Gita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Di ujung Desa Kembang, terdapat rumah besar berpagar besi berwarna kuning pucat yang sering jadi buah bibir penduduk desa. Di depan rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat rimbun, yang membuat suasana rumah itu semakin seram. Di rumah itu ada seorang gadis yang sering berdiri di teras rumahnya yang jarang dikunjumgi orang. Secara fisik, tidak ada yang aneh dari gadis ini. Justru gadis ini sangat cantik dan rupawan. Tingginya semampai, kulitnya putih, hidung mancung, dan memiliki rambut coklat gelap yang panjangnya sepinggang. Namun, apa yang membuatnya jadi buah bibir penduduk?

Sebagai orang baru di desa ini, aku tak banyak tahu soal gadis itu. Aku pun belum pernah melihat langsung gadis itu. Selama ini aku hanya mengenalnya dari apa yang diceritakan orang-orang. Aku sendiri sangat penasaran dengan gadis itu. Selama ini hanya ada kabar miring dari para tetangga dan teman-teman di sekolah yang mengatakan bahwa gadis itu mengidap kelainan mental. Belakangan aku mengetahui nama gadis itu, Gita. Nama yang cantik.

Hari ini sangat mendung, awan menghitam dan mentari menyembunyikan sinarnya dibalik hitamnya awan. Kami pun mempercepat langkah kami sebelum hujan turun. Seperti biasa kami pulang sekolah dengan berjalan sekolah karena jarak sekolah kami tidak begitu jauh. Kami berjalan sambil bercanda gurau. Tiba-tiba Budi menghentikan langkah dan menunjuk ke arah rumah Gita.

“Ggg…gaaawwaattt!!!” teriak Budi sambil menunjuk ke arah rumah Gita
Dengan gerakan serentak kami menoleh ke arah rumah Gita ternyata ada Gita yang sedang berjalan ke arah kami dengan pisau di tangannya. Kami pun terhentak dan langsung lari terbirit-birit.
“Kkkaabuuurrr!!!…”
Dengan nafas yang tidak teratur, kami berhenti di Pos kamling.

“Ya ampuunn… Hampir saja..!” Burhan membuka pembicaraan
“iya, kalo terlambat sedikit sja, kita sudah tamat..!!” sambung Budi dengan nafas tersenggal-senggal
“Itu Gita ya?” tanyaku penasaran
“Iya Rud, kalo lewat depan rumah dia, harus hati-hati” sahut Budi
“Betul Rudi, aku pernah lihat dia di depan terasnya duduk dengan wajah penuh lumpur..” timpal Burhan
“Tetangga aku juga pernah lihat kalo Gita ketawa-ketawa sendiri di teras rumah” tambah Budi

Kami lanjut jalan dengan langkah yang santai karena kehabisan tenaga. Di perjalanan, pikiranku melayang mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
“Gita gak sekolah?” tanyaku membuka pembicaraan kembali
“kayaknya enggak deh Rud, soalnya setiap hari Gita ada di rumah” sahut Budi
“Iya Rud, kayaknya memang Gita gak sekolah” tambah Burhan

Aku semakin penasaran dengan Gita. Sampai di rumah aku menanyakan kebenaran soal Gita kepada ibu, mungkin ibu mendapat kabar dari ibu-ibu tetangga rumah. Namun, jawaban ibu sama dengan apa yang aku dengar dari teman-teman. Namun kenapa aku masih tidak yakin akan semua itu ya? Sangking penasarannya aku berusaha mencari tahu soal Gita dengan berpura-pura lewat di depan rumah Gita. Hingga pada sore itu, aksiku ini gagal. Ketika aku lewat di depan rumah Gita, seorang Lelaki paruh baya di teras rumah Gita memanggilku sembari berjalan menuju arahku. Sanking terkejutnya aku jadi gugup dan kakiku serasa berat untuk melangkah.

“Kamu teman Gita?” dia memulai percakapan
“Iii..iyyyaa pak..ehhhh bukan pak.. aa..anuuu..” aku tak tahu harus menjawab apa
“Kalo begitu masuk dulu yuk” ajaknya sembari merangkul bahuku
Dengan gemetar dan penuh penasaran aku melangkahkan kaki mengikuti langkah Bapak itu menuju rumah Gita.

“Assalamualaikum…” salam Bapak itu
“Walaikumsalam Ayah” sahut seorang perempuan muda
Kami pun duduk di ruang tamu. Belakangan aku mengetahui bahwa suara itu adalah suara Gita, dan Bapak yang membawaku ke rumah ini adalah Ayah Gita. Gita muncul dari arah ruang TV dan membawa sebuah buku yang aku perkirakan adalah buku Matematika, dilihat dari sampulnya yang bergambar bangun ruang. Gita yang aku lihat ini, tak seperti Gita yang mmereka ceritakan. Sepertinya dia sama dengan anak-anak yang lainnya. Tidak ada yang aneh ataupun mencurigakan.

“Gita, ini teman kamu?” tanya Ayah Gita
“Bukan Ayah, tapi aku sering melihat dia ketika pulang sekolah melewati rumah kita, dan dia juga sering lewat di depan rumah di sore hari” jawab Gita dengan ringan.
“Mmaafff.. sebelumnya aku mau perkenalkan diri. Saya Rudi. Saya baru pindah ke kampung ini. Aku mendengar bahwa Gitaa.. anu pak.. mmm” aku gemetar dan tak sanggup melanjutkan kata-kataku.
“Mendengar bahwa aku aneh?” timpal Gita yang membuatku sangat terkejut dan merasa bersalah.
“Mmaaff Gita, tapi jujur, aku belum percaya, makanya aku mau cari tahu kebenarannya Git, Pak” jawabku dengan gugup

“Nak Rudi, kami sudah biasa kalau ada orang yang menganggap Gita ini aneh. Karena Gita tidak bergabung dan bersosialisasi kepada warga yang lain, kepada anak-anak yang lain. Namun, itu semua karena Gita ini sakit nak Rudi, kondisi tubuhnya yang sangat rentan dan lemah mengharuskannya tetap di rumah.”
“Jadi soal Gita yang membawa pisau ketika anak sekolah lewat di depan rumah Bapak…”
“Hahaha, jadi mereka pikir aku bawa pisau untuk melukai mereka? Pantas aja mereka lari. Aku disuruh oleh ibu untuk mengambil beberapa daun kunyit yang ada di bawah pohon mangga untuk keperluan memasak.” Jelas Gita
“Mereka juga lihat Gita berlumuran lumpur…”
“Itu coklat kue, keponakan aku memaksa untuk menyuapi aku, sampai-sampai coklatnya belepotan ke mana-mana..”
“Soal tertawa sendiri di teras?”
“Aku Video Call dengan sepupu aku yang di Jerman. Jadi selama ini mereka mengira aku aneh, padahal mereka hanya salah paham”

“Nak Rudi, kami juga baru beberapa bulan di sini. Gita sakit Fields sudah lama dan mengharuskannya selalu di rumah, dan bahkan dia juga harus ikut Home Schooling. Makanya Gita selalu ada di rumah. Saya juga salah, kurang bergaul dengan warga dikarenakan saya sibuk kerja. Rencananya mulai minggu depan saya akan ikut pengajian bapak-bapak di kampung ini.”

Dalam hatiku aku lega sekali karena semua kesalahpahaman ini akan berakhir. Dan tidak akan ada yang memandang aneh ataupun menilai Gita yang bukan-bukan.

Cerpen Karangan: Riris Jabat
Facebook: Riris S Sijabat

Cerpen Gita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sulit Dilupakan

Oleh:
Setiap orang pasti punya cinta pertama. Cinta pertama adalah hal yang paling membekas dalam hidup, bukan? Hal yang sulit dilupakan dan tergantikan. Namun, hal itu tidak padaku. Cinta pertama

The Last Date

Oleh:
Hari itu, seperti biasa, kami selalu bertemu di kantin sekolah. Setelah satu bulan pacaran, aku masih ragu untuk mengajaknya jalan. Apalagi, setelah mimpi hari itu. “Ayolah, Ki! Sekali ini

Cinta Dalam Hati

Oleh:
“Alika Maharani” itu namaku. Aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku mengagumi seseorang, dia adalah teman sekelasku di kelas X dulu, namanya “Faiz”. Orangnya keren, ganteng, tapi sedikit

The Dark Fire 2 (Nightmare Part 2)

Oleh:
“Kyaaa!” Sebuah tengkorak keluar dari sana. Tengkorak itu terjatuh seketika ke tanah. Aku hanya bergidik ngeri. Perlahan, aku mulai masuk ke dalam peti kuno itu. Setelah masuk, ku tutup

Kotak Cokelat

Oleh:
“Sakit?” Aku menggeleng. Menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Rio lalu melanjutkan mengoleskan betadine pada lututku yang lecet. “Aww!” Aku langsung menepis tangan Rio dari sana. “Pelan-pelan.” Rio tertawa. Manis sekali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *