Hanya Cerita Sesaat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 September 2016

Mentari pagi yang hangat begitu menyilaukan pandangan ini. Jendela kamar yang sengaja kubuka, tampak memantulkan sinar dan menerangi kamarku yang masih berantakan. Kulihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 7.05. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Betapa tidak. Selain kamar, di beberapa bagian rumah lainnya juga sama berantakan. Tak tanggung tanggung, halaman depan rumah pun sangat tidak karuan. Sepertinya pemilik awal rumah ini adalah orang yang tidak menyukai kebersihan dan kerapian. Namaku Yoshinori Tome. Aku baru pindah ke rumah ini sejak kemarin malam. Karena kelelahan aku tidak sempat membereskan kamar terlebih dahulu. Akibatnya, pekerjaan ini akan bertambah repot. Baiklah. Daripada mengeluh dan hanya membuang buang waktu lebih baik, aku mulai saja.

Pukul 13.44. Tidak sia sia aku mengerahkan semua tenaga untuk membersihkan rumah baruku ini. Hasilnya semanis yang kukorbankan. Mungkin, sang pemilik awal tidak akan mengenali rumah ini lagi.
“Benar benar melelahkan. Sekarang, giliranku yang harus membersihkan diri” gumamku kemudian beranjak menuju kamar mandi.

Musim gugur memang memiliki nuansa tersendiri. Sambil ditemani softdrink dan sepotong kue, aku tengah duduk santai di atas meja belajar sembari memandangi pemandangan lewat jendela. Tiba tiba, mataku tertuju pada seorang perempuan yang berjalan perlahan di gang jalan. Perempuan itu mengenakan terusan pendek bercorak bunga bunga. Sambil memainkan rambutnya yang kecoklatan. Ia belok ke arah kanan dan menuju suatu tempat. Entahlah. Perempuan itu membuatku penasaran. Meski dari kejauhan, aku dapat memandangnya dengan jelas. Dia adalah perempuan yang manis.

Kakakku tengah berkunjung, jadi aku biarkan dia disana dan menikmati rumah baruku. Sementara aku, lebih memilih untuk berjalan jalan. Supaya dapat mengenal tempat tempat di daerah ini.

“Ooi! Kau! Tolong lemparkan bola itu!” teriak seorang anak yang sedang bermain beseball bersama rekan rekannya. Lantas aku ambil bola berwarna putih itu lalu melemparkannya. Karena tertarik, aku mendekat dan menyaksikan keseruan mereka dari samping lapangan.

“Kakak! Apakah kau orang baru?” tanya bocah yang mengenakan topi.
“Benar. Aku tinggal di rumah bekas Pak Tamae. Kau tinggal di sebelah mana?”
“Tepat di sebelah rumahmu. Nama kakak siapa?”
“Perkenalkan. Namaku Yoshinori Tome. Namamu siapa?” anak itu lantas menjabat tanganku.
“Aku Ondo Mieko. Senang berkenalan denganmu” aku tersenyum lepas. Anak bernama Mieko itu pun ikut duduk di sebelahku.
“Kau kelas berapa, Mieko?”
“Aku kelas 5 di SD XX sana” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah bangunan sekolah yang tak jauh dari area taman. Aku menganggukkan kepala. Rupanya anak ini tidak sekaku anak yang lain. Dia begitu berani bercengkrama dengan orang dewasa sepertiku. Terlebih, dia adalah anak laki laki yang polos. Sebagaimana anak anak pada umumnya.

Seminggu sudah aku menghuni rumah ini. Kedekatanku dengan bocah berkepala plontos alias Mieko kian dekat. Orangtuanya sangat ramah dan bersikap baik padaku. Bahkan aku sering ditawari makan bersama. Pokoknya, kami seperti adik kakak dadakan.
“Hey, Mieko. Apa kau tahu perempuan yang sering lewat itu? Yang berambut kecoklatan?” tanyaku pada Mieko yang sedang melahap tempura.
“Oh. Kakak Yura maksudmu? Tentu aku mengenalnya. Memangnya kenapa? Kakak menyukainya ya?”
“Eh! Kau ini. Aku cuma bertanya saja. Aku hanya ingin tahu. Tidak lebih kok” aku menyangkal pernyataan Mieko. Dia terkekeh begitu melihat reaksiku. Mungkin dia memang anak yang polos. Tetapi, kepolosannya itu mampu menganalisis apa yang sedang dirasakan orang dewasa.
“Kakak tidak usah malu. Sebelumnya ada kok seorang laki laki seperti kakak yang pernah menanyakan Kakak Yura” aku mengamati serius wajah anak itu. Mulutnya tak henti hentinya mengunyah makanan yang ia lahap.
“Terus. Laki laki itu dimana sekarang?”
“Dia sudah pergi. Menuju tempat asalnya”
“Maksudmu? Dia pindahan juga? Kemudian pindah kembali ke tempat asalnya?” Mieko terlihat sedang meneguk air sebelum menjawab.
“Begitulah.. Kakak. Terima kasih tempura ini lezat sekali” dia tersenyum puas setelah menyantap makanan yang kuberikan.
“Sama sama. Kau suka? Nanti kapan kapan kau harus ke rumahku. Akan aku buatkan tempura yang lezat. Bagaimana?” ucapku menawarkan. Mieko tiba tiba merubah raut wajahnya.
“Hey? Kenapa? Kau tidak mau?”
“Tidak. Baiklah, aku akan kesana. Bagaimana kalau sekarang aku ceritakan tentang Kakak Yura?” aku terkaget begitu mendengar ucapan Mieko. Tiba tiba saja dia ingin menceritakan perempuan bernama Yura itu.
“Heh. Kau ini masih kecil. Tahu apa tentang perempuan? Hah?”
“Kakak ini jangan meremehkan aku ya. Ya sudah kalau tidak mau” pungkasnya lalu hendak pergi. Aku menahannya dan membujuknya supaya mau menceritakan perempuan itu. Akhirnya dia bersedia dan mulai menceritakan banyak hal tentang, perempuan manis bernama Yura. Perempuan yang kini selalu terbayang di dalam pikiranku.

Pagi hari di musim gugur yang indah seperti biasa. Aku memandangi sekitaran rumah lewat jendela kamar. Sorot matahari begitu terasa hangat di kulit. Rasanya sudah cukup sering aku melihat sosok perempuan berambut coklat yang kutahu bernama Yura, berlalu melewati depan rumah. Aku jadi ingat perkataan Mieko. Yura adalah perempuan yang pendiam dan tidak banyak bicara. Tetapi, entahlah. Meski belum mengenalinya. Dia selalu membuatku kepikiran. Disetiap lamunan maupun mimpiku.

TING! TONG!
Aku berjalan menuju pintu depan. Saat kubuka ternyata Mieko.
“Ohayou gozaimasu! Kakak apa kau sedang sibuk?”
“Hmm.. Mieko. Tidak. Memangnya ada apa?” tanyaku keheranan. Mieko sudah rapi dengan pakaian santainya.
“Ini kan hari minggu. Bagaimana kalau kita berjalan jalan?” aku tersenyum lebar saat mendengar jawaban Mieko. Aku pun menyetujui ajakan Mieko. Segera aku bergegas mengganti pakaian.

“Hey Mieko. Apa kau pernah bercengkrama dengan Yura?” Mieko mendongakkan kepala sebelum menjawab.
“Tentu pernah. Dia memang perempuan yang baik” aku mengangguk mengerti. Mieko memang anak yang jujur. Selain itu perkataannya selalu terasa hangat. Padahal dia hanya anak kelas lima SD.

“Kakak! Nanti malam aku akan datang ke rumah. Ibu juga menyuruhku membawakan makanan. Nanti kita akan makan malam bersama, sebagai perkumpulan laki laki” aku terkekeh karena ucapan Mieko yang mengundang gelak tawa.
“Haha.. Baiklah Mieko. Sekarang, laki laki itu selalu membersihkan dirinya lalu mengerjakan PR”
“Bukankah jam segini laki laki itu selalu pergi main beseball ya bersama teman temannya?” sekali lagi aku tertawa lepas.
“Hahaha.. Ya sudah kalau seperti itu maumu. Tetapi kau jangan malas ya mengerjakan tugas tugas sekolah. Mieko!” ucapku memberinya amanat. Mieko lantas memberiku sikap hormat seperti halnya anggota pasukan. Aku pun membalasnya dengan sikap hormat juga. Benar benar kebersamaan yang terasa hangat antara aku dan sosok Mieko yang polos.

“Selamat malam! Aku pulang dulu”
“Baiklah. Hati hati Mieko. Oh iya, bilang pada ibumu. Masakannya sangat lezat. Terima kasih” Mieko mengacungkan jempol kanannya seraya mengedipkan mata.
“Huuh.. Sepertinya aku akan bangun kesiangan karena terlalu kenyang..” ucap Mieko pelan sebelum pergi berlalu. Aku kembali tertawa geli dibuatnya.
“Permisi! Apa kau sedang sibuk? Ban depan sepedaku bocor. Apa bisa kau menolongku?” ucap seorang perempuan saat aku hendak masuk ke dalam rumah.
“Tentu.. Boleh..” jawabku agak terbata bata. Ternyata perempuan itu adalah Yura. Dadaku seketika berdegup kencang. Apa ini mimpi? Ternyata bukan. Dia lantas mendorong sepedanya ke depan rumahku. Segera aku mengambil perkakas ke dalam gudang.

“Selesai. Beruntung aku masih punya ban dalam cadangan”
“Terima kasih banyak. Maaf merepotkan” ucapnya seraya menyibakkan rambut.
“Tidak. Tidak kok. Lebih baik kau segera bergegas pulang. Hari sudah semakin gelap” Yura tampak memandangi langit malam. Kemudian ia membungkuk, memberikan salam terima kasihnya. Aku lantas membalas dengan membungkuk juga. Dia pun perlahan menjauhi rumahku dengan menaiki sepeda. Aku bagaikan sedang di alam mimpi. Didatangi perempuan yang selalu terbayang bayang. Rasanya sungguh mengejutkan dan tak mampu diucapkan lewat kata kata. Aku mengambil sesuatu di hadapanku. Benda itu ternyata jepit rambut yang tadi dikenakan Yura. Mungkin benda berpola bunga sakura ini terjatuh saat ia membungkuk.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Hanya Cerita Sesaat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Kos Misteri

Oleh:
Sebenarnya aku tak mau menceritakan kisah ini. Bagiku menceritakannya sama saja mengulang lagi setiap detail pengalamanku di rumah itu, dan kau tahu, itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan untuk diingat.

Misteri Di Taman Meja Batu

Oleh:
Pluk!!! Aku membanting buku yang ku pegang. “Kenapa? Gak suka bukunya?” Tanya seseorang. Sekilas aku melihat wajahnya, lalu aku menjadi acuh tak acuh. “Dia lagi, dia lagi!!” Batinku. “Kepo

Me and Devil

Oleh:
Hari ini giliran Ino yang kebersihan kelas, dan dibantu dengan teman-teman yang lainnya juga. “Ino, tolong bersihkan penghapus papan tulis itu” kata temannya sambil menunjukan telak penghapus papan tulis.

You’re My Little Secret

Oleh:
Pagi senin yang cerah. SMA Merah Putih tampak lebih hidup hari ini dengan suara riuh rendah para siswa mulai dari tingkat sepuluh sampai tingkat dua belas yang sedang berkumpul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *