Deathless (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Bunyi sirene ambulans baru saja melintas terdengar sahut-menyahut. Suaranya seolah mendengung dalam telinga, terekam menjadi sel-sel anyar dalam kepala Kazuya, sambil mengatur napas yang keluar-masuk, matanya mengerjap beberapa saat. Ia bersumpah satu dua detik lalu sendi-sendi di balik kulitnya membeku. Tungkai standar sepeda telah diturunkan menyentuh tanah. Sambil meremas erat setir sepeda gunung yang masih setengah ditunggangi, pandangannya kian berkunang. Sisa getaran di tubuhnya masih kentara meski yakin karena bukan kilasan-kilasan mengerikan tadi. Kazuya memijat kecil ujung hidungnya. Menggeram tanpa suara. Selalu. Meski diulang ribuan kali pun, tetap saja ia selalu kalah.

Seorang bocah ingusan yang berjarak tak jauh darinya tengah lompat-lompat kecil -usia antara 5-6 tahun, seolah tak peduli tanah pijaknya tiba-tiba merekah lalu melahapnya bulat-bulat. Meski pernah rasakan lepuh dari panasnya timah bagai laut neraka. Ada pula ketika mulut mungilnya jeritkan pesakitan yang amat teramat dalam hingga dengih mengerikan lepas dari kerongkongannya karena badan truk tronton jengkal demi jengkal menggilas keluguannya di atas aspal panas sampai napasnya lepas. Dan tentu saja eksistensinya hanya sisa arsip koran lokal dengan potret daging cincang tersensor sebagai cover-nya.

Sungguh ia tak peduli pada sesuatu yang tak dapat menyakitinya. Meski ujung kerongkongannya terasa mengganjal, meski meneguk ludah agar hilang rasa itu, tapi tetap saja rasa sialan itu tak enggan lenyap. Ya, ia ingin sekali tak peduli tentang kematian-kematian itu. Tentang anak lelaki yang berdiri dari tempatnya menatap. Tentang bocah yang bukan anak laki-laki biasa. Begitu unik garis kematiannya. Kazuya menghempaskan napas. Amat jauh dari nalar manusia.

Kazuya sadar dan sudah bilang sampai mulutnya berbusa -pada diri sendiri. Hal ini tidak akan terjadi lagi. Namun hasrat picik menyeretnya bagai penguntit psiko yang mengincar mainan favorit, ia merasa jijik dan terbelenggu. Seolah tak punya pekerjaan selain mengurusi laku orang lain. Seolah pesona maut anak itu adalah kepingan teka-teki yang selama ini dicarinya. Dalam hati ia berharap. Meski tahu harapan semata, namun bisakah lelap di malam hari setelah menguak rentetan takdir kacau bocah berambut hitam itu? Kembali dalam benak kelamnya pertanyaan cengeng itu bertunas. “Bagaimana bisa dia masih hidup?”

Pandangannya mengarah ke ujung pintu tempat bocah itu baru masuki. Di sini? Rupanya ia juga penghuni kontrakan tua yang baru dihuninya satu bulan belakangan. Bangunan tingkat dua yang temboknya sudah dimakan usia, retak di sana-sini. Kazuya kerap berpindah tempat tinggal sebab satu alasan: bertahan hidup. Benar-benar bertahan hidup.

Salju turun untuk pertama kali di awal musim. Kota sudah dipenuhi hiasan dan pohon penyambut perayaan di sepanjang jalan. Kazuya meringkuk di dekat tangga bangunan yang setengah hancur. Jaket tebalnya makin didekap sambil merapatkan punggung ke tembok. Hari ini bocah itu akan menjemput maut berikutnya. Tapi, benaknya kembali bimbang. Memang belum jelas, tapi firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang membuatnya merasa mual.

Kazuya memasang ancang-ancang. Ia telah siap. Bola mata diputar ke segala arah. Ia tak mau tertangkap kalau-kalau musuh bebuyutannya muncul mendadak. Kulit di dalam sarung tangannya sudah terasa beku. Darah panas mengalir di wajah. Kembali benaknya mengadu. Atau… aku tak usah melakukan sejauh ini? Tapi, bisa jadi ini sebuah tanda. Ah, ia merasa dungu. Tepat, seperti perkiraan anak itu keluar dari kontrakan 15 menit sebelum firasat Kazuya terbukti benar. Dia tidak sendiri. Seorang wanita ber-syal merah di samping anak itu. Mereka tampak karib. Baru kali ini Kazuya melihatnya bercakap riang selama seminggu menjadi penguntitnya. Mereka bergerak. Kazuya mengendap-endap. Mengawasi dari sisi jalan.

Tiga menit lagi. Ia dapat melihat udara mulai berubah hitam, tepatnya menggulung di satu titik. Jalan utama. Di malam istimewa di kota Tokyo. Orang-orang berkumpul dari segala jenis kalangan. Ada yang berdiri menunggu lampu berubah hijau, siap menyeberang. Atau hanya sekedar lalu-lalang, pula menuju tujuan. Anak itu, Kazuya dan wanita itu adalah salah satu yang berdiri di belakang lampu yang kini menyala hijau, tanda aman. Kaki-kaki mulai beradu. Kota menjadi penuh ragam suara satu dengan lain. Kazuya berdentang sepuluh langkah dari bocah itu, agar tak lepas jarak pandangnya. Jalanan terasa lambat dan panjang.

Suara mesin bermotor beradu dari kejauhan. Kazuya mendongak, begitu pun kepala-kepala lain. Mereka tertegun. Salah satu menjerit keras. Mereka mulai kalap. Tak karuan menapak kesana-kemari berusaha menyelamatkan diri. Panik, laki-laki berkacamata tebal di depannya mendadak berputar, menghantamkan tubuhnya pada Kazuya, terhuyung, nyaris goyah tubuhnya. Anak itu tenggelam di antara massa. Kazuya melebarkan langkah cepat. Mengejar…

Boomm!!!

Suara benda keras berdentum. Truk besar berguling di atas aspal hingga menciptakan percikan api, lantas melindas tubuh-tubuh, bergelimpangan seketika tak bernyawa. Wanita di samping tubuh kaku seorang pemuda meraung pilu. Pandangan Kazuya menyisir kota yang kini penuh tangis dan jerit luka. Perutnya kembali mulas. Di mana bocah itu? Itu dia! Anak itu berdiri di bawah tabel besar di depan Resto Italia.

Belum sempat Kazuya bergerak. Sepeda motor melesat dengan kecepatan di atas normal di depannya. Ia terhempas mundur beberapa langkah. Mobil sport merah menyusul di belakang motor tadi, menukik tajam, menerjang tiang listrik, lantas lenyap meninggalkan asap putih tebal. Semua mata terpesona menyaksikan atraksi langkah yang hanya ada dalam adegan film atau khayalan mereka, tanpa sadar tiang listrik pelan-pelan hendak mencium tanah yang di atasnya penuh dengan tubuh manusia. Entah seolah ada yang tak setuju posisi tiang listrik itu landas, tiba-tiba besi panjang itu berkelok 90 derajat jatuh di atas tabel besar, dua-duanya saling hantam lalu ambruk ke tanah dan atap Resto dengan ledakan besar. Api menari-nari di malam yang kini terang benderang. Asap hitam menggulung ke langit. Maut telah menimpa tubuh mungil bocah itu.

Ambulans, tim penyelamat, polisi dan pemadam kebakaran telah sampai. Kota penuh dengan bunyi bising sirene mereka. Kazuya berdiri di belakang garis kuning polisi. Reruntuhan tabel besar dan bangunan resto yang menimpa tubuh bocah itu telah diangkat mobil pengangkut. Dari kejauhan ia dapat melihat jelas satu-satunya mayat yang diangkut tandu petugas medis. Ada yang aneh. Biasanya di sekitar tubuh korban Kazuya selalu melihat sosok hitam misterius. Tapi sampai menuju mobil ambulans ia tak menemukan sosok itu. Dan yang lebih membuat bola matanya hampir lepas adalah ketika penutup mayat sedikit tertiup angin, sebuah tangan melambai, rambut tergerai dan syal merah menjuntai terlihat jelas. Tidak mungkin! Tangan mayat itu lebih mirip tangan orang dewasa. Syal merah. Rambut panjang. Seorang wanita.

Langkah Kazuya terasa berat. Angin dingin menusuk-nusuk tubuhnya yang ringkih dan menggigil. Baru saja ia menyaksikan kejadian serupa, ribuan kali. Namun kenapa tubuhnya enggan menyesuaikan diri. Ia merasa kosong dan amat sangat lelah. Ia hanya ingin tidur dan melepas seluruh kenangan kacau itu. Setidaknya alam mimpi dapat menyelamatkannya dari realita yang begitu kejam. Entah sampai kapan ia harus mencari dan terus mencari. Nasib bocah itu begitu mirip dengannya. Yang berbeda hanya Kazuya dapat melihat musuh mautnya dan menghindar. Bersembunyi. Lagi dan lagi. Namun sampai kapan? Sesaat sebelum masuk kontrakan, mata Kazuya menangkap sepasang kaki kecil dalam kegelapan meringkuk di pojokan dekat pintu masuk. Ia bergerak mendekat dan seketika matanya terbelalak. Bocah itu menatapnya ngeri.

“Kau!!” Kazuya mengatur napasnya. Ia harus tetap tenang.
“Kenapa kau di sini, eh…m-maksudku kau juga tinggal di sini, kan?” ia harus tetap tenang. Bersikap wajar.
Tak ada respon. Malah tubuh anak itu semakin tenggelam ke belakang. Bergetar. Ia tampak amat takut. Ingin sekali ia lepas dari orang asing di depannya. Tapi…

“Kau tak apa-apa?” Kazuya menurunkan tubuhnya, berjongkok, siap mengulurkan bantuan, pikirnya. Bicara apa kau?! Kedua alisnya berkerut. Ia tak biasa melakukan itu. Mata bocah itu berair dan berkedip satu kali. Lantas melingkarkan lengannya di lekuk kaki, seolah menjaganya dari ancaman luar.
“A-aku bukan orang jahat,” setidaknya aku tak akan menyakitimu, pikir Kazuya.
“Aku juga tinggal di sini.” Kalimatnya buntu. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia tak pandai bercakap. Sudah lama lepas dari sosial. Bahkan keluarganya pun tak tahu entah di mana.

“One-chaaan!” anak itu mendadak bangkit dan berlari ke belakang Kazuya. Refleks, Kazuya menoleh ke arahnya. Di sana. Dua insan sedang berpeluk erat. Seperti melepas rindu yang begitu menggunung. Menebar ciuman pengganti masa-masa yang hilang. Bocah itu menoleh pada Kazuya, bibir mungilnya terbuka lebar menampakkan gigi susu nan rapi, “Ini One-chan. Dia sudah pulang.” Mantel tebal wanita itu koyak di sana-sini. Kau putihnya hampir menjadi merah karena cairan kental merah yang menetes dari ujung jemarinya. Cairan yang menguarkan bau amis yang menyengat. Tatapan wanita itu seperti Rusa yang tertangkap Singa. Kazuya mengarahkan telunjuknya yang agak bergetar. Baru kali ini ia ragu sekaligus amat yakin.

“K-kau… kau tadi sudah mati!”

Bersambung

– One-chan: Kakak

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella

Cerpen Deathless (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Mengetik Tengah Malam

Oleh:
Angin kencang menyapu sebuah komplek warga perkebunan teh. Menambah dingin suhu yang memang sudah dingin. Seusai Magrib tak ada manusia yang mau menembus cuaca pegunungan. Yang bisa membuat tulang

Salju Merah

Oleh:
Aku mengintip mereka dari balik jendela tua kamarku. Di bawah hujan salju mereka berbincang. Tampak raut ketegangan di wajah keriput mereka. Pak Ward tampak bersikeras dengan pendapatnya dan Papa

Sakura Harumi

Oleh:
Namaku Violetta, panggil saja Vio. Ada siswi baru yang pendiam di kelasku ini. Dia bernama Sakura Harumi. Sifat dingin, cuek dan misterius, tapi dia cantik, cerdas dan juga kaya.

Uniform

Oleh:
Seperti biasanya setiap sampai di sekolah semua mata tertuju padaku. Apa lagi hal yang lebih menarik dibanding seragam sekolahku yang penuh dengan jahitan. Mereka penasaran di bagian mana lagi

Arti Sahabat

Oleh:
Dinginnya malam yang terasa tertusuk di kulitku. Dalam sepi renungan hati, ku terdiam sejenak membayangkan hari esok yang tak tau langkah cerita hidup apa lagi yang ku buat, ah..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *