Finding The Murder (Chapter 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Hari rabu dipertengahan desember, warga new york dikejutkan atas kabar kematian seorang profesor ternama bernama Rudolf Lospalos. Dia ditemukan tewas di kantor pribadinya dengan sejumlah kejanggalan, dugaan sementara korban tewas bunuh diri. “orang-orang sudah bosan hidup nampaknya”. Gumamku lalu menyeruput secangkir kopi, menanggapi siaran berita breaking news di televisi.

“kringg…”. suara telepon. Kudengar teleponku berbunyi segera aku menghampirinya kuangkat lalu menyapa. “kediaman Mark Shaw, dengan siapa aku bicara”. Kataku “komisaris kepolisian kota new york Jacob West”. Jawabnya “maaf mengganggumu Shaw, aku ingin kau datang dan ikut menyelidiki kematian profesor Rudolf Lospalos”. Sambungnya “berapa bayaran yang akan kudapat”. Tanyaku “datanglah dulu soal itu kita bicarakan nanti”. Jelasnya lalu menutup panggilan teleponnya. “tidak sopan menutup pembicaraan seenaknya”. Gerutuku.

Tak ingin menunggu aku pun segera bersiap mengenakan kemeja putih, dasi, jas dan celana hitam, sepatu hitam dan kaus kaki berwarna senada tak lupa kukenakan topi fedora hitamku sebagai detektif swasta aku ingin berpenampilan rapi dan elegan, semabari mengunci pintu.

Udara dingin di bulan desember tak menyurutkan semangatku, ini bagianku agar dapat mendulang uang kasus ini pasti kupecahkan. Lalu kupanggil sebuah taxi dan langsung menuju kediaman profesor Rudolf.

Sesampainya di lokasi kulihat beberapa mobil polisi dan sebuah ambulan sudah terparkir di depan rumah mewah berlantai dua itu. “komisaris siapa pria tinggi yang berpakaian serba hitam itu?”. Ucap salah seorang polisi “dia temanku detektif Mark Shaw”. Jelas jacob “kupikir kau takkan datang Shaw”. Sapa jacob padaku. “heh, kuharap bayaranku tinggi untuk kasus ini”. Ucapku sinis. “haha, sepenting itukah uang untukmu Shaw, ikuti aku”. Ledeknya sambil berlalu masuk ke dalam rumah dengan aku menyusul di belakangnya.

Garis polisi terpasang di pintu masuk sebuah kantor pribadi berukuran 6 x 4 m/segi dengan mayat profesor Rudolf yang masih terkapar di lantai, sebuah jarum suntik ditemukan tak jauh dari jasadnya. Kutemukan sebuah botol kecil di meja kerjanya, tertulis Digitoxin di botolnya. “Digitoxin.. bukankah ini obat untuk penderita penyakit jantung.” Kataku “ya, korban diketahui mengunci diri, sampai ditemukan tewas overdosis digitoxin. Kami kira ini murni kasus bunuh diri, sampai aku menemukan ini. Itu sebabnya aku memanggilmu”. Jelas Jacob padaku sambil menunjukan secarik kertas.
“apa itu?”. tanyaku “sebuah kode yang terdiri dari enam angka dan sebuah kata”. Jelas jacob “coba kulihat”. Pintaku lalu melihat kode itu. Kode ini terdiri dari enam angka tak beraturan “5-14-4-5-18-19” dibawahnya tertulis sebuah kata “QWERTY”. “sudah mati pun masih menyusahkan”. Gerutuku dalam hati lalu menghela nafas.

“bagaimana dengan para saksi”. Tanyaku “tak banyak saksi di sini Shaw hanya ada seorang pelayan pribadi, satu penjaga keamanan, satu juru masak, ditambah seorang dokter pribadi yang kebetulan datang”. Jawab Jacob.
Aku pun mulai memeriksa para saksi, saksi pertama bernama Eddie Volta dokter pribadi profesor Rudolf, yang diketahui menjadi orang terakhir yang bertemu profesor Rudolf. “saat itu aku memang menemui beliau untuk memeriksanya dan meberi dosis rutin digitoxin karena beliau punya riwayat penyakit jantung. Tapi obat itu hilang, aku pikir aku lupa membawanya akhirnya kembali ke rumahku untuk mengambilnya, saat kembali obatnya memang tidak ada di rumahku.” Jelas Eddie “jadi maksudmu obat itu dicuri darimu”. Tanyaku “saya rasa begitu detektif.” Jawabnya.

Saksi kedua bernama Enders Clark pelayan pribadi prof. Rudolf. “saat kejadian aku hendak mengantar minuman yang beliau minta, sesampainya di depan kantornya aku mengetuk-ngetuk pintunya tapi tak ada jawaban. Aku pikir aku masuk saja tapi kudapati pintunya terkunci, kupanggil-panggil nama beliau tapi beliau tak menjawab. karena takut terjadi sesuatu aku meminta bantuan aku meminta Adriano untuk mendobraknya lalu kudapati beliau sudah tewas”. Jelasnya panjang lebar.

Saksi ketiga bernama Adriano Chiciato si penjaga keaamanan rumah. “tuan Adriano dimana anda berada saat kejadian?”. tanyaku “saat kejadian seperti biasa aku sedang berjaga di posku, sampai Enders memintaku untuk mendobrak pintu kantor pribadi profesor lalu kudapati beliau sudah tewas.” Jelasnya.

“hmmm lalu di mana juru masak yang kau bicarakan itu Jacob?”. tanyaku “aku lupa mengatakannya Shaw, dia cuti sejak tiga hari”. Jawab jacob. Aku putuskan mengulik informasi lebih dalam lagi dari ketiga saksi sampai aku mengetahui bahwa dokter Eddie Volta sudah menjadi dokter pribadi profesor rudolf sejak dua tahun lalu dan tak pernah ada masalah antar keduanya. Adriano baru bekerja selama dua bulan di sini karena penjaga lama mengundurkan diri. Pernyataan mengejutkan kudapat dari Enders jikalau profesor Rudolf pernah meniduri Anak gadisnya karena beliau mengancam dia tak berani berbuat apa-apa.

Sebuah hal mebuatku terkejut kode itu berhasil ku pecahkan. “skakamat tuan Enders, hentikan sandiwaramu itu”. Kataku membuat semua orang di TKP hening sesaat. “A.. Apa maksud anda detektif?”. kata enders “kau pelakunya, pembunuh dokter Rudolf”. Kataku datar. “tapi kau tak punya bukti detektif.” Enders membela diri “informasimu dan kertas ini cukup untuk membuktikan bahwa kau bersalah.” Timpalku. “apa alasanmu Shaw jelaskanlah.” Ucap Jacob.

“baiklah hal pertama dari ketiga saksi saat kejadian hanya tuan Enders yang ada di dalam rumah dan satu-satunya saksi yang memiliki konflik yang cukup bisa mendasari pembunuhan ini. Kedua dia memanfaatkan keberadaan dokter Eddie dan bermaksud mengkambing hitamkannya dengan mencuri dan membunuh dengan Digitoxin, padahal digitoxin mudah didapat jika aku jadi kau tuan Enders aku lebih baik membelinya daripada mencurinya kau gagal dalam hal ini. Ketiga setelah membunuh kau tak memastikan kematian korban dan langsung pergi lalu mengunci pintu, tak lama kau kembali dengan Adriano menyuruhnya mendobrak pintu itu agar terkesan itu adalah sebuah kasus bunuh diri, nyatanya korban sempat meninggalkan pesan kematiannya di. secarik kertas ini, terdapat enam angka dan sebuah kata “QWERTY” mengingatkanku akan sebuah deretan huruf maka kita urutkan angka ini adalah huruf dari urutan huruf Alpabeth maka akan tertera sebuah nama “5(E)-14(N)-4(D)-5(E)-18(R)-19(S) maka tertulis ENDERS !!” jelasku secara terperinci membuat dia tak bisa menyangkal lagi dan kasus pun terpecahkan.

“Tangkap dan bawa tuan Enders ke kantor polisi” suruh jacob pada bawahannya. Aku menghampiri jacob

“Nampaknya rekeningku sudah minta diisi.” Kataku padanya. “iya baiklah akan segera kukirim bayaranmu, dasar mata duitan.” Kata jacob. Aku tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu “hey Shaw!!” teriak Jacob. Membuat langkahku terhenti “terima kasih!!” sambungnya aku tak menjawab dan lansung pergi dari tempat itu.

Esoknya kudapati hedline di koran pembunuh Profesor Rudolf Ditangkap”. Heh dan aku mendapat bayaran yang cukup besar.

Cerpen Karangan: Ran Akioshi

Cerpen Finding The Murder (Chapter 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pisau Daging

Oleh:
“Shannon, jangan lupa! nanti malam datang ke pesta ulang tahunku ketujuh belas ya?” Laffy menyodorkan sepucuk undangan berwarna merah muda itu kepada Shannon. “Tentu saja! Terima kasih, Laffy!” Shannon

Dapur Dingin

Oleh:
Ketika bel berbunyi yang menandakan waktu pulang sekolah, Thomas masih duduk bermalas-malasan di sudut kelas. Ia hanya duduk termenung di kursi kayunya, sambil memandangi teman-temannya mulai membereskan buku mereka.

You’re My Little Secret

Oleh:
Pagi senin yang cerah. SMA Merah Putih tampak lebih hidup hari ini dengan suara riuh rendah para siswa mulai dari tingkat sepuluh sampai tingkat dua belas yang sedang berkumpul

The Facts And Misunderstanding

Oleh:
“Ya nanti kami akan menyusulmu” ucap Olive. Aku langsung berlari ke Starbucks dan memesan capucinno, dan menangis sepuasnya, aku tak sanggup melihat mereka berdua bersama. Tapi sialnya, saat aku

Midnight Clown (Part 1)

Oleh:
Aku menatap dengan perasaan sedih dan iba, ketika melihat seorang wanita tua yang sudah tidak berdaya, di atas tempat tidurnya. Yaa… Tuhan, sebentar lagi pasti ia akan meninggalkan dunia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *