Figure On the Hill

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 April 2016

Cahaya bulan masih menerangi sebagian besar dari padang rumput dan perbukitan di Northshire. Cahaya keperakannya menyelimuti setiap sudut, setiap tempat, dan menciptakan bayang-bayang yang sedikit meresahkan hati di kelam dan sunyinya suasana. Keadaan desa di Northshire itu terlihat begitu tenang. Malam sudah begitu larut, dan kebanyakan dari para penduduk sudah bergulat dengan mimpi di tidur mereka. Namun di salah satu rumah, dua anak remaja belum dapat memejamkan kedua matanya mereka. Sarah dan Tom adalah kakak beradik yang kebetulan memutuskan untuk tinggal di Northshire selama libur musim panas mereka. Keduanya masih tergolek di atas tempat tidur namun dengan kedua mata terbuka lebar. Telinga mereka menangkap tajam suara-suara khas malam hari di desa. Suara jangkrik dan serangga lainnya membuat keadaan sedikit tenteram dan damai. Namun keduanya tetap tidak dapat menghilangkan perasaan cemas di dalam hati mereka.

“Apa akan muncul?” tanya Sarah pada adiknya yang satu tahun lebih muda darinya. “Kau yakin makhluk itu akan muncul?”

Tom menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Namun di dalam hati ia percaya bahwa apa yang mereka takutkan itu akan datang. Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan. Ada sebuah cerita mistis yang cukup terkenal di kawasan Northshire. Terutama di desa di mana mereka tinggal saat itu. Dikatakan bahwa setiap malam purnama, akan ada sosok makhluk misterius dengan badan bungkuk yang akan muncul di puncak bukit, yang disertai dengan suara lolongan anjing. Banyak yang mengatakan bahwa makhluk itu adalah makhluk penjaga perbukitan, yang ke luar setiap malam purnama untuk mencari mangsa. Malam itu belum malam purnama. Namun tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa makhluk itu tidak akan terlihat. Sarah dan Tom sudah mencoba bertanya pada paman dan bibi mereka yang sudah lama tinggal di Northshire. Dan menurut mereka, penampakan itu memang benar-benar ada. Paman John sudah mengatakannya sendiri. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Makhluk itu cukup tinggi, namun bungkuk.” Ucap paman John sore tadi saat mereka makan malam.
“Mungkin lebih dari 180 cm, dan ada sesuatu di bagian depan tubuhnya, seperti cakar besar atau semacamnya.”
“Dia selalu muncul setiap malam purnama?” tanya Tom.
“Ya.” Jawab pamannya dengan nada serius. “Setiap malam purnama, sosok itu akan muncul dan mengeluarkan sebuah lolongan yang mirip anjing. Tapi kalian tidak perlu takut. Makhluk itu ku rasa tidak suka dengan manusia.”

“Apa belum pernah ada yang menyelidiki kasus misterius ini?” tanya Sarah penuh dengan keingintahuan. “Ini hanya cerita, kan?”
“Tidak ada yang pernah benar-benar bisa membuktikannya.” Jawab paman John.
“Namun sosok itu benar-benar ada.”
“Sudah banyak yang melihat, kalau begitu?”
“Ya.” Jawab John. “Anehnya si tua Willard yang tinggal dekat dengan bukit itu tidak tahu apa-apa mengenai sosok itu. Ia berkata bahwa ia tidak pernah melihat sosok itu.”
“Si tua Willard?”
“Hanya seorang petani tua yang hidup sendiri setelah istrinya pergi dan putrinya menghilang. Kasihan pria itu. Seharusnya ia tidak hidup terlalu menyendiri.”

Detak jarum jam terdengar jelas di kelamnya suasana yang hening. Kedua remaja itu masih belum dapat menutup kedua mata mereka. Bahkan hingga jarum jam sudah menunjukkan pukul satu, mereka masih belum mengantuk. Mereka masih penasaran dengan sosok di atas bukit itu. Sarah mulai memejamkan matanya ketika ia sudah mulai lelah menunggu. Namun beberapa detik kemudian ia dikejutkan oleh sebuah suara nyaring yang datangnya dari tempat yang jauh. Sebuah suara lolongan, seperti lolongan serigala yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sarah dengan cepat bangkit dan membangunkan adiknya. Keduanya lalu sama-sama melihat ke luar dari jendela, ke arah punggung perbukitan yang disirami oleh sinar keperakan bulan. Dan saat itu juga, Sarah dan Tom hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Sesosok makhluk yang tinggi kurus dengan punggung membungkuk terlihat tepat berada di puncak bukit. Hanya terlihat seperti bayangan, dengan latar belakang langit berbintang. Dan lolongan itu terdengar dengan begitu jelas.

“Sarah!” Tom menggenggam erat tangan kakaknya. Mereka takut. Anehnya, mereka tidak bisa bergerak dari tempat mereka berdiri. Hingga akhirnya sosok itu menghilang seketika, seperti tertelan oleh gelapnya malam. Malam itu cuaca sedang cerah namun tidak cukup panas. Tapi keringat terlihat membasahi wajah kedua remaja itu. Hal itu terjadi karena rasa takut mereka yang berlebihan. “Apa kita harus membangunkan paman John?” tanya Tom.
“Tapi sudah terlalu malam.” Balas Sarah. “Aku tidak mau mengganggu tidurnya.” Maka keduanya sepakat untuk pergi tidur dan melupakan apa yang baru saja mereka lihat dan dengar. Meski sedikit susah untuk melepaskan pemikiran mengenai hal itu, namun pada akhirnya kedua kakak beradik itu jatuh ke dalam mimpi mereka.

“Kalian melihatnya?” ucap paman John keesokan harinya dengan raut wajah kaku, dan sedikit tidak percaya.
“Kau yakin?” tanyanya lagi.
“Ya.” Jawab Sarah dan Tom serempak. Keduanya saling pandang, lalu menjelaskan apa yang mereka lihat. Paman John mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia mengangguk.

“Aneh.” Ucapnya kemudian. “Tidak ada warga yang pernah mengatakan bahwa makhluk itu akan muncul selain saat purnama. Ini benar-benar aneh.”
“Memang aneh.” Ucap Sarah dengan nada penuh keoptimisan. “Makhluk itu ku rasa bukan makhluk astral.”
“Maksudmu?”
“Makhluk itu terlihat dengan jelas di bawah sinar bulan. Berarti tidak terlalu superstisi, kan?”
Paman John tertawa lantang mendengar penjelasan dari keponakannya itu. Ia merasa sedikit bangga, namun khawatir dalam waktu bersamaan.

“Kami akan menyelidikinya.” Ucap Sarah dengan nada pasti. “Kami akan ke bukit hari ini.”
“Tunggu dulu! Kalian..”
“Tidak apa-apa, Paman John.” Ucap Sarah. “Jika ada sesuatu terjadi, kami akan berteriak. Lagi pula, tidak ada yang perlu ditakutkan saat siang hari, kan?”
Paman John hanya dapat mendesah pasrah. Ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mencegah keinginan gadis itu.
“Tapi ku peringatkan satu hal pada kalian.” Ucapnya. “Berhati-hatilah jika bertemu si tua Willard!”
“Kenapa dengannya?” tanya Sarah. “Dia berbahaya?”
“Dia hanya tidak begitu ramah. Itu saja.”
“Kami akan berhati-hati.” Ucap Sarah dengan penuh kepercayaan. Wajahnya terlihat cerah, penuh dengan semangat.

Kedua remaja itu segera beranjak dari rumah begitu mereka menyelesaikan sarapan mereka. Sinar matahari pagi yang cerah menyiram tubuh keduanya, saat mereka bergerak perlahan menyusuri jalan desa di antara barisan bukit-bukit. Bukit bermasalah itu dapat dengan jelas terlihat. Untuk sesaat, keduanya ragu untuk naik ke atas bukit itu. Bagaimana jika ada yang melihat mereka dan melarang mereka? Semua penduduk desa itu sudah termakan oleh ketakutan akibat dari sosok misterius yang menghuni bukit itu.

“Tidak apa-apa. Ayo!”

Sarah bergerak mendahului adiknya. Ia melompati sebuah pagar rendah, dan mulai bergerak menaiki bukit berumput yang sebenarnya tidak begitu terjal itu. Lima menit kemudian, keduanya sudah berdiri di punggung bukit. Dan dari sana mereka dapat melihat hamparan ladang dan perumahan penduduk. Rumah yang mereka tempati pun terlihat dari sana.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Tom. Ia bergerak bersama dengan kakaknya menyusuri punggung bukit itu namun tidak menemukan satu hal aneh sekalipun.
“Aku juga tidak tahu.” Balas Sarah. Ia sapukan pandangannya ke setiap sudut, mencari, dan ia temukan rupa sebuah rumah di kejauhan yang letaknya terpisah dari deretan rumah warga.

Rumah siapa itu? Sarah kemudian teringat dengan ucapan paman John mengenai sosok si tua Willard, yang katanya tinggal menyendiri. Mungkin ia rumah pria tua itu. Perhatian Sarah terebut saat ia mendengar teriakan adiknya. Sarah bergerak cepat menghampiri Tom yang berdiri beberapa meter darinya. “Ada apa?” tanyanya. Tom hanya menggunakan jari telunjuknya untuk mengatakan maksud dari teriakannya tadi.

Sarah melihat ada dua batu besar berada di punggung bukit itu, yang ditata rapi, dikelilingi dengan batu-batu kecil seukuran bola tenis. Terdapat beberapa tangkai bunga di tempat itu, dan tanahnya sedikit basah. “Seperti sebuah tanda.” Ucap Sarah. Ia bergerak mendekat ke arah batu-batuan itu, dan mengulurkan tangannya. Namun tiba-tiba saja.. “Apa yang kalian lakukan?” Sarah dan Tom secara refleks memutar tubuh mereka ke arah datangnya suara serak itu. Dan di depan kedua mata mereka, sesosok pria tua dengan rambut putih menatap mereka melalui mata tajam seperti elang itu. Ia kelihatannya marah.

“Maaf!” ucap Sarah secara spontan.
“Kalian tidak boleh berada di bukit ini!” teriak pria tua itu. “Kalian, dan para penduduk. Apa kalian belum mendengar cerita itu?”
“Ya. Kami..”
“Tidak usah berkata apa-apa lagi!” ucap pria tua itu. “Aku ingin kalian turun sekarang juga, dan jangan pernah kembali!”

Sarah dan Tom tidak punya pilihan lain. Keduanya segera bergerak menuruni bukit, dan baru sadar sesaat ketika mereka melompati pagar. Pria yang mereka lihat barusan adalah si tua Willard. Seperti kata paman John, pria itu memang tidak ramah.

“Kita tidak menemukan apa pun.” Ucap Tom sedikit kecewa. “Dan karena tanahnya kering, tidak ada jejak sedikit pun.”
“Tapi susunan batu itu terlihat sedikit aneh, kan?” ucap Sarah. “Ada sebuah maksud dari tumpukan batu itu.”
“Oh, ya?”
“Aku tidak yakin.” Ucap Sarah.
“Mungkin.”

Ketika keduanya pulang, mereka menanyakan mengenai susunan batu itu pada paman John. Namun paman mereka itu tidak tahu mengenai adanya tumpukan batu. Dan ia menjadi sedikit tertarik dengan cerita keduanya.

“Tepat saat kami melihatnya, pria itu datang.”
“Maksudmu Willard?”
“Ya.” Jawab Sarah. “Dan dia memang tidak ramah. Ia membentak kami dan menyuruh kami turun.”
“Dan ia memeringatkan kami.” Tambah Tom.

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh kedua remaja itu. Mereka menghabiskan hari mereka di kamar, memikirkan segala kemungkinan dari kemisteriusan sosok di atas bukit itu. Namun pada akhirnya, mereka sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Malam kembali tiba. Jarum jam bergerak cepat, dan tanpa keduanya sadari, hari sudah mencapai tengah malam. Keadaan menjadi sepi lagi. Paman John dan istrinya mungkin sudah tidur. Tapi tidak dengan mereka.

Sarah dan Tom melirik ke arah jam yang ada di atas meja. Jarumnya menunjukkan pukul dua belas malam. Akankah sosok itu muncul lagi? Sarah dan Tom belum terlepas dari dugaan mereka saat tiba-tiba saja terdengar suara lolongan anjing yang meresahkan hati. Keduanya melompat seketika dari tempat tidur mereka dan bergerak ke arah jendela. Dari sana dapat mereka lihat dengan jelas, sosok tinggi dan bungkuk itu bergerak menyusuri punggung bukit. Sosok itu terlihat seperti tengah menengadahkan wajahnya ke langit, dan lolongan anjing itu terdengar dengan nyaring.

“Muncul lagi!” ucap Tom. Rasa takut mulai merayapi tubuhnya.
“Sosok di atas bukit.”

Sarah dan Tom tidak mengatakan apa pun mengenai kejadian semalam pada paman John keesokan harinya. Keduanya bungkam, dan seolah tidak mendengarkan apa-apa semalam. Tapi, apakah paman John tidak mendengarkannya? Paman John terlihat tenang pagi itu. Duduk di meja makan sambil membaca koran, sementara bibi ada di dapur. Sarah dan Tom saling lirik. Apa yang harus mereka lakukan? Seharian itu keduanya menghabiskan waktu di kamar sambil menerka-nerka sosok apa yang sebenarnya ada di atas bukit itu. Jawabannya tidak mereka ketahui. Dan tiba-tiba saja, Sarah mendapatkan ide yang cukup gila.

“Apa?!” Tom hampir tidak mempercayai apa yang Sarah katakan.
“Kau..” lanjutnya. “Kau mau pergi ke atas bukit malam nanti? Kau gila? Bagaimana jika.., malam nanti adalah malam purnama!”
“Itu dia!” seru Sarah. “Kita akan membongkar misteri ini. Ku rasa tidak ada yang namanya hantu atau monster. Segala hal memiliki penjelasan yang rasional.”

Tom tidak dapat lagi membantah ucapan kakaknya. Sarah memang terkenal sebagai gadis pemberani dan berjiwa petualang. Tidak sama seperti Tom. Tapi, dia juga tidak mau ditinggal sendiri di kamar. Ia menyetujui ajakan kakaknya untuk menghampiri bukit itu. Malam pun tiba. Paman John dan bibi sudah pergi tidur, saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Sarah dan Tom berpura-pura tidur awal. Mereka segera memakai jaket mereka saat malam sudah begitu larut.

“Kau siap?” tanya Sarah pada Tom. Tom terlihat menggigil. Mungkin dia merasa sedikit takut.
“Aku gugup.” Ucap Tom. “Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada kita?”
“Kita masih memiliki mulut, kan?” Balas Sarah. “Kita berteriak sekencang mungkin.”

Ide yang lumayan. Namun keduanya tidak tahu apakah hal itu akan berhasil atau tidak. Mereka tidak memikirkan hal lain selain sosok misterius itu. Dalam sepuluh menit, keduanya sudah berada di luar rumah, berada di hamparan rumput yang luas, yang berwarna keperakan karena tersiram cahaya bulan yang bersinar terang seperti matahari. Keduanya bergerak menyusuri jalanan desa, lalu mengarah pada tempat di mana mereka naik ke atas bukit kemarin. Sarah dan Tom nyaris tidak memerlukan senter mereka sebab segalanya bersinar malam itu. Mereka dapat melihat dengan jelas wajah masing-masing.

“Kita..” ucap Tom. “Apa yang akan kita lakukan?”
“Kita akan menunggu.” Ucap Sarah. “Kita tunggu sosok itu muncul, dan kita akan menyergapnya.”
“Bagaimana caranya?”
Sarah terdiam. Ia tidak mau mengatakan rencananya pada Tom sebab mungkin Tom akan tidak setuju. Ia memimpin petualangan malam hari itu. Mereka bergerak menaiki bukit bermasalah itu, lalu mengarah ke tumpukan batu yang mereka lihat sebelumnya.

“Sosok itu akan muncul di sekitar tempat ini.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Tom.
“Aku tahu.”

Sarah kemudian menarik lengan adiknya dan bergerak beberapa meter menuruni bukit, lalu bersembunyi di balik gundukan tanah yang dapat menyembunyikan tubuh mereka dari puncak bukit. Puncak bukti itu dapat terlihat dengan jelas oleh kedua mata mereka. Menit-menit berlalu. Di tengah udara dingin, keduanya mencoba bertahan dan melihat apakah sosok itu akan muncul lagi atau tidak. Dan tepat ketika mereka merasa ragu, terdengarlah suara lolongan anjing itu.

“Dia datang!”

Sosok tinggi dan sedikit bungkuk itu akhirnya nampak di puncak bukit. Bayangan itu bergerak perlahan di sepanjang punggung bukit, mengarah pada dua batu yang ada di ujung. Sosok itu berhenti beberapa kali, namun tetap bergerak beberapa detik kemudian. Namun ketika sosok itu berhenti tepat di depan tumpukan batu, sosok itu berdiri diam. Sarah dan Tom dapat melihat dengan jelas, saat wajah dari sosok itu menatap mereka. Dengan tatapan murka, dan geraman anjing pun terdengar seketika.

Tom berteriak seketika. Ia kira bahwa nyawanya akan berakhir begitu sosok itu melihatnya. Spontan ia ingin lari. Namun tangan Sarah memegang lengannya.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan.” Ucap Sarah dengan suara lantang. Ia kemudian berdiri dari tempat persembunyiannya, dan memandang lurus ke arah bayangan tinggi di atas bukit, yang masih berdiri tegak itu.
“Sudah ku duga.” Lanjutnya. “Sosok itu memang hanyalah ketakutan yang berlebihan.”

“Apa yang kau bicarakan? Siapa sosok itu?” tanya Tom cepat. Seketika, cahaya senter menyala dari tangan Sarah, mengarah pada sosok yang berdiri di atas bukit itu. Dan terlihat jelas, raut wajah pucat, penuh dengan kerutan dan sepasang mata seperti elang. Pria tua itu terlihat sedikit murka dengan apa yang terjadi.
“Si tua Willard.” Tom memandang dengan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sosok itu memang benar-benar Willard, yang bertemu dengannya kemarin di bukit itu. Tapi Tom masih tidak mengerti dengan kenyataan sebenarnya.

“Sosok yang dilihat oleh warga setiap malam itu adalah Anda, benar kan, Tn. Willard?” ucap Sarah.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu kenapa.” Jawab Sarah atas pertanyaan adiknya. “Tapi ku rasa ada hubungannya dengan dua batu itu. Yang dapat ku katakan, mungkin, sebuah simbol. Atau memang ada sesuatu di sana. Sebuah makam, mungkin?”
“Apa?!”

Willard masih berdiri tegak. Di tangannya terlihat ada sebuah tali, yang mengarah pada satu sosok besar yang duduk di sampingnya. Seekor anjing besar berwarna cokelat, yang tidak mau berhenti melolong. “Lolongan itu bukan berasal dari Willard, namun dari anjingnya itu.” Ucap Sarah. “Aku tidak tahu alasannya kenapa Anda berjalan malam-malam di bawah cahaya bulan di bukit ini, Tn. Willard. Anda mau menjelaskannya?” Si tua Willard kemudian tertawa kecil. Ia tersenyum ke arah dua remaja itu, dan menatap mereka, bukan dengan tatapan menakutkan lagi. Namun ada perasaan senang di dalam sorot matanya.

“Aku akan menceritakannya.” Ucap Willard. “Jika itu yang kalian mau.”

Tom duduk di ujung tempat tidur Sarah, dan masih belum bisa mempercayai kejadian yang baru saja ia rasakan. Dua jam telah berlalu, namun ia masih dapat merasakan kengerian saat sosok itu muncul. “Dua batu itu..” ucap Sarah. “Adalah makam putrinya yang tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. Alasan kenapa Willard menguburkannya di sana, karena putrinya itu memang suka dengan bukit itu.”
“Dan alasan kenapa Willard selalu pergi ke makam itu? Lalu kenapa saat malam purnama?”

“Karena putrinya menyukai langit di malam purnama.” Ucap Sarah. “Si tua Willard selalu pergi ke bukit itu setiap malam purnama untuk menemani putrinya. Sekaligus melakukan perawatan terhadap makam itu. Kenapa ia menyembunyikannya dari warga, ku rasa ia hanya tidak mau makam putrinya diketahui.”
“Karena jika sampai ketahuan, dia akan dipaksa untuk memindahkan makamnya, kan?”

“Ya.” Jawab Sarah. “Ku rasa yang memulai rumor mengenai sosok misterius itu juga si tua Willard. Ia berusaha menakuti warga agar tidak naik ke bukit itu dan mengganggu makam putrinya. Satu hal bagus, yang tidak dijalankan dengan bagus.”
“Sosok itu menjadi nyata karena ketakutan warga.” Ucap Tom. Ia akhirnya dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi di desa itu.
“Apa kau akan menceritakannya pada Paman John mengenai hal ini?” tanya Tom beberapa detik kemudian.
Sarah berpikir mengenai hal itu. Ia baru saja memecahkan sebuah misteri. Haruskah ia berbangga akan hal itu? Bagaimana dengan pria tua itu?

“Ku rasa tidak.” Jawab Sarah sambil tersenyum. “Biar segalanya berjalan sebagaimana mestinya. Willard sangat menyayangi putrinya. Bahkan hingga putrinya meninggal. Ku rasa, aku akan membiarkannya saja.”
“Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang baik atau buruk.”
“Paling tidak..” ucap Sarah. “..kita berhasil belajar satu hal.”
“Apa itu?”
“Bahwa segala sesuatunya memiliki penalaran yang cukup rasional.”

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: mysteryvault.blogspot.com

Cerpen Figure On the Hill merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketukan Tengah Malam

Oleh:
TOK TOK TOK Astaga, di jam setengah 12 ini siapa sih yang mengetok pintu kamarku? Aku mengacuhkannya karena kantuk melanda. Aku pun tertidur lelap. Ketika makan pagi, aku hendak

Temanku Seorang Atheis (Part 1)

Oleh:
Darah merah yang terlihat masih segar itu membasahi lantai rumahnya. Kulihat usus berserakan di antara sela kursi. Aku menangis di pojokan kamarnya seakan tak percaya melihat apa yang telah

Itu Kan Lukisan Wajahku

Oleh:
Boleh jadi aku dibilang kegeeran atau apalah… Tapi, aku yakin banget profil wajah yang dijadikan model dari puisi yang dipajang di majalah dinding itu adalah profil wajahku… Coba lihat

Marcen (Part 2)

Oleh:
Seperti mimpi buruk yang datang dalam tidurku semalam. Aku terus memimpikan bagian buram dari masa lalu yang tidak pernah jelas ketika ingin kuingat. Aku bangun dengan tergegas memastikan ini

Misteri Dibalik Rumah Kosong

Oleh:
Tak jauh dari rumahku, terdapat rumah yang tidak ada penghuninya lagi. Rumah tersebut sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Dan sekarang rumah itu terbengkalai dan menjadi tempat yang angker. Rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *