Dia Hidup di Hidup Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 8 October 2015

“Tolong! Tolong!”
Terdengar suara pria bersuara parau sedang berlari meminta tolong kepada warga.
“Rumah Yanny!!” teriak orang itu sembari berlari sekuat tenaga menuju pintu depan sebuah rumah yang tampak gelap dari luar.

Orang-orang yang mendengar teriakan pria itu pun tanpa berpikir panjang segera ikut serta berlari mengejar pria itu dengan membawa benda apa saja yang ada di sekitarnya. Ada yang membawa besi, kayu, ada pula yang membawa ember. Mungkin saja kebakaran atau ada pencuri. Mereka tak tahu. Mengetahui pintu depan terkunci pria itu memutuskan untuk mendobraknya. Dengan satu kali tendangan yang keras pintu itu pun terbuka dan pria itu berlari masuk ke dalam rumah. Memang rumah itu sangat gelap. Tidak ada lampu yang dinyalakan, kecuali satu kamar di ujung rumah.

Pria itu berlari menuju ke sana dan alangkah kagetnya dia karena dia tersandung oleh orang yang sedang tidur di depan pintu kamar itu. Memang sangat gelap sekali. Sampai-sampai ada orang tidur pun tak terlihat. Dengan cepat pria itu membangunkannya sambil menyeret wanita itu menjauhi pintu.
“Mbak.. Ana!!!” teriaknya. Sambil membuka gagang pintu, tapi. Pintu itu terkunci dari dalam.
Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu karena wanita itu dalam kondisi masih sangat mengantuk, pria itu pun lantas mendobrak pintu kamar dengan satu kali tendangan kerasnya lagi.

Braakkk!!! Pintu kamar terbuka, dan alangkah terkejutnya mereka berdua. Mendapati ada seorang gadis telah tewas tergantung. Dengan lidah sedikit menjulur ke luar dan rok yang berkelebat karena terhempas angin dari pendingin ruangan.

“Anaaaa!!!” Teriak histeris wanita itu mengetahui Adiknya telah tewas. Orang-orang yang berlari mengikuti pria itu pun sampai ke depan pintu kamar dan mata mereka terbelalak melihat pemandangan yang mengerikan tersebut. Mereka segera bertindak meskipun kelihatan tindakan mereka itu adalah tindakan orang yang panik. Pria itu langsung memeluk kaki gadis yang sedang tergantung itu dan mengangkatnya, walaupun dia dapati kaki gadis itu sudah sangat dingin. Yang berarti dia sudah lama meninggal. Namun masih saja ia memeluknya dengan erat dengan muka yang memerah menahan tangis. Ada pula yang segera memanjat teralis jendela dengan membawa pisau untuk memotong tali yang menjerat leher gadis itu. Namun dia sempat terjatuh karena susah menjangkaunya.

Wanita itu. Dia terus saja menangis dan berteriak-teriak tanpa membantu orang-orang yang sedang menurunkan Adiknya.
Mungkin dia tak kuat. dan dia terus saja menangis.
“Annaaaa!!! Kenapa?!” Jeritan wanita itu sambil memeluk tubuh Adiknya yang sedang dibaringkan di ranjang.

Orang-orang hanya diam, tak sepatah kata pun ke luar dari mulut mereka. Mereka tak tahu mereka harus bicara apa. Jerita wanita itu. Sangat membuat hati teriris. Dan tangisan itu membuat mereka seketika bisu. Beberapa orang membuka tali yang menjerat leher ana. Kirana sebutan lengkap gadis itu. Dia adalah gadis berusia 18 tahun, sedangkan Yanny Kakaknya lebih tua 6 tahun. Mereka adalah orang pindahan dan hidup berdua saja dalam satu rumah. Orang-orang yang lain hanya diam melihat Yanny yang sedang memeluk jasad Adiknya dan melihat kondisi kamar, tempat tali itu diikatkan.

“Kenapa?” Ya. Itulah pertanyaan yang membayangi benak orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Padahal Ana, dikenal sebagai gadis yang selalu ceria dan tak pernah terlihat memendam masalah.
“Kenapa dia bunuh diri?”

Tiba-tiba dalam kesunyian itu. Pria itu berkata, “Lapor Polisi sekarang..” Sembari menjelaskan bagaimana awal dia menemukan Ana tergantung.
“Tadi saya sedang lewat samping kamar Ana. Terlihat ada bayangan seperti benda bergoyang-goyang dari jendela kamar yang tertutupi korden. Lalu saya panggil dia, berniat untuk menggodanya. Tapi dia tidak menjawab. Saya makin penasaran dengan benda bergoyang itu jadi saya terus memanggil Ana. Tapi sepertinya dia tidak di dalam kamar. Jadi saya ambil kayu untuk sedikit membuka korden itu dari luar. Dan saya melihat ana tergantung.” Pria itu.
Setelah menjelaskan awal dia menemukan Ana yang tergantung dia lantas diam, dan melihat di mana tali itu dikaitkan, serta melihat kondisi dan perabotan dalam kamar.

“Bagaimana cara dia menggantungkan diri di tali setinggi itu?”
“ada kursi memang. Tapi tinggi kursi dengan kaki Ana jaraknya lima jengkal. Apa dia melompat untuk menggantungkan dirinya. Atau dia mengangkat tubuhnya? Naik jendela pun seorang pria tak akan bisa ke sana. Terlebih seorang wanita.”
“Ini.. Aneh..”
“Tapi. Pintu kamar terkunci dari dalam.”
“seandainya..”

“Anaaaa!!! Kenapa kamu melakukan ini na. Kenapa nggak pernah cerita ke Kakak kalau ada masalah na..” Wanita itu semakin histeris menangisi dan mendekap jasad Adiknya.
Melihat itu orang-orang di sana pun sebagian mulai meninggalkan kamar untuk melapor ke polisi. Melihat sebagian orang pergi dari kamar wanita itu pun memindahkan kepala Adiknya dari pangkuanya ke ranjang, sembari berlari ke dapur. Dan menyerobot orang-orang itu. Karena khawatir dengan kondisi Yanny yang histeris ada dua orang yang mengikutinya berlari dari belakang dan mendapati Yanny sedang mengiris pergelangan tanganya dengan pisau dapur. Sepertinya Yanny sedang mengalami guncangan yang teramat besar, hingga dia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Yannnn!!!” Teriak salah seorang dari mereka berdua sembari memegangi tangan dan pisau yang Yanny genggam.
“Istighfar yann. Sabar.. Ingat.”
Tapi Yanny semakin kuat menggenggam pisaunya. Dengan bantuan salah seorang lagi akhirnya pisau yang digenggam Yanny bisa dilepas. Tapi pergelangan tanganya sudah mengeluarkan darah terlalu banyak dan sayatannya pun dalam.

Mendengar teriakan dari dapur orang-orang pun bergegas berlari ke sana. Mereka langsung membawa Yanny ke rumah sakit karena keadaan Yanny yang mulai tak sadarkan diri. Tapi jenazah Adiknya masih di rumah dan dijaga beberapa orang. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, mereka berpikir jenazah Ana lebih baik diketahui polisi terlebih dahulu dari pada dibawa ke rumah sakit. Ya. Mungkin mereka juga merasakan kejanggalan yang sama atas kematian Ana. Mereka hanya diam, menunggu polisi datang agar lekas memeriksa kamar ana dan menyingkap fakta sebenarya apa yang terjadi.

Dua menit kemudian 5 polisi datang dengan mobil patroli dan ambulan. Polisi memeriksa kamar dan perabotan serta meminta informasi dari pria yang pertama kali menemukan jenazah Ana. Pria itu sesekali bicara sendiri tentang keanehan kejadian itu agar polisi sadar akan kejanggalan yang dia rasakan. Dan ternyata polisi pun merasakan hal yang sama.

“Kematian ini janggal. Bagaimana dia bisa menggantungkan diri pada tali setinggi itu? Kalau pun iya dia digantungkan oleh orang lain. Bagaimana cara dia ke luar? Sedangkan atap rumah mempunyai sekat kayu yang rapat, tak mungkin seseorang bisa melewatinya. Jendela pun terlindungi oleh teralis besi dan tidak tampak bekas dirusak. Pintu pun. Ahh tidak mungkin. Pintunya saja terkunci dari dalam. Belum lagi si Kakak yang tidur di depan pintu. Seharusnya jika terjadi apa-apa pasti Kakak korban akan segera tahu. Tapi.. tidak ada banyak bukti dari tempat kejadian perkara, hal yang paling masuk akal ya memang dia sengaja bunuh diri, hanya saja kita belum tahu motif dan caranya menggantungkan dirinya.”

Empat puluh menit berlalu. Polisi pun meminta agar warga segera membubarkan diri dan memasang garis polisi. Polisi pun berjanji akan secepatnya mengusut kejadian ini. Polisi membawa semua barang bukti dan barang-barang berkaitan lainnya serta berkata akan membawa jenazah Ana ke rumah sakit kepolisian agar dapat diotopsi dan segera mengunjungi Yanny agar bisa dimintai kesaksian. Setelah mendapatkan instruksi dari polisi akhirnya warga pun membubarkan diri.

Sebagian ada yang pulang, sebagian lagi ada yang masih membincangkannya bergerombol. Orang-orang yang mengantar Yanny ke rumah sakit pun sudah pulang. Mereka bersyukur Yanny masih bisa diselamatkan. Tak ada yang menunggui Yanny di sana, karena mereka pun bukan sanak saudaranya. Ahh. Kasihan Yanny. Kenapa orang-orang tega meninggalkanya sendiri. Bagaimana dia melewati masa-masa berat dalam hidupnya.

Pukul 03.40 dini hari.
Berselang 6 jam dari kejadian tampak lampu kedip mobil patroli menembus pekatnya kabut diiringi oleh suara adzan subuh yang mulai dikumandangkan. Polisi memeriksa kembali rumah itu, lalu mereka ke luar dengan cepat dan mengetuk pintu rumah orang-orang di sekitar rumah Yanny untuk mencari Yanny barangkali ia pulang.

“loh. Yanny kan di rumah sakit pak?” kata Warga.
“Dia kabur dari rumah sakit sebelum kami sempat ke sana. Kami mencarinya kesini barangkali dia pulang.” jawab Polisi.
“waduh. Saya tidak tahu pak. Dari tadi saya tidur.” lanjut Warga.
“kami akan menyiagakan beberapa polisi di rumah Yanny, dan mohon diberitahukan ke warga yang lain bila melihat Yanny segera hubungi nomor ini.” lalu polisi memberikan sebuah nomor telpon.
“oh iya pak. Kabur dari rumah sakit itu hukumanya berat pak ya. Saya mau kok pak membayar semua biaya pengobatan Yanny. Saya kasihan pak melihatnya. Karena dia tak punya keluarga di sini, keluarganya ya cuma Adiknya.” kata Warga.

“sebenarnya bukan karena kaburnya Yanny dari rumah sakit kami mencarinya ke sini. Tapi karena kami mencurigai dia sebagai pembunuh Adiknya.” jawab Polisi.
“Haaahhh.. Pembunuh??” kejut Warga.
“iya. Setelah jenazah Ana diotopsi oleh tim forensik, kami mendapat berkas laporan bahwa penyebab utama Ana tewas bukan karena gantung diri.” sambung Polisi.
“Haaaahhhh.. Lalu pak?”
“Ana tewas karena kehabisan napas.”
“loh. Bukanya gantung diri memang kehabisan napas pak?”
“iya salah satunya itu. Tapi kami menemukan fakta bahwa Ana kehabisan napas dulu sebelum lehernya patah.”
“leher patah? Maksudnya pak? Saya tidak paham.”
“jadi begini, orang gantung diri itu mati bukan karena kehabisan napas. Tapi karena lehernya patah. Bila lehernya ternyata belum patah maka dia akan mati karena kehabisan napas. Tim kami menemukan bekas cekikan di leher Ana. Dan itulah penyebab sebenarnya kematian Ana.”

“Tapi bisa saja saat Ana menggantung dirinya dan ternyata tidak mati dia berusaha mencekik lehernya sendiri?” timpal Warga.
“manusia itu tidak bisa mati karena mencekik lehernya sendiri. Itu satu. Yang kedua, ada bekas pukulan benda tumpul di dada Ana. Yang ketiga, bekas cekikan di leher dengan pola jari yang tidak mungkin Ana sendiri yang melakukannya. Memang tidak ada bukti banyak sampai saat ini, tapi satu-satunya orang yang paling mencurigakan adalah Yanny. Kakak kandung korban. Belum lagi tindakan kaburnya dari rumah sakit, itu menguatkan dugaan kami bahwa Yannylah pelakunya. Entah apa motif dan caranya merekayasa pembunuhan itu kami masih dalam proses penyidikan dan mengumpulkan bukti. Untuk itu kami memohon bantuan warga supaya cepat melapor kepolisi bila menemukan Yanny. Yang pasti, sebelum Ana meninggal Ana telah dianiaya.” jawab Polisi.
Warga hanya diam mendengar perkataan polisi tadi.
“baiklah, saya pergi dulu untuk mencarinya di tempat lain. Tolong diinformasikan ke warga, dan suruh berhati-hati dengan Yanny, segera laporkan bila bertemu denganya..”
“iyy.. Iya pak.”

Firasat polisi itu mengatakan sangat buruk. Bila benar Yanny yang melakukan pembunuhan itu, berarti Yanny adalah seorang pembunuh keji yang tega menghabisi nyawa Adik kandungnya dan merekayasa kematiannya seolah-olah itu bunuh diri. Yanny memang dikenal pendiam, tubuhnya kurus seperti menanggung beban yang sangat berat, tapi dengan Adiknya Ana dia sangat sayang. Tak mungkinlah. Hal apa yang bisa menyebabkan seorang Kakak tega membunuh Adik kesayangannya. hal itu yang melekat di benak orang-orang di sekitar rumah Yanny.

Bersambung

Cerpen Karangan: Aliz Kusuma
Facebook: https://www.facebook.com/aliz.kusuma

Cerpen Dia Hidup di Hidup Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Coretan Dinding Sekolah

Oleh:
Mata pelajaran kali ini adalah Kimia. pak Bono tengah menerangkan materi Metana dan Karbondioksida, memang sedikit agak mumet untuk mempelajari Bab yang satu ini, lalu dari pada bete mereka

Suara Misterius di Pagi Buta

Oleh:
Kisah ini berawal di pagi buta. Ketika itu aku masih nyantri di pondok Kliwon. Suasana masih gelap dan sepi waktu itu.Udara dingin yang menyeruak masuk dari ventilasi asrama serasa

Rumah Deja Vu

Oleh:
Siang itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju rumah baru di kota Bandung. Sepanjang perjalanan, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kakak laki-lakiku fokus menyetir, Ibu tertidur di jok

Dark Rain (Part 2)

Oleh:
Matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya, anak anak pecinta alam itu tampak sibuk membersihkan tubuh masing masing di aliran anak sungai dekat mereka mendirikan tenda. yang wanita mandi dengan kain

Sebuah Buku Misterius

Oleh:
Rinai-rinai hujan membasahi atap-atap rumah, terdengar seperti sebuah irama, jendela kaca yang berada di samping ranjang tidurku, kututup secara perlahan agar air tidak banyak masuk ke dalam kamarku. “kring…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *