Dikejar Petir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Roman mengetuk sebuah pintu yang dipenuhi telur rayap. Matanya memandangi sekeliling, mencari-cari sesuatu yang aneh di rumah tua misterius ini. Suasana malam terasa menyeramkan ketika segerombolan gemuruh menyapa Roman yang sedang berdiri menunggu pintu itu dibuka. Tidak terpancar rona ketakutan di wajah Roman sekalipun banyak suara aneh dan benda yang bergelantungan di teras bergoyang-goyang sendiri. Tak kunjung jua dibuka pintu itu, Roman dengan dibanjiri emosi, mendobrak pintunya dan seketika juga, ia terkejut.

“Selamat datang di kediaman Gabriel si pria sial, anak muda!” Kursi goyang dan seekor kucing hitam, pemandangan seram membaluti sisi kakek tua itu. Ia hanya cekikikan seraya mengelus-elus dagu kucing kesayangannya itu di pangkuannya. Belum ada yang bisa dilontarkan dari mulut Roman yang sedang terpaku melihat kakek tua tersebut. Walau hanya bermandikan cahaya remang dari sebuah lilin putih, Roman mencoba berani mendekati kakek tersebut meski dengan langkah tertatih-tatih.

“Anda tuan Moluska?”
“Gabriel Moluska, itu namaku,”
“Anda menunggu kehadiran saya?”
“Tidak juga. Aku sedang menunggu petir yang akan menyambarku!”

Glaarr!! Lagi-lagi suara gemuruh mengagetkan Roman sekaligus membumbui suasana di rumah itu menjadi menyeramkan. Tidak, tidak, ini bukan cerita horror ataupun hantu. Hanya perasaan Roman, yang sungguh penasaran tentang si pria tua yang bernama Moluska. “Pergilah, Nak. Atau kau ingin melihat seorang Gabriel disambar petir sialan?” Roman menelan ludah. Ia melangkah maju, mencoba semakin mendekati Gabriel. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Gabriel berjabat tangan. Gabriel tersenyum, ia pun menjabat tangan Roman.

“Roman Stillian, penulis,”
“Khu..hu..hu. Penulis itu pekerjaan atau hobi?”
“Saya sangat suka cerpen anda. Saya ingin tahu, dari mana anda dapat inspirasi seperti itu?”
“Petir,” Gabriel mendongak ke atas. Ia melihat sekumpulan awan hitam dari lubang yang menghiasi atapnya.

Hanya itu gerakannya, entah apa yang membuatnya tak kunjung bangkit dari kursi goyangnya itu. Roman menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Gabriel. Ia menelusuri setiap sudut ruangan dengan ditemani sebuah pemantik. Dibukanya satu per satu pintu yang menutupi setiap ruangan. Banyak tikus, kecoa, dan sarang laba-laba mendiami setiap ruangan. Tak ada sesuatu yang membangkitkan bulu kuduk Roman, hanya serangkaian gambaran tentang rumah yang tak pernah diperhatikan lagi oleh pemiliknya. Bahkan bangkai-bangkai ikan juga menghadiri ruangan dapur Gabriel. Tentu saja itu membuat Roman mengangkat kerah bajunya untuk menutupi hidung mancungnya agar tak mencium aroma busuk.

“Ku pikir kau lebih cocok menjadi detektif, anak muda,”
“Itu hanya cita-cita saya yang menjadi sampah,” Ujar Roman sembari menutup pintu dapur.
“Sampah tertentu mampu didaur ulang, Nak,” Gabriel menyeruput cokelat panas yang sebelumnya berdiri tegar di atas meja kecil yang bersebelahan dengan kursi goyangnya.
“Sampah saya organik, Kek. Bagaimana cara mendaur ulangnya?” Lagi-lagi Gabriel tertawa mendengar jawaban Roman. Gabriel merogoh saku kemejanya, dan mengeluarkan selembar foto hitam putih. Dilemparkannya foto itu ke arah Roman. Tanpa berpikir panjang, Roman pun memungutnya dan mengibaskan debu dari foto itu.

“Anda terinspirasi dari foto ini?”
“Yang pinggir kanan itu adalah aku, selebihnya itulah keluargaku,”
“Tentara? Anda tentara?”
“Dulu aku disebut jendral Anger,”
“Anger? Berarti tokoh Anger adalah Anda?”
“Kau cerdas. Sudah ku bilang, kau tak pantas menjadi penulis,”
“Tapi itu cuma nama, kan?” Gabriel tertawa kecil. Ia mengikat sarung yang menutupi bagian bawah tubuhnya dengan erat.

Sepertinya Gabriel ingin beranjak dari kursi goyangnya, namun kakinya tak mampu digerakkan.
“Bisa kau bantu aku berdiri?”
“Saya tak berpikir Anda lumpuh karena disambar petir,”
“Sudahlah, cepat bantu aku,” Roman menelan ludahnya. Keringat penasaran mulai mengalir melewati permukaan wajah dan tubuhnya, kakinya pun bergetar ketika ingin melangkah. Kemudian, dibantunya Gabriel berdiri dan ia seakan mau muntah mencium aroma tubuh kakek tua itu. Aroma tubuh tidak mandi selama bertahun-tahun.

“Kapan anda terakhir mandi?”
“12 Agustus 1980,”
“Aku ingat, itu tanggal Anger disambar petir untuk kedua kalinya,”
“Aku juga,” Mata Roman langsung mendelik kaget.

Dihirupnya oksigen dengan banyak seakan ia akan menghadapi suatu masalah besar. Gabriel hanya tertawa dengan terbatuk-batuk. Pikiran Roman menjadi tak menentu. Ia semakin penasaran, tidak, ia malah curiga. Ia berpikir bahwa tokoh Anger dalam novel karangan Gabriel adalah Gabriel sendiri. Pikirannya kembali menelusuri dan menjelajahi isi novel tersebut. Ia teringat sore itu, di dalam kamar kecilnya, membaca novel “Dikejar Petir,” Roman tinggal sendiri di rumah peninggalan ayahnya. Ayah Roman meninggal di tahun 1976 akibat pembunuhan. Pada masa itu, umur Roman baru 10 tahun. Ia pun hidup dengan orangtua asuhnya. Namun, itu tak bertahan lama, karena orangtua asuh Roman juga meninggal akibat pembunuhan. Masa kecil yang suram selalu menghantui masa depan Roman. Namun, ia tak pernah ingin tahu, siapa yang telah tega membunuh keluarganya.

“Jangan bilang sebelumnya Anda tersambar petir untuk pertama kali pada tanggal 8 April 1976?”
“Dengar, anak muda,” Gabriel berbisik ke telinga Roman.
“Novel itu adalah kisahku, kisah kehidupanku,” Bulu kuduk Roman naik ketika suara parau Gabriel menelusuri lorong telinga Roman. “Jadi, bisakah kau pulang sekarang?” Tak terasa, langkah mereka telah membawa mereka ke teras rumah Gabriel. Suara gemuruh masih saja bersenandung di langit malam itu. Secercah cahaya kilat pun mulai berkelap-kelip. Pikiran Roman masih saja mengorek isi novel tersebut untuk dikaitkan dengan kakek tua ini.

“Anda bilang itu kisah Anda? Lalu, kenapa di akhir cerita anda mati karena kesambar petir untuk ketiga kalinya? Sedangkan saat ini Anda masih hidup,”
“Aku yakin itu akan terjadi. Kau tahu, fisika itu ilmu pasti, Nak,”
“Apa yang Anda tahu soal fisika?”
“Kenapa? Apakah Ayahmu seorang guru fisika?” Roman terkejut dengan pertanyaan Gabriel barusan.
Dari mana ia tahu, pikir Roman. Roman semakin curiga saja kepada Gabriel terlebih lagi dalam novel itu diceritakan Anger mempunyai sahabat seorang guru fisika, namun ia membunuh sahabatnya itu karena telah mengecewakannya.

“Kau membunuh Ayahku!!” teriak Roman emosi dan mengangkat kerah kemeja Gabriel.
“Tidak juga, Nak,”
“Kau juga pasti yang membunuh orangtua asuhku!” Air mata Roman mulai membanjiri pipi Roman.
“Aku hanya ingin anakku kembali padaku dan menjadi detektif hebat sesuai harapanku,” Gabriel tak berdaya untuk melawan. Ia hanya pasrah menghadapi Roman.
“Jika ingin anakmu kembali, kenapa harus membunuh orangtuaku!?”
“..karena kau adalah anakku!” Roman terjatuh lemas mendengarnya. Gabriel pun turut terjatuh, dengan tubuh yang seperti orang lumpuh.

Aku adalah anaknya, pikir Roman. Kepalanya menjadi pusing dan sakit. Ia menarik rambutnya dan berteriak seperti orang gila. Ia sungguh tak percaya dengan perkataan Gabriel barusan. Kilat-kilat di langit pun mulai bermunculan memberi pertanda bahwa petir besar akan turun menghajar rumah Gabriel. “Pergilah, Nak. Jika kau masih belum mengerti tentangku, pikirkanlah di rumah dan bacalah lagi novelku sebagai petunjuk jalan cerita ini selanjutnya. Selamat tinggal!” Wajah Roman menggambarkan ekspresi sedih. Ia masih tak percaya, namun ia juga tak sanggup meninggalkan Gabriel, yang sepertinya sesaat lagi petir akan menghantamnya. Dengan berat hati, ia pun berlari meninggalkan rumah Gabriel tanpa menoleh ke belakang lagi.

JDDEERRR!! Petir menyambar Gabriel. Ia pun meregang nyawa dan mati dengan mengenaskan. Itu adalah petir ketiga Gabriel. lalu, apakah akan ada petir keempat?

“Ayah, kita mau ke mana?” Malam itu, Roman mengajak putranya ke luar rumah. Empat tahun telah berlalu semenjak kejadian malam itu. Roman sudah mempunyai keluarga baru, ia juga semakin kelihatan tua. Janggut dan kumis hitam mulai menghiasi wajah Roman. Malam ini masih sama dengan malam empat tahun lalu, penuh suara gemuruh.
“Kita mau ke mana sih, Yah? Terus, kenapa Aah membawa buku rongsokan itu?”
“Sudah diam. Ikut saja,” Jawab Roman dengan dingin. Anaknya pun merajuk dan memajukan bibirnya. Tangan mungilnya tetap terus digenggam Roman dan langkah kecil anak itu juga mengiringi langkah besar Roman. “Ayah, Bobbie takut,” Ternyata Roman mengajak anaknya ke kuburan. Di situ sangat sepi dan suasana terasa mencekam. Langit dipenuhi dengan awan hitam, angin malam berhembus dan masuk ke pori-pori Roman dan Bobbie. Mereka pun tetap melanjutkan langkah mereka dan berhenti di sebuah kuburan milik seseorang.

“Kau rindu Ayahmu?” Roman kaget dan langsung berbalik sembari mendekap Bobbie.
Itu adalah si tua Safan, penjaga kuburan setempat. Safan pun terbahak-bahak melihat ekspresi takut Roman. Gigi ompongnya membuat Roman dan anaknya merasa jijik melihatnya.
“Pak Safan, bisakah bapak meletakkan buku ini di atas kuburan Gabriel Moluska?”
“Khu..hu..hu. Kenapa tidak? Tapi, buku apa ini?”
“Itu novel karangan beliau, Pak,” Safan pun menganggukkan kepalanya seraya mengelus-elus janggut putihnya.
Safan langsung menuju kuburan Gabriel. Kuburan yang penuh dengan tanaman liar. Diletakkannya novel itu di depan batu nisan Gabriel. Safan pun tersenyum ke hadapan kuburan itu sebelum pergi meninggalkannya. Pria sial yang malang, pikir Safan. “Kenapa baru kau berikan buku itu setelah empat tahun lamanya ia meninggal?” Tanya Safan penasaran.

Roman hanya tersenyum dengan kepala tertunduk. Safan pun menggaruk-garuk kepalanya karena bingung. Bobbie mengamati keadaan sekelilingnya, ia merasa ketakutan. Namun, tiba-tiba.. JDDEEERRR!! Lagi-lagi sebuah petir besar menyambar. Tidak, kali ini sasaran petir itu masih Gabriel. Ya, kuburan Gabriel dan buku karangan Gabriel tersebut hangus dilahap petir tadi. Safan dan Bobbie terkejut setengah mati, sedangkan Roman tetap santai menikmati kejadian luar biasa tadi.

“Gila! Kenapa buku itu disambar petir?”
“Tidak, petir itu menyambar Gabriel yang sedang terkubur di dalam tanah, bukan bukunya,”
“Apa!? Dari mana kau tahu?”
“..itu kutukan dari seorang guru fisika,” Jawab Roman dengan segores senyuman misterius.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani
Cerpen ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang saya temui di suatu blog yang saya lupa namanya. Seseorang yang sering disambar petir namun masih bisa bertahan hidup.

Cerpen Dikejar Petir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diana

Oleh:
“Aku sayang mama.” Itulah kata terakhir dari Diana sebelum dia mengembuskan napas terakhirnya. “Dianaaa…” Jerit Bu Dewi saat melihat anaknya meninggal. Setahun kemudian. “Diana, cepetan bangun sayang, udah siang

Pussy

Oleh:
“Meong… meong…” “Suara kucing? Dari mana? Aduh geli, apa ini? Ha? Kucing? Kucingnya siapa ini? Ayah Bunda kucingnya siapa ini?” “Itu kucing kamu Haura.” Kata Bunda “Kucing Haura?” “Iya

Novel Misterius

Oleh:
Namaku Doni, aku berumur 29 tahun. Aku tinggal bersama ayah, ibu, kakak dan adikku pergi meninggal. Di kamarku ada novel dengan kategori misteri. Aku sangat senang membacanya, novel itu

Beyond The Limit (Part 2)

Oleh:
Semakin jauh Ed berjalan, hujan semakin mengecil. Hingga akhirnya ditemukanlah saat hujan reda yang membuat Ed melipat kembali payungnya. Langkah pria itu menimbulkan cipratan-cipratan kecil saat sepatunya menginjakkan kaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Dikejar Petir”

  1. Arthamy says:

    Hukum fisika di cerpen Rainy dan cerpen ini sungguh bertolak belakang, tapi cerita tetap satu alur. Haha 😀
    Cerpennya bagus dan menarik karena mendorong saya buat membacanya sampai tuntas, walaupun kantuk sedang menyerang.
    Keren (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *