Gerbang Neraka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Gerbang neraka. Begitulah mereka menyebut tempat ini. Tempat yang dahulu adalah tempat tinggal seorang kakek pemuja makhluk terlaknat yang tewas atas perbuatannya ini, kini menjadi tempat mengerikan yang tak satu pun orang mau mengunjungi tempat ini. Banyak kisah mengerikan di tempat ini. Setiap orang yang datang ke sini, tak lagi bisa kembali. Tak satu pun kecuali Fitri. Gadis labil ini ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Ku dengar Fani telah hilang. Dia hilang di Gerbang Neraka di jalan sana.”
“Benarkah?”
“Dion and the geng juga hilang satu per satu di gerbang itu. Mereka tak pernah kembali.”
“Kalau gitu aku harus ke sana dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kamu yakin, Fit? Kamu tahu kan, beberapa hari yang lalu Fani datang ke tempat itu dan tak pernah kembali.”
“Justru itu, aku ingin tahu kenapa bisa jadi seperti ini,”
“Ini terlalu berbahaya. Aku gak mau kamu sampe kenapa-kenapa,”
“Kamu tenang aja. Aku bisa menjaga diriku sendiri,”
“Tapi..”
“Kamu percaya sama aku ya?”
Fitri tersenyum manis mencoba meyakinkan sahabatnya ini.

Ketika malam tiba, tak seorang pun berada di luar. Hanya terdengar alunan musik dari gemericik hujan malam itu. Pencahayaan yang kurang memaksa Fitri untuk membawa sebuah senter. Ia melangkah dengan kaki gemetar. Langkah demi langkah hingga akhirnya menuntunnya ke suatu tempat. Kini ia berdiri ragu di depan pintu di mana orang-orang menyebutnya ‘Gerbang Neraka’. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Namun, rasa penasarannya terlalu kuat hingga mengalahkan rasa ragunya.

“Permisi.. Ada orang di dalam?”
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya ketika pintu terbuka begitu saja tanpa seorang pun yang membukanya.
“Fani? Kamu di dalam?”

Darahnya berdesir seketika saat melihat ada banyak jasad yang tergantung di hadapannya. Dan salah satunya adalah jasad Fani, sahabat karibnya.
“Fani.. Kenapa bisa kayak gini?” Fitri memeluk erat jasad sahabatnya ini.
“Kamu sudah datang?” Fitri terkejut saat seorang kakek berada tepat di belakangnya dengan tatapan aneh.
Sudah datang? Apa maksudnya? Apa kakek itu sudah tahu dia akan datang.
“Siapa kamu? Dan.. Dan kenapa jasad jasad ini digantung disini.”
“Mereka hanyalah serang pendosa. Mereka pantas mendapatkan hukuman ini.” Tukas kakek itu.

“Pendosa? Memang apa yang mereka lakukan?”
“Mereka telah membakar tempat ini tanpa rasa tega. Hanya untuk menyembunyikan kebusukan mereka,”
“Kebusukan? Fani ini sahabat saya. Dia adalah orang baik.”
“Kamu sudah tertipu. Kamu pikir bagaimana bisa seorang yang sangat mencintaimu bisa berpaling dengan mudahnya. Tentu saja itu tidak mungkin. Dia datang kepadaku dan meminta pertolonganku untuk memisahkan kalian dan menyatukan mereka,”
“Itu gak mungkin. Fani gak mungkin kayak gitu. Ini gak mungkin.”
“Dan laki-laki itu juga kedua temannya,” Kakek itu menunjuk ke arah Dion dan kedua temannya.
“Mereka telah membuat kabar tentang kematianku. Mereka membuatku tak dianggap ada di dunia ini.”

Fitri menangis tidak percaya. Fani dan Dion adalah teman baiknya. Mereka sudah seperti keluarganya sendiri. “Saya menunggumu datang ke sini. Karena saya yakin, kamulah orang yang bisa membuat saya hidup kembali. Dengan memilikimu, aku akan kembali awet muda lagi. Tak seorang pun akan mengenaliku. Aku akan hidup seperti 5 tahun lalu.” Fitri tersentak mendengar kata kata kakek tersebut. Memilikinya? Apa maksud kakek itu?

“Datanglah kepadaku, nona Fitriani Agustin.”
Fitri sangat ketakutan. Ia berlari mencari jalan ke luar. Namun kamarlah yang ia dapat.
“Kamu mau lari ke mana lagi?”
“Pergi. Jangan dekati aku. Aku mohon. Pergi!”

Seolah teriakan Fitri hanyalah musik pengiring tak perlu dipedulikan. Kakek itu terus berusaha mendekatinya. Membuat Fitri berbuat nekat dengan melemparkan sebuah kursi rias di sebelahnya. Kursi rias meleset. Melihat tindakan Fitri, sang kakek langsung menyergap Fitri takut kalau Fitri akan melakukan hal nekat lainnya. Fitri tak bisa bergerak saat kakek itu memegang erat tangan Fitri dan menindihnya.

Brukk..

Pukulan yang cukup keras menimpa tubuh kakek itu. Cukup untuk membuat sang kakek pingsan.
“Geral? Hiks.. Kenapa kamu bisa di sini?”
“Aku tahu semua dari Gina. Dia memberitahuku bahwa kamu ke sini.”

Fitri memeluk erat Geral sekedar melepas rasa takut. Tak lama kemudian Geral melepas paksa pelukan Fitri. “Kita harus membunuh kakek ini sebelum ada korban lain,” Geral memegang erat sebuah belati dengan mata tertutup. Mencoba mengontrol diri agar bisa membunuh kakek itu. Dan.. Jleb. Belati itu tepat menancap di jantung kakek itu. Geral adalah mantan kekasih Fitri yang telah dimanfaatkan Fani. Geral tahu Fani telah mengguna-gunanya. Hingga Geral harus kehilangan orang yang dia cinta. Fitri. Gadis yang paling ia cintai. Ia bersyukur karena ia berhasil menyelamatkan Fitri. Ia sangat takut kehilangannya lagi. Kini, semua telah berakhir. Masa masa kelam telah berlalu.

“Cie.. Yang balikan lagi.. Gak mau teraktir-teraktir nih,” Ledek Gina melihat Kedekatan Fitri dengan Geral di kampus.
“Siapa yang balikan. Gak kok,”
“Masa sih?”
“Iya kok. Iya kan Geral?”
“Kami belum balikan. Tapi baru akan balikan.”
Fitri menatap tajam Geral seolah meminta penjelasan.

The End

Cerpen Karangan: Dwi Wulandari
Facebook: Dwi Wulandari

Cerpen Gerbang Neraka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Megalomania

Oleh:
Semua orang itu bodoh. Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka sukanya menilai orang. Mereka tidak tahu apa-apa tentangku dan mereka sudah membenciku. Kecuali dia. Jessica, dia adalah segalanya bagiku.

Xeo Kedua

Oleh:
Sinar mentari begitu terik hari ini. Keringat panas bercucuran dari kening jenong Xeo. Seperti biasa hari ini ia bergembala bebek miliknya sendiri di lapangan depan kampungnya. Ia begembala ratusan

Jam Kutukan

Oleh:
Ding… dong… ding .. Jam terus berdentang, suaranya sedikit membuat bulukudukku merinding. Rasanya sih, ingin aku membuang jam itu. Tapi kata mama dan papa itu adalah jam yang bersejarah

Kebenaran Atau Fakta

Oleh:
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua gedung itu. Di lantai dua banyak rak-rak buku yang berbaris berhadapan dan menjulang tinggi. Beberapa diantaranya bahkan sangat tinggi untuk dijangkau, meskipun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *