Andai Saja Aku Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Cewek itu berlari kesana-kemari di dalam atrium pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Ia tampak panik. Wajahnya pucat. Matanya basah, genangan air di kelopaknya siap tumpah kapan saja.
Awalnya Andi tak begitu peduli dengan cewek tersebut. Namun lama-lama gelagatnya agak ganjil —mencurigakan— karena kerap kali lehernya berputar, seperti sedang mencari sesuatu. Tapi pria yang mengekornya lebih membuat Andi merasa tidak nyaman, pandangannya tertuju pada telepon seluler digenggaman dan sesekali menengok ke arah cewek itu. Merasa tingkat ke-kepo-annya mulai meresahkan, ia bangkit, lalu berjalan —membayangi mereka, seperti seorang stalker.
Mendadak gerakan cewek itu terhenti dan memandang nanar, menunggui lelaki di belakangnya yang berjalan bak peragawati di atas catwalk.

“Pak, bagaimana kalau tas saya nggak ketemu?” kata cewek itu. Nada suaranya terdengar putus asa.
“Ya, mau bagaimana lagi, Mbak. Kami tak bisa membantu lebih. Mungkin orang itu sudah kabur.” tukas si Pria sambil melemparkan tatapan menyesal tapi tak tampak menyesal, sebab di detik berikutnya ia kembali berkutat dengan telepon selulernya.
Kemudian cewek itu terduduk di bawah pilar beton, tampak letih. Bening kristal mengucur membasahi pipinya.
Andi baru saja ingat. Sebelumnya ia merasa pernah melihat cewek itu bersama seorang perempuan —munngkin temannya. Membawa tas punggung hitam berdiri di samping cewek berjilbab ketika Andi hendak turun melalui elevator dari lantai tiga. Tak salah lagi, dia adalah salah satu cewek yang membawa tas punggung tersebut.

Andi terlonjak. Tubuhnya seolah bergerak tanpa terkendali, menghampiri cewek yang bersandar di pilar beton bak tangkai bunga yang setengah layu itu.
“Mbak, saya lihat wanita berjilbab yang bersama Mbak sudah naik metromini sekitar sepuluh menit yang lalu!” ujar Andi antusias setelah sepatunya tinggal beberapa langkah saja dari sepatu mereka, lupa kalau ia telah menguping pembicaraan orang lain. Sontak cewek itu mendongak, memandang Andi dengan tatapan horor, seolah ia baru saja melihat penampakan mahluk Alien di depannya itu.
“Adek, yakin itu wanita berjilbab teman Mbak ini?” Pria berkaos merah menyela.
“Iya. Saya yakin.” suara Andi mantap. Matanya berbinar-binar. Selama ini ingatannya selalu bagus. Ia tak pernah salah mengenali objek meski hanya sekilas pandang.
“Baiklah, kalau begitu kita harus cepat lapor Polisi,” kata pria kaos merah, “ada Polres terdekat dari sini. Ayo!”
Mereka pun menuju kantor Polres yang hanya berjarak 10 km dari Pusat Perbelanjaan.

Penyesalan selalu datang terlambat. Mungkin ungkapan tersebut benar adanya. Andi mulai gelisah. Berkali-kali duduk-bangkit selagi matanya kerap menangkap tulisan timbul di tembok yang terukir sempurna di ruang dingin kantor Polres, “Kepercayaan Anda adalah semangat bagi kami”. Begitulah kira-kira bunyi kalimat bercat oranye tersebut. Tapi apa sebenarnya yang dilakukannya sampai sekarang? Tidak ada. Mereka hanya menunggu dan menunggu. Bahkan ia tak diperbolehkan pulang.

Tulisan itu menuntut kepercayaan. Lalu bagaimana Andi dapat melakukannya? Sedangkan dirinya merasa seperti penjahat di ruangan ini. Duduk di bangku tunggu di samping cewek itu —yang baru diketahuinya bernama Atika. Memang benar sebagian karena salahnya, ia tak membawa kartu pelajar dan keluarganya tak bisa dihubungi serta agaknya polisi sangsi atas keterangan yang disampaikan korban. Ada dugaan keterangan mereka tidak valid. Ditambah sikap Atika yang sama sekali tidak membantu. Lagaknya seperti menyimpan rahasia. Sesuatu, atau kunci dibalik kasus yang serasa makin menjengkelkan itu. Bagaimana bisa masalah orang lain kini menjadi masalahnya? Ah… inilah mengapa ia benci belanja! Benak Andi kembali menggerutu.

Atika. Gadis yang mengaku berusia 21 tahun. Dari luar kota bersama temannya —wanita yang berjibab— hendak berlibur di Jakarta. Kehilangan tas berisi identitas dan semua barang pribadi dan dokumen penting yang enggan ia sebutkan jenis apa lagi rinciannya. Bahkan sedari tadi keterangannya seperti breakdance, bebas, kesana-kemari. Ia hanya terus-menerus menangis, meminta agar tas miliknya harus ditemukan karena akan sangat bahaya bila tidak, ungkapnya dengan sesenggukan dan hidung merah yang merembes. Polisi hanya memberi wajah iba sekaligus tatapan curiga.

Lebih dari satu jam kemudian —usai Polisi mengorek informasi dari gadis malang di sampingnya, Andi menoleh. Atika tertunduk. Masih menangis sedu-sedan. Bangku tunggu itu berderet dan jaraknya tak jauh dari meja informasi.
“Aku tahu kamu sedih. Tapi menangis tak akan menyelesaikan masalah,” lirih Andi.
Tak ada respon. Atika tetap bungkam.
“Dan aku juga tahu ini akan terdengar tidak sopan. Tapi… bisakah kamu menceritakan yang sebenarnya padaku? Aku janji tak akan memberitahu mereka,” sekilas matanya melirik petugas yang duduk di balik meja informasi, sambil memastikan suara yang keluar dari bibirnya tak terdengar oleh mereka.
Atika mendongak. Sekejap matanya berkilat-kilat lalu menjadi nanar. Gadis itu memandang Andi seperti baru pertama kali setelah berjam-jam bersamanya. Kemudian sudut bibirnya berkedut. Bahkan sempat tercipta senyum tipis yang entah sebuah kekaguman atau… who knows?
“Aku bingung mau mulai dari mana,” Atika memulai.
“Kamu bisa mulai dari apa yang ada di dalam tasmu, karena kita berdua tahu kalau isinya lebih dari dokumen penting, bukan?” Andi tak punya waktu untuk basa-basi lagi.
“Emm… tapi kamu harus janji tak akan bilang siapa-siapa.” Atika menegaskan. Andi membuat gerakan setuju.
Agak lama Atika tak bersuara. Hanya memandang cowok muda itu —yang tampaknya sudah bosan— sambil menimbang-nimbang. “Sebenarnya di dalam tas itu ada dokumen dan barang terlarang yang kalau Polisi tahu aku bisa dipenjara karenanya.” Dan cukup memakan waktu pula otak Andi menyerap kalimat yang baru saja diucapkan gadis cantik berambut panjang itu. Pelan-pelan matanya membulat, terlonjak dari tempat duduk, nyaris bokongnya mencium lantai, tapi gagal karena reflek tangannya meraih pegangan kursi sungguh mengagumkan.
Matanya masih terbelalak, “Ap-barang… apa katamu?!” desis Andi. Berusaha sepelan mungkin namun nadanya menekan.
Alis Atika bertaut, “dan aku tahu siapa yang mengambil tasku. Bukan wanita berjilbab yang kusebut teman tadi… Aku bahkan tidak kenal wanita itu. Kamu saja yang kebetulan melihatku berdiri berdampingan dengannya di elevator sempit dan Satpam bodoh itu seenaknya mengasumsi kalau dia wanita yang kumaksud. Dan binggo! Satpam brengsek itu tiba-tiba punya tiket lolos berkat dirimu.”
“Aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan. Yang jujur saja cukup menjengkelkan, karena seolah-olah aku-lah penjahatnya. Apa sih maumu?!” suara Andi meninggi. Otaknya berkabut. Atau emosi telah merajainya, ia sudah tak mau peduli.
“Satpam. Pria berkaos merah yang mengantar kita tadi adalah pencurinya. Aku sama sekali tak pernah memikirkanmu. Sekarang yang kukhawatiran adalah… Satpam idiot itu akan melapor pada polisi-polisi perut buncit itu.” desis Atika. Wajahnya berubah. Tidak. Seolah ia bukan gadis yang meraung-raung, tergenang ingusnya sendiri karena tangis yang menggelegar sesaat lalu.
Tubuh Andi seperti baru saja tersetrum tegangan listrik tinggi. Kaku. Napasnya terhenti. Membeku, menatap gadis di depannya itu. Siapa gadis ini?

Jangan menilai orang dari penampilan. Jangan percaya pada orang yang baru dikenal. Ibunya selalu mengingatkan. Lalu bagaimana bila pribadi tak kenal jati diri? Pertanyaan seolah udara ringan yang dihirup hidungnya, keluar masuk. Andi tak dapat mengelak, sekalipun melarikan diri dari situasi rumit ini. Demi Tuhan! Ia hanya seorang pelajar SMP yang tiap pagi Ibunya harus pakai jurus Jacky chan agar anaknya beranjak dari kasur untuk sekadar pergi sekolah.
Dengan beralasan pulsa habis, Andi berhasil meyakinkan petugas informasi dan kembali ke Mal. Suasana di dalam Mal masih riuh. Tentu saja karena hari minggu, ia mendengus. Dan anehnya pria berkaos merah itu masih di sana, tengah meenyandarkan sebelah bahunya di kotak pos penjagaan yang diapit dua elevator listrik —naik dan turun.
Setelah susah payah Andi membujuknya, tak diduga-duga Pria itu mengaku bahwa telah mengambil tas milik Atika. Dengan ekstra hati-hati ia memeriksa isi dalam tas. Ada sebuah amplop coklat mencuat, berisi lembar seratus ribuan—jumlahnya banyak sekali. Tapi selain itu, tidak ada yang lain. Tas itu hanya berisi uang. Dan Pria itu bersumpah “cuma itu isi tas ini, Dek.” ungkapnya dengan tangan gemetaran dan mimik khas wajah orang yang ‘baru ketahuan’.

Andi dan Pria kaos merah tersaruk-saruk, berjalan gontai keluar dari dalam Mal. Entah kemana tujuan, Andi masih berpikir. Ke kantor polisi? Sama saja bunuh diri. Atika telah berbohong. Masalah ini makin rumit seperti benang kusut, yang Andi belum tahu mana ujung dan pangkalnya. Tiba-tiba nada dering telepon seluler di dalam saku celananya mendayu-dayu, menyanyikan lagu yang sudah disetel sebagai panggilan masuk. Cahaya layar sentuh Hp-nya berkedip, nomor pribadi.
“Halo?”
“Halo Andi. Ini Atikaa…,” suaranya begitu riang. “aku sejujurnya terpesona padamu. Tapi sayangnya waktu kita tak banyak. Tapi jangan cemas, karena aku akan menjelaskan dengan singkat. Aku merasa tidak enak padamu.”
“sebenarnya aku cuma ingin bermain. Sedikit sandiwara di depan polisi-polisi tolol itu. Tapi tampaknya kamu… tak disangka-sangka melibatkan dirimu sendiri dalam permainan ini. Aku akui kehadiranmu sedikit merusak rencana tapi sekaligus membuatnya makin sempurna. Jadi, aku berterima kasih padamu karena bom yang akan meledak sebentar lagi adalah kesuksesan kita berdua.”
Satu tetes keringat menetes dari kening Andi. Udara untuk bernapas serasa semakin berat.
“well, sebaiknya kamu menjauh dari pelataran Mal, tanganku sudah gatal ingin menekan tombol yang akan meledakan tempat orang-orang munafik itu. By the way, makasih ya, kamu sudah menjadi partner yang baik.” Atika terbahak-bahak, sebelum menyusul bunyi statis ‘tut-tut-tut’ tanda sambungan telepon terputus.

Lantas satu demi satu bangunan di belakang Andi meledak. Kepingan pecah beterbangan. Lidah api meliuk-liuk seolah ingin menjilat langit temaram di bawah sinar senja. Asap hitam menggulung-gulung, memenuhi, menambah kegelapan di hari itu. Andi tegeletak di atas tanah. Matanya lurus ke langit biru. Menatap kosong. Setengah dari tubuhnya tertutup bongkahan beton.

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella AW

Cerpen Andai Saja Aku Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia: The Head Cat Collector

Oleh:
Rasa kesal, Dia memakiku, mencemoohku Merebut hakku, perebut yang keji. Dengan tertawaannya, dia senang Berlari tunggang-langgang dengan tangan yang menggenggam benda berhargaku Mengadukan hal yang tak logis pada orangtuanya

Misteri Kue Keju

Oleh:
“Kue keju Eyang hilang, Nur! Hari ini tak ada kue keju buatmu.” DUARRR!!!! Rasanya seperti tersambar petir ketika mendengar Eyang Ayu mengatakan itu. Hilang? Tak ada kue keju? Aduh,

Boneka Mersy

Oleh:
Pagi yang cerah aku bangun dari tempat tidurku. Aku pergi ke toilet untuk mandi dan bersiap-siap, karena ini hari minggu hari yang ku nanti nanti karena ibu berjanji akan

The Elementer’s Games

Oleh:
“Yak! Latihan hari ini cukup sampai di sini. Kerja bagus semuanya!” Seru Petra, pelatih di Elementers Academy. “hei kau!” Seorang gadis bertubuh mungil berbalik. “Aku?” Tanyanya. “Iya kau! Latihlah

I’m Not Alone

Oleh:
“Dunia. Satu kata yang membuatku kebingungan. Aku tak pernah mengerti, mengapa Tuhan menciptakan dunia? Apa hikmah yang ada jika Tuhan menciptakan dunia? Apakah Tuhan merasa kesepian sehingga Dia menciptakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Andai Saja Aku Tahu”

  1. Andi R Fauzi says:

    Cerpen thriller terbaik sejauh ini di cerpenmu.com imo. Keren! Keep writing kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *