Death Are Pending

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 14 February 2015

Aku Tachibana Myuura. Aku dilahirkan oleh keluarga yang terpandang di Indonesia. Sebenarnya, aku dan keluargaku asli orang Jepang. Tetapi, karena alasan pekerjaan, ayah memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Ada satu alasan lagi, yaitu karena di Jepang, ayah memiliki musuh yang cukup hebat. Dia bahkan pernah membuat perusahaan ayahku bangkrut. Untunglah ada sahabat ayahku, Mr. Mikoto, yang kemudian membantu ayah mendirikan perusahaan yang baru.

Di umurku yang sebentar lagi beranjak 16 tahun, aku ingin membuat diriku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tapi masalahnya, aku sama sekali tidak mengerti apa itu cinta. Mungkin ini terdengar konyol untuk kalian yang sudah mengerti cinta. Asal kalian tahu, aku ingin merasakan jatuh cintaku yang benar-benar berasal dari lubuk hatiku, bukan dari penampilannya. Namun, mengerti cinta pun aku tidak tahu. Jadi, bagaimana aku bisa merasakan cinta yang sebenarnya?

Malam hari yang indah. Aku melihat beberapa bintang di atas langit. Aku juga melihat bulan sabit tersenyum yang bersinar dengan terang. Sungguh indah malam ini. Bahkan, saking terpesonanya, aku sampai lupa bahwa waktu sudah larut malam.

“Miu, kau belum tidur?” sahut seseorang dari arah belakang. Suara derak kakinya dapat kupastikan, dia menghampiriku.
“Okaasan (Ibu)?”
“Tidurlah, ini sudah larut malam,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.
“Ya,” jawabku, lalu aku pergi beranjak menuju kamar.
“Oyasuminasai (Selamat malam),” bisik Okaasan lembut, lalu mengecup dahiku.

Esoknya, aku pergi ke sebuah toko buku. Rencananya aku ingin membeli buku novel yang menceritakan tentang kisah cinta pertama. Tapi…
“Astaga, aku lupa membawa uang!” seruku ketika akan membayar.
“Anda ini bagaimana, sih. Masa’ lupa membawa uang,” ujar salah seorang petugas kasir dengan tampak yang sedikit tersenyum. Wajahku seketika memerah dan tidak mampu berkata-kata. Aku malu sekali!
“Ini, kau pakai uangku dulu saja!” sahut seorang lelaki yang sebaya denganku seraya menyodorkan uang kepadaku.
“Eh, anu… tapi…,” aku bingung harus menerimanya atau tidak.
“Sudah terima saja,” ucapnya dengan lembut sambil tersenyum. Senyumannya benar-benar tidak dapat kulukiskan. Aku pun jadi tidak bisa menolak setelah melihat senyumannya. Tunggu, jantungku kenapa berdebar-debar?
“A… arigatoo (terima kasih),” aku sedikit ragu-ragu menerima uangnya, sehingga aku berbicara dengan sedikit terbata.
“Arigatoo?” katanya tak mengerti maksudku.
“Ah, maaf, kamu tak mengerti, ya! Arigatoo itu dalam bahasa Jepang berarti terima kasih,” jawabku setengah berteriak.
“Oh, begitu. Aku Axle, kamu siapa?”
“Aku Miu. Salam kenal!” ucapku, yang kemudian membungkukkan badan.
“Ah, iya, aku sedang ada urusan. Sampai jumpa!” sahutnya sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Ah, tunggu!” seruku. Tapi terlambat, Axle telah menghilang dari pandanganku. Cepat sekali, pikirku.
Aku menatap ke arah uang yang kugenggam dengan erat. Bagaimana caranya mengganti uang ini? Kataku dalam hati.
“Hei, dengar-dengar, katanya jika kita tidak percaya pada Death Are Pending. Kita akan didatangi si misterius Hell Boy. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, yang menjadi Hell Boy adalah orang yang kita sukai!” ujar salah seseorang pada temannya, yang berada di sampingku.
Oh, rumor Death Are Pending, ya? Aku, sih, tidak akan pernah percaya dengan rumor seperti itu, pikirku dalam hati.

Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja aku bertemu dengan musuh lamaku. Namanya Myahara. Dia adalah anak dari Mr. Harashi, musuh ayahku. Dulu aku sempat berteman dengannya. Bahkan, bukan sebagai teman, melainkan sahabat.
“Miu,” ucapnya. Aku tidak mengacuhkannya, dan terus berjalan. Jika kami sampai bertengkar kembali, keluargaku dengannya akan semakin bertentangan.
“Miu tunggu!” serunya. Aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke arahnya.
“Ada perlu apa, Mia-san (nona Mia),” kataku dengan senyuman yang sinis.
“Ja… jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu!” bentaknya merasa tak terima. “Kh… sudahlah. Jangan dipikirkan,” tambahnya menenangkan diri sendiri.
“Cepatlah bicara, aku sedang buru-buru. Lagipula, kenapa kau datang ke Indonesia? Oh, aku tahu, pasti kau dan keluargamu akan menghancurkan perusahaan ayahku lagi. Jangan berharap untuk kedua kalinya!” jawabku sedikit emosi.
“Bu… bukan begitu…”
“Lalu apa?!” aku semakin emosi ketika melihat wajah sedihnya.
“Emm… aku pergi ke Indonesia, karena aku ingin minta maaf padamu!” ujarnya sambil menundukkan kepala.
“Apa?” desisku. Aku tak percaya, dia meminta maaf padaku? Tapi, mungkin saja ini akal-akalannya dengan kembali menjadi sahabatku, diam-diam dia menghancurkan perusahaan ayahku lagi. Aku tidak boleh tertipu!
“Aku sadar, ternyata aku sudah sangat berlebihan padamu. Aku sadar, jalan yang kupilih selama ini hanya akan membuatku terpuruk ke dalam kesedihan,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca, seperti ingin menangis. “Jadi, kumohon maafkan aku.”
“Untuk apa aku memaafkanmu. Dasar bodoh!” kataku dengan kesal. Lalu, pergi meninggalkannya. Berkali-kali dia memanggilku, tapi aku mengacuhkannya. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya.

“Miu!” panggil seseorang. Rasanya, aku seperti pernah mendengar suara ini.
“Axle?” kataku tidak percaya, setelah menoleh ke arahnya.
“Kau ingin pulang, ya? Bareng, yuk!” sahut Axle yang tersenyum kepadaku. Lagi-lagi, jantung berdebar melihat senyumannya. Apa jangan-jangan, ini yang dimaksud jatuh cinta?
“Ng…,” aku agak malu melihat ke arahnya. Aku malu menunjukkan wajah memerahku.
“Sudah, ayo!” ujarnya yang kemudian menggenggam tanganku. Jantungku rasanya seperti ingin meledak. Tapi aku senang, karena dapat berada di samping laki-laki ini.
“Lho, Miu?” tanya seseorang. Aku menatap orang itu, ternyata dia adalah sahabatku, Clara. “Kamu sudah punya pacar?” tambahnya yang semakin membuat wajahku memerah.
“Eh, tidak! Kami hanya baru berteman!” kataku, lalu melepaskan genggaman tangan Axle. Clara menatap sinis ke arahku.
“Benarkah?” kata Clara. “Oh, ya, hari ini aku mengikuti les. Selamat bersenang-senang!” lanjutnya dengan wajah yang berubah 180 derajat.
Aku merasa sedikit lega, setelah Clara pergi. Kalau dipikir-pikir, biasanya ketika aku berada di samping laki-laki. Aku tidak pernah semalu ini. Apa benar ini artinya aku jatuh cinta?
Ctek! Suara jari jempol dan tengah yang bergesekkan, dari arah Axle.
“Eh, Axle, ada apa? Kenapa kau…?”
“Tidak ada apa-apa, kok!” jawabnya yang menyela pembicaraanku. Dia tersenyum. Tapi, aku merasa sedikit bingung, karena senyumannya yang satu ini terlihat tidak tulus.
Ckiiittt… Brak! Suara itu tampaknya suara mobil yang menabrak seseorang. Tanpa ragu, semua orang, termasuk aku dan Axle, berbondong-bondong menghampiri sumber suara. Betapa terkejutnya aku, setelah melihat orang yang ditabrak mobil itu.
“Tidak mungkin… Clara?” ucap dengan air mata yang mulai membasahi pipiku. Padahal, tadi aku bicara dengannya. Dan sekarang, aku harus kehilangannya?
“Tidak, Clara!” teriakku sambil memeluk mayat sahabatku, Clara.

“Miu?” sahut okaasan padaku yang tengah duduk termenung di kasur. Aku hanya diam, tak percaya harus kehilangan sahabatku secepat ini. Aku sendiri bingung, karena kejadiannya begitu cepat. Aku bahkan, tidak tahu harus bertindak seperti apa.
“Miu, okaasan mengerti perasaanmu. Tapi, bisakah kau lupakan yang lalu dan sambutlah yang baru,” nasihat okaasan yang terdengar sangat tulus. Sejujurnya, aku ingin melakukannya. Tapi, aku masih tak terima dengan yang terjadi hari ini.
“Tidak bisa. Aku… aku… tidak bisa…!” aku menangis, okaasan memelukku. Aku serasa lebih tenang ketika di peluk oleh okaasan. Tangannya yang halus, mengelus-elus rambutku.
“Kau pasti bisa, Miu,” ucap okaasan dengan lembut. “Oh, ya, apa kau tahu apa itu Death Are Pending?” lanjut okaasan bertanya.
“Ya, aku tahu. Death Are Pending adalah rumor yang konyol,” jawabku melepas pelukan okaasan.
“Begitu, ya? Apa pun yang kau katakan, okaasan akan selalu percaya padamu,” ujar okaasan sambil tersenyum padaku. Aneh, aku merasakan firasat buruk setelah mendengar okaasan berbicara seperti itu.

Beberapa hari kemudian. Tersiar kabar yang mengejutkanku. Okaasan dan ottosan (ayah) meninggal dunia akibat terjatuh dari lantai 7 di kantor tempat okaasan dan ottosan bekerja. Dan setelah itu, Axle-lah yang selama ini menghiburku.

Harus kehilangan orang yang disanyangi memang sangat menyakitkan. Dan ini… tidak bisa dibiarkan! Aku harus mencari tahu penyabab dari semua ini!

Aku berjalan melewati zebra cross. Tanpa diduga, tiba-tiba sebuah mobil menghampiriku dengan kecepatan tinggi. Kakiku bergetar, aku tidak bisa bergerak!
“Miu, awas!”
Bruk!
Ketika aku membuka mata, ternyata aku masih hidup. Tapi, siapa yang telah menolongku? Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada sesosok lelaki yang tengah berdiri di hadapanku.
“Axle?”
“Kamu tidak apa-apa, Miu?” ujarnya, lalu dia membantuku berdiri.
“Axle, terima ka…,” belum sempat aku selesai bericara. Tiba-tiba, Axle memelukku. Aku terkejut dan mukaku memerah seketika.
“Eh, Axle? A… apa?” kataku terbata saking malunya.
“Miu, aku tahu ini egois. Tapi, aku mencintaimu,” ucap Axle. Aku senang dengan kata-katanya barusan. Tapi, aku bingung harus jawab apa.
“Aku mencintaimu, oleh karenanya, aku tidak mau melihatmu menderita ataupun terluka,” tambah Axle. Lagi-lagi, jantungku berdebar kencang. Aku senang, senang sekali. Sekarang, aku jadi mengerti apa itu cinta.
“Aku juga, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu,” jawabku tanpa ada rasa ragu, karena aku yakin, cinta yang saat ini kumiliki, berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Kulihat, seseorang keluar dari pintu mobil yang hampir menambrakku. Hatiku serasa terbelah menjadi dua, setelah menyadari siapa orang itu. Apakah, dia yang selama ini membuatku menderita. Hingga telah membunuh orang-orang kusanyangi. Dia… jangan-jangan dia ingin balas dendam?! Tidak, jangan sampai target selanjutnya adalah Axle!
“Mia?! Tak kusangka, jadi kau penyebab semua ini!” teriakku membuat semua orang yang ada di sekitarku menoleh ke arah kami bertiga.
“Eh, apa maksudmu, Miu?” tanya Mia seolah-olah merasa dirinya tidak bersalah.
“Jangan sok tidak tahu menahu! Lebih baik mengaku, daripada kau menyesal nantinya!” ujarku dengan nada yang tinggi. “Kau, kan, yang telah membunuh Clara, okaasan dan ottosan. Bahkan, kau hampir membunuhku!” lanjutku dengan nada yang semakin meninggi.
“Ti… tidak. Aku bahkan, tidak tahu apa-apa,” jawabnya melemas. Aku benar-benar tidak menyangka, dia masih saja tidak mau mengakuinya juga. Lihat saja nanti, kebenaran akan terungkap dan perusahaan keluargamu akan bangkrut!
“Miu, apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Axle yang sedari tadi hanya diam.
“Akan kujelaskan nanti. Ayo, kita pergi, Axle!” perintahku, lalu aku menarik tangan Axle dengan sedikit kasar.

Seminggu berlalu, aku berhasil menjebloskan keluarga Mia ke dalam mimpi buruk. Perusahaannya bangkrut, dan Mia dinyatakan bersalah atas tudinganku yang mengatakan dia ingin mencelakaiku. Tapi, karena Mia masih berumur di bawah 17 tahun, ayahnya-lah yang harus menggantikan Mia dipenjara.

Aku sekarang merasa puas. Aku puas karena bisa membalaskan apa yang telah kurasakan selama ini. Melihat orang yang sudah membuatku menderita menjadi menderita, itu sudah cukup. Mulai saat ini, siapa pun tidak akan ada yang bisa menandingiku dan keluargaku!

“Miu, ada yang ingin kubicarakan,” pinta Axle.
“Ya?”
Di sebuah tempat, tepatnya di lantai atas gedung yang terakhir. Axle, kenapa dia mengajakku ke tempat seperti ini? Pikirku.
“Miu, kurasa ini sudah sangat keterlaluan. Sebaiknya kau maafkan saja dia,” ujar Axle memulai membuka pembicaraan.
“Apa? Itu tidak mungkin! Aku tidak bisa melakukannya, karena itu memang sudah sepantasnya untuk mereka!” bentakku.
Axle menyentuh kedua pipiku.
“Dengar, mereka tidak bersalah. Mereka sama sekali tidak terlibat dalam kasus pembunuhan sahabat dan orang tuamu!” ujar Axle menyakinkanku.
“Itu tidak mungkin. Jelas-jelas merekalah yang melakukan itu semua! Aku tahu, pasti mereka melakukan ini semua, agar dalam bisnis mereka, mereka tidak akan mendapat saingan!” jawabku tidak mau kalah.
“Miu, kau tahu apa itu Death Are Pending?” tanya Axle sambil menundukkan kepalanya dan masih menyentuh pipiku.
“Eh?”
“Selama ini, kau tidak mempercayai rumor tersebut, kan? Asal kau tahu, rumor Death Are Pending, benar adanya,” tambah Axle. Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.
“Death Are Pending adalah rumor yang mengatakan, jika kau tidak percaya pada rumor tersebut. Maka kau akan didatangi oleh si misterius Hell Boy. Hell Boy diperintahkan untuk membunuh orang yang tidak percaya pada rumor itu. Hanya saja, tertunda. Yang lebih dulu dihabisinya, adalah orang-orang yang disanyangi orang tersebut. Dan yang lebih mengejutkan, yang menjadi Hell Boy, adalah orang yang disukai,” jelas Axle panjang lebar. Aku terkejut setelah mendengar penjelasan dari Axle. Orang yang disukai? Berarti…?
“Hell Boy, bunuh dia!” perintah seorang laki-laki yang tidak aku kenali, yang tiba-tiba saja muncul di belakang Axle.
Axle tampak mengambil pisau saku dari dalam kantung celananya. Dia menggenggam pisau tersebut dengan tangan yang bergemetar.
“Axle…?” ucapku tak percaya. Jadi, selama ini, Axle-lah yang telah membutuh Clara, okaasan, dan ottosan?!
Aku tidak mampu berbicara dan bergerak. Sekujur tubuhku serasa kaku. Aku menyesal sekaligus merasa bersalah pada Mia. Ternyata dia, benar-benar tulus ingin menjadi sahabatku lagi.
“Miu, maafkan aku, karena aku telah membunuh ketiga orang yang kau sanyangi. Jika aku tidak melakukan itu semua, maka taruhannya adalah seluruh keluargaku. Aku menyesal, Miu. Aku menyesal!” kata Axle menyesali semua perbuatannya. Dia menangis tersedu-sedu, membuatku ikut mengeluarkan air mata.
“Cepat lakukan, Hell Boy!” perintah sosok laki-laki itu lagi.
“Ti… tidak bisa. Aku tidak bisa, membunuh orang yang kucintai!” bentak Axle yang tangisannya terdengar lebih keras.
“Dasar bodoh. Berikan pisaunya padaku!” pinta laki-laki itu, lalu mengambil paksa pisau yang digenggam Axle. “Selamat tinggal, Tachibana Myuura!”
“Miu!!”
Crash! Apa? Tidak sakit. Apa aku sudah mati? Apa…?
Aku terkejut, setelah kubuka mataku lebar-lebar. Ternyata, Axle menolongku dengan cara membiarkan tubuhnya yang tertusuk pisau.
“Ti… tidak, Axle?!” ucapku terbata.
“Miu, aku akan selalu mencintaimu. Sekarang, selamatkan-lah dirimu. Larilah!” perintah Axle sambil terus menahan lelaki itu. Padahal, nyawanya sedang sekarat. Tapi…
Drap! Aku berlari menuju tangga. Maafkan aku Axle, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu!
“Tidak akan kubiarkan kau lolos!” ancam laki-laki itu. Aku terus berlari, berlari, dan berlari tanpa henti. Tanpa kusadari, ternyata laki-laki itu sudah berada di hadapanku. Laki-laki itu bersama dengan… Mia?!
“Ukh…,” keluh Mia, karena saat ini dia dicekik oleh laki-laki misterius tersebut.
“Sekarang kau pilih. Nyawamu, atau nyawa sahabatmu?” tanya laki-laki itu.
“Miu, biarkan saja aku. Ambil jimat ini!” perintah Mia seraya melemparkan sebuah kalung berwarna coklat. Tapi, karena aku tidak bersiap-siap, kalung itu terjatuh ke lantai.
“Ji… mat?” ucapku sedikit bingung.
“Ya, jimat itu pemberian dari nenekku. Ambil dan pakailah jimat itu, dengan begitu, kau akan terbebas dari roh terkutuk ini! Tapi, jika kau melepaskannya. Dia akan datang kembali padamu!” jelas Mia.
“Hhh… kalau kau mengambil kalung itu. Berarti kau telah memilih nyawamu!” ucap laki-laki itu, yang membuatku semakin bingung harus pilih yang mana.
“Cepat ambil!” perintah Mia dengan nada yang keras.
Tiba-tiba, aku merasa tanganku bergerak dengan sendirinya. Aku mengambil jimat itu, lalu memakainya. Detik yang sama, Mia akhirnya mati dibunuh oleh laki-laki itu. Lalu, laki-laki itu menghilang entah kemana.
Selama aku memakai jimat ini. Dia tidak akan pernah datang lagi. Axle, Mia, terima kasih. Berkat kalian, aku selamat dari roh terkutuk rumor Death Are Pending itu. Aku tak akan pernah melupakan jasa kalian.
Arigato gozaimasu (terima kasih banyak).

Cerpen Karangan: Aulah Fitriyah
Blog: aulatte.blogspot.com
Facebook: Aulah Fitriyah

Cerpen Death Are Pending merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Noir dan Taman Anggrek

Oleh:
Banyak siswa dari luar kota yang memutuskan untuk bersekolah di Jakarta, Ibu kota Indonesia. Edward termasuk salah satunya. Edward berpenampilan seperti mahasiswa biasa yang berkacamata tebal. Ia berasal dari

Dia Hidup Di Hidup Ku (Part 2)

Oleh:
Pukul 10.00 Kejadian malam itu semakin panas dibicarakan oleh warga sekitar hingga ke luar desa. Beritanya pun sudah merebak hingga termuat di media cetak dengan judul, “Kematian Misterius, Gadis

Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

Kucing dan Beruang

Oleh:
Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit

Gelap

Oleh:
Setiap malam aku selalu melihatnya berdiri di depan pintu kamarku. Terlihat bayangannya dari celah bawah pintu. Hanya diam, dia tidak melakukan apapun. Ku rasa dia sedang memperhatikanku dari lubang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Death Are Pending”

  1. Kozuka Akazawa says:

    Sugoii,..
    Ano ..Demo, ‘Rumor Death Are Pending’ itu.. nyata? atau hanya fiksi/khayalan yg dibuat oleh sang pengarang?

    Please Answer!
    Arigatou Gozaimasu..

  2. Raisa says:

    Nice story…. Terus berkarya ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *