Between Us (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 30 May 2019

“Ugh!”
Cadie memegangi kepalanya yang agak sakit. Ya, kemarin ia jatuh dari tangga sekolah. Entah siapa yang mendorongnya dengan begitu keras hingga ia terjatuh.

“Cadie, kamu tidak apa-apa?” tanya Caroline, teman sebangkunya.
“Ehh, ng… aku nggak apa-apa kok,” jawab Cadie menyembunyikan rasa sakitnya.

KRINGG!
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Cadie segera membereskan barang barangnya dan bergegas pulang ke rumah.

Saat perjalanan pulang, Cadie menendang apa pun yang dilewatinya. Ia berusaha keras memutar otaknya untuk mengingat siapa yang mendorongnya di tangga kemarin. Ia sempat menoleh ke belakang, namun ia hanya bisa melihat orang itu mengenakan jaket hitam dengan masker yang menutupi setengah wajahnya.
“Ayolah Cadie, kamu harus ingat!” kata Cadie pada dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, Cadie segera mengganti pakaiannya dan duduk sebentar di sofa ruang tamu. Kedua orangtuanya sedang bekerja dan biasanya pulang malam.
“Rumah ini sepi sekali,” batin Cadie seraya mengambil handphonenya yang berada di atas meja tv.

Tiba-tiba handphone Cadie berbunyi. Itu menandakan sebuah pesan masuk. Cadie langsung membaca pesan yang berasal dari nomor yang tidak ia kenal.
“Bagaimana kepalamu? Apakah sakit? Aku menaruh sesuatu di tasmu. Kuharap kamu menikmatinya”

Deg!

Isi pesan itu membuat Cadie terkejut. Gadis tersebut langsung lari ke kamarnya dan membuka tasnya. Akhirnya, ia menemukan sebuah flasdisk berwarna hitam

Cadie membuka laptopnya dan membuka isi file di flashdisk tersebut. Dan isinya adalah sebuah foto yang diambil dari belakang ketika ia akan didorong. Benar sekali! Orang itu mengenakan jaket hitam dan dilihat dari postur badannya, ia seorang laki-laki.

“Siapa yang mengambil foto ini? Apa mereka bersengkongkol?” Cadie benar-benar penasaran.

Cadie melihat file berikutnya. Benar-benar membuat Cadie ketakutan. Foto dengan background layar hitam dengan caption “tunggu teror yang lainnya, kuharap kau menikmatinya^^”

Cadie menutup laptopnya. Ia merasa panik, ketakutan, dan cemas. Siapa siswa yang menerornya di sekolah? Apa salahnya?

Bel rumah berbunyi dan membuat Cadie sedikit lega. Ia berpikir kalau kedua orangtuanya sudah pulang.
Cadie berjalan menuruni anak tangga dan berlari pelan menuju pintu.

Krekk
Saat ia membuka pintu, ia tidak melihat ada seorang pun di luar. Melainkan sebuah kotak berukuran sedang yang berwarna merah mudah dengan pita besar berwarna kuning di atasnya.
“Kotak apa ini?” Cadie mengambil kotak tersebut dan membukanya.

Jreng!
Isi kotak tersebut adalah kumpulan foto dirinya yang dicorat-coret dengan spidol Merah, sebuah cutter, dan selembar surat.
“Tunggu terorku selanjutnya, kuharap kau menikmatinya^^”

Cadie kembali ketakutan. Rasanya ia ingin menangis. Ia begitu takut sekaligus penasaran dengan orang yang ingin menerornya.

Hari ketiga setelah kejadian Cadie jatuh dari tangga. Cadie menerima banyak SMS dari nomor yang tidak ia kenal. Nomor dan isi pesan yang sama.

“Hai Cadie!” sapa Varel begitu ia melihat Cadie berjalan menuju toilet perempuan.
“Hai Varel. Ngapain kamu di luar sini disaat jam pelajaran?” tanya Cadie.
“Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku bosan dengan pelajaran Sir John. Bikin aku mengantuk,” jawab Varel santai.
“Kamu sendiri ngapain? Sakit?” tanya Varel kepada Cadie yang sedari tadi memegang perutnya.
“Iya. Aku pergi dulu, ya!”
“Baiklah, aku akan ke kelas. Bye Cadie!” Saat itu juga, Varel berlalu dari hadapan Cadie.
Cadie segera memasuki toilet dan tanpa ia sadari, seseorang memasuki toilet tersebut dan menguncinya.
Kletek!

Cadie yang selesai dengan urusannya segera meraih gagang pintu toilet. Namun tiba tiba saja, pintu tersebut tidak bisa ia buka.
“He? Ada apa ini?” Cadie berusaha keras membuka pintu tersebut.

Tidak lama kemudian, lampu wc tersebut mati hidup mati hidup. Layaknya konslet. Tapi dalam hati Cadie ia yakin bahwa ini perbuatan yang disengaja. Cadie merasa ketakutan dan berniat ingin berteriak.

Saat lampu kembali menyala seperti sebelumnya, tiba-tiba saja ada selembar kertas tak sengaja Cadie injak.

“Kapan-kapan ada kertas di sini?” gumam Cadie ketakutan namun tetap saja memungut kertas itu kemudian membacanya.

“Apa kau ketakutan? Tunggu terorku yang berikutnya. Ku harap kamu menikmatinya^^”

Setelah membaca tulisan tersebut, Cadie langsung menjerit minta tolong dan berusaha membuka pintu. Akhirnya pintu tersebut bisa terbuka.

“Hey, kamu darimana saja? Lima menit lagi istirahat loh!” ujar Caroline ketika ia melihat Cadie kembali ke tempat duduknya.
Caroline merasa janggal dengan sikap Cadie. Cadie terlihat cemas, ketakutan, dan keringat dingin mengucuri pelipisnya.
“Cadie? What wrong with you?” tanya Caroline.

Cadie menoleh cepat ke arah kirinya, ke arah Caroline. “Seseorang menerorku!” jawabnya dengan napas tersengal-sengal.
“Apa?!” kaget Caroline. “Seseorang menerormu? Rasanya nggak mungkin, deh!”
“Tapi ini serius!” Kali ini Cadie memegang bahu Caroline dengan erat dengan sorot mata yang sangat serius.
“Okey, tapi..,” Caroline menggantung kalimatnya. “kamu harus tetap waspada dan kalau butuh bantuan, panggil saja aku atau sahabatmu si Varel itu,” terang Caroline menghibur Cadie.
Cadie mengangguk pelan dan disaat itulah bel sekolah berbunyi nyaring.

“Nah, itu Varel!” seru Caroline seraya menunjuk ke arah pintu kelas.
“Hey hey, what’s wrong with you, Cadie? Sakit?” Varel segera mengambil alih duduk di hadapan Cadie.
Cadie terdiam sesaat dan memberi kode kepada Caroline kalau ia ingin bicara empat mata dengan Varel. Caroline mengerti dan keluar dari kelas menyusul teman-temannya.

“Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu, Rel,” kata Cadie dengan suara agak serak.
“Cerita apa? Kau ada masalah?” Varel mendekatkan wajahnya. “Ceritakan saja padaku.”
Cadie menceritakan semua yang telah dialaminya belakangan ini. Varel terlihat serius mendengarkan.

“Dan semua itu terasa menakutkan bagiku,” Cadie mengakhiri ceritanya dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.
“Tenang saja. Teror ini pasti akan berakhir dengan sendirinya. Dan aku pikir, karna usiamu yang masih 14 tahun, peneror itu pasti akan mengakhiri aksinya. Dia akan bosan meneror gadis imut sepertimu,” hibur Varel lagi sambil mencubit pipi kiri Cadie dengan gemas.
Cadie tersenyum lebar sambil merintih kesakitan. Ya, Varel mencubitnya terlalu kuat.
“Hehe, maaf maaf,” ujar Varel.

“Makasih, ya, sudah menghiburku. Aku beruntung banget bisa punya sahabat yang baik kayak kamu,” tutur Cadie yang membuat Varel tertegun dan kemudian tersenyum sangat lembut.
“Iya, sama-sama Cadie,” Varel mengusap kepala Cadie dengan pelan.

Cerpen Karangan: Inne Gracea D. C.

Cerpen Between Us (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibawah Nol Derajat

Oleh:
I freeze and burn, love is bitter and sweet – Francesco Petrarca Dia datang. Oh, Ya Tuhan. Dia menuju kemari. Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi, dia punya style

The Photograph

Oleh:
Klik! Aku mengarahkan kamera pada seseorang yang terbujur kaku dengan keadaan mengenaskan. Tubuh orang itu hancur, tidak berbentuk. Kepalanya hampir pecah, tulang kakinya patah, bahkan salah satu jarinya hilang.

Ranjang Yang Sama

Oleh:
Ketukan pintu berhasil membangunkanku dari tidur. Walau terpaksa aku pun membukanya. Namun, rasa kantuk seketika hilang ketika seorang lelaki dengan sigap masuk dan menutup pintu. Aku pun mencoba untuk

Red Chandelier (Part 1)

Oleh:
Kenalin, aku Olla. Sekarang sudah menginjak hari ke-lima aku bersekolah di SMA. Dan ini sudah ke-lima kalinya aku menjadi korban pembullyan. Aku murid baru di sini dan hari-hariku terasa

Crazy Autumn (Part 1)

Oleh:
Musim gugur. Daun-daun ketika itu juga dilihat dengan berbagai macam pandangan. Ia terlihat indah ketika melayang, meliuk, berhembus lembut menggapai tanah. Tak hanya itu, kerap kali beberapa orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *