Dia: The Head Cat Collector

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

Rasa kesal,
Dia memakiku, mencemoohku
Merebut hakku, perebut yang keji.
Dengan tertawaannya, dia senang
Berlari tunggang-langgang dengan tangan yang menggenggam benda berhargaku
Mengadukan hal yang tak logis pada orangtuanya
Tentangku, dia membicarakanku dengan bumbu-bumbu fitnah

Kejam.
Aku sungguh kesal.
Aku benci dia!
Aku benci anak kecil!

“Mama, Mama… Kak Dee ngaku-ngaku kucing aku lagi,” Anak lelaki yang masih duduk di bangku TK itu menangis keras di hadapan ibunya, mengadukan hal yang tidak-tidak. Ia memberi jeda untuk sekadar menarik napas, lalu terisak. “Kak Dee nampar aku, terus… terus… bilang, hiks… kalau ini kucingnya dia.” Kedua tangannya memperlihatkan anak kucing manis dengan poles cokelat dan kalung khusus yang rusak, sengaja jari-jemarinya itu merusaknya, menghalangi huruf-huruf yang membentuk nama Dee. Padahal semua hanya kebohongan belaka yang ia karang demi mendapatkan apa yang diinginkan.

Ibunya kewalahan. Ia mencoba menenangkan putranya itu dengan mengusap-ngusap rambut hitam berponinya, hingga kedua mata garangnya menatap Dee lurus. Tangannya gatal, pikirannya seolah mengatakan bahwa gadis SMP di depannya ini yang telah membuat putranya menangis tak henti-henti. Sementara Dee berkeringat, menatap tak percaya. Ia justru meminta baik-baik pada anak lelaki itu untuk kembali menyerahkan kucing kesayangannya. Alih-alih menjawab, anak itu malah mendorongnya hingga ia terjungkal. Yah… Dee memang tak begitu menyukai anak kecil. Apalagi mereka yang suka usil dan membuatnya jengkel sehingga lebih sering melempar-lemparkan barang di sekitar. Dee tak suka anak kecil.

Tatapan ibu dari anak itu berubah menjadi sinis. Meskipun mereka bertiga memang bertetangga dekat, tetapi karena Dee jarang ke luar dan bergabung di halaman depan rumahnya, tetangga-tetangganya itu seolah menganggap Dee asing. Gadis ini memang tak mau akur sebelum disapa terlebih dulu, apalagi ia ogah kalau berteman dengan kebanyakan ibu-ibu jutek di sekitar rumahnya yang pada garis besarnya adalah tukang gosip. Dee mendengus. Sekilas ia melihat tatapan ibu itu, lalu kembali berpaling. “Aku enggak salah Bu. Anak Ibu yang salah, ajarin yang bener dong!” umpatnya begitu saja.

Dee merasakan cubitan keras di lengan kanannya yang tak tertutup potongan kain. Ia sempat meringis sebelum akhirnya membiarkan ibu itu melampiaskan sedikit amarahnya, “Punya sopan santu gak, sih?! Nyesel ya, saya tetanggaan sama Pak RT! Apalagi Bu RT ngelahirin anak yang ansos kayak kamu!” teriaknya tepat di telinga kanan gadis itu. Dee memasang eskpresi datar. Kalau saja urat malunya sudah terputus, ingin sekali tangannya itu menampar kedua pipi ibu-ibu di depannya dengan keras. Ingin sekali Dee menantang anak lelaki itu berkelahi dan membuatnya babak belur, atau perlu sekalian mati! Dee bukan anak anti-sosial. Ia masih ada rasa manusiawi meskipun sekarang harus mempertahankannya selagi masih ada setitik di saat emosinya kian meluap hebat.

Putri dari RT 04 itu menepis tangan sang ibu dengan kasar, lalu balik menatapnya sebal. “Ibu juga punya sopan santu gak? Hah? kalau nyesel ya silakan aja tinggalin desa ini! Biar saya yang bilang ke Papa…” Ia memberi jeda sesaat, lalu memelankan suaranya berniat mengancam. “…atau perlu saya buat status di semua akun media sosial saya bahwa Ibu berani-beraninya mengancam anak belia?” Perkataannya berhasil membuat ibu itu melayangkan tamparannya. Sementara di sana, tak jauh dari mereka, sang anak meledakkan tawanya dengan tangan yang masih mencekik leher kucing, seolah sedang seru-serunya melihat film action di hadapannya.

Anak kucing itu meronta-ronta saat ia merasakan lehernya sangat sesak, suara melengking khas hewan berkuping lucu itu terdengar kemudian semakin keras dengan iringan tawa anak lelaki yang menyiksanya. Dee masih beradu tangan dengan ibu itu hingga senja hari, bahkan orang yang berlalu-lalang pun malah memberi sorak dan bukannya memisahkan mereka. Sementara anak lelaki dan kucing itu sudah lari entah ke mana, bersembunyi di balik kerumunan orang-orang atau bisa saja berdiam diri di kegelapan dengan kepala kucing berlumuran darah yang ia jinjing tanpa dosa. Kedua tuannya sedang sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan tujuan. Mereka berdua melupakan sesuatu, sesuatu, bahwa tak semua anak kecil mempunyai pikiran yang jernih bagai air. Hingga pada malam harinya mereka sadar, sebuah garpu dengan darah dan bagian bawah tubuh anak kucing tergeletak tak jauh dari posisi mereka berkelahi.

Cerpen Karangan: Gita Amelia
Blog: gitamonogatari.blogspot.com

Cerpen Dia: The Head Cat Collector merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Missing (Part 3)

Oleh:
Semua mulai duduk beristirahat sedangkan kami mulai mendirikan tenda. Dua buah tenda ukuran besar berhasil kami dirikan berhadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Dengan rencana akan ada api unggun

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

Nyanyian Alam Fana

Oleh:
Tangisan itu mulai terdengar kembali. Rintihan demi rintihan ia lantunkan di balik gubug nan tua. Rani, begitu mereka memberi nama bayi tersebut. Pardi yang sehari-hari bekerja sebagai guru magang

Gadis Misterius

Oleh:
Siapakah gadis yang memakai gaun bercahaya dan bermahkotakan rangkaian bunga mawar dan bunga melati itu… ia melangkah dengan anggunnya menulusuri padang rumput juga melintasi sungai biru nan jernih, lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dia: The Head Cat Collector”

  1. Mayla Salma says:

    Woow, cerpennya bagus, tapi agak bingungin. Tolong di jelasin dong gimana maksud ceritanya.. Yang pengoleksi kepala kucingnya itu Dee atau siapa??

  2. Mayla Salma says:

    Pengoleksi kepala kucingnya itu anak kecil yang ibunya berdebat sama Dee, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *