Dibalik Hilangnya Shina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 25 December 2016

Purnama kali ini berbeda dengan purnama biasanya. Karena purnama malam ini saudara-saudaraku berkumpul di rumahku. Mereka datang kesini karena kakakku, Kak Litta, besok malam akan mengadakan resepasi pernikahan.

Malam ini aku, Ghea, Sisil, Alif dan adikku, Shina, bermain kejar-kejaran. Kebetulan Shina yang bertugas mengejar aku, Ghea, Sisil, dan Alif. Ketika Shina mengejarku, aku berlari ke arah utara. Shina mengejarku dengan cekikikan. Aku teringat di ujung utara sana adalah pemakaman.

Suara Shina tak lagi terdengar. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Kemana Shina?. Ah, mungkin ini hanya strategi Shina saja agar aku menyerah. Aku pun mengumpat di balik pohon beringin. Dari sini aku sudah bisa melihat gapura TPU.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit Shina tak kunjung datang mencariku. Aku memutuskan untuk menyerah. Aku pulang mencari Shina, tapi tak kutemukan. Kutanyakan kepada Ghea, Sisil, Alif. Mereka hanya mengangkat bahu pertanda tidak mengetahui keberadaan Shina.

Di dalam rumah pun aku tak menemukan Shina. Wah, bagaimana kalo Shina hilang?. Kucoba mencarinya lagi. Hingga di lubang semutpun aku cari. Meskipun aku sudah sepanik ini, aku tak berniat untuk memberi tau mama karena aku tau mama juga lagi panik karena gaun pengantin Kak Litta belum diantar.

Aku kembali mendekati pemakaman itu, mencoba menguji keberuntungan barangkali Shina yang masih berumur 5 tahun ada disana. Betapa kagetnya aku ketika menemukan sandal jepit berwarna violet tergeletak di atas salah satu makam. Ya, itu sandal milik Shina.

Otakku tak bisa berpikir jernih. Pikiran negatif tentang Shina silih berganti muncul di otakku. Air mataku bergulir membasahi pipiku. Sebuah suara tangis itu mengagetkanku. Bocah kecil berambut panjang terurai menghadap ke sebuah makam. Aku mendekatinya dan menepuk bahunya. “Shina” panggilku.
Bocah itu menoleh dan hampir saja jantungku loncat dari tempatnya karena ternyata dia adalah orang gila yang biasa mengganggu warga komplekku. Aku berlari pulang sambil masih memegang sandal Shina itu.

Sesampainya di rumah, mama bertanya “Kamu kenapa, Bilda?”. Dengan berat hati aku menjawabnya “Shina… Shina… hilang, mah”. Mama hanya tertawa lebar dan menunjuk arah belakangku. Apa??? Shina keluar dari mobil papa?. Aku langsung mendekatinya “Shina habis darimana?”. “Supermarket” jawabnya. Tanpa rasa bersalah dia menyerahkan sebungkus es cream kepadaku.
“Shina kenapa nggak bilang kalo Shina mau ikut papa? Shina tau nggak kalo Kak Bilda cariin Shina sampai ke pemakaman sana dan hampir aja kakak dimakan orang gila” kataku sambil memegang kedua bahu Shina. “Terus ini punya siapa?” lanjutku sambil menyerahkan sandal violet yang kutemukan tadi.
“Punya Shina” jawabnya. “Kok, ada di atas kuburan sana?”. “Ya, tadi waktu Shina kejar kakak, sandal Shina putus. Ya udah, yang satunya Shina buang aja. Shina udah beli yang baru sekarang”. Hufh, rasa kesal dan lega bercampur aduk dalam hatiku.
“Makanya, Bilda, kalo ada apa-apa cepat bilang sama mama atau papa. Jadinya kan nggak kaya gini” mama berkata sambil menahan tawa. “Ya, ma. Bilda udah tau sekarang”

The end

Cerpen Karangan: Tiara Eviani Putri
Facebook: Poetry Ratoe

Cerpen Dibalik Hilangnya Shina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taman Kunang Kunang

Oleh:
“Sini! bawa baju ini aja,” seru Oviana. “Iya, Ov!” seru Kembarannya, Aviana. Oviana dan Aviana adalah kembar identik. Rambut mereka hitam kepirang-pirangan sepunggung agak bergelombang, mata berwarna hitam, bulu

Kado Teristimewa Dari Papa

Oleh:
Namaku Arnold Greevano, panggil saja Arnold, besok adalah hari ulang tahunku ke 12 tahun. “Mama, apa yang akan diberikan Papa di ulang tahunku?” tanyaku. “Sabarlah Arnold, besok kau juga

Membuat Camilan Hangat

Oleh:
Pada minggu pagi yang cerah, Asyina dan Nafdziah mengunjungi rumah Nenek dan kakek Jihan. Nenek dan kakek Jihan ini adalah tetangga Asyina dan Nafdziah. Mereka senang ke rumah Nenek

Masker Pembawa hidayah

Oleh:
Asap kelabu yang begitu putih membuat mataku begitu perih untuk memandang ke segala penjuru. Begitulah keadaan yang terjadi, desaku dilanda asap tebal yang menyelimuti ruang bumiku. Tiada lagi terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *