Hanya Cerita Sesaat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 September 2016

“Apa itu?” tanya Mieko kemudian ia menyeruput kuah mie.
“Bukan apa apa. Apa itu lezat?” aku balik bertanya pada Mieko. Lalu kumasukkan jepit rambut yang kumainkan ke dalam saku.
“Lezat. Apa kau mau?”
“Ah. Tidak. Aku sudah kenyang. Aku tidak ingin tumbuh gemuk, Mieko. Haha..”
“Hey, apa kakak meledek?” Mieko menyimpulkan bibir mungilnya.
“Haha.. Tidak kok” Mieko lantas kembali menyantap mie ramennya.
“Lagi pula, kakak itu kurus. Tidak terlihat keren sama sekali. Harusnya kakak banyak memakan makanan supaya tidak kurus” ucap Mieko seperti meledekku.
“Haha.. Kau ini ada ada saja, Mieko”
“Aku benar, kan? Bagaimana Kakak Yura akan menyukaimu kalau kau kurus?” ujarnya membuatku terkejut.
“Eh. Kau ini. Sudah kubilang kan, aku itu tidak menyukai Yura” sanggahku mencoba membela diri.
“Mm.. Kakak memang aneh. Ya sudah aku pulang saja. Sampai nanti” ucapnya datar lalu pergi berlalu seusai menyantap mie ramen. Aku ditinggalnya seorang diri di kedai. Benar benar anak yang unik. Aku hanya menggelengkan kepala seraya membayar.

Saat di jalan pulang, aku sempatkan untuk mampir ke toko kue. Disana aku melihat lihat aneka kue yang tampak menggiurkan. Tiba tiba, seseorang menabrakku secara tak sengaja. Tanpa memandangku, orang itu berjalan dengan terburu buru mendekati sepedanya yang terparkir.
“Sepeda itu kan..” tidak salah lagi. Orang itu ternyata Yura. Aku tahu lewat sepeda yang ia kemudikan. Kenapa dia sangat terburu buru ya. Mungkin dia ada urusan yang sangat penting dengan kue yang ia beli itu.

Jari tanganku tak henti hentinya mengetuk papan meja belajar. Hari yang perlahan mulai gelap terlihat bagai mengucapkan selamat tinggal. Di hadapanku, tersaji sepotong kue dengan krim putih dan dihiasi strawberry segar. Mataku menatap kue itu lekat lekat. Bibirku tersenyum simpul tanpa aku sadari. Ini adalah sepotong kue pemberian Yura yang bernilai bagiku. Jangan dilihat dari bentuk dan ukurannya. Tetapi, lihat dari pesan yang tersirat di dalamnya.

“Terima kasih. Aku merepotkan. Kau tidak harus memberiku ini. Pasti ini mahal” Yura tersenyum lalu menyanggah ucapanku.
“Tidak kok. Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuanmu saat itu. Mohon diterima” dengan terpaksa aku menerima kue pemberiannya itu. Dia membungkuk sebelum pergi sebagai salam perpisahan. Aku lantas membalasnya. Senyumnya yang manis dan tampak lugu, membuatku kian terpana. Itulah cahaya kilat yang telah menyambar hati ini.

“Lezat sekali” aku bergeming saat menyantap kue ‘shortcake’ itu. Manis. Harum. Dan lembut. Tiba tiba, terdengar suara ketukan pintu yang kasar. Dengan cepat aku berlari menuju pintu depan.
“Tolong! Apa boleh aku bersembunyi disini? Sebentar saja” ucap orang itu. Aku hanya mengangguk seraya menutup pintu dan menguncinya. Segera kutarik orang itu ke ruang tengah.
“Apa kau baik baik saja?” tanyaku. Ia menjawab dengan anggukan dan senyuman. Sambil meminum teh, ia menyibakkan rambut coklatnya. Terlihat ia menghela nafas dalam dalam lalu membuangnya dengan perlahan.
“Yura! Kau kenapa?” tanyaku pelan. Dia menatapku sebelum menjelaskan apa yang terjadi. Tutur katanya membuatku terbuai. Nada suaranya yang kecil terdengar bagai melodi di telinga ini. Aku mengangguk setelah ia selesai berbicara. Ternyata, ia dikejar oleh laki laki yang mencintainya. Namun, Yura sama sekali tak menyukai lelaki itu. Justru dia merasa sangat terganggu dan ketakutan.

“Sepertinya sudah aman. Yoshinori-kun. Terima kasih banyak ya. Maaf kalau aku menganggumu” aku menggaruk garuk leherku sebelum menjawab.
“Tak apa. Jangan berpikiran begitu. Apa kau yakin tak ingin diantar?” tanyaku. Yura tersenyum lebar.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok. Selamat malam”
“Selamat malam” balasku. Saat aku hendak masuk ke dalam rumah. Tiba tiba Yura memanggilku. Lantas aku berbalik dan…
“Terima kasih!” dia mengecup bibirku dengan lembut lalu berlalu dari rumahku. Aku tertegun dibuatnya. Namun, Yura kembali berbalik sambil menjerit.
“Yura! Yura!” aku memeluk tubuhnya yang terkulai lemah. Di hadapanku berdiri sosok laki laki berseragam SMA. Dia tertawa lebar dan kencang sekali. Mata merahnya melotot dengan tajam. Dia memegang samurai yang berlumuran darah. Itu adalah darah Yura. Dia telah menusuk Yura dari belakang.
“Sekarang.. Giliranmu..! Hyaa!!” terlihat tangannya mengayunkan samurai itu ke arahku. Seketika pandanganku menjadi buram lalu menghitam. Semua gelap dan pekat.

“Aaaaaah..!”
Suara teriakanku terdengar menggema. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku melirik kesana dan kemari. Ternyata aku sedang berada di dalam kamar. Di leherku terlilit handuk yang terasa basah. Ada apa ini? Apa ini cuma mimpi? Tiba tiba, aku teringat sosok Mieko. Segera aku berlari ke luar rumah dan menuju lapangan besebaal.

Sesampainya disana, aku meneriakkan nama Mieko. Benar sajar. Anak berkepala plontos itu mendekat. Namun dia menatapku dengan aneh. Seperti orang yang tidak mengenal.
“Kakak siapa?” tanyanya. Aku terkejut begitu mendengar pertanyaanya. Dia tidak mengenaliku? Bukankah kami sudah sangat dekat? Aku mencoba menjelaskan semuanya. Tetapi dia tetap tak mengerti. Dia yang kebingungan lantas meninggalkanku dan kembali melanjutkan permainannya. Ini benar benar aneh.

Jadi, selama ini aku hanya bermimpi? Tetapi kenapa. Semua terasa sangat cepat dan nyata? Aku mengacak acak rambutku lalu membukakan pintu rumah. Saat melihat jam digital di atas laci. Tertera waktu dan tanggal. Hari ini tertulis ‘tanggal 21 oktober 2015’. Tanggal dimana aku baru dua hari menempati rumah ini. Aku semakin bingung. Kepalaku jadi terasa pusing. Berputar bagai roda sepeda. Sepeda. Sepeda. Yura! Ya. Aku ingat sosoknya yang memukau. Dia. Perempuan berambut coklat yang telah memberi sepotong kue dan mencium bibirku saat ia hendak pulang. Dan. Dia… Dia terbunuh. Tetapi, aku seharusnya terbunuh bersamanya juga. Karena lelaki SMA yang aneh itu dengan samurainya yang tajam. Namun, aku masih hidup sampai saat ini.

Aku berjalan dengan gontai ke arah kamar. Lantas aku menuju wastafel lalu mencuci wajahku dengan air. Aku menatap bayangan diriku di cermin. Lingkar hitam di sekitar mata membuat wajahku tampak suram. Karena lelah, aku kembali berjalan menuju ranjang. Kejadian yang aneh ini membuat kepalaku sangat pusing.
“Apa itu..?” gumamku heran begitu melihat sesuatu di atas meja belajar. Mataku terbelalak. Ternyata itu adalah sepotong kue dan jepit rambut berpola sakura. Ya. Dua benda dari Yura. Aku pun berdiri dan seketika jatuh tak sadarkan diri dengan seulas senyuman.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Hanya Cerita Sesaat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


HK HT dan AT

Oleh:
Ini kisahku dan kedua sahabatku, mereka bernama Hirokawa Tsunji dan Akane Tsugiru. Oh iya perkenalkan, aku Harumi Keijino. Persahabatan kami dimulai dari kelas 4 SD. Persahabatan kami sangatlah erat,

Impian Musim Dingin

Oleh:
Namaku Namiko Koukei, umurku 11 tahun, aku tinggal bersama ayah dan adik perempuanku yang bernama Akihisa Koukei, dia masih berumur 7 tahun. Kami tidak pernah bertemu dengan ibu kami

Puisi

Oleh:
Coklat panas..!! Tidak, mungkin saja memang direktur muda itu menyukai coklat panas sepertiku. Aku tak bisa memperkirakan hal seperti itu. “kenapa kamu melihat coklat panas saya? Kamu mau coklat

Raina!

Oleh:
“Jangan!! ku mohon, jangan lakukan itu, Raina!!” pekik seorang perempuan “matilah kau, Linda!!!” ucap perempuan lain yang tengah menghunuskan pisaunya di jantung perempuan itu Aaaa… lagi-lagi aku bermimpi buruk.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *