Black D. School

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 30 January 2017

“Hoaammm” aku bangun di pagi hari, aku sekarang baru lulus dari SMP, aku berencana mendaftar sekolah di SMA Black D. School. “Ma, kapan kita mendaftar di sekolah itu ma…” Ajakku. “Iya hari ini kita akan mendaftar ke sana, cepat mandi dan makan kita langsung berangkat bersama papa.” Perintah mamaku. Oh ya nama ku Abelio Grefando, aku biasa dipanggil Grefan. Aku segera menuju ke mobil dan kami langsung berangkat dari rumah.

“Ini sekolahnya?” tanyaku bingung kepada mama ku, “Iya nak, kan kamu bilang mau di sini sekolahnya!” Jawab mamaku, “Ya sudahlah mari kita masuk.” Kata papaku. Aku melewati pintu masuk sekolah ini yang sangat sepi karena memang ini hari libur. “Pak! Mau kemana” Tanya seseorang lelaki berbaju seragam biru bertuliskan Office Boy dan bernama Dendi Mafandi. “Kami mau ke ruang Kepala Sekolah. Dimana ya pak letaknya?” Tanya papaku. “Di sana pak, mari saya antar!”. Dia mengantar kami ke ruang kepala sekolah, wajahnya sungguh tidak mengenakkan, dia menatapku seperti sinis, dari situlah aku mulai tidak menyukainya.

Setelah berbincang lama dengan kepala sekolah di SMA Black D. School, papaku dan mamaku memutuskan aku untuk bersekolah di situ, akhirnya aku segera mendaftar di situ. Aku masih membingungkan apa artinya huruf D. di antara nama sekolah ini. Setelah aku searching di Google ternyata D. adalah nama pemilik sekolah itu yaitu Deathender Mangeline seorang pria pendiri sekolah ini asal Belanda, dan D. itu nama panggilan si pendiri sekolah ini yaitu Death. “HUUUH seram sekali nama sekolah itu kenapa namanya Death, Death itu kan kematian, HIIII. Tapi tak apalah yang penting aku harus sekolah dengan baik.” Kataku dalam hati.

“Hoaaam” aku bangun di pagi hari, hari ini aku pertama kali sekolah di SMA Black D. School. Aku melaksanakan MOS atau Masa Orientasi Siswa, aku bertemu dengan pak Dendi yang aku temui saat pertama kali datang ke sekolah ini, matanya yang sinis membuat aku untuk menjauhinya. “Dek, ini tadi bukunya jatuh di tangga, saya menemukannya!” kata seseorang laki laki yang berwajah seperti orang Eropa dan itu adalah pak Dendi kenapa pak Dendi seperti orang Eropa padahal dia orang Indonesia, waktu itu dia pernah bercerita kepada papaku bahwa dia keturunan Belanda.

Aku kaget ternyata itu pak Dendi, aku melirik ke sekitar arahku bahwa tempat ini sepi sekali hanya ada aku dan pak Dendi. “Makasih pak!” Jawabku setelah lama berfikir. “Kenapa kamu melirik lirik?” gumam pak Dendi, “Ohh, tidak apa apa pak! Saya duluan pak!” Jawabku. Aku segera lari dan pulang ke rumah, sekolah ini juga mulai sepi. Keesokan harinya aku menceritakan hal ini kepada teman temanku yang bernama Kevin Giorgio panggilannya Kevin. “Vin, kamu tahu gak office boy yang namanya Dendi Mafandi?”, “Gak kenal aku fan!” jawabnya. Karena dia tidak mengenalnya aku tidak jadi menceritakan kepadanya.

Setelah usai sekolah, aku langsung menghampiri papaku, “Pa, aku mau pindah sekolah aja deh pa.” gumamku, “Kenapa, fasilitasnya kurang bagus? Atau gurunya galak galak?” jawab papaku sambil tertawa. “Pa, serius pa. aku pokoknya gak betah!” jawabku sambil marah. “Iya iya nanti papa konfirmasi dengan kepala sekolahnya, ya!, oh ya padahal kamu yang maksa di sekolah itu.” Jawab papa. Aku terdiam, aku tidak mau cerita soal hal itu.

Keesokan harinya papaku langsung menghadap kepala sekolah, aku tidak boleh mendengar percakapan mereka. Lalu aku berkeliling keliling di sekitar sekolah ini, aku menaiki tangga sampai ke lantai paling atas yaitu lantai 4, di situ sangat sepi, dan woahh ternyata di situ adalah tempat renang aku belum mengetahuinya dan ada juga tamannya, playangroundnya, air mancur, dan tempat api unggun karena memang langsung menghadap ke langit. Dan tiba tiba ada orang yang berjalan di taman itu aku sungguh kaget dia berpakaian adat Belanda, wajahnya juga sangat mirip pak Dendi, aku langsung lari menuruni tangga. Aku langsung menghampiri papaku yang berada di lantai 1. Ternyata papaku sedang mencari cari aku. Papaku langsung menghampiriku dan meminta maaf “ Nak maaf ya kamu tidak bisa pindah dari sekolah ini, nanti susah mencari sekolah lagi ya” gumam papaku. “iya kok gak papa pah aku juga senang di sini.” Aku sengaja tidak memberi tahu ayahku karena ada lantai paling atas yang sangat indah. “Oh ya dari tadi kamu kemana papa gak lihat kamu.” Tanya papaku. “Heheheh.” jawabku “Kok malah ketawa.” Tanya papaku lagi.

Setiap hari aku selalu naik ke lantai empat itu. Melihat keindahannya kadang bawa baju ganti untuk berenang di situ. Aku selalu bingung kenapa selalu sepi ya, dan tidak ada di brosur gambar ini, pasti ini sangat menarik orang untuk bersekolah di sini kalu tempat ini dipromosikan. Keesokan harinya Kevin mengahampiriku “Fan kamu kok jarang banget main sih kalo istirahat aku jarang banget liat kamu, kamu kemana sih.” Tanyanya “Enggak.” Jawabku.

Keesokan harinya aku dihampiri oleh pak Dendi, office boy itu dan dia langsung mengajakku ke lantai 4 itu. Dia langsung menyuruh aku untuk berenang di situ. Ya sudah aku mengikutinya saja. “Pejamkan matamu sambil berenang, dan buka matamu saat 10 detik.” Perintah pak Dendi. “Haah.” Aku bingung dan dari pada aku siksa olehnya aku takut karena wajahnya yang seram saat aku pejamkan mata dan sudah 10 detik aku membuka mata, aku tiba tiba berada di kelas dalam keaadaan memakai baju renang sambil menggeliat-geliat seperti sedang berenang aku kaget dan aku langsung tersipu malu, aku langsung ke toilet untuk ganti pakaian. Aku langsung menghampiri tempat berkumpulnya office boy dan aku dalam keadaan marah sekali, sambil mencari pak Dendi. Aku bertanya dengan office boy yang terdekat “Pak mana office boy yang bernama Dendi Mafandi?” tanyaku marah. “Setahu saya dik tak ada yang bernama Dendi Mafandi di sini. “Haah!” aku kaget “Gak mungkin pak! Bapak bohong kan pak, tahu saya pak!” bantahku tidak percaya. “Bener dik, gak ada yang namanya Dendi di sini!” jawabnya lagi. “Ya udah deh pak makasih maaf mengganggu!”. Aku langsung lari ke lantai 4 itu dan ternyata tidak ada lantai 4 dan semua keindahan keindahan itu hilang. “Berarti…” kataku dalam hati.

Aku langsung menghampiri kepala sekolah dan menceritakannya kepada kepala sekolah. “Pak apakah ada lantai 4 di sini dan apa benar tidak ada Office boy yang bernama Dendi Mafandi?” tanyaku “gak ada dik, semua yang adik Tanya tidak ada di sini! Oh ya bapak tahu siapa Dendi Mafandi itu!” Jawabnya “Siapa pak?” jawabku “Dia itu hantu pendiri sekolah ini dia itu adalah Deathender Mangeline, lihat saja inisial namanya sama kan!, dia menyamar. Nah adik tidak perlu takut kami akan tanggulangi hal ini, sekarang adik boleh pulang.” Saat aku keluar ruang kepala sekolah aku disambut oleh pak Dendi itu dan sungguh aku kaget dan aku langsung dibekap, dan dibawa ke gudang, tentu saja aku pingsan.

Tiba tiba aku terbangun, aku berada di kamarku, dan mamaku langsung berkata “Ayo katanya mau daftar di sekolah baru!” kata mamaku “Dimana ma?” tanyaku “Black D. School” Jawab mamaku. “Apaa? Berarti itu hanya…” aku langsung panik dan di jendela luar rumahku ada pendiri sekolah itu yaitu Deathender Mangeline sambil melambaikan tangannya ke arahku.

Cerpen Karangan: Vincent Christian Laia
Facebook: Vincent Christian Laia

Cerpen Black D. School merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jam Kutukan

Oleh:
Ding… dong… ding .. Jam terus berdentang, suaranya sedikit membuat bulukudukku merinding. Rasanya sih, ingin aku membuang jam itu. Tapi kata mama dan papa itu adalah jam yang bersejarah

Misteri Kematianku

Oleh:
Namaku Dara Allison. Aku sebuah jasad yang belum ditemukan. Umurku 17 tahun saat kematianku. Saat ini aku berada dalam alam yang berbeda. Tapi aku masih heran tentang kematianku. Banyak

Sahabat Sejati Tak Sejati

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Namaku Ulfah, aku seorang anak perempuan yang sangat suka dengan kata Sahabat. Tapi selama enam tahun di Sekolah Dasar

Jubah Hitam

Oleh:
Namaku caroline, pada hari itu aku berada di rumah kakekku yang berada di daerah tangerang, pada sore itu aku sudah merasa bahwa ada yang menggangguku, tiba-tiba ibuku memanggil dan

Nightmare By Step Grandma

Oleh:
Mungkin ini merupakan akhir dari hidupnya, terkurung di dalam kobaran api besar, tak ada lagi harapan, tak ada senyuman, bahkan peluang untuk keluar dari rumah itu pun sangat kecil.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *