Calling

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 23 October 2018

Amira turun dari sepeda motornya dengan tergesa-gesa. Sebelum melepas helm, ia melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya. Kemudian raut wajahnya berubah. Dengan sedikit cemas, ia melangkah menuju rumah yang bercat warna putih. Helm yang masih terpasang di kepalanya belum ia lepaskan, mungkin ia tak sadar karena sekarang ia sudah terlambat.

Tok tok tok
Diketuknya pintu tiga kali. “Assalamu’alaikum”
Tak ada jawaban. Padahal jam baru menunjukan pukul setengah delapan pagi. Lalu diketuknya lagi. Masih tidak ada jawaban. Diketuknya lagi sampai beberapa kali hingga jemarinya memerah. Namun tetap saja, tidak ada yang menyahut ketukan serta salam yang belasan kali ia ucapkan dengan keras.

Akhirnya ia menyerah. Diraihnya ponsel yang ada di saku bajunya dengan cepat. Kemudian mencari kontak nama dan langsung memencet tombol hijau untuk menelepon. Begitu nada tersambung, ia gelisah tidak karuan. Keringat mulai bercucuran karena matahari mulai membakar kulitnya.

Sudah lima kali panggilan masuk ke nomor yang ia tuju. sama seperti halnya mengetuk pintu tadi, tidak ada jawaban yang ia dapatkan. Hampir saja ia menyerah. Namun sekali lagi Amira memencet tombol hijau. Perasaan kesal dan marah mulai menyulut karena adik laki-lakinya sama sekali tidak memberi sahutan dari dalam rumah. Sedangkan hari ini ia ada tes wawancara kerja, dan ia tidak mau melewatkan itu.

Beberapa detik bunyi panggilan terdengar, sampai akhirnya ada jawaban. Langsung saja Amira menjawab tanpa aba-aba.
“Woi… bukain pintu cepat! Kaka udah telat nih. Udah jam berapa? Lama amat buka pintunya? Dari tadi juga kok malah ga nyahut sih? Cepetan bukain!”.
Anehnya, setelah Amira meluapkan emosinya, tak ada sahutan yang terdengar. Bahkan membantah pun tidak. “Put. Putera!” Amira memastikan bahwa adiknya mendengar ocehannya tadi. Tiba-tiba panggilan itu diputus.
Sontak Amira kaget bukan main. Ya Ampun, ini anak teleponnya kok malah dimatiin sih? Sayangnya, Amira tidak membawa kunci karena malam tadi ia tidak tidur di rumah. Jadi Putera memang disuruhnya untuk mengunci pintu dari dalam. Dan sebenarnya sudah sering ia pulang pagi seperti sekarang. Namun pagi ini benar-benar diluar kebiasaan Putera yang selalu membukakannya pintu.

Hampir saja Amira mau menggedor-gedor pintu lagi. Namun ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk. Dari Putera.
“Ya Allah Put. Cepetan dong ke depan. Ini kaka sudah telat. Kamu masih tidur, ya?”
Tut tut tut
Tepat setelah Amira menyelesaikan kalimatnya, panggilan itu kembali diputus. Ia memandangi layar ponsel dengan sebal. Kemudian perasaan marahnya semakin menjadi-jadi. Amira mundur beberapa langkah untuk memastikan bahwa Putra memang ada di dalam rumah. Yang dilihatnya adalah jendela serta tirai masih belum terbuka. Lampu depan juga masih menyala. Itu artinya Putra memang masih di dalam. Entah apa ia masih tidur atau bagaimana, yang jelas Amira ingin sekali menjewer kuping adik laki-lakinya itu.

Seperti dipermainkan. Kali ini ponsel Amira berdering lagi. Dan benar seperti dugaannya, panggilan dari Putera.
“Ini bocah. Minta di siram air selokan, ya?” Amira semakin naik pitam.
“Kamu siapa?”
Deg. Selama beberapa detik Amira terdiam. Kemudian dilihatnya layar ponsel. Benar! Ini masih nomornya Putera, adik kandungnya. Hanya saja, yang menyahut bukan suara dari Putera.
“Ini Putera, kan? Put… putera?!” ia berteriak. Memastikan kalau ia tidak salah.
“Kamu siapa?”. Sahutan yang sama. Suara laki-laki. Mungkin sebaya dengan Putera. Tapi jelas sekali berbeda. Amira kenal betul dengan intonasi dari suara adik laki-lakinya itu.
Tanpa menyahut, Amira menekan tombol merah. Ia mundur lagi beberapa langkah. Perasaan amarah mulai berganti cemas serta was-was. Ia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan adiknya. Apa mungkin ponsel Putera dipegang oleh temannya? Atau jangan-jangan ia sedang disekap oleh penculik yang saat ini berada di dalam rumah?

Amira mulai menggedor-gedor jendela dengan cukup keras. Ia tidak peduli saat tukang bubur serta orang-orang yang lewat di depan rumahnya menatap bingung dengan tingkahnya. Ia terus memanggil nama Putera. Air matanya tanpa sadar meleleh seketika. Tangannya bergetar. Hampir saja ponselnya jatuh kalau ia tidak memegangnya dengan dua tangan dan mendekapkannya ke dada.

“Mir. Ngapain kamu?”
Seorang pria setengah baya memanggil namanya. Sontak ia berlari mendatangi pria itu dengan berurai air mata.
“Paman tolong”. Amira menatap pamannya dengan wajah yang cemas sekali. Lalu ia menjelaskan kejadian tadi meski suaranya bergetar.
Tanpa menanggapi lebih jauh, Paman Amira yang rumahnya hanya berjarak 30 meter dari rumah Amira dan Putera bergegas menuju ke depan pintu. Ia lalu mendobrak pintu itu dengan sekali tendangan. Setelah pintu terbuka, mereka berdua segera masuk untuk memastikan keadaan Putera.

Amira tak menemukan adiknya di ruang tamu. Lalu ia berlari ke kamar Putera. Betapa terkejutnya ia dan pamannya. Karena setelah pintu kamar terbuka, didapatinya Putera sedang tidur di atas kasur. Sedangkan tirai dan lampu masih menyala. Dan yang lebih membingungkan, ponsel Putera terletak di atas lantai dalam keadaan masih dicharge.

Kemudian Amira menggoyang-goyangkan tubuh Putera dengan keras sampai Putera terkejut dan bangun. Dalam keadaan setengah sadar, dilihatnya kakak perempuannya sedang menangis sambil memeluk tubuhnya. Melihat tingkah laku kakaknya yang tidak biasa, Putera segera melepas pelukan Amira.

“Kamu ga’ papa?” tiba-tiba Paman mereka bertanya.
“Saya tidak apa-apa, paman”. Jawab Putera dengan enteng.

Dengan nada tinggi, Amira menjelaskan lagi kejadian yang membuatnya sangat khawatir serta tak lupa ia menjewer kuping adik laki-lakinya itu.
“Aww…” Putera kesakitan. “Masa sih, Kak?”.
Amira memperlihatkan log panggilan dari Putera. Laki-laki itu geleng-geleng kepala merasa kebingungan sekali. Ia lalu berjalan untuk mengambil ponselnya yang sudah ia charge dari malam tadi.
“Ga’ ada panggilan masuk tuh” Putera menunjukkan ponselnya yang memang tidak ada riwayat panggilan masuk.
Amira terdiam untuk kesekian kalinya. Pamannya juga masih berusaha mencerna kejadian itu. “Oh iya. Tadi saya bermimpi sedang berkelahi dengan orang yang tidak dikenal. Laki-laki, seumuran saya mungkin”.

Tiba-tiba bulu kuduk Amira merinding. Pamannya juga merasakan hal yang sama. Sedangkan Putera masih berdiri terpaku sambil menatap mereka berdua dengan bingung. Suasana hening, hanya terdengar bunyi jam dinding yang terus berdetak tanpa mempedulikan kepanikan mereka bertiga. Atau lebih dari tiga.

Cerpen Karangan: Aziz Hussein
Facebook: aziz_hussein49[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Calling merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Ayunan Tua

Oleh:
Di sebelah rumah Tiara, terdapat sebuah taman yang indah. Banyak orang yang berkunjung ke sana dan memakai semua sarana permainannya, kecuali sebuah ayunan tua yang sudah mau putus di

Beling

Oleh:
Jono masih setia berbasah-basah di sungai kecil itu. Sambil sesekali mengaduh karena anak duri di pinggir kali yang menusuk lengannya. Kedua lengannya yang kekar berisi nampak bergerak-gerak dalam air.

Harta Berharga Ayah

Oleh:
Seyum manis itu telah menghiasi wajahnya. Untuk terakhir kalinya, aku melihat seyuman itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat mengatakan sesuatu “Ayah akan mewariskan sesuatu yang berharga untukmu. Pergilah

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

The Shadow

Oleh:
Tetes air ke sepuluh. Aku melenguh. Menepi dari guyuran hujan. Hujan di bulan November ini membuatku cukup menggigil dan sial aku lupa membawa mantel. Tak ada pilihan lain selain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *