Antara Ketakutan dan Rasa Penasaran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 September 2016

“Huuu… Huu…” terdengar suara hembusan angin, malam itu terasa sangat sunyi bintang-bintang malam pun tak terlihat satu pun. Kala itu aku tengah berdiri di sebuah persimpangan, tiba-tiba terdengar suara “kruk… kruk… sing… sing… kruk…”. Sesekali terdengar tok… tok… dari arah hutan, sekilas terdengar seperti suara orang berjalan dan suara pisau yang sedang diasah, jantungku berdegup kencang, dan suara napasku terdengar semakin berat, kala itu aku merasa sangat ketakutan, yang bercampur rasa penasaran, seberkas pertanyaan pun terlintas di benakku “suara apa itu? mungkinkah seseorang sedang mengasah pisaunya atau segerombolan pencuri?”

Hatiku pun semakin penasaran akan suara itu dan akhirnya aku memberanikan diri mendekatinya, semakin aku mendekat ke arah suara itu kakiku semakin gemetar, keringat pun mengucur layaknya air hujan yang membasahi bajuku, aku pun berhenti sejenak dan berpikir untuk mendekat ke arah suara itu atau kembali ke rumah? hati kecilku sebenarnya ragu untuk mendekat ke arah suara itu dan akhirnya aku memberanikan diri mendekat sambil berkata “ah… aku tidak takut yang aku takuti hanyalah Tuhan yang Maha Esa” akhirnya dengan langkah yang agak sedikit gemetar aku pun semakin dekat ke arah bunyi itu, semakin aku mendekat semakin jelas terdengar suara itu.

Akhinya aku pun tiba dan bersembunyi di balik semak belukar, waktu itu jam menunjukkan pukul 23.05 udara terasa semakin dingin dan rasa ketakutanku pun semakin bertambah, sesekali membuat mengigil seakan sedang deman berat. Aku pun memberanikan diri untuk melirik dari dalam semak ke arah bunyi itu walapun sesekali terpikir “kalo ketahuan gimana nih?, wah bisa celaka nanti” aku pun mencoba untuk menenangkan diriku dan berkata dalam hati “apapun yang terjadi aku harus berani melihat apa yang sebenarnya terjadi, bunyi apa itu”. Ternyata setelah aku selidiki bunyi itu berasal dari cangkul seorang pembunuh yang sedang menggali kuburan.

Disana terlihat ada satu jasad wanita yang tergeletak di atas tanah, entah itu jasad siapa dan siapa orang yang sedang menggali kuburan itu?, tidak nampak jelas wajahnya karena waktu itu sangat gelap, aku pun semakin ketakutan dan memutuskan untuk pulang ke rumah dan sayangnya waktu aku mengambil langkah untuk pulang tiba tiba terdengar suara kreek… krek… ternyata aku menginjak ranting pohon kering “sial” kataku dalam hati, dan ternyata si pembunuh itu menyadarinya dan dia berkata… “hey siapa di situ?” aku pun tidak menjawabnya, pembunuh itu pun mendekat ke arahku, kakiku gemetar dan kutarik napas dalam dalam dan brusss… seketika aku pun berlari. Aku berlari sangat kencang pandangaku pun fokus ke depan dan sesekali melirik ke belakang juga untuk memastikan si pembunuh itu apakah dia mengejarku atau tidak? dari belakang terlihat seseorang mengejarku dan ternyata si pembunuh itu terus mengejarku.

Aku pun terus berlari sampai ke rumah, aku berkata dalam hati “aku tidak boleh menyerah”, rumahku sudah dekat aku hampir berada di zona aman dan aku pun terus berlari menuju rumah, dan akhirnya aku tiba di rumah yang masih terengah engah dan dengan cepat membuka pintu, sampai di dalam rumah aku merasa lega tapi badanku masih gemetar dan dipenuhi keringat. Aku mencoba mendekati jendela untuk memastikan penjahat itu apakah dia masih mengejarku? aku melirik dari balik jendela dan penjahat itu pun tidak terlihat lagi, “Sykurlah” kataku Tuhan masih memberiku hidup.

Cerpen Karangan: Efendi Tiro
Blog: www.naceh.com

Cerpen Antara Ketakutan dan Rasa Penasaran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia di Balik Dinding

Oleh:
Karena setiap malam aku selalu mendengar suara orang yang sedang berpesta di balik dinding kamarku, aku mengajak sahabatku untuk menginap di rumahku malam ini. Kebetulan Ibu dan Ayahku sedang

Hitam

Oleh:
Hembusannya kian sunyi, membisu di pelataran desa yang penuh dedaunan jatuh, angin bisu. Kini jalan-jalan desa berwarna hitam, merata dengan bebatuan kecil yang berada di dalamnya persis seperti brownies

09.54 and Just You

Oleh:
Aku memulai hari-hariku seperti biasanya. Entah mengapa hari ini perasaanku agak sedikit aneh, mungkin karena aku makan pizza ikan tuna semalam. Aku tidak suka memakan pizza ikan tuna, rasanya

Jadi Itu Apa

Oleh:
Saat itu jam 10 malam. Tapi, Rafael belum mengantuk. Dia itu orangnya suka sekali begadang. Seringkali dia telat pergi ke sekolah dan dimarahi Bu Dewi, wali kelasnya. Tapi entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *