Gadis Dalam Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

Di dalam rumah yang tak pernah menyalakan lampu tersebut, ternyata ada seorang gadis yang hidup di dalamnya. Penduduk kampung mengira rumah itu telah kosong sejak kejadian tiga bulan yang lalu. Kejadian apa itu? Santai, ternyata ada sekumpulan pemuda yang nongkrong di depan rumah itu sedang membahas perihal rumah tak bercat tersebut.

“Rumah ini dijual atau apa sih?” Tanya salah satu pemuda.
“Yakinku tak dijual, kita kan tahu yang menempati rumah ini dulu bukan pemilik aslinya!” Jawab yang lain.
“Pak Rodi katanya mengalami krisis keuangan. Jadi dia merantau gitu…”
“Loh, Raya dan Dito juga diajak merantau, Kin?”

Gubrak!

Tiga orang pemuda tadi tersentak kaget. Terdengar suara benda jatuh di dalam rumah itu. Firasat-firasat tak jelas langsung mendarat di kepala mereka. Salah seorang pemuda yang bernama Wardi bergegas menuju ke teras rumah tersebut untuk mencari tahu. “Wardi bego! Mau lihat apa kau?”
“Dasar Wardi! Mungkin kucing tidak pernah masuk ke rumahnya!” Ketus Hamdan, salah seorang teman Wardi.

Mereka berdua tertawa mengejeknya. Namun, pemuda yang bertubuh ‘mungil’ itu tak menghiraukan teman-temannya. Ia malah serius mencoba melihat ke dalam rumah yang diselimuti gelap nan pekat itu. Ada sesuatu yang hidup di dapur rumah tersebut. Ponsel layar sentuh yang agak murah harganya kalau dilihat secara fisik. Layar ponsel itu bercahaya, menampilkan menu layanan internet. Terketik “Meme lucu.” Kita jadi tahu kalau ponsel ini dipegang oleh orang penggemar meme.

“Halo!” Wardi memanggil dari luar. Pemilik ponsel tadi yang merupakan seorang gadis yang tinggal di dalam rumah itu langsung mematikan ponselnya dan hening ditelan gelapnya dapur. “Aku tahu kau di dalam, Raya!” Seketika leher gadis itu terasa dicekik. Bibirnya mulai terbuka sedikit dan tangannya menggetar hebat.

“Hei, gila! Kau bicara dengan siapa?” Teman-temannya datang menghampiri Wardi.
“Ssst! Ra…ya!” Bisik Wardi.
“Kau tahu dari mana?” Kinda juga berbisik.
“Aku bisa mencium bau tubuhnya!”
“Dasar anj*ng!” Hamdan merasa aneh melihat Wardi. Mereka tidak tahu bahwa Raya sudah tidak di dapur lagi. Ia sedang berjalan menuju kamarnya dengan meraba-raba. Ibarat orang buta, seperti itulah yang dirasakan Raya. Sebab ia hanya melihat hitam, hitam, dan hitam yang sangat pekat.

Bulan purnama yang semula benderang, kini awan malam telah menghalangi sinarnya dengan beramai-ramai. Suara gemuruh juga menyahut dari arah barat. Namun, itu tak membuat tiga pemuda tadi pulang ke rumah, malah mereka tambah sibuk. Sepertinya mereka berniat untuk menyelinap masuk ke rumah Raya.
“Kalian harusnya bersyukur karena aku anak dari seorang ahli kunci!” Tukas Hamdan seraya mengutak-atik gembok yang mengunci pintu dapur Raya dari luar.
“Jadi, laptop Pak Jagad yang hilang itu…” Wardi mencoba menerka.
“Heissst! Itu ayahku! Aku hanya menemani saja seperti kalian saat ini. Oi, yang benar dong kalau nyenterin!” Karena kesal, Kinda pun menjotos kepala Hamdan dengan mancis bersenter itu.

Tak ada yang tahu kalau Raya sedang menunggu kehadiran mereka. Ia duduk di sofanya yang empuk bagai sang ratu di singgasana menunggu tamu kehormatan. Anehnya, ia tetap tak membutuhkan seberkas cahaya. Lilin, lentera, ponselnya juga entah ke mana disimpannya. Tapi kita dapat melihat sedikit, kalau ia sedang menggenggam sebuah pena murah.

“Alhamdulillah….”

Hamdan membuka pintu dengan perlahan agar tak terdengar decitan engsel yang berkarat. Tampak mimik penasaran terpampang di wajah Wardi dan Kinda. Hamdan langsung merampas mancis yang digenggam Kinda agar mancis itu dapat menerangi ruangan dalam rumah tersebut.
“Jika benar ini Raya, mau kita apakan dia?” Tanya Hamdan.
“Kita ajak bicara apa maksud dia bersembunyi di…” Kinda langsung memotong perkataan Wardi. “Perk*sa!”
“Ini kesempatan langka, kawan!”

Hamdan dan Wardi kaget dan langsung menoleh ke Kinda. Namun, tiga pemuda ini semua sama saja. Di balik gelapnya rumah itu, ternyata iblis sudah bersarang duluan dan mereka pun sepertinya telah termakan bujuk rayu Iblis.
“Kinda jenius! Mumpung kampung sedang sepi kali ini!”
“Benar! Aku akan mengunci pintunya dari dalam! Cari saklar lampunya, Dan!”

Sekejap rumah tersebut langsung terang. Mata ketiga pemuda tersebut menjadi lega karena sebelumnya haus akan cahaya. Yang disangka mereka adalah, rumah itu berantakan, tak terawat, dan penuh debu. Nyatanya, kebalikan telah terjadi. “Tidak seperti ada tanda-tanda kehidupan, Di!” Kinda mulai kesal.
“Sabar, Kin! Ia pasti sedang bersembunyi…” Tukas Wardi.

Mata mereka mencari-cari di mana gadis yang berusia delapan belas tahun itu. Kinda membuka segala yang tertutup seperti pintu kamar, lemari dan kulkas. Rumah tersebut tidak begitu luas. Hanya rumah biasa, itu saja. Namun tetap saja, mereka tak melihat Raya. Sangat tidak mungkin ia bersembunyi karena Hamdan dan komplotannya telah menggeledah segala penjuru rumah.

“Ah, kita telah terbawa imajinasi Wardi!” Ketus Hamdan.
“Benar, bahkan kita tak dapat apa-apa! Dasar Wardi pengkhayal! Kami menyesal telah mengikutimu!” Kinda menendang kursi yang ada di dekatnya. Wardi tak berucap sepatah pun. Ia hanya merunduk malu dan berjalan untuk mematikan saklar lampunya. Dia menjadi sangat benci dengan Hamdan dan Kinda. Orang yang telah ia anggap sebagai sahabat baiknya, ternyata malah melontarkan kata-kata seperti itu. Ia ingin mereka mati secepat mungkin, itulah yang dipikirkan oleh Wardi.

Ketika semua lampu telah padam, mereka pun berjalan menuju pintu dapur dengan ditemani sebuah mancis. Tak disangka, tiba-tiba gemuruh menggelegar sehingga membuat mereka terkejut setengah mati. Anehnya lagi, pintu dapur kembali terkunci dari luar! “Hei, apa-apaan ini? Siapa yang mengunci dari luar!?” Hamdan mulai ketakutan.

Tanpa pikir panjang, Wardi dan Kinda langsung membantu Hamdan untuk menarik pintu itu sekuat tenaga. Pikiran mereka langsung tertuju pada satu hal: ini semua ulah hantu. Di belakang mereka, ada Raya yang berdiri sambil menggenggam sebuah pena murah. Wajahnya samar-samar karena hanya terpantul sebuah sinar kecil dari api mancis. Ia mulai menyeringai. Seringai jahat. Ia melangkah perlahan ke arah mereka dan…

“Aaarrgghhh!!!”

Matahari pagi telah bersandar di pangkuan langit biru nan cerah. Burung-burung berkicau, barangkali ada arti dari kicauan itu. Kampung Gelora sedang ramai saat itu. Warga sedang mencari-cari tiga pemuda yang hilang. Ada yang menangis histeris dan meraung-raung, sudah pasti itu orangtua para korban. Bahkan ada warga yang menyudutkan ketua RT setempat, entah apa alasannya. Tampak seorang lelaki kurus tua sedang berjalan membawa ransel di antara hiruk pikuk warga. Ia menoleh ke arah sekitar sebagai bentuk kebingungannya yang tak terjawab.

“Pak Rodi? Akhirnya Bapak pulang juga!” Bu Yayuk, salah seorang warga, mengenali sosok tersebut.
“Rumah saya bukan di sini, bu. Saya hanya ingin mengambil ponsel Raya yang tertinggal…”
“Jadi Bapak tinggal di mana sekarang? Bagaimana kabar anak-anak?”
“Saya tinggal di kota. Dito sehat. Ia baru diterima di salah satu SMA favorit!” Pak Rodi tersenyum bangga.

“Alhamdulillah! Ng… Raya? Sudah mulai kuliah, pak?” Pak Rodi langsung mengubah raut wajahnya. Air matanya langsung mengalir di pipinya. Tangannya mengepal sebuah foto dan ia berikan foto itu pada Bu Yayuk.
“Raya… sudah meninggal, Bu. Anak-anak di sana ternyata pantang melihat gadis cantik berjalan sendiri.”

Mata Bu Yayuk membelalak kaget melihat foto tersebut. Mulutnya berkomat-kamit menyebut nama Tuhan. Tak disangka, Raya tewas seminggu yang lalu setelah diperk*sa dengan leher tertancap sebuah pena murah. Jadi, siapa yang ada di dalam rumah tersebut tadi malam? Tak ada yang tahu. Kini, di rumah itu hanya terdapat tiga pemuda yang sedang terbujur kaku dengan leher tertancap sebuah pena murah.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani

Cerpen Gadis Dalam Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pembunuhan Sang Detektif

Oleh:
Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan tindak kejahatan lainnya adalah panganan sehari-hari penduduk kota London. Bertahun-tahun Kota London dihantui awan kejahatan. Para penduduk selalu merasa takut untuk ke luar di malam

Terowongan Bright City

Oleh:
Bagian paling utara Bright City, salah satu sudut kota yang selalu sepi. Salah satu sudut kota yang selalu sepi. Di dekat Bright City, ada sebuah terowongan yang menghubungkan Bright

James Alexander

Oleh:
Mayat itu terbaring dengan kaku. Polisi masih mengumpulkan fakta dari kasus ini. Tuan Thomas Chang adalah pengacara yang cukup ternama. Dia juga telah memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di

Midnight Clown (Part 1)

Oleh:
Aku menatap dengan perasaan sedih dan iba, ketika melihat seorang wanita tua yang sudah tidak berdaya, di atas tempat tidurnya. Yaa… Tuhan, sebentar lagi pasti ia akan meninggalkan dunia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gadis Dalam Gelap”

  1. muammarb says:

    kisah yang mengharukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *