Doppelganger

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, tapi yang jelas aku mungkin sebagian dari kata unik itu sendiri. Luapan emosiku yang meluap-luap sering membuatku tak habis pikir tentang apa yang telah ku perbuat, kalau kata mereka ini yang dinamakan gelap mata. Tapi aku menyadari ada yang tak beres dengan diriku, ini bukan aku. Dulu waktu aku kecil aku seorang penakut, saking penakutnya aku bisa berlari jauh ke pangkuan ibuku dari sekolah menuju rumah karena seekor cacing yang dilemparkan oleh teman padaku saat jam istirahat. Tapi semua berubah saat Eyang Putriku meniup sesuatu pada keningku, berasa sangat dingin dan menghilang dalam sekejap. Aku tak ambil pusing apa yang dilakukan Eyang padaku, aku pun terus berlalu begitu saja.

Sela waktu berganti Eyang Putri mengalami koma saat aku menginjak bangku SMP kelas tiga. Dalam suasana seperti itu kami sekeluarga menjenguknya di rumah sakit. Dokter mengizinkan kami untuk jam jenguk selama satu jam saja, bagiku kenangan manis semasa kecilku dan Eyang sangatlah manis, terlalu manis hingga aku tak ingin kehilangan dirinya. Aku menangis menderu menciumi tangan Eyang Putriku yang sedang koma itu. Orangtuaku meminta waktu untuk bicara hati ke hati dengan Eyang Putriku, aku hanya bisa terus menangis di depan bangku kamar rawat Eyang. Tangisku baru terhenti saat sebuah tangan halus mengusap-usap keningku penuh kasih sayang. Sentuhan dari Eyang, Eyang Putri sudah sembuh.

Beberapa menit Eyang Putri bicara denganku, mencoba membuatku mengerti apa yang akan terjadi seolah dia akan pergi jauh sekali dan tak akan kembali lagi. Nenek meniup keningku dan mengatakan bahwa Eyang sangat senang bisa bertemu dan bercengkerama denganku untuk terakhir kalinya. Kata terakhir kali itu, sesuatu yang akan ku sesali selamanya karena setelah itu denyut nadi Eyang tiada lagi. Kesedihan dalam hidupku atas kepergian Eyang dan entah mengapa mungkin ini anugerah atau kutukan dari Eyang Putriku. Tiupan napas terakhir Eyang waktu itu entah bagaimana bisa membuatku menjadi anak indigo.

Tidak, aku tidak senang dengan sesuatu yang membuatku seperti orang aneh ini. Berbicara sendiri, ketakutan sendiri, sering karena masalah sepele saja emosiku meluap-luap, bahkan aku sering disibukkan dengan permintaan tolong urusan duniawi roh-roh yang belum selesai itu. Menyebalkan sekali. Aku pergi ke Mang Ujang, penjaga sekolah yang kebetulan mengetahui apa yang menimpaku tapi entah mengapa seolah dia lari ketakutan setelah menangani masalahku. Dalam kegiatan Ruqyah Massal aku memutuskan untuk menutup karunia yang diberikan Eyang padaku tersebut, aku sebal, aku ingin normal. Ritual pun dimulai dan berhasil.

Muncul masalah baru lagi saat aku sudah bekerja. Tiap aku tidur aku selalu bermimpi seolah bebas pergi ke mana pun yang aku mau, melihat mantan pacarku, menengok teman-temanku, melihat kedua orangtuaku, melihat adikku yang sedang belajar, dan melayang-layang ke mana aku suka, betul-betul mimpi yang menyenangkan. Kesenangan yang mendatangkan resiko, karena semakin banyak SMS masuk ke handphone-ku. Mereka semua penasaran dan menanyakan perihal yang sama padaku. Bagaimana bisa kamu yang ada di jakarta menampakkan dirimu di Malang, Jawa Timur? Aku hanya butuh tidur saja, karena aku lelah bekerja.

Cerpen Karangan: Kashikawa Yuto
Facebook: https://www.facebook.com/profile.php?id=100009344609100
Nick Facebook: Kashikawa Yuto
Nama Asli: Arif Rudy Saputra
TTL: 15/10/1986
Pekerjaan: TNI AD

Cerpen Doppelganger merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekolah Angker Misterius

Oleh:
“Huft..” Rania mengusap keningnya yang penuh keringat. Ia melihat kedua temannya yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. “Bangun, Gunjan! Martha!” seru Rania membangunkan ke dua temannya. Akhirnya, Gunjan dan

Sarinah (Part 1)

Oleh:
Dengan nafas yang terengah-engah Audy menutup pintu kamarnya lalu ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu itu. Audy mulai mengatur nafasnya yang mulai menyesakkan dada, wajahnya pucat

Temanku Seorang Atheis (Part 1)

Oleh:
Darah merah yang terlihat masih segar itu membasahi lantai rumahnya. Kulihat usus berserakan di antara sela kursi. Aku menangis di pojokan kamarnya seakan tak percaya melihat apa yang telah

Ayakarin

Oleh:
“Rin, katakan sesuatu padaku!” Hana memaksanya berbicara. “he’em” ia berdehem. “aku… aku begitu merindukanmu” ia mengatakan dengan air mata yang dia titikkan. “berikan lagi kalimat terakhir untukku!” “aku ingin

Revealed

Oleh:
Jam menunjukan pukul 15.15, bel pulang berbunyi, seluruh murid membereskan alat tulis dan bergegas untuk pulang. Beberapa menit kemudian seluruh siswa pulang, sekolah menjadi sepi. Berbeda denganku, aku pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *