Awas, Ada Psikopat Di Rumahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 17 November 2018

Di sekolah SMA Deanadara Jiliandra terdapat banyak siswa maupun siswi yang bertampang menarik. Tak hanya itu, mereka juga pintar dalam segala hal. Kegiatan olahraga, seni, musik, berhitung dan bahkan hapalan mereka semua sama-sama unggul. Dan tak jarang nilai terendah di sekolah itu 90. Wow, sungguh menarik bukan?

“Renia Alfiana,” aku maju kedepan ketika namaku sudah di panggil guruku. Guru yang bernama pak Fruide itu menyerahkan selembar kertas ulangan minggu lalu. “Selamat, kamu mendapatkan nilai sempurna dalam pelajaran Matematika, yaitu 99”

Aku hanya menunduk saja sebagai tanda hormat. Semua teman di kelas menyorakiku semuanya, kecuali satu. Anak itu bernama Seano Lauo, ia duduk tepat di belakangku. Aku tidak tahu kenapa anak itu tidak pernah bersikap ramah padaku. Sedangkan saat dengan yang lain, sikapnya langsung berubah. Ah, tapi aku tak terlalu memperdulikan hal kecil itu.

“Wah, kamu hebat banget Ren” bisik teman sebangkuku pelan, namanya Sora Seha. Aku berkedip padanya, “Tentu,” jawabku singkat sambil tersenyum padanya.

Drkk.. aish, bangkuku didorong oleh Sean. Aku menoleh padanya, ia berbalik menatapku dengan kacamata tebal yang dikenakannya. “Hati-hati, kamu diincar olehnya”, ucapnya sangat misterius sekali, hingga aku tak sadar bulu kudukku sudah berdiri. Aku pun langsung kembali membelakanginya.

Apa-apaan dia? Dia pasti sedang mengerjaiku karena nilaiku selalu lebih unggul dibandingkan dia yang selalu berada di peringkat bawahku. Tapi.. aku benar-benar ngeri dengan apa yang dikatakannya tadi. Ah, sebaiknya aku lupakan saja.

Ding.. dong.. dang..

Bel telah berbunyi. Kini saatnya aku pulang ke rumah dan belajar untuk ujian besok. Aku berjalan bersama Sora menuju gerbang sekolah. Hampir sampai aku keluar dari gerbang, aku sudah melihat sopirku yang menungguku di sana. Aku melambai-lambaikan tanganku padanya, dia adalah sopirku dari sejak aku masih menduduki bangku SD.

Tiba-tiba saja ada yang mendorongku dari belakang hingga membuatku jatuh tersungkur di tanah. “Aw sakit,” aku melihat siku kananku yang berdarah terkena gesekan tanah. Sora langsung membantuku berdiri dan memegangiku yang kesakitan. Aku melihat siapa yang menabrakku itu, ternyata itu adalah Sean.

“Sebaiknya kamu mulai hati-hati dari hari ini,” ucapnya aneh dengan menatap tanah.
“Kamu itu kenapa sih? Kalau kamu tidak suka sama aku ya sudah! Kalau kayak gini sih keterlaluan namanya. Dan lagi, kamu ngomong aneh apa sih? Bukannya minta maaf malah ngomong yang nggak penting” marahku padanya.

Sora hanya diam saja dan membantuku berjalan menuju mobil. Pak Jiwo selaku sopirku membukakanku pintu mobil dan membantuku duduk di sana. “Kamu nggak papa kan Ren? Si culun itu memang keterlaluan sama kamu,” Sora tampak khawatir padaku. “Aku nggak papa kok, memang dia saja yang keterlaluan. Sudah, kamu pulang saja sana”

“Baiklah, aku pulang,” kata Sora tersenyum. Aku menutup pintu mobil dan mobil sudah dikendarai oleh pak Jiwo. Saat mobil sudah berjalan, aku melihat ke belakang, tampak si Sean yang menyebalkan itu melihat ke arah mobilku ini. Dasar anak aneh, batinku.

“Non, apa kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka di siku non itu?” tanya pak Jiwo sambil tetap fokus mengendarai mobil.
“Ah, nggak papa kok. Langsung pulang saja pak, biar nanti diobati sama bibi” jawabku sopan padanya. Sopirku ini punya badan yang besar layaknya bodyguard, kulitnya hitam legam dan juga ia mempunyai kumis yang lucu seperti pelawak.

Sampai di rumah, aku langsung menyuruh bibi untuk mensterilkan lukaku dengan rivanol dan kemudian ia perban. Di rumahku ini, hanya ada aku, sopir dan bibi. Kedua orangtuaku bekerja di luar negeri, jadi ia tak pernah pulang kesini. Padahal aku butuh kasih sayang, bukan uang. Lalu kakakku, ia adalah seorang polisi yang bekerja di dekat sini. Namun ia tak pulang entah kenapa. Ia selalu menginap di kantornya.

“Kenapa non sampai begini?” tanya perempuan paruh baya itu. “Ini biasa bi, ada anak yang iri sama aku sampai-sampai ngelukain aku kayak begini,” jelasku padanya. Ia pun manggut-manggut. “Non.. bibi mau bicara sama non,” ucap bibi dengan nada yang ‘agak’ pelan namun terdengar sangat serius dan penting sekali.

Karena dilihat dari sikapnya sangat serius, aku pun mengangguk dan berjalan ke lantai atas menuju kamarku. Sampai di kamar, sebelum bibi menutup pintu ia menoleh ke kanan dan ke kiri, aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Mungkin setelah di rasa aman, ia menutup pintu kamar.

Lalu bibi duduk di sampingku. “Ada apa bi?,” tanyaku agak khawatir. “Jadi begini non, beberapa hari ini pak Jiwo itu sikapnya aneh banget”
“Aneh gimana bi? Biasa saja tuh” tanggapku.
“Haduh non.. pak Jiwo itu pas malam selalu keluar rumah dan bibi pernah mergoki pak Jiwo ada noda merah di bajunya. Ya bukan su’udzon ya non. Tapi kan akhir-akhir ini ada pembunuhan misterius di sekitar kompleks ini. ya bibi Cuma takut aja kalau pelakunya itu orang rumah ini,” bibi bercerita itu dengan wajah penuh keringat serta sedari tadi ia menggenggam tangannya, mungkin karena takut.

Ya memang benar sih kalau di sekitar kompleks ini ada pembunuhan yang rata-rata korbannya adalah remaja SMA. Tetapi setelah berpikir lebih dalam lagi, korban-korban itu aku mengenal semuanya. Tetapi tidak ada satu pun di antara para korban yang suka denganku. Rata-rata mereka selalu menghindariku sewaktu sekolah.

Aku menghela napas berat. Ah, mungkin bibi mengada-ada saja, kan pak Jiwo itu orangnya baik bahkan aku menganggapnya sebagai pamanku sendiri, batinku. Tapi, aku penasaran dengan apa yang dikatakannya tadi, lalu aku bertanya padanya, “Bi.. setelah pak Jiwo kepergok ada noda merah di bajunya, apa yang bibi lakukan atau katakan?”.
“Ya yang jelas bibi nggak bisa berkata apa-apa. Dan pak Jiwo juga langsung gelagapan dan pergi ninggalin bibi begitu saja. Tapi ya keesokan harinya kita berdua bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa walau agak sedikit canggung”

Hm.. lagi-lagi bulu kudukku berdiri lagi. Setelah pembicaraan itu selesai, aku berbaring di tempat tidurku. Hah, hari ini rasanya seperti hari sialku. Sudah jatuh sampai siku luka dan diomongin hal yang nggak bisa dipercaya.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata Sean, “Sebaiknya kamu mulai hati-hati dari hari ini”. Kalau dipikirkan lagi, sepertinya kata-kata itu ada hubungannya dengan hari ini. Tapi.. apa yang dibicarakan bibi itu berhubungan dengan yang di katakan Sean? Ah, nggak mungkin. Pasti semua itu hanya kebetulan.

Dreekk….
Aku langsung terperanjat dari kasurku. Aku berdiri dan melihat keadaan di luar sana melalui tirai di kamarku. Aku melihat hal yang benar-benar bibi tadi katakan, aku melihat pak Jiwo membuka pagar rumahku.

Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang dan sesaat napasku berhenti. Dengan keadaan yang tidak tenang, aku tetap mengawasi pak Jiwo dari kejauhan sana. Kini sudah jam 11.30 dan pak Jiwo terlihat sedang menunggu sesuatu dengan duduk di depan pagar dan merokok.

Saat aku melihat di sekeliling kompleksku, ada seorang perempuan yang sepertinya kukenal. Aku menyipitkan mataku untuk melihatnya secara pasti, ah, ternyata benar, aku mengenal perempuan itu. Dia adalah temanku, namanya Lena Siaferia, ia tidak akrab dengan siapapun sih di kelas. Karena dulu ada rumor kalau dia membuang orangtuanya di panti jompo.

Lena yang berjalan tenang, tiba-tiba merasa ragu untuk berjalan lewat di depan pak Jiwo. Sesaat kakiku langsung lemas melihat pak Jiwo mengeluarkan pisau dan menodongkannya pada Lena. Tentu saja Lena berlari dan sopirku itu mengejarnya. Aku tidak tahu harus apa, aku takut sekali dengan barusan yang kulihat tadi.

Dengan keadaan yang tidak memungkinkan karena takut lelaki berbadan besar itu datang, aku langsung lari tergesa-gesa menuju dapur. Aku menggedor-gedor pintu bibi. Kemudian pintu itu terbuka, aku mengusapi keringat dinginku yang mengucur sedari tadi. Aku gemetar ketakutan, aku tidak bisa berkata-kata di hadapan bibi.

“Ada apa non? Kenapa non begini?,” aku tidak menjawab, mulutku terasa kering dan kaku, begitupun juga dengan kerongkonganku, seperti ada sesuatu yang tersangkut di sana. Aku langsung memegang erat tangan bibi dan mengambil kunci mobil yang selalu diletakkan di dapur.

Sampai di garasi, aku menyuruh bibi masuk ke dalam mobil cepat-cepat. Untungnya bibi menurut saja denganku, mungkin ia tahu apa yang sedang ada dalam otakku. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung mengendarainya dengan cepat. Beruntung sekali aku pernah belajar mengendarai mobil, jadi aku bisa kabur dengan mudah.

Sesampainya di jalan besar, aku memberhentikan mobil di pinggir jalan. Aku melonggarkan napasku yang sedari tadi memburu karena rasa ragu. “Non, sebenarnya ada apa? Apa jangan-jangan non melihat pak Jiwo-”
Aku langsung membungkam mulut bibi dan mengangguk padanya. “Hah.. ternyata dugaan bibi selama ini benar.”
“Tapi, apa yang non lihat?”
“Sa, saya melihat.. melihat pak Jiwo mengejar Lena dengan menodongkan pisau ke arahnya.. saya tidak percaya kalau ternyata di rumah kita ada psikopat gila!”

Bibi menggeleng-gelengkan kepala. Aku sendiri bergidik ngeri membayangkan tubuh Lena yang cantik itu di bedah oleh sopirku sendiri. Ah.. apa yang terjadi sebenarnya.. aku takut sekali. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang non?,” Tanya bibi.
“Kita ke kantor pol-”

Drrtt.. Drrtt..
Aku mengambil handphoneku yang bergetar di saku celanaku. Aku langsung shock seketika ketika melihat sebuah pesan dari lelaki yang kuanggap paman itu. “Ada apa non..?,” bibi bertanya padaku ragu.
“Saya mendapatkan pesan dari psikopat itu bi,” kataku ngeri sekaligus perutku mulas karena ketakutan setengah mati. Aku langsung membuka isi sms itu.

‘Nonaku yang sudah bersamaku dari kecil. Janganlah lari dariku, aku hanya menyingkirkan orang-orang yang tidak menyukaimu.’

Aku menunjukkan sms itu pada bibi. “A, apa maksudnya?,” gumamku pelan. Bibi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya sudah, untuk sementara ini kita menemui kakak saya di kantor polisi saja dan menceritakan semua ini padanya”

Ya, aku mempunyai kakak laki-laki yang menjadi polisi. Saat di dalam perjalanan, handphoneku kembali bergetar. Aku melihatnya sembari memperhatikan jalan. Ternyata itu sms dari psikopat itu.

‘Datanglah ke sekolah sendirian. Di sini Lena masih hidup, kalau mau menyelamatkannya, datanglah ke sini. Saya beri waktu 30 menit. Jika lebih dari waktu itu, Lena pasti sudah tidak ditemukan lagi. Dan ingat! Datanglah sendirian.’

Dengan berpikir cepat, aku langsung memberhentikan mobil. “Bibi, tolong cepat keluar sekarang. Ini sangat darurat sekali, saya harus menyelaatkan teman sekelas saya itu. Saya mohon bi” ucapku tergesa-gesa.

“Tapi non, apa non tega..”

Tanpa banyak bicara aku langsung keluar dari mobil dan menarik tangan bibi secara paksa untuk keluar. Aku langsung masuk mobil dan kembali mengendarainya. Maafkan aku bi, setidaknya aku harus menolong satu orang dari psikopat gila itu. Meskipun Lena tidak akrab denganku, dia tetaplah temanku yang harus kulindungi.

Di sepanjang perjalanan, aku berdoa dan berdoa. Aku juga mengingat-ingat teknik-teknik beladiri yang pernah kupelajari sebelumnya. Dari Shorinji Kempo sampai Krav Maga.

Sekitar 15 menit berlalu, akhirnya aku sampai di depan halaman sekolah. Kini jam sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Sekolahku ini terasa mengerikan sekali, karena tak ada satupun cahaya di sana.

Aku membuka bagasi mobilku. Aku mengambil senter dan sebatang besi di sana. Sebelum aku masuk ke sekolah, aku menyempatkan diriku untuk melonggarkan napasku dan berusaha tenang. Walau padahal aku tidak tenang sama sekali.

Kakiku melangkah perlahan-lahan melewati tangga-tangga dengan dibantu senter. Blamm.. aku mendengar gebrakan meja disana. Aku pun memberanikan diriku untuk pergi ke suara itu tadi. Sepertinya, suara itu berasal dari Laboratorium Ipa. Aku menarik napasku dalam-dalam dan membuka pintu itu.

Sekarang, terlihatlah Lena yang tak berdaya diikat oleh tali di kursi. Ia melihatku nanar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada siapapun di ruangan ini selain aku dan Lena. Setelah aku yakin tak ada, aku langsung membukakan tali itu untuknya. Saat aku hampir selesai membuka tali itu, aku melihat mata Lena melotot ke arah tertentu. Aku pun menoleh ke belakang.

Bukk
Aku jatuh tersungkur ke lantai. Aku memegangi pipiku yang sepertinya lebam oleh pukulan itu. Ah, itu pak Jiwo. Ia tersenyum misterius padaku, aku langsung mengambil besi yang jatuh itu dan menodongkan padanya.

Napasku memburu. Aku baru ingat kalau aku mempunyai penyakit ringan tetapi memberatkan, yaitu jantung lemah. Jadi, aku sangat cepat lelah saat melakukan sesuatu. Tapi kali ini aku tidak mempedulikannya.

Aku berdiri membelakangi Lena yang kulindungi dari manusia yang ternyata jahat itu. “Kenapa bapak melakukan ini?” tanyaku berhati-hati padanya. “Kenapa? Ya karena sebenarnya.. perempuan yang di belakang kamu itu anak kandung saya” jawabnya tersenyum sambil duduk di depanku.

Tapi aku tidak boleh lengah dan tetap menodongkan satu-satunya senjata yang kupunya. Sesaat aku menoleh pada Lena, ia menundukkan kepala dan menangis tanpa ada suara. “Ya! Dia adalah anak yang membuangku!. Tapi untungnya.. ada anak yang menolongku keluar dari panti sialan itu”

“S.. siapa?,” aku mendesis. “Anak itu namanya Seano Lauo. Aku sangat berterimakasih pada anak itu.. dan aku melakukan ini karena.. setiap kali aku melihat anak gadis SMA yang berkeliaran di tengah malam, aku sangat berhasrat untuk membunuhnya,” napasku tersedak.
“Tapi jangan khawatir, aku hanya membunuh gadis-gadis yang tidak menyukaimu.. termasuk anak tengil di belakangmu itu”
“Ke, kenapa?”

Ia langsung berdiri dan mengambil sesuatu di saku celananya. Ia memperlihatkan fotoku sewaktu kecil dulu, “Karena kamu sangat baik padaku daripada anakku sendiri,” ia tersenyum dan mengusap ingusnya. Sepertinya ia ingin menangis.

“Tapi kamu tidak ada bedanya dengan dia.. kamu selalu mendapat peringkat pertama hingga membuatku muak”

Lelaki gagah itu langsung kembali memukul wajahku, namun secara refleks aku bisa menghindar. Saat dia lengah karena tak bisa memukulku, aku langsung berdiri di belakangnya dan memukulnya dengan besi ke punggungnya secara terus-menerus.

Tiba-tiba ia berbalik arah dan memegang besiku itu. Aku terdiam dan langsung melepaskan tanganku pada besi itu. Ia langsung membuang besi itu jauh-jauh dariku. Karena tak ada cara lain, aku lari ke luar dari laboratorium untuk memancing psikopat gila itu keluar. Sembari lari, aku berteriak, “Selamatkan dirimu Lena! Jangan pedulikan aku! Kaburlah dan cari bantuan secepatnya!”

Benar saja, lelaki itu mengejarku. Karena aku kecapekan berlari, aku langsung berbelok ke kantin. Tiba-tiba saja dia sudah ada di depanku. “Wahh, kamu pintar sekali membawaku ke sini. Banyak pisau di sini, jadi aku bisa lebih leluasa melakukan aksiku ini”

“A, apa..” aku berjalan mundur karena ia terus maju menantangku. “Sebenarnya aku tak mau membunuhmu, tetapi karena aku melihat sikapmu yang berontak terus, entah kenapa aku malah ingin memutus nadi di tanganmu itu”

Deg. Sekarang aku tersudut, aku berdiri di sudut tembok yang menghimpit badanku. “Sekarang kamu tak bisa lari kemana-mana,” ia tersenyum dan mengeluarkan sebuah pisau yang ternyata ia sembunyikan di balik bajunya.

Aku terduduk ketika melihat dia mulai mengangkat pisaunya ke arahku. Dengan napas yang terus memburu, serta keringat dingin yang terus mengucur, aku memejamkan mata dan merapatkan tanganku yang bergetar.

Dorr.. dor.. dor..

Bruk..
Mendengar suara itu, aku langsung membuka mataku. Aku melihat pak Jiwo yang sudah tergeletak di lantai. Aku juga melihat Sean, bibi dan kakakku yang memegang pistol di sana. “Hah.. untung kalian datang…” aku bernapas lega dan seketika tubuhku terasa sangat lemas sekali.

Wiu.. wiu.. wiu..
Mendengar suara sirine ambulan itu secara paksa membuatku terbangun. Ketika mataku terbuka, yang pertama kulihat adalah wajah Sean. Lalu aku mengatakan, “Tolong ceritakan semuanya padaku”

“Baiklah. Jadi, aku adalah anak pemilik panti asuhan itu dan aku yang menolong bapak itu. Kemudian tak tahu kenapa, secara kebetulan ia bekerja sebagai sopir di rumahmu. Kami berdua pun sering bertemu saat diakhir pekan tanpa kamu ketahui. Ia selalu menceritakan Lena dan mengucapkan kata-kata yang aneh,” jawabnya tenang.
“Kata-kata aneh seperti apa?”
“Seperti ia benci dengan perempuan yang pulang malam, kemudian ia juga senang mengiris daging.. yah, mungkin itu hanya sekedar tanda-tanda bahwa ia akan berbuat hal seperti ini”
“Ah, jadi seperti itu.. lalu di mana Lena?”
“Lena? Ia sekarang berada di kantor polisi untuk memberikan keterangannya,” aku manggut-manggut saja.

Kejadian dini hari itu, mengagetkan seluruh sekolah di pagi harinya. Aku yang terlibat dalam kejadian itu, entah kenapa aku mendapatkan penghargaan dari pemerintah setempat. Ibu dan ayahku akhirnya kembali ke rumah setelah mendengar kejadian itu. Dan kakakku, ia selalu pulang setelah aku mengalami kejadian itu. Padahal, ia tak pernah mau pulang sebelumnya.

Dari kejadian mengerikan ini, aku sangat bersyukur sekali atas semuanya. Dan luka lebam di pipiku ini, menjadi pukulan pertamaku yang sangat kusukai. Karena lukaku ini, aku bisa menyelamatkan satu orang teman.

Cerpen Karangan: Sevilla E. Azzahra
Blog / Facebook: sevilla-elza.blogspot.com / Sevilla E. Azzahra
Siswi SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi jurusan Farmasi yang gemar menulis. happy writing!

Cerpen Awas, Ada Psikopat Di Rumahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Bukan Untuknya

Oleh:
Saat ini aku adalah murid kelas 12 SMK di sebuah desa. Aku seorang yang biasa-biasa saja dengan seribu kekurangan yang aku punya. Aku sangat bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku

The Day When She Dies (Part 1)

Oleh:
Debur ombak. Matahari kekuningan-kuningan pelan pelan menuju sarangnya. Luas. Begitu bebas. Aku ingin ke laut. Memori itu entah mengapa begitu kuat. Sungguh, amat sangat ingin ke luar sana, menghirup

When You (Part 1)

Oleh:
“Hey bro,..” Aku tahu suara itu, dia salah satu teman yang telah bersamaku dari kecil, entah kenapa kita merasakan bahwa hubungan kita sudah bukan teman lagi, hubungan kita sudah

Pembantaian Di Asrama Putri

Oleh:
Jingga, Rachell dan Melisa tinggal di sebuah Asrama Putri. Mereka sekamar dan juga seangkatan. Asrama Putri yang mereka tinggali ini, ternyata memiliki sebuah kisah tersendiri. Asrama Putri ini adalah

Sebatas Kakak Adik

Oleh:
Namaku Viola Yuvita, hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kakiku di SMA yang sama sekali bukan impianku. Tapi justru di sinilah aku menemukan seseorang yang mampu membantuku melupakan Dika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Awas, Ada Psikopat Di Rumahku”

  1. Andara Claresta Rabbani says:

    Cerpen nya bagus….

  2. Dinbel says:

    Keren cerita nya, good job untuk pengarang.

Leave a Reply to Andara Claresta Rabbani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *