Detective Hollow Case 1: Murder in the Studio

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 23 July 2015

“Kyaaaaa!!!” Jeritan mengerikan itu terdengar dari ruang studio ke-6 di ujung koridor lantai 6 dari THELE Studio. Orang-orang mulai berdatangan. Pemandangan yang sangat mengerikan… Seorang aktor muda yang tengah naik daun tergeletak berlumuran darah di sudut ruangan studio tersebut, dengan pisau yang sama sekali tidak terkena noda darah di lantai. Seorang gadis SMA menerobos orang-orang dan memeriksa. Ya, gadis itu detective. Nama belakangnya Hollow dan nama depannya tidak diketahui oleh siapapun.

“… Terlambat…” Kata detektif Hollow. “Minggir! Minggir!” Seru seorang gadis kecil dan menerobos. “Kakak… Kakak…” Tangis gadis kecil tersebut. Ada yang aneh dengan gadis kecil tersebut. Ia mengenakan celana kedodoran tapi tidak memakai ikat pinggang. Bajunya juga seperti habis dirobek. “Ini kakakmu?” Tanya detektif Hollow. Gadis kecil itu mengangguk. “Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” Tanya detektif Hollow. “Tadi, baru tadi saat ia mau syuting,” kata gadis itu sambil terisak. “Namamu siapa dek?” Tanya Hollow. “Alice.” “Baiklah Alice, dimana ibumu?” “Di rumah,” “Ayahmu?” “Juga di rumah,” “Lalu kamu kesini sama siapa?” “Kakak dan kakakku yang paling besar, Ecila,” jawab Alice. ‘Nama yang aneh,’ pikir Hollow. “Dimana Ecila?” Tanya Hollow. “Aku Ecila,” kata seorang remaja sambil masuk ke ruangan itu. “Ini adikmu, bukan begitu?” Tanya Hollow. “Y-ya… Na-na-namanya Ceila. A-apa dia ma-masih bisa selamat?” Tanya Ecila. “Sayang sekali tidak. Kapan terakhir kau bertemu dengannya, Ceila?” Tanya Hollow, sementara semua orang ribut mengelilingi. “Saat selesai syuting terakhirnya. Lalu dia pamit mau bertemu temannya,” kata Ecila. Hollow mulai menangkap sesuatu. Di belakang Ceila, terdapat sebuah obat-obatan terlarang yang sudah terbuka dan tinggal setengah. Hollow mengambilnya. “Jadi… Siapa nama teman Ceila? Apa kau tahu?” Tanya Hollow sambil terus memeriksa obat-obatan tersebut. “Y-ya, namanya Jane. Dia anak yang baik,” jawab Ecila. Hollow berpikir dan berpikir. “Baiklah semuanya. Bubar. Tidak ada yang mendatangi ruangan ini hingga kasus ini selesai. Panggil polisi,” kata Hollow akhirnya.

Semua mulai bubar dengan ribut. Ecila dan Alice juga ikut, meski sudah protes sebelumnya.

Polisi datang. Hollow menyerahkan obat-obatan terlarang kepada polisi untuk dilihat sidik jarinya. Ketika dilihat, terdapat banyak sidik jari, dengan berbagai pola pula, seakan obat-obatan tersebut telah berpindah tangan ratusan kali sebelumnya. Sidik jari itu juga tidak dapat diselidiki milik siapa, karena tidak terdeteksi. Hollow mulai curiga. Satu sidik jari berhasil diselidiki. Sidik jari itu milik Jane, teman Ceila. Berdasarkan keterangan yang dimiliki polisi, Jane pernah masuk penjara karena tertuduh menggunakan salah satu obat-obatan terlarang. Tetapi setelah masuk penjara, Jane seakan bertobat dan tidak lagi menggunakan obat-obatan tersebut. Polisi mulai yakin bahwa Jane adalah tersangka yang membunuh Ceila. Hollow sendiri tidak begitu yakin, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menyelidiki Jane.

Setelah mendapat alamat Jane dari polisi, Hollow berangkat ke alamat tersebut. Pintu rumah Jane tidak terkunci. Hollow masuk dengan waspada. Lantai kayu rumah Jane sangat berdebu seakan tidak pernah dibersihkan dan berdecit saat diinjak. Pertama, Hollow memeriksa ruang tamu. Rumah itu sangat gelap. Tidak ada apa-apa di ruang tamu kecuali vas bunga yang sudah tebal debunya. Hollow melanjutkan penyelidikan ke kamar Jane. Disana juga tidak ada apa-apa. Akhirnya Hollow menyelidiki toilet utama. Tidak ada apa-apa disana. Tapi kloset di toilet itu seakan tersumbat. Hollow membuku tempat air dan menemukan arsip-arsip kuno tentang orang-orang, salah satunya adalah… Ceila! Hollow memeriksa arsip-arsip lainnya. Semuanya blur dan nggak jelas. Tapi yang pasti… Arsip tentang Ceila juga termasuk. Hollow tidak berhenti disana saja. Ia memeriksa ruangan lainnya tapi tidak menemukan apapun. Akhirnya Hollow keluar. Di halaman Jane, Hollow melihat sebercah cahaya memantul dari semak-semak. Hollow memeriksa. Terdapat bingkai foto yang isinya foto Jane dan Ceila! Lalu di bawah terdapat alamat lain yang ditulis tangan.

Hollow memeriksa foto itu lagi. Ia merasa mengenal Jane di foto itu. Astaga! Itu… Itu kan teman masa kecilnya! Ia benar-benar sudah lupa! Lagipula nama depan teman masa kecilnya itu memang Jane, tapi Hollow biasa memanggilnya Clare karena itu nama belakangnya. Hollow segera ngebut ke tempat dimana Clare kemungkinan berada.

Tok tok tok… Terdengar ketukan di pintu. “Siapa ya?” Jane muncul! “Clare!” “Hollow? Halo. Apa kabar? Ayo masuk,” kata Jane. “Clare, aku mau ngomong. Kau kenal Ceila?” Tanya Hollow. “Ya. Kenapa?” Jawaban yang sudah diduga Hollow. “Sudah kuduga. Begini. Terjadi peristiwa pembunuhan di Studio THELE yang terjadi pada Ceila, artis yang sedang naik daun. Semua petunjuk tersangka mengarah ke kamu!” Kata Hollow. Jane terkejut. “Tapi bukan aku!!! Ceila itu sahabatku, Hollow!” Bantah Jane. “Aku tidak menuduhmu. Apa kau punya bayangan siapa yang mungkin menjadi tersangka?” Tanya Hollow. “Tidak… Eh, ada! Seorang laki-laki berbaju hitam, yang sering mendatanginya. Setiap kali berbincang-bincang dengan laki-laki itu, wajah Ceila berubah pucat seakan laki-laki itu sedang memberi ancaman padanya,” jelas Jane. “Hmm… Mencurigakan…” “Ya, aku tahu. Lalu sekarang bagaimana?” “Aku pergi ke kantor polisi lagi. Ok, bye Clare,” “Bye,”

“Bukan! Itu bukan Jane. Sudah terbukti bukan. Jane adalah teman masa kecilku dan dia adalah sahabat Ceila. Tidak mungkin dia,” Hollow mati-matian membela Jane di depan polisi. Polisi itu hanya mengangguk. “Lalu siapa?” Tanya inspektor Parker yang dari tadi berdiri sambil berpikir, dan yang merupakan rekan Hollow. Hollow mulai menceritakan apa yang diceritakan Jane padanya tentang laki-laki aneh yang sering mendatangi Ceila. “Laki-laki berbaju hitam? Maksudmu orang ini?” Tanya Inspektor Parker sambil menunjukkan foto narapidana yang kabur dari penjara 1 minggu yang lalu. “Mungkin…” Gumam Hollow ragu. “Kalau memang orang ini, ada kemungkinan dia yang melakukannya. Tapi apa latar belakang dari semua ini?” “Aku tidak tahu,” “Detektif Hollow, segera selidikilah segera, kami berharap padamu,” kata kepala kepolisian sambil menyerahkan dokumen-dokumen tentang laki-laki aneh tersebut. “Terima kasih,” “Aku akan menyelidiki narapidana ini,” kata Inspektor Parker. “Ok,”

Sore itu, Hollow pulang melintasi gang-gang sepi, berusaha mendapatkan informasi lebih lanjut. Lewat gang dekat rumah Alice, Elica, dan Ceila, terdapat sebuah sarung yang setengah gosong, seakan setengah dibakar. Hollow membuka sarung tersebut. Di dalamnya, terdapat surat-surat aneh yang sudah tinggal beberapa bagian. Hollow lalu memutuskan untuk membawa pulang sarung itu.

Setibanya di rumah, Hollow langsung membaca satu per satu surat itu. Salah satu dari surat itu hanya menyisakan sedikit sekali bagian yang tersisa:

Lebih baik kita me
Dengan itu kita akan da
Keuntungan dan bos kit
Senang dengan has

(E)

Hollow menebak-nebak. Yang pasti, orang yang mengirim surat itu berkelompok dan ‘mereka’ lah yang membunuh Celia, sudah jelas. Tapi siapa orang yang berinisial E? Itu masih tanda tanya besar. Ngomong-ngomong, Hollow curiga dengan Elica. Lagian inisial nama depannya E. Lalu… Mungkinkah dia yang membunuh adiknya sendiri!? Hollow lalu memutuskan untuk pergi ke rumah Celia.

Tok tok tok… Suara ketukan di pintu rumah Celia terdengar, tapi tidak ada yang membuka pintu. Hollow mencoba sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Hollow lalu mencoba untuk membuka pintu dan ya! Pintu tidak terkunci. Rumah Celia saat itu gelap total, kecuali untuk ruang makan. Hollow mendekati perlahan ruang makan itu. Hollow mengintip sedikit ke dalam dan ada Elica! Dan Alice! Mereka berdua duduk dengan seorang laki-laki berbadan besar dan beberapa laki-laki lainnya berbaju hitam.

“Jadi… Gadis itu sudah kamu bunuh?” Tanya si badan besar. Elica dan Alice mengangguk. “Kami sudah membunuhnya. Kami mengusahakan agar tidak ketahuan oleh siapapun. Detektif sok tahu itu, detektif Hollow sedang menyelidiki kasus ini,” jawab Elica. “Hati-hati dengan Hollow. Dia sudah berkali-kali menggagalkan rencanaku! Kalian harus menjebaknya!” Perintah si badan besar. Hollow agak kaget di bagian itu. “Baik, bos. Kami akan. Lalu… Menyinggung soal honor…” Kata-kata Elica dipotong oleh si badan besar. “Itu sudah kuurus. Kalian tinggal memastikan bahwa kasus ini ditutup,” kata si badan besar. “Baik, bos. Lagipula aku memang membenci Celia. Dia sok-sokan,” tambah Alice. Elica mengangguk. Hollow bergegas keluar. Dia tidak percaya! Celia dibunuh oleh saudaranya sendiri! Tidak mungkin… Tapi… Inilah kenyataan yang menyakitkan. Menyakitkan… Betapa sedihnya Celia saat tahu bahwa saudaranya sendiri membencinya… Malangnya Celia…

“Inspektor Parker. Kukira anda akan senang mendengar ini. Pembunuh Celia… Telah kutemukan… Dan… Ini benar-benar sulit dipercaya… Celia… Dibunuh oleh saudaranya sendiri…” Kata Hollow agak bergumam. Inspektor Parker sangat terkejut. “Tidak mungkin!” Kata Inspektor Parker. “Itu kenyataannya, Inspektor,” kata Hollow pelan. “Tapi tetap saja kita butuh bukti. Apa kau punya bukti, Detektif Hollow?” Tanya Inspektor Parker. Hollow terdiam lalu menggeleng. “Carilah bukti, detektif.” Kata Inspektor Parker lalu bangkit dari tempat duduknya. “Mungkin surat-surat ini bisa menjadi bukti,” kata Hollow sambil menyerahkan surat-surat temuannya kepada Inspektor Parker. “… Ini saja belum cukup. Apa lagi bukti yang kau punya?” Tanya Inspektor Parker. “Belum ada, Inspektor. Aku akan mencarinya segera,” kata Hollow. “Aku tunggu,”

Hollow berjalan pelan pulang sambil berpikir. Ia harus mendapat bukti lainnya. Tiba-tiba Hollow diserang dari belakang! Untung saja Hollow sempat mengelak. Ia segera mempergunakan ilmu bela dirinya. Tangan penyerang itu dipelintir ke belakang. Si penyerang mengerang. “Kau suruhan siapa?” Tanya Hollow tajam. “Aku tidak akan memberi tahu mu!” Kata penyerang itu sambil mengerang kesakitan. “Kalau tidak ingin tanganmu kupatahkan, jawab!” Kata Hollow sambil semakin keras memelintir tangan si penyerang. “Argh… Baiklah… Bos ku mengirimku untuk menyerangmu,” “Siapa bosmu?” “Itu… Tidak akan kuberitahu,” “Jawab!” “Agh! Calie! Calie!” “Calie? Siapa itu?” “Bosku!” “… Elica???” “I-iya… Tolong bebaskan aku…” “Baiklah…” Hollow lalu membebaskan penyerang itu dengan ancaman. “Jadi Elica menyuruh orang tadi untuk mencelakaiku? Aku harus mencari bukti secepatnya!” Guman Hollow kesal. Sebuah benda terlihat oleh Hollow jatuh di lantai. Sebuah surat penuh. Isinya: bunuh Hollow agar dia tidak bisa membongkar kasus ini, terutama agar dia tidak bisa memecahkan bahwa aku membunuh Celia. Calie (elica)
“Bukti yang kutunggu-tunggu…” Kata Hollow sambil tersenyum kecil.

Esoknya, Hollow berlari ke kantor Inspektor Parker. Inspektor Parker sendiri sudah memanggil Elica dan Alice kesana, beserta dengan pak hakim. Hollow tiba saat Elica baru akan protes. “Ini… Buktinya…” Kata Hollow agak ngos-ngosan. Inspektor Parker menerima surat itu. Wajah Elica dan Alice sangat pucat. Inspektor Parker membaca surat itu dan mengangguk kepada Hollow. “Kerja bagus. Elica dan Alice… Kalian dinyatakan bersalah!” Seru hakim keras. Elica dan Alice tidak berkutik. Mereka hanya tertunduk diam. “Kenapa… Kenapa kalian membunuh saudara kalian sendiri???” Tanya Hollow. “A-aku… Aku iri… Aku iri pada Celia. Dia banyak teman, dia baik, cantik, berbakat, dan dia adalah artis yang hebat. Aku iri…” Kata Elica. “…..” “A-aku juga iri karena kakak Celia sering dipuji orang dan aku terabai sendiri… Maaf…” Kata Alice sambil terisak.
“Hukuman kalian berdua adalah penjara selama 5 tahun, karena masih tergolong anak-anak,” kata hakim. Elica dan Alice mengangguk. Ternyata ikat pinggang Alice saat itu tidak dipakai karena telah digunakan untuk sebelumnya menyiksa Celia. Celia tetap diam. Tapi saat ditusuk, Celia tidak dapat menahannya, ia berteriak kesakitan. Celia tidak mau Elica dan Alice tertangkap karena ia sangat menyayangi saudaranya itu, jadi dia membersihkan semua sidik jari mereka di pisau itu, termasuk dengan darahnya. Lalu untuk obat-obatan terlarang itu adalah umpan yang digunakan Elica agar yang tersangka adalah Jane. Semuanya sudah terungkap. Hollow sedih, kenapa saudara harus saling iri hati dan saling membenci… Tapi… Dunia memang begitu… Semoga kalian rukun sebagai saudara… Begitulah doa Hollow. Case 1 closed…

Cerpen Karangan: Angeline Audrey

Cerpen Detective Hollow Case 1: Murder in the Studio merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suara Bisikan Iblis

Oleh:
-saat kau mendengar suara lain yang membuatmu penasaran, jangan ikuti, karena mungkin saja itu panggilan kematianmu- Ardianta memejamkan matanya mencoba fokus pada apa yang di dengarnya –jjau…jj- bunyi ponsel

The Dark Fire 2 (Nightmare Part 2)

Oleh:
“Kyaaa!” Sebuah tengkorak keluar dari sana. Tengkorak itu terjatuh seketika ke tanah. Aku hanya bergidik ngeri. Perlahan, aku mulai masuk ke dalam peti kuno itu. Setelah masuk, ku tutup

Suara Tengah Malam

Oleh:
Ayam berkokok, menandakan sang fajar telah terbit. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur untuk mandi, lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu Sabtu, 23 Desember

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Detective Hollow Case 1: Murder in the Studio”

  1. Fitri says:

    Cerpennya keren!!
    Oh iya,kakaknya Celia itu namanya Ecila atau Elica??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *