleh kepalsuan, keadaan memaksaku menelan kenyataan pahit itu lagi aku tidak bisa berontak menolak keadaan.

Aku terlalu yakin pada diriku sendiri menjadikan dia sebagai imam yang akan menuntunku menjalani narasi kehidupan sampai selesai ternyata aku memilih tempat yang salah sehingga aku harus tenggelam dalam lumpur penderitaan, aku adalah perempuan yang berusaha bangkit dari rasa sakit. 3 bulan setelah kehamilanku dia menghilang, pergi dengan perempuan lain, cinta dan kasih sayang berubah menjadi rasa benci baik terhadapnya atau pada janin yang mendiami perutku, api kebencian membakar kepercayaan tentang mesteri janji. Entah setan mana yang menggiringku pada keputusan untuk tidak memberikan kesempatan hidup pada janin dalam tubuhku, tidak ada lagi cinta hanya ada rasa benci aku berhasil tidak memberikan kesempatan bayiku membangun mimpinya di atas dunia fana ini.

Takdir meberiku kisah baru, seorang anak kecil berkulit putih bersih, bermata indah dengan rambutnya yang hitam kerap hadir dalam mimpiku dalam setiap kedatangannya dia selalu menyunggingkan senyum, matanya memburu mataku wajahnya begitu asing entah isyarat apa yang hendak dia sampaikan, masih belum dapat aku pahami. Aku hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa melontarkan beberapa pertanyaan pun aku tidak mampu setiap kedatangannya setelah dia tersenyum dan selesai mendapati mataku dia melangkah pergi membiarkanku terjebak rasa penasaran. Saat aku bangkit dari tidurku senyum dan tatapan mata indah anak asing itu tetap mendiami benakku, pertemuanku dengannya terasa nyata bukan hanya satu kali atau dua kali bunga tidur dengan kejadian yang sama bahkan hapir setiap malam akan tetapi aku belum tahu siapa dan kenapa anak itu hadir dalam mimpiku.

Aku berusaha menolak anak itu hadir dalam mimpiku dari malam ke malam dia terus mencariku, entah pada hitungan pertemuan yang keberapa anak itu kembali menemuiku tetap dengan senyum dan tatapan mata yang khas tanpa rasa malu dan canggung dia berlari dan duduk di pangkuanku wajahnya menyampaikan keakraban, aku biarkan dia. Diraihnya tanganku kemudian mengisap-ngisap ibu jariku dan sesekali memainkan ujung kerudungku. “Siapa anak ini?” pertanyaan itu kembali berdengung dalam kepalaku, aku sengaja tidak menanyakannya karena aku masih ingin memperhatikan tingkah lucunya.

“Ada yang aneh dengan anak ini kenapa dia merasa nyaman berada di dekatku dan kenapa aku juga merasakan hal yang sama, aku merasa memiliki ikatan batin dengan anak ini, tapi tidak mungkin” ungkapku pada diriku sendiri namun aku masih berusaha menolak pada apa yang telah aku rasakan. Tetap aku biarkan dia merasa betah dengan memeluk dan menciumnya meski aku belum tahu betul tentang dia yang sebenarnya.

Malang, 27 Februari 2017

Mas’udi

Cerpen Karangan: Mas’udi
Facebook: Mas’udi

Cerpen Anak Kecil Dalam Mimpiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Tergapai

Oleh:
Aku terbangun dari tidurku dan “Hei! siapa di sana?” aku buru-buru menyalakan lampu kamarku. Tadi aku melihatnya, bayangan hitam bertopi itu kembali muncul. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku

Tumbal Kabut Pembalasan

Oleh:
Gunung Panglimun… Sore mulai beranjak malam, para anggota Basarnas, relawan dan Jagawana mulai terlihat turun dari area pendakian menuju Basecamp pos utama di bawah. Mereka pun segera beristirahat di

Sebuah Panggilan

Oleh:
Suara dentuman sepatu kets terdengar di sepanjang lorong yang sudah semakin sepi. Langit sudah semakin gelap. Matahari pun telah digantikan dengan kehadiran bulan. Langkah kaki itu semakin cepat hingga

Wajah Sang Primadona

Oleh:
Tak pernah kulihat wajah sesempurna itu seumur hidupku. Tak pernah sekalipun. Bila aku menutup mataku akan teringat jelas wajah itu, sepertinya wajah itu telah merekat dan menusuk sangat dalam

Short Story

Oleh:
Gill menikmati sore itu. Semilir angin sayup-sayup menggodanya, membelai tiap-tiap helai rambut yang coklat. Jemarinya menari-nari di atas tuts komputer jinjing sementara matanya terpaku pada layar kaca. Ilham seakan-akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *