Belajar Melihat Jin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 4 September 2015

Aku punya teman yang bisa melihat jin atau makhluk gaib. Dia sering membicarakan hal ini dengan teman dia yang lain. Mulanya aku tak percaya dengannya ku kira dia hanya membual dan bercerita fiksi untuk meramaikan suasana. Hingga pada akhirnya aku mulai percaya, alasannya karena ia bercerita tentang hal itu begitu meyakinkan.

Pada suatu hari, aku berbicara kepadanya untuk membuktikan bahwa cerita yang dia ceritakan tentang jin atau makhluk gaib itu sungguhan. Tentu saja ia tidak mau langsung membuktikan bahwa itu nyata. Dia bercerita sebab akibat jika nanti bisa melihat makhluk gaib. Dia juga menceritakan pengalaman dia ketika melawan jin Ifrit, disandera jin, berjalan tanpa raga, dan lain-lain. Dari segi cerita, itu seru juga, tapi dia mengingatkan, “Jika nanti kau melihat ‘mereka’, kau akan kaget dan mungkin bisa kerasukan.”

Aku berpikir ulang untuk meyakinkan bahwa cerita dia itu sungguhan. Tapi karena rasa penasaranku sudah memuncak, aku pun setuju dan menanggung segala akibatnya. Dia tidak mau menunjukkan langsung kepadaku secara cepat, mula-mula aku disuruh untuk merasakan kehadiran mereka. Dia menyuruhku untuk membaca surat Al-Fatihah, An-Nas dan Al-Ikhlas. Selain itu, dia juga menyuruhku untuk fokus dan memejamkan mata dan tarik napas dan keluarkan sebelum dimulai. Setelah aku membaca ketiga surat itu secara berulang-ulang, aku mulai merasakan dingin di sekitar tangan dan kakiku. Aku menggigil kemudian dia menyuruhku untuk membuka mata.

Dia bertanya kepadaku “bagaimana rasanya?” Aku hanya menjawab.
“luar biasa, mereka itu ada.” Dia bertanya lagi kepadaku.
“apa kau mau melihat ‘mereka’?” kemudian aku menjawab dengan yakin.
“Mau.”

Dia menyuruhku untuk melakukan hal yang ‘tadi’ setelah ia beri tanda, maka barulah membuka mata. Setelah aku melakukan hal-hal yang ‘tadi’ aku lakukan, akhirnya ia memberi tanda kepadaku lalu dengan cepat aku membuka mata. Dia bertanya kepadaku.
“apa kau melihatnya?” Dengan kecewa aku menjawab.
“tidak sama sekali.” Dia juga bingung kenapa aku tidak melihat jin atau makhluk gaib di ruangan ini. Aku diberitahu dia bahwa ada 4 jin di ruangan yang sedang kami tempati.

Dia berpikir sejenak dan akhirnya ia mendapat ide.
“Nah aku tahu, bagaimana kalau kamu aku perlihatkan temanku dari sebangsa mereka?” Aku terjekut dan bertanya.
“Apa? Kamu punya teman dari sebangsa jin?” Dia menjawab dengan sangat santai.
“Punya. Sekarang itu sekitar 45 jin yang menjadi teman aku.” Aku diam seribu bahasa karena begitu terkejut.

Beberapa saat kemudian, dia menyuruhku untuk melihat ke arah sofa pada satu titik. Aku berusaha terus-menerus tapi sama saja. Dia menyemangatiku untuk bisa melihat makhluk gaib temannya itu. Aku tidak akan menyerah untuk melihat makhluk gaib. Hingga pada akhirnya aku melihat sofa di depanku itu semakin samar-samar dan tidak terlihat. Aku terkejut dan terus memfokuskan pandanganku pada satu titik. Akan tetapi kefokusanku itu sudah memudar hingga akhirnya aku menyerah dan dalam pandanganku, sofa itu kembali lagi.

Dia bertanya kepadaku.
“Apa yang kau lihat?” Aku menjawab.
“Tadi aku melihat sofa itu tampak seperti hilang. Tapi sebelum sofa itu tampak seperti hilang, sofa itu mengeluarkan cahaya terang.” Dia sangat senang akhirnya aku bisa melihat ‘teman’ dia itu.
“Tapi tadi aku menyuruh dia untuk tidak menampakkan dirinya secara utuh.”
“Oh jadi begitu.”

Dia mengajakku untuk pulang bersama. Setelah kejadian tadi, tubuhku terasa lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menyampaikan hal kepadaku.
“Syarif, kenapa kamu? Pandangan matamu tajam sekali. Jika nanti kamu sampai rumah bisa melihat mereka, beritahu aku.”
“Perasaan aku melihat dia seperti biasanya, tapi kenapa dia berkata bahwa pandanganku kepada dia itu tajam sekali sampai-sampai membuat dia berkata begitu.” Dalam hatiku berkata.

Beberapa kemudian, aku menemui dia lagi untuk mempelajari ‘Cara melihat makhluk gaib’. Seperti biasa, sebelum memulai dia memperingatkanku lagi.
“Apa kamu tidak melihat mereka di rumahmu? Jangan takut atau nanti kamu akan trauma berat.” Dengan sedikit berdebar aku menjawab.
“Tidak. Doakan saja aku tidak takut dengan mereka oke.”

Aku meminta kepada dia untuk mulai melihat mereka lagi karena rasa penasaranku belum terjawab tuntas dengan segala rupa bentuk mereka. Sebelum mulai dia memberikan sugesti “Jangan takut! Mereka itu hanya jin yang tingkatnya lebih rendah dari kita, manusia. Anggap saja dirimu itu lebih kuat dari mereka.” Aku hanya mengganggukkan kepalaku. Dia menyuruhku untuk membaca serangkai surat Al-Fatihah, An-Nas, dan Al-Ikhlas sambil memejamkan mata. Setelah selesai, dia menyuruhku melihat ke arah atap sambil meyakinkan bahwa ada sesuatu di sana. Aku melihat atap itu dan beberapa menit kemudian, atap itu tampak bercahaya lalu kemudian redup lagi, terus-menerus seperti itu hingga akhirnya aku menyerah.

Dia menyampaikan hal yang lebih mudah untuk melihat jin atau makhluk gaib. Dia membawaku ke tangga, dia akan menyampaikan cara untuk melihat mereka. Di sela-sela penyampaian dia itu, aku merasa seperti ada yang menyentuh punggungku.
Dia berkata, “Iya itu mereka. Mereka mengajakmu untuk bermain.” Entah apa maksud dia itu aku hanya melamun sambil melihat dia.

Setelah itu, dia berusaha membuka mata batin milikku. Entah dengan cara apa dia membukanya. Aku disuruh memejamkan mata dan dia mulai melakukan cara untuk membuka mata batin milikku. Beberapa saat kemudian, dia menyuruhku untuk membuka mata dan kembali menatap atap yang tadi kembali. Aku tidak merasakan hal yang berbeda, tampak sama saja. Dia bete karena aku tidak bisa melihat mereka. Dia mengajakku untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia menyampaikan beberapa hal kepadaku.

“Sesungguhnya mereka itu juga ciptaan Tuhan sehingga kamu juga tidak boleh menghina atau bahkan memperbudak mereka untuk kepentingan pribadi.”

Mulai saat itu, aku tertarik dengan mereka dan rasa penasaranku belum terjawab sampai kini.

Cerpen Karangan: Muhamad Syarifudin Hidayatullah
Facebook: Syarifudin Emseh
Sebentar lagi pada 14 April 2015 akan menghadapi UN. Saat ini, bersekolah di SMA Negeri 1 Cikarang Utara. Memiliki kemampuan menulis yang cukup baik walaupu belum berbakat. Berharap dapat melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Aamiin.

Cerpen Belajar Melihat Jin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Dan Iblis (Part 2)

Oleh:
Kita langsung bergegas ke bawah, aku sempat melihat jejak kaki Wanita tadi, jejaknya mengarah ke atas dan hanya sebagian saja yang terlihat, dikarenakan jejaknya berada di ujung tangga itu,

Adventure

Oleh:
“Apa kalian sudah siap?” tanya Sam pada keempat sahabatnya sembari menutup tas ranselnya. “Tentu saja” sahut Rico yang masih sibuk dengan bekal makanannya. Mereka berlima akan berburu sebuah misteri,

Terkesan Duduk Di Bangku SMA

Oleh:
Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, aku anak ke-4 (empat) dari lima bersaudara, aku memiliki dua abang, satu kakak dan satu adik laki-laki. ekonomi dalam keluargaku sangatlah minim, karena

Teman Lama Misterius

Oleh:
Budi merupakan seorang karyawan swasta. Suatu saat dia mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku teman SD-nya. Orang itu mengaku bernama Fahra, seorang gadis yang tiba-tiba menghubungi Budi. Fahra

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *