Dunia Transparan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Liburan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 November 2016

“Hah?? Ke Samarinda, Bu?” ucapku terbelalak.
“Iya, kampung halaman ibu. Kamu udah lama nggak bermain ke sana, kan?”
“Iya, bu.. tapi, malas, ah” gerutuku sambil terus memainkan gadget. Ibu tersenyum simpul memandangiku penuh arti.
“Tapi, ibu sudah beli tiketnya, lho. Memangnya harus dibatalkan? Rugi dong? Lagi pula, kamu kan sekalian liburan,” ibu mengelus pelan kepalaku yang hanya mengendus kesal mendengar perkataan ibu. Kak Riko yang kuliah saja, boleh berlibur kemana saja dia mau, kenapa aku nggak?
“Tiga tahun lalu juga ibu bilang sudah membeli tiketnya, eh, ternyata belum… huh, ibu pembohong,” ucapku pelan sambil terus menatap gadgetku. Ibu langsung menyodorkan sebuah tiket penerbangan menuju Samarinda dan jelas-jelas namaku telah tertulis di situ. Ibu langsung tersenyum puas.
“Huh.. iya, ibu menang deh..!” seruku jengkel di sertai tawa khasnya.

“Akhirnya..!!” seru Fabri senang. Tak pernah terpikirkan olehku, liburanku kali ini akan kuhabiskan dengan sepupuku yang super ribut itu. Ia kembali berteriak memintaku agar cepat-cepat membereskan barang-barang. Mobil ayah pun sudah siap mengantar kami ke bandara. Satu hal yang kalian perlu tahu, ibu nggak jadi ke Samarinda. Huh, betapa malangnya aku ini.

“Hati-hati ya, jaga diri kalian baik-baik!” seru ibu disertai lambaian dari luar jendela. Aku hanya mengangguk perlahan. Sepanjang perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, ayah memberi tahu kami nanti Tante Sarah sendirilah yang akan menjemput dan memberi tahu bahwa sekarang rumah Tante Sarah telah pindah di Samarinda Seberang. Akhirnya, sampailah kami di bandara. Setelah mengucapkan selamat tinggal, akhirnya kami pun berangkat ke Samarinda. Pesawat melesat di angkasa disertai bunyi gemuruhnya. Fabri langsung terlelap dalam mimpi-mimpi, entah buruk ataupun indah. 1 jam, 2 jam, akhirnya kami telah tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan. Maklumlah, di Samarinda belum ada bandara besar.

“Huft, akhirnya… Samarinda!! Yuhuuu!” seru Fabri saat ke luar dari pintu bandara. Huh, malu-maluin. Jelas-jelas, kami masih di Balikpapan. Kami segera mencari Tante Sarah, dan berhasil menemukannya di sudut bandara. Fabri langsung berlari menuju pelukannya, begitu pula aku.

“Wah, kalian sudah besar-besar, ya. Tante kangen banget sama kalian.” Ucap Tante Sarah, disertai canda ria dari kami berdua. Entah kenapa, saat melihat Tante Sarah, aku menjadi sangat bahagia. Kami langsung memasuki mobil dan menemukan 2 toples amplang. Tanpa izin, tanpa ragu, dan tanpa pandang bulu, kami langsung menyerbunya. Tante Sarah tersenyum melihat tingkah laku kami.

“Amplang emang enak, ya” celoteh Fabri dengan mulut penuh amplang.
“Iyalah, jelas gitu loh, buatan Samarinda” pamer Tante Sarah, tertawa. Aku pun hanya diam ditemani sebuah toples amplang. Sekitar 1 jam, kami tiba di tempat yang bernama Bukit Soeharto. Terbayang sudah sebuah cerita angker dari sana. Ada sesosok wanita korban kecelakaan yang tewas secara tragis, sering menampakan diri dari balik pohon-pohon yang menjulang tinggi. Suasana yang teduh, sunyi dan sepi menemani perjalanan kami melewati Bukit Soeharto. Sampai akhirnya, kami berhasil ke luar dari Bukit Soeharto. Fabri kembali tertidur di kursi belakang dengan sisa-sisa amplang menempel pada pipinya.

“Aland? Nggak tidur? Masih satu jam lagi, lho,” Tanya Tante Sarah tersenyum. Aku menggeleng pelan. Kupandangi sebuah gantungan manik-manik. Pasti buatan nenek. Nenek merupakan pengerajin manik-manik seperti itu. Maklumlah, nenek keturunan Suku Dayak. Tak lama, aku pun tertidur. Serasa baru lima menit, suara Fabri terdengar nyaring di telingaku.

“Aland! Aland! Kita udah sampai di Samarinda!” serunya gembira. Aku yang baru terbangun, langsung terheran-heran.
“Lho? Udah sampai? Kok cepat banget, ya?” ucapku pelan.
“Hah? Cepat? Kamu kan tidur, Aland, jadi serasa cepat, gimana sih kamu ini??” ujar Fabri cengengesan. Aku manggaruk-garuk kepalaku yang nggak gatal sambil tersenyum. Tak lama, akhirnya kami tiba di rumah nenek. Tepatnya di Jalan Ciptomangunkusumo, Samarinda Seberang. Wajah muram ku telah berganti. Tampak jelas, nenek yang tengah menunggu kedatangan kami di depan rumah. Kami berlarian menuju nenek yang tersenyum lebar melihat kami.
“Nenek!! Fabri kangen!” seru Fabri seperti anak kecil.
“Hai, nenek!!” seruku. Nenek tersenyum melihat kami. Matanya berkaca-kaca. Mungkin, ia rindu sekali pada kami. Kami pun di ajak masuk. Kami memasuki kamar, dan sialnya, aku sekamar dengan Fabri. Terbayang lagi kenangan buruk saat aku sekamar dengannya. Saat kami bermain dalam kamar, tak sengaja Fabri menyenggolku, aku pun terjatuh dan mulutku mengenai ujung meja. Akibatnya, gusiku berdarah. Betapa sedihnya.

Setelah itu, aku bergegas mandi. Sedangkan Fabri tidak, ia langsung tidur. Betapa baunya ia nanti ketika tidur di sampingku. Malam pertama di Samarinda kulalui dengan baik. Besoknya, aku dan Fabri disuruh nenek mencari rotan di sekitar hutan di belakang rumah. Mungkin untuk membuat kerajinan. Sambil membawa parang dan tali raffia, kami siap berangkat.

“Nenek, nenek.. masa baru hari pertama di Samarinda langsung disuruh cari rotan, sih?? Bukannya diajak liburan kemana gitu. Serasa jadi anak pedalaman, deh” keluh Fabri.
“Iya nih, Samarinda kan banyak tempat hiburannya.” Keluhku lagi.
“Oh, iya, nanti ketepian Mahakam, yuk. Kita berdua aja. Jangan bilang-bilang nenek, nanti gak dibolehin. Sekalian coba jalan kaki di Jembatan Mahakam.” Ajak Fabri tiba-tiba.
“Wah, boleh juga tuh. Beli durian juga, ya” ucapku mengiyakan. Fabri mengangguk senang. Tepian Mahakam memang banyak yang menjual durian. Memang mahal, tapi enak. Telah lama kami berkelana di sekitar hutan, tapi nggak ketemu juga. Kami memutuskan mencari lebih kedalam lagi. Kami terkejut saat menemui seseorang di hutan. Bertubuh anak kecil, tapi wajahnya seperi orang dewasa. Ia tersenyum ke arah kami berdua. Karena merasa orang itu tetangga nenek, aku juga balik tersenyum.
“Mau kemana?” tanyanya ramah. Kami terdiam sejenak. Merasa aneh melihat orang dewasa setinggi itu. Tingginya sekitar pinggang kami. Pendek sekali.
“Kami mau mencari rotan” jawab Fabri. Orang itu tersenyum lalu menunjuk kearah barat daya. Seperti memberi petunjuk. Tanpa kata, ia pun pergi meninggalkan kami.
“Fab, kamu kenal orang tadi, nggak?” tanyaku heran.
“Nggak tuh, temannya Tante Sarah mungkin” sahutnya. Kami coba mencari ke arah yang tadi ia tunjukan dan menemukan rotan disana. Kami pun membawanya pulang. Sesampainya kami di rumah nenek, kami langsung memberikan rotan pada nenek. Nenek pun berterima kasih dan langsung masuk kedalam rumah. Aku dan Fabri langsung berlomba lari menuju Jembatan Mahakam.

“Ayo, Aland!! Buruan!” seru Fabri dari jauh. Huh, mentang-mentang juara 1 lomba lari tingkat provinsi, main seenaknya aja lari tanpa tungguin aku di belakangnya.
“Hoiii..!! tunggu!” seruku. Ia pun berhenti dan menunggu.
“Kamu kelamaan! Nanti ketahuan nenek!” ucap Fabri marah-marah.
“Kamu kecepatan, tahu!? Sabar, dong!” ucapku dengan nada kesal. Kami akhirnya berjalan saja.

Akhirnya, sampai juga kami di Jembatan Mahakam. Kupandangi Sungai Mahakam yang luas. Terlihat jelas sebuah Masjid besar. Seingatku, namanya adalah Islamic Center. Begitu megah dilihat dari sini. Kapal-kapal batubara berlalu-lalang. Banyak juga perahu-parahu kecil milik warga setempat. Pemandangan yang sangat jarang di temui di Jakarta. Entah apa yang kupikirkan, aku kembali teringat akan orang tadi. Siapa dia? Darimana? Dan kenapa tubuhnya kecil? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.

“Aland, kita kemana dulu?” tanya Fabri sambil menepuk bahuku.
“Hah? Apa?” ucapku. Suara Fabri nggak terdengar jelas. Suara-suara gemuruh dari para pengendara yang padat berlalu-lintas mengusik pendengaranku.
“Kita mau kemana dulu??” ia membesarkan suaranya.
“Oh, ke Tepian aja dulu. Nyantai-nyantai..” ucapku tersenyum. Ia pun mengangguk. Kami menelusuri Jembatan Mahakam yang cukup panjang itu. Mataku tertuju pada tiang-tiang kokoh di samping kiri dan kananku ini, besar, kuat dan tebal. Itu kesan pertamaku. Akhirnya, kami sampai di Tepian. Terlihat banyak tempat-tempat berteduh, dan banyak lapangan di sini. Ada juga patung Pesut Mahakam yang langka itu.
“Kita jadi beli durian, nggak?” Tanya Fabri.
“Durian?? …astaga! Lupa bawa uang!!” seruku panik. Fabri menggeleng-gelengkan kepala. Aku hanya nyengir.
“Yasudah, nggak usah deh. Emang kamu ceroboh” ucapnya seraya duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Aku cengengesan sambil terus meminta maaf. Fabri pun mengangguk-angguk saja. Yah, batal makan, nih.

Hari menjelang siang, kami hanya menikmati pemandangan di Tepian Mahakam. Kami pun memutuskan untuk pulang. Pasti nenek dan Tante Sarah bingung mencari kami.
“Darimana kalian?” Tante Sarah berdiri di depan pagar menunggu kami. Air liurku langsung tertelan. Jelas, Tante Sarah sedang marah.
“Jalan-jalan, tante. Habis kami bosan” jawab Fabri tertunduk.
“Baru hari pertama kok bosan sih? Memangnya kalian nggak capek kemarin pergi jauh dari Jakarta kesini??” tanya Tante Sarah bingung. Aku dan Fabri diam saja. Tante Sarah pun mempersilahkan kami masuk. Di dalam, nenek tengah duduk di ruang tv. Nenek menoleh ke arah kami lalu tersenyum. Tak ada kesal ataupun amarah pada raut wajahnya. Nenek malah menyuruh kami mengambil cemilan di meja.
“Wah, gula galit sama lempok durian!” seruku dan Fabri bersamaan. Kami langsung memakannya. Tante Sarah geleng-geleng kepala dan nenek hanya tertawa kecil. Terlintas kembali di benakku tentang orang kecil yang kami temui saat mencari rotan.
“Nek, tadi di hutan, kami ketemu sama orang kecil, lho, masa tingginya cuma sepinggang trus wajahnya kayak orang dewasa, padahal badannya kayak anak kecil, gitu” celotehku. Nenek dan Tante Sarah terpaku mendengar perkataanku. Fabri mengangguk mengiyakan.
“Kalian ketemu sama orang kerdil?? Kok bisa??” tanya Tante Sarah panik. Kami berdua berpandangan, bingung. Nenek malah terlihat tenang, lalu menjelaskan.
“Apakah ada di antara kalian ada yang pernah mendengar kata Gunung Lipan?” Tanya nenek tersenyum. Aku menggeleng pelan, begitu pula Fabri.
“Gunung Lipan adalah tempat kita tinggal ini, memang jarang terdengar nama itu, hanya orangtua di atas usia 70 tahuan yang mengetahuinya.” Ucap nenek.
“..lalu apa hubungannya dengan orang kerdil itu, nek?” tanya Fabri bingung.
“Gunung Lipan sebenarnya adalah sebuah perkampungan para makhluk halus yang kebanyakan bertubuh kerdil. Mungkin orang yang kalian temui itu adalah orang kerdil itu. Dulu, setiap setahun sekali diadakan Pelas Kampung dengan memberikan sesaji, untuk mereka. Tujuannya adalah agar manusia biasa yang tinggal disini tidak diganggu oleh mahluk-mahluk gaib yang juga tinggal bersama kita disini. Namun, sekarang hal tersebut sudah tidak dilaksanakan lagi. Entah mengapa, nenek juga tidak tahu.” Jelas nenek.
“Hah!? Makhluk halus!? Kok bisa!??” seruku panik. Fabri mematung di sebelahku. Wajahnya pucat pasi.
“Biasanya orang kerdil itu berbaur dengan warga asli di sini, berarti kalian beruntung. Belum tentu warga asli sini bertemu mereka, eh, ternyata kalian bertemu dengannya” ucap nenek tersenyum di sertai tawa Tante Sarah yang melihat reaksi kami berdua.
“Ketemu makhluk halus kok beruntung sih, nek!?” seru Fabri panik.
“Iya! Nenek ini!” seruku juga. Nenek malah tertawa. Apalagi Tante Sarah, tawanya makin lebar. Huft, memang nggak sia-sia datang ke Samarinda, banyak sekali dunia transparan yang nggak kelihatan dari luar, tapi mengasyikan untuk dijelajahi.

Cerpen Karangan: Nadesta Nazarius
Facebook: m.nadesta_nazarius[-at-]yahoo.com

Cerpen Dunia Transparan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


RyA

Oleh:
Mungkin kalian sudah sering mendengar kisah ini. Namun tak sekali pun kisah ini terealisasikan dalam kehidupan nyata. Ku ingatkan, kisah ini bukan kisah fiksi. Kisah ini didasarkan pada sejarah.

Cooking Class

Oleh:
Hai! Namaku Fierini Lizza Wahyuni. Panggil saja aku Izza. Aku adalah seorang anak yang sangat suka memasak. Aku sedang berada di rumah. Sekarang adalah liburan semester hari pertama. Aku

Ghost Cafe

Oleh:
Ini merupakan kisah nyata yang kualami sendiri bersama keluarga. Sekitar lebih kurang 2 tahun lalu, perekonomian keluarga kami mulai membaik sejak pasca masalah keuangan keluarga kami anjlok. Aku yang

Maaf Untuk Mama (Part 1)

Oleh:
“nggak aku nggak mau, aku nggak mau ikut sama kamu, aku nggak mauuuuuuu…! hosh hosh hosh” ternyata mimpi buruk itu lagi, aduh siapa sih sebenarnya perempuan itu, kenapa dia

Eksperimen Saat Libur Sekolah

Oleh:
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Yap libur telah tiba. Libur kali ini Sari dan teman-teman dekatnya tak pergi kemana-mana. Libur dua minggu untuk porsi liburan di rumah saja sangatlah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *