Bak Mandi Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 August 2016

Naa.. Na.. Naaa~ Aku menyenandungkan lagu yang sedang kudengar melalui earphoneku ini, sambil mengerjakan PR matematika yang diberikan pak Cahya, pagi tadi.

Inilah kebiasaanku, mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan lagu, atau menyanyikan lagu. Hmm.. Mungkin saat aku bernyanyi, orang-orang akan terganggu. Makanya aku lebih memilih mendengar lagu melalui earphone. Aku adalah penggemar lagu-lagu lama, seperti lagu-lagunya Queen, The Beatles, Westlife dan lainnya.

Tiba-tiba, syair-syair dalam lagu yang sedang kudengar ini terganggu oleh suaranya, “Chee… Nomor 17 halaman 46 gimana caranya??”
Dia, Qina. Perempuan cantik, anggun, dan berbeda jauh sekali denganku. Dia memiliki tubuh yang tinggi. Sedangkan aku, bila dibandingkan dengan dia, sudah seperti ibu dan anak.

“Selesaiii!!!” lagi-lagi suara yang nyaring ini benar-benar berhasil mengecohkan konsentrasiku. Suara Nadira.
Dia bisa dibilang sebelas duabelas denganku. Tinggi kita sama, kelakuan kita sama, tapi pribadi kita berbeda. Dia anak basket, kalau aku maniak komik atau novel atau apapn yang berbau misteri.

Selepas mengerjakan PR matematika, kita menuju atap rumah Nadira. Yap, sedari tadi kita berada di rumah Nadira.
Nadira adalah orang yang bisa dibilang kaya. Di atap rumahnya, ada berbagai jenis tempat. Mulai dari kebun, lapangan basket, rumah pohon, dan sebagainya.

Hop, and shoot! “Yes! Gue udah dapet 18 nih! Masih kalah lo sama gue, Dir!” kataku membanggakan diri.
“Halahh… Cuma beda berapa doang, gue 14, 2 kali shoot juga kita imbang Che.” jawab Nadira.
“Heh, heh, kalian jangan saling membanggakan diri dulu, kek. Liat, gue baru dapet 4 nih!” kata Qina memelas lesu.

Aku menghirup udara dalam-dalam. “Huaah… Udaranya seger banget!” kataku pelan. Tunggu sebentar… Kenapa sedari tadi ada sesuatu yang nggak enak ya. Dari gerak-gerik orang itu, caranya berjalan dan mimik wajahnya.

“Che! Che!” teriak mereka berdua.
“Ah, iya?” aku tidak sadar bahwa sedari tadi sedang melamun. Tapi… Ah sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku.

Kami berada di depan meja makan yang kosong tanpa sedikitpun makanan dan tanpa sedikitpun kotoran atau debu. Tentu saja, Nadira memilih tempat makan di atas rumah pohonnya yang indah dan megah, aku tidak tau bagaimana wajahku saat ini, apa sedang melongo, apa sedang kebingungan.

“Pak Joko!” panggil Nadira kepada seorang kepala pelayan di rumahnya. Dari atas sini pemandangan langsung tertuju ke arah kebun rumah Nadira.

Rumah pohon ini benar-benar menakjubkan, dengan luas 5×7 m. Dan dinding-dinding yang hanya berlapis kaca. Hiasan-hisan di dalamnya. Sungguh seperti mimpi!

Sekali lagi aku melamun ke arah situ. Ya, ke arah orang itu. Terlihat wajah menyesal dan wajah berkeringat marah, sedih, bercampur aduk.

Sesekali aku melihat ke arah tangga menuju lantai bawah, dan apa itu? Kenapa ada disitu? Ah, sudahlah Che, hentikan paranoidmu itu.

“Bapak, habis dari toilet ya?” seketika kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku ini kepada si kepala pelayan yang masih berdiri disitu tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“I..Iya.. Non. Tapi, bagaimana nona bisa tau?” jawab Pak Joko agak tergagap.
“Panggil aja aku Che. Tangan bapak yang agak lembab, itu belum menjadi bukti kuat, tapi kalau dilihat dari pelayan yang lain, sapu tangan itu seharusnya ada di saku baju bapak” aku memerhatikan orang-orang berseragam itu, menarik napas, dan melanjutkan “Tapi sekarang ada di saku celana, dan daerah antara resleting celana dan celana bagian bawah yang mungkin terkena lantai itu masih basah.” kataku dengan gaya sok detektif.

Belum sempat Pak Joko menjawab, bibi Susi muncul di belakang pak Joko.
“Non, tadi nona minta bibi untuk menemani non makan sore?”
Kalimat itu hanya dijawab dengan anggukan dari Nadira, benar-benar seperti putri raja yang dihormati.

“Oh iya, pak. Tolong belikan bahan-bahan untuk membuat hotdog. Bapak tinggal tanya ke mbok Mijah tentang apa saja bahannya. Nanti biar kita aja yang buat hotdognya.” kata Nadira.
“Oh, iya pak! Jangan lupa beli tomatnya yang banyak, sekalian untuk ku bawa pulang nanti!” kata Qina sambil cengengesan. Aku adalah si Ratu makan, tapi tidak akan seberani itu berkata seperti itu.
Pak Joko hanya mengangguk dan menunjukkan sedikit gigi di celah-celah senyumannya itu.

Bi Susi, menemani kita mengobrol. Ternyata bibi Susi adalah orang yang menyenangkan untuk di ajak bercerita, hingga aku lupa tentang orang yang sedang aku perhatikan tadi.

Mbok Mijah menaiki tangga menuju rumah pohon yang sedang kami tempati.
“Nona-nona yang cantik-cantik ini… Bahan-bahan hotdognya udah mbok siapin di atas meja dapur yaa.. Nanti kalau butuh bantuan tinggal panggil mbok aja.” Mbok Mijah tersenyum manis dan langsung pergi meninggalkan kami.

Kami terlarut dalam canda-tawa yang diberikan bi Susi sampai lupa dengan hotdog kami. Setiap kali memandang ke dua orang ini, hawa yang mereka berikan sama, bahkan wajah mereka mirip.

Tawa kita terhenti karena suatu tragedi.
“KYAAA!!!”

Aku rasa aku mengenal suara itu. Suara yang baru-baru ini kudengar, terdengar agak asing tapi aku yakin. Suara mbok Mijah! Aku pun segera berlari menuju sumber suara tersebut. Nadira dan Qina segera mengikuti arah lariku. Dan bau ini. Aku mengenal bau amis yang khas ini.

Aku melihat mbok Mijah tergeletak dengan jari menunjuk ke arah bak mandi itu. Bak mandi yang berlumuran darah dengan ekstra tomat mengambang menutupi cerita yang telah terjadi pada sesosok tubuh tidak bernyawa di bawah air itu.

“Panggil polisi dan ambulan” aku mengucapkan kata-kata ini dan dianggapi oleh wajah bingung dari mereka semua dengan tanganku yang berani sekali merogoh masuk ke dalam genangan, bukan genangan, tapi sungai, ya sungai darah itu..
“CEPAT!!! Ini adalah TKP pembunuhan!” kataku lebih menekankan dengan wajahku yang agak pucat melihat betapa malangnya orang ini. Dan diiringi tangis miris dari Nadira. Pak Joko segera menenangkan Mbok Mijah. Bi Susi hanya melongo dengan tatapan tidak percaya. Dan dia juga ada disana.

Sirine polisi dan ambulan berpacu di depan rumah ini yang bisa disebut istana megah nan indah. Istana dengan sebuah kamar mandi yang menjadi TKP pembunuhan.

Aku melihat para pekerja forensik mengangkut sesosok tubuh tak berjiwa ini dengan tandunya dan memasukkan ke dalam sebuah mobil terakhir yang mungkin akan ia rasakan. Mobil jenazah.

Dan aku juga melihat seorang polisi dan seorang detektif wanita turun dari sebuah mobil, muka mereka cemas, tapi mungkin nanti akan berubah menjadi puas ketika kasus ini selesai.

Seorang polisi bertubuh jangkung dengan jenggotnya yang tidak karuan, memperkenalkan diri dengan nama ‘Sherlock’. Sungguh mengagetkan bagiku ketika mendengar namanya. Dibandingkan polisi, dia lebih terlihat sebagai buronan. Tapi sayangnya itu memang nama asli dia yang tertera di name tag nya.
Dan seorang lagi. Detektif wanita dengan wajah cantik dan tidak asing lagi bagiku. Jika kalian bertanya bagaimana bisa aku mengetahui bahwa dia adalah seorang detektif. Sekarang aku bukan menebak dengan gaya sok detektif. Tapi karena ini bukan kali pertama kami bertemu. Namanya Cordelia.

Garis polisi sudah terpasang di depan pintu kamar mandi ini dan sekitarnya. “Siapa yang menemukan korban?” tanya Detektif Cordelia.

“Sa..Saya.. Bu” kata Mbok Mijah grogi.
“Apa ada orang yang mencurigakan berkeliaran di sekitar sini. Atau para pekerja lain yang terlihat mencurigakan?” kata Pak Sherlock.
“Tidak ada! Tidak mungkin ada pekerja yang ada disini berani melakukan itu! Mereka semua baik!” Nadira berkata secepat kilat.
Tapi masalahnya, ada. Ada, sosok yang berada di luar skenario itu ada.

Aku belum cukup bukti untuk mengucapkannya. Butuh berapa banyak bukti yang harus aku miliki. Ini kasus pertama yang aku lakukan.

“Hei, coba urutkan siapa saja yang memasuki kamar mandi ini?” kata Pak Sherlock.
Aku pun segera memberi tau dia urutannya setelah bertanya kepada seluruh pelayan disini.

“Pertama, Bi Susintia , umur 32, jam 14.47. Kedua, Pak Joko Hartono, umur 43 tahun, jam 15.15. Karena saat jam 15.20 Nadira memanggil Pak Joko ke rumah pohon yang ada di atap. Dan terakhir Mbok Siti Sumijah, umur 57 tahun, menemukan korban, selaku tante kandung Nadira Fanishifa, yaitu, Diandra Cantika, umur 35 tahun pada pukul 16.00.” terangku sambil membaca notes isi keterangan tersebut.

Tiba-tiba, Pak Sherlock mengambil notesku dengan wajah dingin dan mendorongku sambil berkata “Hei! Anak kecil tidak pantas berada disini. Apalagi dari biodata dalam notes ini kau baru umur 11 tahun, kan?” katanya membaca isi notesku.
“Bapak bod*h atau bagaimana, sih? Saya tidak peduli selancang apa saya pada bapak. Karena saya rasa bapak memang tidak punya harga diri. Biodata itu hal pribadi, dan bapak seorang polisi yang seharusnya tau hal itu, dan nama bapak itu nama orang besar yang saya kagumi dan bapak seenaknya mengotori nama itu? Sherlock Holmes tidak akan pernah bertindak seperti apa tindakan bapak. Apa bapak malu setelah saya mengucapkan kalimat-kalimat tadi, atau tidak? Karena bagi saya itu adalah hal yang memalukan. Lain kali bapak berpikir akan berbicara pada siapa dengan kalimat apa.” kataku dengan dingin.

“Hei, aku rasa aku mengenalmu, detektif cilik.” kata detektif Cordelia.
“Halo, detektif Benedicta. Lama tidak berjumpa.” kataku tersenyum licik.
Pak Sherlock hanya bergumam dan tidak berani bertanya langsung kepadaku ‘bagaimana kau tau nama marga dia, bahkan saat dia belum memperkenalkan diri.’

“hei, hei rupanya kau, si anak polisi sok dan dokter forensik itu…” kata Detektif Cordelia.
“Ya, aku Che. Shei Farisqya Adelion. Anak dari polisi sok, Patrick Adelion dan dokter itu, Neona Darine.”

Setelah pertunjukkan adu mulutku berakhir dengan mulut semua orang ternganga karena, papa adalah seorang yang terkenal karena dia memecahkan berbagai kasus begitu pun mama. Dan aku adalah penerus mereka.

‘Semua drama yang telah terjadi terjadilah. Masa lalu kelam hanya akan teringat dalam benak. Tulisan-tulisan hanya akan menjadi prasasti belaka. Saat kau membenci orang, silahkan. Tapi lupakan kebencian itu secepat kilat. Tapi selalu simpan rasa cinta dalam kalbu. Karena terkdang cinta dan benci hanya dibatasi seutas benang tipis di antaranya dan akan mengukir masa kelam sekali lagi.’
Itulah kalimat yang diucapkan papa dan mama sebelum pergi ke London. London mengingatkanku dengan Holmes. Aku akan menjadi murid holmes yang baik. Karena dialah pelakunya.

Cerpen Karangan: Shin Cia
Facebook: https://www.facebook.com/shintaasiah.bilqis.5
Hai, panggil aku Cia. Aku cuma anak kecil penggila cerita misteri dan anime. Thanks untuk kalian yang udah baca ceritaku. Hope you like it! Kalian juga bisa kasih aku saran, kritik dan sebagainya di twitter ku : @shintaasiah atau di kotak komentar. Ditunggu ya, kelanjutannya!

Cerpen Bak Mandi Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Dan Iblis (Part 1)

Oleh:
Malaikat dan iblis, mereka tidak akan pernah bersatu. Prinsip, tugas dan tingkah laku mereka sangat berbeda, tetapi ada sesuatu hal yang membuat mereka dapat bersatu, sesuatu yang membuat manusia

Raisha

Oleh:
Kisah ini tentang rumahku. Lebih tepatnya rumah baruku. Aku baru tiga hari menempati rumah ini. Tak ada kejadian aneh yang terjadi sebelum semalam. Semalam itu seperti ada kejadian ganjil

Air Terjun NaCl

Oleh:
Matahari telah menyumputkan wajahnya, lampu-lampu penduduk telah menerangi langkah sepasang kakiku ini. Aku berjalan ditemani rasa kekhawatiran, lalu kupercepat langkahku, semakin cepat dan cepat sehingga tak kuperhatikan jalanku. Tiba-tiba

Perpustakaan Berdarah

Oleh:
Pagi itu matahari semburatkan sinar cerah tak terbendung. Bayang-bayang pepohonan begitu jelas dibuatnya. Basah embun masih belum kering teruapkan panas. Ditambah kicau burung mengalun nyaring membuat suasana seolah ini

Hantu Toilet di Sekolah

Oleh:
Hai namaku Marsya panggil saja Marsya. Langsung aja ke ceritanya Saat jam istirahat siang aku dan teman-temanku sedang keasyikan bermain. Lalu, tiba-tiba adik kelasku memanggilku dan dia berkata “Marsya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bak Mandi Merah”

  1. Cynthia says:

    Baca cerita ini meningatkanku pada salah satu kasus dalam komik conan dimana dalam bak terdapat mayat dan warnanya tomat yg mengapung di bak mandi

    • Shei Farisqya (Che) says:

      Hai! Terima kasih udah mau membacanya… Sebenarnya ini akan ada kelanjutannya yang memang berhubungan dengan kasus di detective conan. Tapi, aku belum sempat untuk melanjutkannya, mungkin nanti akan aku kabari lagi untuk kelanjutan kisah ini:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *