Believe Me, I Love You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 26 December 2013

Aku percaya mimpi aku percaya takdir aku percaya cinta sejati dan aku percaya akan adanya akhir yang bahagia. Aku hanyalah gadis lugu yang berubah akan bergulirnya waktu karena setiap fakta yang ku alami bertentangan dengan semua yang kupercaya dan akhirnya kini aku adalah pembenci semua omong kosong itu.

“hai boleh kenalan?” kata suara cowok membangunkan tidur bosanku.
Kutengok ke arah suara tersebut. Tepat berdiri tegak seorang cowok model tipe prince charming mengulurkan tangannya. Kutatap dan kuperhatikan cowok asing ini. Kenapa dia ada disini? Bagaimana dia tahu tempat rahasiaku ini?.

“ehemm hai”
“oh… Uh… Hai gue della” jawabku malu. Bagus sekarang orang yang baru ku kenal pun bakalan kabur karena menyadari betapa anehnya aku yang menatap dan sempat ngebleng selama 5 menit. Bagus dell bener-bener bagus!!
“gue kevin… n gak kok lu gak aneh”
“hah?!”
“lu paranormal?” heran apa dia edward cullen?
“ha.. Ha.. Bukan-bukan. Cuma ketebak aja raut muka lu. Gampang dibacanya” tegas kevin
“oh” cuma jawabanku
“by the way kalau gue edward cullen mau kah lu jadi isabella swan-nya?” Tambahnya tersenyum
Tuh kan!! Aku yakin nih cowok titisan bangsa maya.

Bukan sama sekali kevin bukan paranormal atau pun bisa baca fikiran. Dia murid pindahan yang dalam waktu hanya 5 bulan bisa dikenal seisi sekolah sma ku. Dan kebetulan aku adalah teman pertama yang dikenalnya maka mau gak mau hampir semua orang kini memperhatikanku bahkan mereka mengira aku pacaran dengan kevin. Bukannya aku keberatan dengan cowok seperfect kevin jadi pacarnya tapi aku sadar itu hanyalah akan menjadi impian dan aku tak mau terluka karena harapan lagi. Meskipun kadang kevin bersikap terlalu manis, juga selalu mengatakan kalau dia sayang padaku. Maka dari itu sekarang aku semakin menjauhinya aku tak mau membentuk asumsi di otakku.

“dell kevin kecelakaan!” teriak susi teman sekelasku
“apa!”
“ayo cepet sini ikut gue!” kata susi sambil menyeret lenganku keluar dari kelasku.

Setiba di lapangan bola aku langsung mencari sosok kevin yang sedari tadi susi bilang kalau kevin tabrakan disini. Aku tak bisa berfikir hanya bisa menyalahkan betapa bodohnya aku kalau sampai kevin kenapa-napa aku gak akan maafin diriku sendiri. Kekhawatiranku berhenti saat kulihat kevin berdiri di seberang lapangan bola dengan senyum lebar sehat tanpa tergores sedikit pun.

“della permata maafin untuk semua kebodohan yang sudah membuatmu terluka aku tau aku bukan prince charming yang seperti kamu inginkan. Tapi aku selalu bermimpi kamu menjadi ratu di hidupku. Della permata mau kah kamu menjadikan impianku agar menjadi nyata, bersediakah kamu menjadi ratuku?” kata kevin sambil berlutut dengan satu kaki dan mengulurkan telapak tangannya yang terdapat sebuah cincin berkilau karena pancaran sinar matahari.

Aku tak bisa berkata apapun hanya bisa memandang. Bahagia, kesal, terharu malu bercampur jadi satu. Apakah ini cuma mimpi? Aku takut bila aku berkedip maka semua ini akan hilang dan hanya tersisa aku yang terluka untuk beribu kalinya. Aku ingin berlari dan menganggap ini semua hanyalah mimpi. Sebelum aku menyadari keindahan yang hanya sebatas angan. Tetapi apabila aku selalu takut dengan harapan apa mungkin aku bisa merasakan bahagia walau sekejap saja. Kulihat muka kevin yang masih tersenyum lebar raut wajahnya penuh harapan. Kutarik nafas dalam-dalam dan mengatakan tiga kata yang mengubah seluruh hidupku.
“iya aku mau”

Semenjak kevin dan aku jadian. Aku adalah gadis terbahagia di dunia. Setiap menit tak pernah terlepas senyum di bibirku. Kevin adalah mimpi terindah dan kesatria penyelamatku dari keterpurukan mimpi burukku. Kini aku tak takut lagi untuk bermimpi dan menyebarkan senyum harapan.
“sayang kamu percaya padaku kan?” tanya kevin
“tentu sayang, kenapa?” tanyaku heran
“aku gak mau kehilanganmu, aku cinta banget sama kamu” kata kevin memeluku erat.
“kevin ada apa?” tanyaku semakin heran.
“gak… Gak papa ko sayang. Gak ada apa-apa semuanya kan baik-baik saja” kata kevin dengan nada lemah.

Aku gak berhenti memikirkan keanehan kevin hari ini. Dia bersikap seolah-olah dunia akan runtuh, dia tak mau meninggalkanku dari pagi walaupun hanya untuk ke toilet. Apa yang terjadi? Setiap ku bertanya dia hanya memberikan senyuman sedih dan mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’ meskipun khawatir tapi aku gak bisa memaksakan kevin untuk memberitahukanku.

* Bamm *

Suara benda keras terjatuh di belakang kami. Aku pun segera menengok ke arah suara tersebut dan menemukan segerombolan pria berjas hitam menuju arah kami dengan cepat kilat. Sekejap mata pria itu sudah berada di depan kami dan menyeret kevin menjauhkannya dariku. Dengan panik aku mengejarnya.
“kevin… Kevin… Kevin!!!” teriakku sekencang-kencangnya. Ya tuhan apa yang terjadi!
“percayalah aku. Aku mencintaimu” suara kevin sebelum dia dan segerombolan pria itu menghilang ditelan kegelapan malam.

Aku tak bisa bergerak rasanya jantungku berhenti dadaku sakit teringat cintaku hilang entah kemana pandanganku semakin buyar kemudian aku pingsan.

* Bam *

Kaget aku terbangun dengan keringat dingin detak jantung yang kencang. Aku teriak memanggil-manggil kevin. Kuperhatikan sekelilingku tampak heran, takut raut wajah-wajah teman sekelasku. Sampai aku sadar aku berada di tengah-tengah kelas duduk di bangkuku. Apa yang terjadi kenapa aku disini bukannya aku berada di teras rumahku bersama kevin hingga akhirnya mereka menyeret kevin dan menghilang di… aku tak bisa menyelesaikan kalimat itu rasanya tak kuat kumenahan sakit tanpa terasa kuteteskan air mata membasahi pipiku.

“della kamu kenapa” tanya susi teman sebangkuku. Tunggu sebentar kenapa susi duduk di sebelahku bukankah dia sudah pindah sekolah tahun lalu kenapa dia disini?
“kenapa kamu disini?”
Tanyaku dengan suara serak.
“apa maksudmu? Memang aku selalu disini kok” jawab susi
“lu kan udah pindah sekolah tahun lalu?”
“apa… Aku gak pernah pindah sekolah della, kamu mimpi ya” jawab susi dengan ketawa kecil.
“bukankah kakakmu pindah kota setelah kamu kelas tiga?”
“ha.. Ha mungkin, aku belum tanya sama dia. Lagian masih lama kok kita naik kelas tiga ya kan?” jawab susi
“kita udah kelas tiga sus!” kataku kesal kenapa sih susi bersikap kaya gini disaat keadaanku seperti ini.
“dell kamu mimpi ya? Kita masih kelas dua. Sekarang aja masih tanggal 12 januari”
“januari?” tanyaku makin bingung bukankah sekarang bulan juli. Susi hanya mengangguk.
“sekarang tahun berapa?”
“2012 lah”
“apa?!! Lu pasti salah sekarang 2013 sus” kataku tak percaya susi makin membuatku bingung.
“tanya aja semua orang disini. n nih lihat buku catat lu aja ada tanggalnya” jawab susi menuding buku di tanganku. Mataku terbelalak, benar adanya sekarang tanggal 12 januari. Tanggal dimana aku pertama ketemu dengan kevin. Tanggal sebelum semua mimpi indahku tewujud. Apa semua itu cuma mimpi? Bagaimana bisa mimpi bisa sepanjang itu?
“kamu kenal kevin maja sus?” tanyaku berharap satu titik terang.
“emmm… Gak pernah denger, anak mana emang?” kata susi

Kepalaku semakin pusing tak kuat memikirkan semua itu. Bagaimana bisa mimpi bisa senyata itu? Bagaimana bisa sakitnya masih terasa perih menusuk hati. Bodohnya aku tertipu untuk seribu kali dengan mimpi bodoh yang pada akhirnya menyadarkan sisa luka dan kehilangan semata. Kenapa tuhan memberikanku mimpi? Kenapa aku masih percaya saat ingat kata-kata kevin untuk percaya adanya dia. Kenapa? Kenapa? Emosiku membumbung tinggi aku menyalahkan hal yang tak pasti.

Kukepalkan tanganku menahan amarah malu akan diri sendiri. Jari-jari tanganku mulai sakit saking kencangnya kugenggam kepalan tanganku membuat cincin di jari kelingkingku pun terasa sesak. Tunggu, bukannya aku tak punya cincin? Kudekatkan cincin ke mukaku. Tertulis di belakang lingkaran cincin itu ~ believe me, i love you ~. Ini adalah cincin pemberian kevin waktu menyatakan cintanya di lapangan bola dulu. Yang harusnya hari itu hanya dalam mimpiku saja. Lalu kenapa aku memakai cincin pemberian kevin?

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella memey seyy

Cerpen Believe Me, I Love You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebungkus Permen

Oleh:
Matahari bersinar dari ufuk timur. Burung-burung terbang tinggi menimbulkan kebisingan yang menenangkan. Embun menempakan diri di atas dedaunan. Sinar matahari memaksa masuk melalui celah-celah tak tertutup. Seorang perempuan belia

Teka Teki di Origami (Part 1)

Oleh:
Kanzia Nadhifa adalah namaku. Aku biasa dipanggil dengan sebutan zia. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Bisa disebut aku adalah anak terakhir atau anak bungsu. Aku masih duduk di

Status Adik Kakak (Part 2)

Oleh:
Hari ini, matahari sudah berhasil masuk ke dalam sela-sela jendela kamarku. Liburan sekolah masih tersisa seminggu lagi. Dan itu tandanya masih banyak waktu untukku bersenang-senang dengan Kak Bintang. Hem

Tangisan Di Malam Hari

Oleh:
Malam itu Zahrana tidur bersama Neysa, Rosi dan Mutia. Mereka tidur di kamarnya Mutia. Sebelum tidur, mereka bercanda tawa dan berbincang mengenai apa yang akan mereka lakukan besok pagi.

Lost in France, Lost in You

Oleh:
Charles de Gaulle, 29 November 2017. Delina melengos lelah, jarum jam di tangannya menunjukkan pukul delapan malam. Sadarlah ia jam di tangannya masih menunjukkan waktu Indonesia bagian barat. Kalau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Believe Me, I Love You”

  1. Fidella says:

    waah!! kbetulan skali nmaku juga della.. 🙂 cerpennya bgus kak 😉

  2. josephin says:

    Bagus tapi sedikit aneh ceritanya

  3. Rika manao says:

    Cerpennya menarik ya ;);)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *