Diary Misterius (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Ruangan sepi nan hening terpadu dengan hembusan angin dingin dan cuaca mendung sore ini membuat siapa saja akan lebih memilih berlindung di dalam rumah yang hangat.
Namun tidak dengan Angga, seorang ketua Osis di sekolah SMA Nusa Jaya, dia sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan acara study yang akan berlangsung lusa ini, dia sendirian, semua temannya meniggalkannya karena memang hari sudah sore, ditambah lagi cuaca mendung dingin menyelimuti Sore ini dengan sempurna, “semua harus benar benar dikerjakan sampai selesai hari ini” kata Angga di dalam hati
“udah kali ngga!.. Sudah hampir malam nih, apa lagi juga hampir hujan…” tiba tiba Joko ‘sahabat Angga’ datang dari balik pintu ruang Osis
“kamu Ko? Belum pulang toh…?”
“belumlah! Elu kapan mau pulang…? Udah dari tadi gue nungguin elu tau!?”
“yang tadi nyuruh kamu buat nungguin aku siapa?”
“kagak ada..”
“ya… Udah salah Lu juga kali nungguin aku”
“tapi kan kita ini sahabat dekat, jadi gue akan selalu ada di sisi lu Ga!”
“ya ya bentar ya kurang dikit lagi kok, lagi pula Sekertaris Osis udah pada pulang, jadi aku harus nyelesai’in tugas mereka…”
“ya… Elahh Ngga!! Ini tuh udah malem tau’! Tuh lihat jam dinding” Joko menunjuk jam dinding di tembok sebelah foto presiden RI.
“Ya… Ampun..!!! Udah jam setengah tujuh!!!” Angga kaget bukan main. bagai mana tidak, dia telah bekerja selama 6 jam, tanpa dia sadari kini sudah hampir larut malam…” ya udah deh aku akan pulang, tunggu aku di pintu gerbang ya, aku akan ambil tas di kelas dulu…” kata Angga sambil berlari menuju kelasnya.
“oke sip” Joko mengacungkan jempol kanannya, kini dia berhasil membujuk temannya itu yang akhir akhir ini agak sibuk di sekolah.

Ruangan kelas Angga berada di lantai dua, jadi… Dia harus naik ke atas hanya demi sebuah tas pinggang.
Saat berada di atas tepatnya di lantai dua, Angga terdiam sejenak, dia merasa ada seseorang yang dari tadi mengikutinya “mungkin si Joko” batinnya, namun kata hatinya salah, saat dia menengok ke belakang tak ada siapapun di belakangnya, “mungkin cuma firasatku saja…” katanya menenangkan diri, dia melangkahkan kakinya menuju ruang kelas.

Sesampainya di kelas dia segera mengambil tas pinggangnya, namun tiba tiba lampu di ruangan itu berkedap kedip dengan sendirinya, Angga kaget bukan main, dia melihat seseorang sedang memainkan lampu “Kooo!!! Lu jangan iseng mulu bisa kagak!!!” teriaknya keras keras, tiba tiba lampu menyala seperti biasa namun orang yang memainkannya tak ada di situ, padahal saklar lampu berada di dalam ruangan kelas.
Angga terkejut, dia segera ingin berlari namun pandangannya tertuju pada suatu benda di meja, bukan ini bukan hantu, “diary?” Angga mengambilnya, di bukanya satu persatu lembar dari Diary tersebut, “kosong?” Angga bingung untuk apa sebuah buku diary setebal ini jika tidak digunakan, namun dia tahu ini adalah tempat duduk Diana, sang pujaan hatinya, “mungkin buku ini tertinggal, akan aku kembalikan besok kepada Diana” dimasukannya buku tebal itu di dalam tasnya, dan segera berlari ke luar.

Diana adalah murid perempuan yang paling pandai, dan cantik di kelas 11, tidak salah lagi kalau Angga pun suka padanya, namun dia belum sempat mengucapkan perasaannya itu, dia belum punya keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi di hatinya dia akan tetap mencintainya dan suatu saat nanti dia percaya, dia akan mendapatkanya.

Di pintu gerbang sekolah, terlihat Joko yang dari tadi mondar mandir enggak karuan, sering sering ia melihat jam tangannya, “gila nih anak!! Ngambil tas aja sampai satu jam!”, seketika itu Angga datang dengan nafas enggak terarur, “kenapa lu Ga?” Joko memandangi temannya itu dengan kebingungan,
“an… a… nu… a.a…anu…”
“anu! Anu.. cepet nih, sekarang udah pukul delapan tau!!”
“ha? Delapan?” Angga bingung, bukannya tadi dia pergi mengambil tas itu sekitar pukul tujuh, “ayo… Mau pulang kagak!” Joko mendesak Angga, dia benar benar ingin pulang,
“ya ya oke, kita pulang naik apa nih? bukannya angkot sudah nggak ada kalau malem?”.
“yang bilang ngangkot siapa? Tuh.. Kita naik itu tuh…” Joko menunjuk ke sebuah motor keren bercat hitam merah, “itu motor siapa Ko? jangan asal numpang aja dong!” Angga menghampiri Joko yang sedang menumpangi motor itu, “motor gue lahhh, kemaren gue beli nih motor”
“di mana?”
“tukang loak!!!” teriak Joko sebal, Angga bener bener udah kelelahan pantes aja dia dari tadi nggak bener gitu.. Kata Joko di dalam hati. “udah udah… cepet naik! Mau pulang kagak?”
“ya ya ya mau”

Angga menaiki motor baru Joko dan mereka berdua pulang ke rumah dengan di temani hujan yang semakin deras.
Setibanya di rumah, Angga merasa amat kelelahan, ia ingin segera berbaring tidur, namun beberapa kejadian tadi masih terngiang di ingatannya, dia juga lupa menceritakan kejadian tadi kepada Joko, tiba tiba ia teringat sebuah diary yang dia temukan di mejanya Diana, dengan segera mungkin dia mengambil diary itu, dibukanya halaman pertama “tak ada nama pemiliknya?” dibuka lagi selembar dan terdapat sebuah tulisan, “seekor semut telah menemukan sebutir nasi yang akan membuatnya memutar jalan”, Angga kebingungan bukannya tadi tidak ada tulisan sama sekali? ditatapnya lagi sebuah tulisan singkat tak jelas itu, “apa maksud tulisan ini?”, dia terus meneliti kata itu, kata ini bukan perihasa, atau bukan syair, kata ini mirip seperti ditujukan kepada seseorang, tapi siapa? Untuk apa? Apa artinya? “sudahlah…”. Angga mulai membaringkan tubuhnya di kasur, tak lama kemudian dia tertidur pulas.

‘Blak! srak srak srak’, suara seperti orang yang sedang membuka buku kemudian membuka lembaran demi lembaran kertas di dalamnya.
Suara itu membuat mata Angga terpaksa terbuka, dilihatnya buku Diarynya sudah terbuka, mungkin tertiup angin, pikirnya. Dia menghampiri buku itu dan terdapat sebuah tulisan lagi “dua pasang bunga melati akan dipetik petang nanti.” Angga cuma bisa kebingungan, siapa yang menulus tulisan ini? Apa maksud dari semua ini?.

Hari cerah nan indah telah terukir indah di pagi ini, Angga berjalan ke kelas dengan pikiran bingung, “sudahlahhh nanti aku pun akan mengembalikan buku diary itu kepada Diana” pikirnya.

Jam pelajaran masih 20 menit lagi, dia berkesempatan menelepon keluarganya di Bogor, ayah, ibu dan adiknya berada di sana sementara dia harus menimba ilmu di Jakarta, sudah lama dia menggenggam hp nya, namun tak ada jawaban, dia mulai khawatir, biasanya ibunya akan langsung mengangkat telepon jika dia menelepon mereka.

Kriiing… kriiing… kriiiing suara bel berdentang, menandakan waktunya memulai pelajaran.
Saat pelajaran dimulai, Angga tidak melihat Diana, tidak sepertinya Diana tidak masuk seperti ini, apa lagi tanpa surat keterangan, “mungkin lain kali saja aku kembalikan buku Diary ini” Angga sedikit kecewa karena tak dapat bertemu Diana, padahal seminggu yang lalu dia sudah bertekat untuk mengungkapkan perasaannya yang sudah dipendam lama itu, dengan adanya Diary ini dia bisa mendapatkan kesempatan itu, namun… Kriiing… kriiiing… kriiiiing…, suara teleponnya menyadarkan lamunannya, sesegera mungkin dia menjawab teleponnya, akhirnya ibunya meneleponnya…
“Kaaaak!!!” suara jeritan adik Angga mengejutkan jantungnya, sesekali dia mendengar isak tangis adiknya.
“Apa? Ada apa?” Angga nampak panik
“Ayah… i…bu… Kak!!!, Ayah dan ibu!!!”
“I’ iya ada apa dengan mereka…?”
“A…yah d…d..dan ib…ibu… m..me…meninggal dunia kaaaaak!!!”
“A…’ a…’ ap…’ apaaaa!!!”
Seketika hp milik Angga terjatuh, air matanya mengalir tak terurai, segera dia roboh tak sadarkan diri. Benarkah ini?.

16 jam setelah adiknya menelepon, dia telah sampai di rumah, ya…, rumahnya dulu. Adiknya mengantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya. dia tak dapat lagi membendung air matanya yang semakin lama semakin menyayat hatinya, dia terjatuh, terduduk, tersungkur tak berdaya, dia mulai mengelus elus batu yang tertuluskan nama ibu dan ayahnya, padahal dia ingin sekali bertemu mereka saat akhir semester ini namun, kenapa bisa secepat ini…

Menurut polisi, kematian kedua orangtuanya karena motif pembunuhan, mereka terbunuh dalam keadaan tak wajar, bagian kepala dan tubuh mereka berdua terpisah, di dalam kamar mereka yang dikunci dari dalam. Dari dalam?.

Saat sore datang, Angga dan adiknya duduk bersama di depan rumah.
“Kak…” adiknya Angga ‘Dika’ memanggil Angga, sepertinya dia ingin mengutarakan sesuatu.
“Apa?”
“ini tentang pembunuhan ayah dan ibu, kakak tahu tidak?”
Angga cuma menggelengkan kepalanya
“Ayah dan ibu meninggal di dalam kamar mereka, padahal pintu dikunci dari dalam, jendela pun dikunci dari dalam, langit langit tak ada yang terbuka, semua di dalam kamar sangatlah tertutup rapat, bahkan seharusnya penjahat pun tak bisa masuk. Lalu kenapa mereka dapat dibunuh? Siapa orang yang dapat menembus dinding atau pintu? Apa mungkin…” Dika nampak ragu mengucapkan kalimat terakhirnya, “h…ha… hantu…”
“hantu…?” ucap Angga.
“iya, hanya yang sejenis makhluk halus saja yang dapat melakukan hal ini, tapi, ini cuma perkiraanku saja.”.

Malam hari, tepat pukul 01:25, Angga tidur bersama adiknya, namun Angga tak dapat tidur, dia membayangkan buku Diary itu, apa mungkin kematian ayah dan ibunya disebabkan oleh Diary itu?. Saat Angga berpikir tiba tiba terdengar suara orang melangkah kaki mondar mandir di luar kamar Angga dan adiknya. “siapa yang malam malam kaya gini di luar?” katanya sambil melangkahkan kakinya keluar. Tungu. ini kan sudah sangat larut malam, lagi pula rumah mereka sudah dikunci rapat dari dalam, lalu… siapa orang yang ada di luar sana? Suara orang di luar semakin cepat seperti orang berlari, bahkan terdengar suara anak kecil tertawa. Angga ketakutan, tapi dia harus memberanikan diri, perlahan dia membuka pintu dan… Tak ada apa apa, ruangan masih gelap dan sepi.
“Mungkin cuma perasaanku,” desisnya

Saat dia menutup pintu, dia melihat buku tebal terbuka, buku ini, buku yang pernah Angga temukan, buku Diary.
“Kenapa bisa ada di sini? Bukannya buku ini aku tinggalkan di Bogor?”
Saat dia melihat buku itu terdapat tulisan lagi di dalamnya
“Batang kecil yang rapuh akan hangus di malam indah ini”
“Kata apa lagi ini!!!?, apa jangan jangan…!!!”
Angga secepat mungkin menoleh ke arah adiknya, dan…
“D… Dikaaaaaaa!!!”

Bersambung

Cerpen Karangan: Ahmad Rizqi Latif Oktavian
Facebook: Rizqi Latif

Cerpen Diary Misterius (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wajah Sang Primadona

Oleh:
Tak pernah kulihat wajah sesempurna itu seumur hidupku. Tak pernah sekalipun. Bila aku menutup mataku akan teringat jelas wajah itu, sepertinya wajah itu telah merekat dan menusuk sangat dalam

18/4

Oleh:
“Eh Fan, denger-denger misteri 18/4 itu datang lagi.” Ucap Vera yang terduduk di sampingku. “Oh.” Ucapku singkat sambil terus menatap buku matematika yang selalu membuat gemuruh di otakku. “Ish,

Misteri Hilangnya Klara

Oleh:
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut seorang gadis yang sedang duduk di kursi bawah pohon mahoni. Dia adalah Klara, gadis yang cukup pendiam dan kutu buku yang selalu membaca buku di

Puisi itu Milik Siapa? (Part 2)

Oleh:
Kami sudah sampai pada koridor menuju kelas, kenapa sepi? Tanganku mencoba meraih ponsel di dalam tas kecilku untuk melihat jam. “Kita terlambat 20 menit” sambar Aghlan dengan suara rendah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Diary Misterius (Part 1)”

  1. Patrice vani hosana says:

    Lanjutannya mana?

  2. erni Farida says:

    DITUNGGU LANJUTANNYA

  3. kayla azkiya says:

    Iyy penasaran lanjutannya he he
    LANJUTANNYA manaaaaaaaa……..

  4. siti nurhidayah says:

    Lanjutannya dong kaakkkl……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *