Di Balik Kematian Aldan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 December 2016

Kami bertemu di tempat penampungan anak-anak karena si Kala, dialah yang pertama tahu tentang motor Aldan. Fabian sampai 30 menit setelah sampai, selama menunggu Fabian, Kala bercerita jika banyak anak yang hilang dari penampungan dan pemukiman kumuh di pinggir kali. Aku sebenarnya tak mengerti hilang yang dimaksud Kala apa, hilang benar-benar hilang atau hanya pindah basecame saja. Kala juga bercerita sudah 7 anak yang hilang dan tak kembali ke penampungan bahkan dia juga bertanya pada teman-temannya yang lain tapi mereka tak tahu keberadaan mereka.

“Aldan tahu tentang hilangnya anak-anak?” tanya Fabian yang baru datang.
“Tahu, kan sebelum Mimin sama Udin ilang si Ucup sama putri udah ilang duluan”
“Apa mungkin kematian mereka berdua ada hubungannya dengan hilangnya anak-anak itu?”
“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“Aldan dan Sara hilang saat sedang mencari anak-anak yang hilang, mereka tiba-tiba ditemukan mati di tempat asing yang tak kita ketahui. Coba pikir, kata pembantuku Sara pergi dengan baju biasa kaos panjang dan celana jins tapi dia ditemukan memakai pakaian pendaki yang harganya tak murah padahal dia bahkan pergi tanpa membawa dompetnya. Mereka pergi di malam minggu tanpa membawa apapun tapi kenapa mereka membawa berbagai perlengkapan ketika meninggal? Dan lagi kenapa Aldan meninggalkan motornya di tempat sesepi itu padahal jika ingin ke tempat pendakian dia harus naik bus. Kenapa anak itu tidak menyimpan motornya di parkiran halte atau di panti asuhan yang hanya berjarak beberapa meter dari halte?” ungkap Fabian menerangkan pemikirannya.
Aku menatap ke arahnya, tadi dia memintaku merelakan kepergian mereka sekarang dia justru memiliki pemikiran detail tenatang kejanggalan-kejanggalan atas kepergian Aldan dan Sara.
“Jangan menatapku seperti itu berkatmu aku bisa menyambungkan pikiran-pikiran di kepalaku sepanjang perjalanan kesini” ucapnya
“Jadi kemungkinan ada hal aneh di bangunan bekas itu mengingat di sanalah motor Aldan ditemukan. Begitu?” tanyaku kembali pada pembahasan awal.
Fabian mengangguk setuju, dan si Kala yang dari tadi ada dan menyimak pembicaraan kami pun ikut menganggukan kepala.
“Tapi bagaimana cara kita tahu apa yang ada di bangunan bekas itu? mengingat bangunan itu saja membuatku ngeri apalagi baunya uh aku benar-benar tak sanggup lagi kesana” keluhku.
Kami sibuk berpikir lalu melirik ke arah si Kala yah dialah yang bisa menyelidiki kesana. Kami memandang ke arah si Kala bersamaan dan si Kala langsung menggeleng.
“Ayolah Kala hanya kamu yang bisa masuk dan menyelinap kesana” pintaku.
“Wow.. wow… wow aku tak bisa melakukannya, tempat itu basecame bos Dul preman paling sangar di sini. Aku takut lagipula badan gempal panjang kali lebar sepertiku mana bisa menyelinap” ucapnya.
Aku menatap kecewa padanya.
“Lagian kenapa gak telepon polisi aja suruh geledah tuh tempat” ucapnya ringan.
Ucapan si Kala memberikan pencerahan bagi kami, jadi kami putuskan menelepon polisi dan mengatakan ada gerombolan pencuri di tempat itu, awalnya mereka tak percaya tapi dengan sedikit akting akhirnya mereka percaya. Namun sayang ternyata polisi yang dikirim petugas mengenal preman Dul jadi bukannya melakukan penggeladahan eh malah ngobrol ke sana kemari. Ketika kita mengintip dari jauh ternyata motor milik Aldan sudah tak terlihat lagi. Setelah meminta tolong aparat gagal akhirnya kami memutuskan untuk mencari tahu sendiri sebenarnya apa yang terjadi di dalam bangunan tak terpakai itu yang kami yakini menjadi sumber kematian adik-adik kami.

Setelah menyiapkan alat-alat canggih ala-ala mata-mata akhirnya Fabianlah yang akan menyelinap ke dalam berpura-pura menawarkan pekerjaan kotor pada preman itu. Seorang CEO mempekerjakan preman untuk pekerjaan kotor bukankah sudah biasa seperti di film-film. Baada magrib mobil sudah terparkir tak jauh dari gudang itu, Kala dan teman-temannya juga ikut membantu mengawasi keadaan. Fabian dan penyamarannya sudah siap tapi kami tak jadi turun karena mendengar suara anak menjerit tak berapa lama seorang pria berbadan besar lewat sambil memanggul anak itu masuk ke bangunan itu. Dari sana kami yakin jika anak-anak yang hilang memang di bawa kesana.

Kami mengubah rencana kami, dari pada menipu mereka lebih baik kami mengintai dari sini pergerakan apa yang mereka lakukan. Malam itu kami duduk di mobil memperhatikan kejadian yang terjadi di bangunan itu. Pada jam 10 malam seorang pria dengan mobil mewah masuk ke tempat itu, entah apa yang dilakukan pria itu di dalam, setelah dua jam dia ke luar dengan beberapa box putih berukuran sedang kurang lebih seukuran kardus sepatu. Orang itu melihat ke arah mobil yang aku tumpangi mau tak mau aku menunduk ah sebenarnya bukan menunduk tapi kami berdua berpose layaknya orang yang sedang beradegan mes*m. Lama kami bertahan di posisi itu hingga seseorang mengetuk jendela kaca mobil kami.
Jantungku sedang bermaraton sekarang saking takutnya tapi Fabian berusaha bersikap senormal mungkin dan membuka jendela dari kejauhan aku melihat Kala dan teman-temannya sudah bersembunyi.
“Kenapa kalian ada di tempat seperti ini tengah malam begini?” tanya orang itu dengan suara beratnya yang menakutkan.
“Kami tersesat” ucap Fabian sekenanya.
Orang itu melihat ke dalam mobil kami dan menatapku sesaat dapat kulihat noda darah di ujung pakaian yang dia kenakan. Tak berapa lama seorang pria berdandan klimis datang mendekat ke arah kami, aku langsung shock melihatnya, yah dia seorang dokter yang menangani transplantasi ginjal ayahku beberapa tahun silam. Melihatnya sama persis seperti pria yang masuk dan keluar dari bangunan kumuh itu dengan barang-barang yang dibawanya tadi sepertinya aku tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.

Orang itu menginterogasi Fabian dan dengan santainya dia menjawab jika dia memang tersesat bahkan dia menanyakan alamat yang dia tuju pada mereka. Sebenarnya Fabian tidak benar-benar tenang karena dia meremas tanganku begitu keras untuk meredakan kegugupannya. Setelah mereka memberi petunjuk jalan mobil yang kami naiki segera tancap gas, dalam perjalanan kami saling diam untuk meredakan kekagetan kami hingga ketika mobil hampir sampai menuju rumahku akhirnya aku sanggup berbicara.

“Sepertinya aku tahu apa yang mereka lakukan di sana” ucapku membuka pembicaraan.
Fabian menatap ke arahku menunggu lanjutan dari ucapanku.
“Pria tadi pria klimis yang keluar dari mobil mewah itu seorang dokter bedah di sebuah rumah sakit swasta. Ayahku pernah melakukan transpaltasi dan dialah yang mengoprasinya, aku berpikir mungkinkah anak-anak yang mereka culik itu untuk diambil organnya? dan sepertinya Aldan juga Sara tahu itu sehingga mereka membunuhnya, tak mungkin mereka jatuh alami tapi memiliki patah tulang yang sama seperti tulang mereka sengaja dipatahkan”

Malam itu kami mencari bukti tentang dokter Steve yang ternyata sekarang memiliki klinik bedah sendiri dan memang banyak pasien yang melakukan transplantasi organ di kliniknya. Semalaman kami mencari berbagai bukti untuk diserahkan ke kepolisian yah bagaimanapun merekalah yang berhak menangkap mereka pada akhirnya. Fabian meminta bantuan dari temannya yang seorang detektif untuk membantu kami mengungkap kebenaran itu, Fabian juga minta temannya agar operasinya dilakukan secara rahasia karena takut-takut informasi keburu bocor hingga penangkapan gagal dilakukan.

Pagi hari Kala dan teman-temannya menyerahkan foto-foto yang mereka ambil tadi malam, memang kwalitasnya tak terlalu bagus tapi ini cukup untuk bukti. Aku ngeri sendiri melihat foto-foto itu apalagi melihat foto jasad anak-anak yang dimasukan karung sungguh tidak berperikemanusiaan. Setelah memiliki cukup bukti Fabian mengajakku untuk bertemu temannya dan menyerahkan bukti yang telah kami kumpulkan. Detektif itu berjanji akan melakukan yang terbaik dan menangkap para penjahat keji itu. Mereka menyuruh kami untuk pulang dan tinggal di rumah saja menunggu beritanya esok hari.

Sepanjang perjalanan pulang hatiku rasanya hampa, yah aku berjuang untuk membuat para penjahat itu dihukum tapi semua itu sama sekali tak akan mengembalikan Aldan padaku. Tak terasa air mataku menetes mengingat nasib buruk yang menimpa adikku yang masih berusia 16 tahun itu, yah dia anak yang begitu baik dan peduli sesama tapi justru rasa pedulinyalah yang mengantarkannya pada azalnya sendiri.

“Kenapa menangis?” tanya Fabian.
Aku hanya menggeleng tak yakin.
“Aku tahu kamu pasti ingat adikmu kan? yah memang apa yang kita lakukan tak akan membuat mereka kembali di sisi kita tapi setidaknya kita menyelamatkan anak-anak di luar sana dari kematian yang keji bukan? Dengan menghukum mereka setidaknya kita juga memberikan keadilan untuk Aldan dan Sara walaupun tak bisa merubah keadaan apapaun” nasihat Fabian
Aku diam mendengar ucapannya, yah memang benar jika mereka di hukum tentu tak akan ada lagi anak-anak terlantar yang meregang nyawa karena kekejian dokter itu. Apabila mengingat betapa baik hatinya Aldan dan Sara tentu mereka pasti tak akan keberatan bukan jika nyawa mereka hilang tapi anak-anak yang mereka sayangi tetap selamat.

Yah memang terkadang kita tak bisa mengubah apa yang telah terjadi tapi setidaknya kita bisa memperbaiki apa yang akan terjadi kedepannya. Apa yang dilakukan dokter Steve memang menyelamatkan nyawa orang lain tapi apa harus menyelamatkan nyawa dengan mengorbankan nyawa yang lain. Yah dokter Steve membuat orang-orang yang kehilangan harapan hidup kembali hidup karena donor organ yang mereka jalani tapi haruskah anak-anak terlantar harus kehilangan nyawa agar si kaya yang sakit tetap bertahan hidup aku rasa itu tak adil.

Seperti janji si detektif esok harinya berita penangkapan dokter Steve dan anteknya masuk berita pagi. Hujatan mengalir deras untuk kekejiannya dan aku rasa dia layak mendapatkannya. Penangkapan itu tak berpengaruh bagi hidupku, aku kembali ke kehidupanku sebelumnya hanya saja tak ada lagi Aldan di sisiku begitu juga Fabian dia kembali ke kehidupannya hanya saja tanpa Sara. Aku tahu apa ini berpengaruh bagi Aldan dan Sara di alam sana tapi aku rasa mereka bahagia di sana karena anak-anak yang mereka sayangi aman sekarang.

THE END

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerpen Di Balik Kematian Aldan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Jasad Dalam Air (Part 2)

Oleh:
Dari sorot matanya, Lazuardi jelas tak suka dengan pertanyaan itu. Namun memandang nenek itu adalah guru spiritualnya sejak dia masih menjadi bromocorah hingga kini dia pensiun karena usia serta

Tuts Tua

Oleh:
Alunan nada kembali terdengar dari piano tua itu, tidak, lebih tepatnya tuts tua itu. Ya, tidak salah lagi, Fur Elise. Jangan acuh jika kau tiba-tiba mendengarnya, itu pertanda bahwa

Cerita Dibalik Rumah Yang Indah

Oleh:
Siapa yang tidak ingin membeli rumah yang indah dan sesuai dengan kriteria? Tidak ada satu orangpun yang akan menolaknya, apalagi jika dijual dengan harga murah. Namun, rumah yang indah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Di Balik Kematian Aldan (Part 2)”

  1. yonanda says:

    bagus bgt.. tapi si kala itu siapa? teman tokoh utama atau anak jalanan? dicerita kurang jelas. moga jd cerpen of the month

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *