Gadis di Bawah Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 25 April 2017

Bel pulang sekolah sudah terdengar sejak 30 menit lalu. Namun, keramaian di koridor-koridor kelas tak kunjung surut. Wajah-wajah kesal sekaligus khawatir terlihat dari setiap sudut koridor. Wajah-wajah yang memandang langit muram, terus memanjatkan doa agar sang langit berhenti menangis.
Di sudut lain, beberapa murid nekat menerjang riuhnya titik air tanpa ‘penghalang’ apapun. Langsung tancap gas tak peduli dengan teriakan beberapa guru -menyuruh untuk menuntun motor hingga gerbang depan. Beberapa lagi, sibuk memakai jas hujan. Lebih tak ingin ambil resiko masuk angin karena ganasnya hujan.

Kuperhatikan pemandangan itu sambil duduk, menggulung ujung celana abu-abuku. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sejak bel pulang sekolah 30 menit lalu, sengaja aku menunggu kalau-kalau tangisan langit ini akan mereda. Sayangnya. Sepertinya langit akan makin histeris kalau aku tidak segera pulang.
Membuka payung, melangkah perlahan keluar sekolah, kecipak air dari hentakan alas kakiku yang sudah kuganti dengan sandal jepit, mengiringi langkahku.

Jalan yang sama, halte yang sama dan pemandangan yang sama. Masih 10 meter lagi hingga aku sampai di halte tujuanku. Terpaut sebuah gerbang taman kecil dengan pepohonan rindang dan mainan anak-anak. Dan di sanalah kutemukan sosok itu.

Seragam putih abu-abu dengan bet sekolah yang sama denganku, basah kuyup mengikuti rambut panjang hitam sepunggungnya hingga ujung rok -bahkan sepatu fantovel hitam miliknya. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit, mengikuti tangan kanannya yang terangkat 45 derajat dari atas kepala. Sorot mata semuram langit, seolah melemparkan seluruh kepedihan hatinya pada langit yang menangis.

Gadis itu menangis. Terselip di antara titik-titik air yang membasahi wajahnya, terlihat air mata kesedihan yang mengalir pelan. Senyum muram yang terlukis di wajahnya seolah ingin memerangi kepedihan yang dirasakannya.

Aku melangkah mendekat perlahan. Kuhentikan langkahku saat jarakku dengannya hanya 30 centi. Dengan jarak sedekat itu, aku tak bermaksud membagi payungku. Bukan karena akan sia-sia saja. Karena, toh tak ada semili pun yang masih kering dari tubuhnya. Tapi lebih karena tak ingin menghalangi pandangan mata hitam bulatnya pada langit muram. Gadis itu bergeming. Seolah tak peduli dengan ke hadiranku.

“sedang apa?” tanyaku pelan. Semoga saja suaraku tak kalah dengan riuhnya hujan.
“hmm?” yang terdengar hanya gumaman dari suara lembutnya. Senyum muramnya makin mengembang. Air matanya juga mengalir makin deras.
“sedang apa?” tanyaku lagi.
“langit yang menangis…” suara lembutnya kalah oleh riuh hujan. Aku mendekat sedikit lagi.
“… aku menangis bersamanya” suara lembutnya terdengar seperti sekedar bisikan pelan.
Aku terdiam, menunggu kalimat selanjutnya.
“dunia yang menyimpan begitu banyak cerita. Tragedi yang terjadi begitu tiba-tiba…” suaranya terputus karena isakan tangisnya. Senyum muram itu mulai pudar. Digantikan dengan lukisan wajah yang kesakitan yang ia tunjukkan. Sorot mata yang seolah melihat kengerian di hadapannya.
“hentakan-hentakan kaki, orang-orang yang berkejaran. Butir-butir berlian, safir biru, batu zamrud hijau, permata merah, dan mutiara, terombang ambing dalam bungkusan kumalnya..”
Aku masih fokus mendengarkan. Tak berniat sedikit pun untuk bertanya-bahkan menyela.
“… pisau yang teracung… jerit tangis seorang gadis… debum keras dan…” suaranya terengah-engah, terputus.
Dan, ia tak mengucapkan sepatah kata lagi.
“sebegitu menakutkannyakah tragedi yang kau maksud?” aku kembali bertanya.
Mendengar suaraku, gadis itu menatapku. Sorot mata hitamnya yang penuh kepedihan menatap tajam padaku. Meminta pertolongan.
“hitung mundur… dimulai..” suaranya lebih lirih dari sebelumnya.
Aku masih menunggu. Tapi gadis itu mulai menghitung.
“..3..”
“..2..”
“..1..”
Tepat saat itu,
Tragedi terjadi.

Gemuruh guntur dan petir dari arah utara menjadi melody pembuka tragedi itu. Bunyi-bunyi gaduh dan kecipak air dari sepatu-sepatu terdengar setelahnya. Sepatu-sepatu yang berlarian. Berkejaran.
Empat-mungkin bahkan enam-pria berlarian mengejar seorang lelaki dengan penampilan compang camping yang membawa bungkusan kumal kecil. Bungkusan kumal yang mengeluarkan bunyi gemerincing tak beraturan di sela-sela riuhnya hujan dan teriakan orang-orang yang mengejarnya. “copet!! Copet!!” teriakan-teriakan itu semakin terdengar jelas saat gerombolan orang-orang yang berlarian tepat 10 meter dari halte bus. Tak perlu menunggu detik berganti, orang-orang yang ada di halte bus kalang kabut. Mata mereka nanar memandang pisau yang tiba-tiba dikeluarkan oleh si lelaki pencopet.

Tak mau pelariannya sia-sia, sorot mata kejam si pencopet itu mengawasi dengan cepat ke segala arah, dan berhenti pada satu hal. Sebelum semuanya sadar dengan apa yang dilakukan si pencopet, ketegangan di halte bus semakin menjadi dengan jerit ketakutan seorang gadis SMA. Si pencopet menangkap si gadis dan menodongnya dengan pisau yang mulai menggores lehernya dan setetes – dua tetes telah mencicipi darah yang keluar.

“menjauh atau kubunuh gadis ini!” teriakan serak si pencopet seolah meredam bunyi riuh hujan. Para pria yang mengejarnya mulai urung. Desahan kesal dan kata-kata keluhan memenuhi atmosfer sekitar. Beberapa orang di sekitar yang menonton adegan itu berteriak ngeri. Sedetik, dua detik, polisi yang tak kunjung datang memperburuk suasana.

Meski mengerti keadaan telah ada di tangannya, mata si pencopet itu tetap awas, menatap bengis pada para lelaki yang mengejarnya, maupun orang-orang di sekitar. Tangannya semakin kencang mendekap leher si gadis. Perlahan tapi pasti, langkah kaki si pencopet menuju tempat penyeberangan jalan di depan halte. Semua mata di sekitar menatap si pencopet yang pelan-pelan telah menyeberangi separuh jalan. Dan, sebelum semuanya sadar akan jerit tangis si gadis ataupun bunyi sirene polisi di kejauhan, bunyi debam yang menyambar dua orang di depannya terdengar.
Menjadi awal dari klimaks kedua dari tragedi di sore saat langit menangis itu.

Kejadian itu seakan bergerak pelan di mataku. Wajah pias sang sopir bus, jerit tangis si gadis yang menyadari kehadiran bus sepersekian detik sebelumnya dan si pencopet yang tak sempat menoleh saat tubuhnya dan tubuh si gadis disambar moncong bus. Bunyi debam keras. Suara mendecit dari bus yang oleng. Darah kemerahan mulai mengalir menyatu bersama air hujan. Bungkusan kumal yang terlempar menumpahkan kilau-kilau batu mulia. Butir-butir berlian, safir biru, zamrud hijau, permata merah dan mutiara, jatuh berkelontangan. Bermandikan darah dan air hujan.
Waktu yang terasa berjalan dengan perasaan tegang sekaligus ngeri itu, dikejutkan dengan suara ledakan keras dari bus yang oleng. Api menyala-nyala, tak mau kalah dengan riuhnya hujan. Semuanya, bahkan polisi yang telah datang, tak bisa berkata-kata. Terpaku menonton sambil bergidik ngeri.

Tragedi telah terjadi.
Persis seperti yang dikatakannya,

Mungkin, saking kagetnya, aku telah lupa untuk bernapas. Saat telah kembali mendapat kesadaranku, napasku terengah-engah, tanganku bergetar. Mencerna berbagai kengerian yang baru saja terjadi. Sirene polisi terdengar memekakkan telinga. Darah yang tergenang di jalan, amukan api yang makin menjadi, dan riuh hujan yang seolah menujukkan histeris nya tangisan langit, pikiranku teringat seketika.

Kepalaku menoleh cepat padanya. Dan, sosok itu telah hilang.

Pagi harinya, aku terbangun dengan perasaan aneh. Potongan-potongan adegan sore hari itu seakan hanya mimpi belaka. Nyatanya, itu bukanlah mimpi. Berita pencopet yang menggasak batu mulia dan berakhir naas dengan kecelakaan bus itu menjadi headline sejak semalam. Bus yang gosong, trotoar yang rusak tertimpa bus oleng, dan sirene ambulans menghiasi layar kaca sejak semalam.
Mengingat itu semua, bahuku bergetar hebat. Gadis itu mengetahuinya. Menceritakan detik demi detik tragedi itu. Semua potongan cerita. Sama persis.

Dengan rasa penasaran yang meletup-letup, aku mencari tahu identitasnya. Seragam putih abu-abu dengan bet sekolah yang sama denganku, aku yakin tak salah lihat. Meski bet nama di dada kanannya terhalang rambut panjang hitamnya, aku melihat bed kelas kehijauan miliknya. Bet kelas dengan tulisan jurusan untuk para kutu buku maupun penyair.

Selepas bel istirahat pertama, langkahku langsung memburu keluar kelas. Tak sabar ingin segera sampai di kelasnya. 2 menit, aku sampai. Mataku menelusuri setiap sudut kelasnya. Nihil. Dia tak ada. Sejenak, bahuku bergetar dengan munculnya kemungkinan bahwa sosok itu tidak benar-benar ada. Tak mau tenggelam dalam pikiran burukku, aku menyapa seorang anak di kelas itu dan menyebutkan ciri-ciri gadis itu. Anak lelaki yang kusapa itu mengangguk. Dia mengenali gadis itu.
“ah, anak yang baru-baru ini masuk lagi itu ya?” celetuknya padaku. Aku diam. Menerka-nerka maksud anak itu. Aku bertanya di mana gerangan gadis itu.
“sejak masuk, dia semakin menyendiri dan hilang saat pelajaran selesai… ah, aku ingat. Saat istirahat begini, aku sering melihatnya di taman sekolah. Duduk sendirian sambil memandang langit”
Mendengar kalimat itu, cepat-cepat aku berterima kasih dan berbalik, melangkah tak sabar. Menuju taman sekolah. Dan, sebuah suara lembut terngiang di benakku.

Langit yang menangis.
Aku tertegun. Menatap langit yang tanpa kusadari berubah muram. Bau hujan menyambut penciumanku.
Aku menangis bersamanya.
Meski satu-dua kali menabrak orang, aku terus melanjutkan langkahku tanpa menoleh atau sekedar berteriak minta maaf. Napasku terengah-engah, tak beraturan. Kaki ku tak mau berhenti hingga aku sampai ke tempat yang kutuju.
Titik air semakin deras saat aku sampai di taman sekolah. Mataku meneropong ke segala arah. Dan berhenti pada satu titik. Kutemukan sosok yang kucari. Mata hitam yang menyorotkan kepedihan mendalamnya menatap padaku.

Hitung mundur… dimulai..

Cerpen Karangan: L

Cerpen Gadis di Bawah Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Lain

Oleh:
Saat itu, disaat mataku terbuka, aku merasakan sesuatu yang janggal di rumahku. Saat diriku bangun dari ranjang tidurku terdengar jeritan-jeritan yang menakutkan bersamaan dengan suara raungan serigala, seketika aku

Siapa?

Oleh:
“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.” “Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?” “Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus

Dibawah Nol Derajat

Oleh:
I freeze and burn, love is bitter and sweet – Francesco Petrarca Dia datang. Oh, Ya Tuhan. Dia menuju kemari. Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi, dia punya style

Dijamu Makhluk Halus (Part 1)

Oleh:
Untuk perjalanan kembali ke tempat pekerjaan di Medan kali ini, kami memutuskan untuk menempuh jalur Lintas Timur Sumatera. Jalur yang belum pernah kami lewati. Selama ini kami selalu mengambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Gadis di Bawah Hujan”

  1. Rahadian Farhan Amanullah says:

    Kiasannya keren, plot ceritanya menarik. Keep it up!

  2. Nanda Insadani says:

    Bagus pembawaan ceritanya. Tapi aku bingung dengan inti permasalahannya. Adakah kaitan si pemuda dan si gadis itu dengan kecelakaan bus? Atau si gadis hanyalah penutur tragedi dalam hujan?
    Dan menurut saya, lebih baik lagi jika ada pendalaman karakter dalam tokoh si “gadis”.
    Ah, maaf kalau hanya bisa “mbacot”.

  3. Nurul Anggraini says:

    hitung mundur dimulai
    ternyata kejadian selanjutnya si cowok yg meninggal…hahaha..
    keren thor ceritanya.
    lanjutkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *