Di Balik Kematian Aldan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 December 2016

Suara ketukan pintu begitu tak sabaran menggema membangunkan jiwa yang terlelap sejak tadi. Dengan setengah kesadaran aku membuka mataku dan melihat jam menunjukan pukul 1 dini hari, entah orang gila mana yang mengetuk pintu di jam seperti ini. Suara ketukan terus menggema seperti akan merobohkan pintu hingga dengan terpaksa kulangkahkan kakiku untuk membuka pintu. Seorang pria dewasa dengan wajah kusut berdiri di hadapanku, matanya langsung melotot ke arahku ketika pertama kali melihatku.

“Maaf mau cari siap?” tanyaku parau maklum baru bangun tidur.
“Mana anak sialan itu aku akan patahkan kakinya, berani-beraninya dia membawa adikku hingga selarut ini, dimana mereka?” tanyanya sambil memaki.
Mata mengantukku langsung melek mendengar makian dari pria gila di hadapanku.
“Sebenarnya kau ini siapa huh? jam segini ngetuk rumah orang seperti kesetanan dan langsung memaki ketika dibukakan pintu, dimana sopan santunmu?”
Orang asing itu menghela nafas berat mengacak rambutnya frustasi.
“Maaf… aku sedikit emosi tadi” ucapnya minta maaf.
“Oke, sekarang katakan dengan baik apa tujuan anda datang ke mari?” tanyaku beruaha memaklumi.
“Aku kesini mau mencari adikku yang dibawa orang bernama Aldan dan orang bilang anak itu tinggal di sini”
“Aku tak tahu siapa Aldan yang kau maksud tapi memang adikku juga bernama Aldan tapi dia tak mungkin melakukan hal itu karena sejak magrib dia bilang akan tidur lebih awal”
“boleh aku melihatnya?”
Aku menatap menyelidik ke arahnya, yah dia kan orang asing dan aku tak tahu dia orang baik atau jahat bahkan aku tak tahu apa yang dikatakannya jujur atau tidak.
“Aku bukan orang jahat, namaku Fabian, aku kakak dari Sara temannya Aldan. Jam 7 malam tadi kata pembantuku Sara pergi bersama Aldan dan hingga sekarang belum pulang aku khawatir padanya jadi bolehkah aku memastikan Aldan yang pergi dengan adikku Aldanmu bukan”
Aku masih menatapnya ragu dan dia juga sadar dengan keraguanku.
“Oke, kalau kamu tidak mengizinkan aku untuk memeriksanya sendiri, bisakah kamu bangunkan adikmu untuk menemuiku?”
Aku mengangguk menyanggupi permintaannya, aku berjalan menuju kamar Aldan dan tak lupa aku menutup pintu membiarkan orang asing itu tetap di luar bukannya kurang sopan tapi aku hanya berjaga-jaga.

Aku mengetuk pintu kamar Aldan dan memanggil-manggil namanya tapi tak kunjung di bukakan pintu bahkan dia menyahut pun tidak. Aku mencari kunci cadangan kamar Aldan dan membukanya sendiri, keadaan kamar Aldan masih rapi dan si empu kamar ternyata tidak ada di dalam. Aku mencari Aldan ke kamar lain, ke seluruh ruangan rumah, ke kamar mandi hingga ke lemari pakaian dia tetap tidak ada, kucoba untuk menghubungi ponselnya, berulang kali kuhubungi ponselnya tetap tidak aktif. Aku berlari menemui tamu yang tadi kutelantarkan di luar.

“Aldan tidak ada di kamarnya, teleponnya juga tak aktif” ucapku panik.
Orang itu kembali mengacak rambutnya frustasi.
“Bisa aku lihat foto adikmu untuk meyakinkan adikmulah yang pergi dengan adikku?” tanyanya gusar.
Aku membuka pintu lebih lebar memperlihatkan foto Aldan di foto keluargaku.
“Bagaimana? apa dia yang kamu cari?”
“Yah dia yang selalu menjemput adikku ketika akan berangkat sekolah”
Kami berdiri gusar memikirkan kedua adik kami yang entah berada dimana di jam segini.
“Oh my god apa yang harus aku lakukan?” keluhnya.
“apa kau sudah menelepon teman-temannya dan menanyakan keberadaan mereka?” tanyanya padaku.
“Ini masih terlalu malam untuk menelepon seseorang, aku juga tak memiliki nomor telepon teman-temannya Aldan”
“Lalu apa yang harus kita lakukakan?” tanyanya gusar.
“lapor polisi yah kita harus lapor polisi”
“Tapi mereka hilang belum 24 jam”
“Mereka anak dibawah umur belum pulang jam segini itu bukan hal wajar, jika kita lapor polisi setidaknya mereka bisa membantu, aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada mereka karena mereka berkendara memakai motor. Aku baru saja melihat motor yang biasa Aldan gunakan ke sekolah tidak ada di garasi.”

Akhirnya kami sepakat untuk melaporkan kehilangan mereka ke polisi, pukul 01:30 dini hari kami sampai ke kantor polisi terdekat. Suasana di sana sangat sepi yah tentu saja jam segini orang-orang pasti masih asyik berselancar di mimpi mereka masing-masing. Seorang polisi jaga yang masih terkantuk-kantuk menerima kedatangan kami, dia mendengarkan dan mencatat laporan kami dan menyuruh kami untuk pulang dan menunggu kabar di rumah. Aku meminta dengan sangat mereka dapat segera ditemukan tapi si polisi hanya mengangguk lemah. Sebenarnya aku tak terlalu percaya si polisi akan menanggapi serius laporan kami tapi aku tak bisa memaksa mereka untuk bergerak cepat menemukan adikku mengingat waktunya juga tak memungkinkan.

Setelah dari kantor polisi orang asing yang bernama Fabian itu mengantarkan aku kembali ke rumah. Kami bertukar kontak telepon dan meminta saling mengabari jika mengetahui sekecil apapun tentang keberadaan mereka berdua. Sejak masuk rumah aku terus saja mondar-mandir gelisah khawatir dengan Aldan, rasa kantuk yang menyelimuti mataku setengah jam lalu sekejap sirna berganti dengan air mata kekhawatiran ditambah lagi otakku malah memberikanku pikiran-pikiran buruk tentang kemingkinan-kemungkinan yang terjadi pada Aldan.

Pagi menjelang aku menelepon karyawan di restoranku untuk mengatur keadaan di sana tanpa aku. Aku juga mengabari tentang hilangnya Aldan dan meminta mereka menghubungiku jika melihat Aldan atau tahu informasi tentang Aldan. Jam 7 pagi Fabian mengajakku untuk mencari mereka bersama, yah meski agak sungkan aku tetap mengiyakan ajakannya karena saat ini pikiranku tidak konsen untuk menyetir sendiri. Tempat yang pertama kami datangi adalah kantor polisi dan di sana kami tak mendapat info apapun, selanjutnya kami mendatangi sekolah mereka untuk mencari info tentang teman-teman mereka. Setelah mendapat alamat teman-teman mereka, yah karena hari ini hari minggu jadi kami tak bisa menemui mereka semua karena mereka kebanyakan pergi bermain di luar rumah. Dari anak-anak yang kami datangi tak ada satupun yang tahu kemana Aldan dan Sara pergi malam itu.
Selanjutnya kami mencari ke panti asuhan yang biasa didatangi Aldan. Fabian menatap heran ke arahku ketika diajak ke panti asuhan tapi aku tak menggubrisnya karena anak-anak berhamburan memelukku.
“Kak Aldila mana Kak Aldan kok gak ikut ke sini?” tanya salah satu anak panti.
“Kakak juga gak tahu kemana kak Aldan, kalian kapan terakhir kali melihat kak Aldan?” tanyaku.
“Kemarin siang, kak Aldan datang kesini sama temennya yang cantik katanya mereka akan kesini lagi hari ini untuk membacakan cerita untuk kami”
Aku mengangguk mengerti dan beranjak untuk menemui ibu panti, aku menceritakan tentang kehilangan Aldan padanya dan memintanya untuk menghubungiku jika melihat Aldan. Ibu panti ikut sedih akan apa yang terjadi dan bersedia membantu.

Lepas dari panti asuhan, aku meminta Fabian ke tempat penampungan anak-anak terlantar, sepanjang jalan kami juga bertanya pada orang-orang yang kami lewati barangkali pernah melihat mereka. Sampai di penampungan anak-anak menyambut kami dengan gembira karena tadi aku sempat membeli beberapa makanan untuk diberikan pada mereka.
“Kakak chef lama yah kita tak jumpa” ucap si Kala anak paling besar yang mengurus adik-adiknya di penampungan ini.
“yah aku sibuk, wah kau sudah semakin besar” ucapku padanya.
Dia hanya tersenyum mendengar ucapanku.
“Apa kamu melihat Aldan?” tanyaku.
“bocah baik hati itu tadi malam kesini bareng ceweknya, dia bantu cari si Mimin sama si Udin yang ilang kemaren”
“Dia semalam ke sini, lalu sekarang kemana dia?” tanyaku antusias berharap mendapat titik terang keberadaan Aldan dan Sara
“Mana kutahu, semalam kita berpencar cari anak-anak itu, bocah itu cari pake motor sedangkan kita jalan kaki jadi kita gak ketemu lagi terus si Mimin sama si Udin juga masih hilang sampe sekarang, memang kenapa dia belum balik ke rumah?”
“Yah Aldan belum pulang sejak semalam, jika kamu bertemu dengannya hubungi aku. Tolong bantu cari dia yah.”
“Oke beres bos”

Pencarian kami terus berlanjut hingga sore tapi kita belum juga bertemu mereka. Semua tempat yang biasa Aldan datangi sudah kami datangi tapi tetap saja hasilnya nihil.
“Sebenarnya kenapa kita cari di tempat-tempat tadi sih?” tanya Fabian tiba-tiba.
“Tempat apa maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“yah panti asuhan, tempat anak-anak terlantar sampe pemukiman kumuh”
“Karena Aldan suka berbagi di tempat-tempat itu” ucapku menerawang mengingatnya.
“Wah gak kusangka bocah itu punya jiwa kemanusiaan tinggi”
“Yah Aldan merasa senasib dengan mereka anak-anak yang diabaikan orangtuanya. Aldan tak mengingat wajah ibu kami karena dia masih sangat kecil ketika ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan kami dan ayah dia terlalu sibuk dengan bisnis restorannya sampai lupa jika bukan hanya bisnisnya saja yang perlu diurus tapi juga keluarganya. Aldan hanya tumbuh bersamaku, mengingat usia kami yang terpaut jauh dia sering merasa kesepian jika aku sibuk jadi dia mengisi kesepiannya dengan berbagi bersama anak-anak di luar sana yang kesepian tanpa kasih sayang keluarga seperti dia” ucapku sambil tak kuasa menahan air mata mengingat adik kecilku sekarang berada di luar sana tanpa aku ketahui keadaannya apalagi hanya dia yang kumiliki sekarang setelah ayah meninggal dan ibu entah dimana.
Fabian diam saja melihatku menangis, setelah aku mulai tenang barulah dia bercerita tentang Sara adiknya, dia bilang mereka tidak dekat karena dia sibuk bekerja di perusahaan properti milik ayahnya. Orangtuanya ada di luar negeri untuk pengobatan penyakit komplikasi ayahnya dan dia juga tidak dekat dengan orangtuanya. Fabian tak tahu apapun tentang Sara maka dari itu dia mengajakku mencari mereka berdua bersama karena dia sendiri tak tahu harus memulai darimana.

3 hari sudah Aldan dan Sara menghilang, polisi belum memberikan informasi apapun dan pencarianku dengan Fabian pun belum menghasilkan apapun hingga siang itu kabar tentang mereka datang. Aku hanya bisa menangis mendengar mereka ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Polisi menjelaskan tentang keadaan mereka tapi rasanya penemuan mereka terlalu ganjil. Polisi bilang mereka ditemukan meninggal di area pendakian diduga mereka terpeleset dan tulang lehernya patah. Aku tak mempercayai ucapan mereka, aku kenal betul siapa Aldan, dia tak akan mungkin mendaki gunung karena dia alergi udara dingin.

Aku tak percaya dengan ucapan mereka tapi polisi tetap memintaku untuk melihatnya guna mengidentifikasi identitas korban. Aku menuruti keinginan mereka dan betapa shocknya aku ternyata mayat itu benar-benar Aldan. Aku tak kuasa menahan tangisku melihat adikku satu-satunya sudah terbujur kaku di hadapanku. Bukan hanya aku yang harus menelan kejadian pahit ini karena ternyata Sara juga ditemukan dalam keadaan sama. Kematian Aldan menjadi pukulan terberat di hidupku, aku tak ingin melakukan apapun selain menangis beruntung para kerabat jauh dan karyawan di restoran memaklumi keadaanku hingga merekalah dengan sigap menyiapkan segalanya.

Berhari-hari aku menangisi nasib adikku yang berakhir tragis hingga mataku tertuju pada tas dan pakaian asing di kamar Aldan. Aku melihat pakaian itu adalah pakaian yang kata polisi adalah pakaian yang terakhir kali Aldan gunakan dan tas itu adalah tas yang ada di gendongannya. Aku melihat dengan seksama pakaian itu, yah pakaian itu terasa asing buatku melihat merk pakaian itu pastilah itu pakaian mahal khusus mendaki tapi aku tak merasa pernah membelikan pakaian seperti itu untuk Aldan. Semua pakaian milik Aldan aku yang belikan jadi tak mungkin dia membeli pakaian semahal ini tanpa memberitahuku mengingat uang jajan Aldan pun tak akan cukup untuk membelinya. Aku membuka tas asing yang isinya beberapa barang keperluan mendaki dan makanan tapi anehnya makanan itu bukan makanan yang biasa Aldan makan bahkan beberapa makanan itu bisa memacu alergi Aldan. Keanehan yang kulihat tak sampai di situ, aku melihat sepatu asing yang katanya dipakai Aldan saat terakhir itu masih baru bahkan telapaknya tidak menandakan sudah dipakai berjalan jauh.

Keanehan-keanehan itu membuatku berspekulasi jika ada yang tak beres di balik kematian Aldan. Aku menelepon Fabian hendak mengatakan spekulasi-spekulasiku tapi teleponnya terus-terusan sibuk. Tak berapa lama si Kala meneleponku dan mengatakan dia menemukan motor Aldan tersembunyi di bangunan bekas pasar yang ditinggalkan. Kecurigaanku semakin menjadi mengingat pasar itu sepi dan sudah tak terpakai jadi mana mungkin ada angkutan umum di sekitar sana jadi bagaimana Aldan dan Sara bisa sampai ke tempat pendakian yang terletak di luar kota tanpa kendaraan. Aku kembali menghubungi Fabian namum kali ini tak kunjung diangkat jadi kuputuskan untuk bertemu dengan si Kala saja dan meminta tolong padanya.

Aku memacu mobilku menuju tempat yang dikatakan si Kala, sampai di sana tak ada siapapun padahal si Kala berjanji untuk menungguku di sini. Aku mencium bau menyengat di seantero tempat ini entahlah mungkin bangunan ini lama tak terpakai jadi menimbulkan bau sebusuk ini. Aku berkeliling sambil menahan bau tak berapa lama si Kala meneleponku dan menyuruhku untuk jangan ke tempat itu karena di sana banyak preman. Aku melihat sekeliling, yah dapat kudengar ada pergerakan kaki yang mendekat ke arahku, sebelum mereka mendekat kuputuskan untuk segera berlari menuju mobilku dan tancap gas pergi dari tempat itu.

Jantungku masih berdetak hebat saking kagetnya, hampir saja aku menyerahkan diriku ke kandang harimau. Suara ponsel yang berbunyi tiba-tiba membuatku histeris saking kagetnya. Fabian menelepon menanyakan alasan aku meneleponnya berulang kali saat dia sedang rapat. Aku menceritakan keanehan dan keganjalan yang aku rasakan mengenai kematian Aldan, awalnya dia tertarik dan menyuruhku untuk merelakan kepergian adikku tapi setelah kuberi tahu jika motor yang dibawa oleh Aldan terparkir di bangunan bekas pasar yang dikuasai preman barulah dia tertarik dan mau mendengarkan ceritaku.

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerpen Di Balik Kematian Aldan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Phone 13

Oleh:
Pada saat itu bel istirahat berbunyi. 3 anak perempuan segera keluar dan mengobrol di gasebo. Nama mereka adalah Seren, Ann dan Mendy. “Ann, kamu sudah membuat Pr IPS?” Tanya

Entah Siapa

Oleh:
Biklah, karena aku muslim, acara ini kita mulai dengan mengucapkan Bissmillahirrahmaan nirrahhim. Begini, kala itu aku beserta teman-teman dari suatu sekolah berencana pergi mendaki gunung di daerah Jawa Barat.

Siapa?

Oleh:
“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.” “Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?” “Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus

Mr. Outside (Part 2)

Oleh:
“Baiklah, kita akan memulainya dari sini” ucapku sembari menatap bangun usang ini. Kulangkahkan kaki mengikuti arah kemana hatiku ingin melangkah. “Excuse me…” Seseorang menghentikan langkahku, seorang wanita paruh baya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *