Detektif Numpang Lewat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2016

Di sebuah kota maju yang bernama kota Neuro, terdapat sebuah SMP favorit bernama SMP Pelita. Hari ini adalah hari pertama sekolah untuk siswa-siswi angkatan baru tahun ini. Di antara 200 siswa yang terpilih menjadi siswa di SMP Pelita, ada satu siswa yang tidak pernah menunjukan ekspresi ceria dan tidak pernah berbicara kecuali hanya saat ditanya. Namanya Tata Surya Wahyu Dharma atau biasa dipanggil Tatsuya. Karena dia sering menunduk dan menyendiri, banyak siswa-siswi yang menggosipinya.

Rupanya kehidupannya di rumah juga tidak terlalu menyenangkan. Sejak kecil, Tatsuya sering dilatih mentalnya oleh ayahnya, oleh ibunya juga sering ditekankan disiplin. Penting memang, tapi jika dilihat hasilnya, Tatsuya malah menjadi takut kepada orangtuanya. Bahkan, dia sampai tidak mau meminta apapun dari orangtuanya, hanya menerima pemberian, tidak meminta. Kepada Adiknya, Tatsuya sangat baik, walau terkadang jika permainan adiknya dirasa terlalu kekanak-kanakan, Tatsuya menolak bermain dengan adiknya. Suatu hari, pada suatu sore, Tatsuya sedang duduk santai di teras rumahnya. Dia berbicara sendiri.

“Hey, aneh tidak sih kalau hanya diam saja dan tidak bersosialisasi di kelas baru?… Haha, enggak lah… Tapi kalau tidak ikut perkembangan zaman, nanti dicap kudet sama teman-teman… Alah, biarkan saja perkataan orang, ingatlah! Satu-satunya orang yang bisa menilaimu dengan akurat adalah dirimu sendiri… Benar juga, tapi bagaimana dengan teman? Nggak asik kalo nggak ada teman kan?… Sekarang kan banyak orang yang suka manfaatin orang, bantu-bantu aja kalau dibutuhim dan kalau mampu… Ya sudahlah, terima kasih, Aibou”.

Begitulah Tatsuya, dia selalu merasa memiliki dua jiwa dalam satu tubuh, diri lainnya diberi nama Aibou. Tiba-tiba, datang ayahnya Tatsuya. Beliau menyapa Tatsuya dan itu membuatnya terkejut. Setelah menggoda putra sulungnya itu, Beliau menyuruh Tatsuya untuk menyemir sepatunya untuk dipakai besok Selasa. Tatsuya menurut. Dasarnya dia pendiam, jadi Tatsuya menyemir sepatunya di sebelah ayahnya tanpa mengucapkan apa pun. Dalam hening, ayahnya Tatsuya membuka percakapan.

“Hey, Masih suka bicara sendiri aja kamu?.” Tanya Ayah.
“Iya, tidak masalah kan?.” Balas Tatsuya singkat.
“Yaa, bukan begitu, hanya saja terlihat aneh.” Kata Ayah.
“Untuk orang yang tidak tahu memang aneh, tapi untuk orang yang merasakan itu biasa saja.” Balas Tatsuya datar.
“Hahaha.., jujur saja, ayah rindu sekali dengan dirimu yang dulu. Dulu, ketika masih tk, kau sering sekali mengoceh tentang Scooby Doo, pahlawan berkostum warna-warni, apa namanya?.. Timeranger, Gekiranger, ranger-ranger itulah.. Lalu ketika mulai besar, kelas 3 SD, kau sering mengoceh tentang hal yang berhubungan dengan detektif seperti kasus lah, pembunuhan lah, sampai-sampai ayah ngeri mendengarnya dan menyuruhmu berhenti menonton serial detektif Canon, apa tuh yang ada siswa SMA yang jadi kecil.” Cerita Ayah.
“Aku sudah selesai menyemirnya, yah.” Kata Tatsuya seolah tidak mendengarkan cerita Ayahnya.
“Aku mau tidur dulu, yah.” Sambung Tatsuya.
“Ya sudah, istirahat sana, besok sekolah.” Kata Ayah namun tak dijawab oleh Tatsuya.

Keesokan harinya, Tatsuya berangkat ke sekolah barunya untuk yang kedua kalinya. Hari itu, ada pelajaran IPS dan Pak Guru langsung memberikan tugas membuat kliping seputar sumber daya alam di Indonesia. Pak Guru membatasi waktu sampai lusa, setelah itu tidak ada toleransi lagi. Tentunya seisi kelas menjadi ribut, baru masuk sudah dapat tugas berat. di antara 20 siswa disana, hanya Tatsuya yang tidak protes.
Ketika jam istirahat, Tatsuya tak sengaja menguping teman-teman sekelasnya yang sedang membicarakan Bu Ani. Kabarnya, Bu Ani sedang bersaing dengan Bu Fitri. Ada yang bilang mereka bersaing mendapatkan seorang lelaki, ada yang bilang mereka bersaing untuk mendapat predikat guru terbaik, dan lain macam versinya. Tatsuya tidak mempedulikannya, hanya dianggap suara yang numpang lewat saja.

Pada hari Rabu, pada jam istirahat, Tatsuya mengumpulkan tugas sesuai dengan yang diperintahkan. Sepertinya, baru dia seorang saja yang baru mengumpulkannya. Tatsuya mengumpulkan tugasnya kepada Guru IPS langsung di ruang guru. Disitu, Tatsuya masih diceramahi soal bagaimana bentuk klipingnya, kurang-lebihnya, lalu ditambah profil milik kakak-kakak kelas terdahulu. Lima menit pun berlalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Bu Fitri, rupanya, lembaran kertas materi soal matematika untuk ulangan harian hari senin depan hilang. Padahal tadi ada di mejanya. Sontak seisi ruangan menjadi heboh, banyak guru yang menuduh Bu Ani lataran mengetahui jika Bu Ani tidak meyukai Bu Fitri. Terjadi debat yang hebat. Di tengah-tengah keributan, Tatsuya menyela.

“Maaf pak, bu, bukan Bu Ani pelakunya.” Kata Tatsuya agak keras.
“Kamu ini anak kecil ikut-ikutan saja! Sudahlah, diam saja kau!.” Bentak guru PPKN.
“Tapi saya tahu pak, siapa pelakunya.” Bantah Tatsuya.
“Kamu itu tahu apa? Palingan…” Kata guru PPKN.
“Ibu guru kerudung biru… Andalah pelakunya.” Kata Tatsuya datar sambil menunjuk Guru yang berkerudung biru itu.
“Maksudmu, Bu Rina? Guru Bahasa Inggris itu? Haha, nggak mungkinlah, dia ini kan sahabatnya Bu Fitri, jadi nggak mungkin Bu Rina mencoba menghancurkan Bu Fitri. Yang jelas pelakunya itu ya Bu Ani.” Kata guru PPKN.

Semua guru mengiyakan pendapat Guru PPKN ini, bahkan, Bapak kepala sekolah yang kebetulan ada di kantor sedang berupaya menelepon polisi. Namun, hal itu dicegat oleh Tatsuya.

“Jangan telepon polisi dulu, pak, tuduhan ini salah.” Kata Tatsuya.
“Kamu itu apa sih? Ganggu aja, sudah, pergi sana!.” Bentak guru PPKN.
“Sahabat belum tentu setia, dia juga manusia, sewaktu-waktu dia bisa berkhianat.” Kata Tatsuya datar.
“Apa maksudmu?,” Kata guru PPKN yang semakin gemas dengan Tatsuya.
“Sudahlah, jangan debat dengan anak kecil, ingat umur, pak!.” Kata Bu Rina kepada Guru PPKN.
“Nak, kalau kau masih curiga denganku, biar ibu buktikan ya…, dari tadi, ibu hanya berdiri di depan meja Bu Fitri sambil mengobrol dengannya, bukan begitu?.” Sambung Bu Rina.
“Justru itu trik-nya.” Jawab Tatsuya singkat.
“Ibu bawa kertas kan?.” Sambung Tatsuya.
“Ohh, iya, ini lembaran…”. Kata Bu Rina namun terpotong oleh Tatsuya.
“Anda tidak perlu berpura-pura lagi, Bu.” Kata Tatsuya sambil menyahut stopmap milik Bu Rina.
“Ibu guru Bahasa Inggris kan? Mengapa ada lembaran kertas matematika disini? Lembar ulangan harian lagi.” Tanya Tatsuya sambil menunjukan sebuah lembaran kertas ke depan Bu Rina.

Bu Rina terdiam beku dan seluruh guru terkejut. Seketika, ruang guru menjadi hening. Hingga Bapak Kepala Sekolah menyakan kebenaran itu pada Bu Rina.

“Apa benar ibu yang mengambil? Tolong jawab dengan jujur, bu.” Tanya Pak Kepala sekolah.
“Seperti yang dikatakan oleh anak itu, pak, bu, saya yang mengambilnya.” Bu Rina mengaku.
“Kenapa? Katanya kita bersahabat, kenapa…” Kata Bu Fitri marah namun terpotong oleh Tatsuya.
“Karena uang, kan? Satu-satunya alasan paling logis seorang guru mencuri lembaran materi ulangan tentunya untuk diberikan kepada Wali murid X yang menyuap.” Kata Tatsuya.
“Tapi, tentang konflik Bu Ani dengan Bu Fitri itu?.” Tanya guru PPKN.
“Itu hanya gosip yang dibuat-buat. Jadi, Bu Rina yang mendapat uang suap dari Wali murid X berupaya untuk mendapatkan lembar ulangan harian bagaimanapun caranya. Kebetulan, Bu Ani dan Bu Fitri sempat terlibat suatu masalah yang aku tidak tahu apa itu, lalu dijadikan gosip untuk meramaikan keadaan. Hari ini, kebetulan lembaran yang diincar ditaruh di depan meja. Begitu ada kesempatan, Bu Rina mengambil lembaran tersebut dengan cara menumpuk lembaran-lembaran miliknya di atas lembar yang diincar lalu mengajak Bu Fitri mengobrol, lalu, jika waktunya dirasa cukup, Bu Rina mengambil lembaran yang diincar dengan disamarkan oleh lembaran miliknya.” Jelas Tatsuya.
“Tapi mengapa matematika?.” Tanya salah seorang guru.
“Mungkin saja karena murid X ini tidak pintar matematika, dan sepertinya Wali murid X ini kenal dekat dengan Bu guru kerudung Biru ini.” Jawab Tatsuya.
“Maaf pak, jam pelajaran di kelas saya sudah dimulai, permisi.” Sambung Tatsuya mohon diri lalu langsung pergi.
“Sebentar, nak, siapa namamu?.” Tanya Pak Kepala Sekolah.
“Bukan siapa-siapa pak, hanya numpang lewat.” Jawab Tatsuya lalu pergi.

Pada hari Senin minggu kedua, sudah diresmikan Bu Rina dikeluarkan dari SMP Pelita tanpa memberitahu pihak kepolisian. Dan Bu Rina juga memberitahu Wali murid X yang menyuapnya, sehingga, siswa X itu dikeluarkan dari sekolah. Ternyata, Wali murid X ini merasa malu karena anaknya yang berhasil masuk SMP ternama di kota Metro tidak pintar matematika, semacam menjaga nama baik, agar tidak dicemooh tetangga.
Ketika upacara bendera, Bapak Kepala Sekolah menyempatkan untuk menceritakan masalah tersebut. Dan beliau yang tidak mengetahui identitas Tatsuya hanya menyebutkan bahwa “Pihak sekolah dibantu oleh seorang pemuda yang pandai menganalisis dan pemuda ini hanya mengatakan jika dia numpang lewat saja, sehingga saya menjulukinya ‘detektif Numpang Lewat.’.” .
Sontak seluruh siswa menertawakan perkataan Pak Kepala sekolah itu. Mereka semua baru diam ketika Pak Kepala Sekolah mengatakan bahwa “walaupun aneh dalam bentuk konkret-nya, namun dia sangat berjasa bagi sekolah ketika.”. Tatsuya yang mendengarkan pidato Pak Kepala Sekolah langsung tersanjung hatinya.

“Wah, aku telah berjasa bagi sekolah ini… Ssst! Tahan, tahan, jangan terlalu senang, stabilkan… Fuuh, thanks, Aibou… No problem, oh iya, masalah ini… Case closed.” Kata Tatsuya dengan dirinya sendiri.

Ketika memasuki kelas, kelas yang Tatsuya tempati kedatangan siswi baru. Siswi ini tampak mengenal Tatsuya, namun Tatsuya malah tidak kenal sama sekali dengan siswi ini, siapakah dia?… Nantikan sambungannya

Cerpen Karangan: Yudha
Facebook: Shinichi Conan

Cerpen Detektif Numpang Lewat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salju Merah

Oleh:
Aku mengintip mereka dari balik jendela tua kamarku. Di bawah hujan salju mereka berbincang. Tampak raut ketegangan di wajah keriput mereka. Pak Ward tampak bersikeras dengan pendapatnya dan Papa

Sahabatku

Oleh:
Pada kenyataannya Tini sudah tidak lagi mencampuri urusan Cici. Tapi Tini juga tidak bisa meninggalkan Cici begitu saja. Apalagi Tini sudah terlanjur sayang kepada Cici. Tini sudah menganggap Cici

Sketsa Cinta (Part 2)

Oleh:
Semenjak kak doni memintaku untuk membuat poster, aku mempunyai akses lebih mudah untuk berkomunikasi dengannya meskipun hanya sharing tentang poster dan itu pun sangat jarang bisa aku lakukan, karena

Golden Swan

Oleh:
Suara teriakan gadis ini terdengar nyaring beradu dengan petir menyambar memecah hujan. “aarghh! baju seragamku jadi kotor! dasar pengendara mobil tidak tau sopan santun” jeritnya dengan nada penuh kemarahan

Tak Ada Yang Sempurna (Part 1)

Oleh:
Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu, seperti anak-anak yang lain. Aku terlahir dengan jalan yang normal. Tapi kenapa? Kenapa aku tak seperti mereka? Mereka yang mempunyai kaki sempurna. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Detektif Numpang Lewat”

  1. Cak ali says:

    Di tunggu lanjutan nya lho?

  2. Lee A says:

    Gue tebak. Tatsuya pasti jadian sama tuh siswi

  3. Aliifah Tazkya says:

    Lanjutannya kayak gimana? Jadi penasaran. *Numpang Koment

  4. arsinta says:

    mana lanjutanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *