Helikopter 04.30 PM

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 March 2017

“Win win.”
“Apaan sih!.” Jawab seseorang yang dipanggil dengan sebutan Win.
“Lo denger nggak? Suara itu.” Tanya Dito yang tadi memanggil temannya, winto dengan panggilan win.
“apa?! Jangan bilang suara Helikopter! Jelas gue denger lah, gue nggak bolot-bolot amat ko.” Jawab Winto bosan.
“Ya lo nggak penasaran apa? Tiap hari itu Helokopter turun di Gunung Linjo kalau sore-sore gini.” Gerutu Dito kepada temannya yang super cuek. Entah Dito yang selalu penasaran atau Winto yang terlalu cuek.
“Dito! Bisa nggak sih kamu sekali saja tidak kepo, ya mungkin saja di kota sebelah lagi ada latihan TNI AU yang kebetulan mendaratnya di Gunung Linjo.”
“Lo cuma bisa jawab kemungkinannya kan? Bukan sebenarnya. Pokoknya kamu harus penasaran.”
“Penasaran kok dipaksa.” Cibir Winto.
“Penasaran atau enggak pokoknya lo harus mau nemenin guebuat cari tahu.” Paksa Dito.
“Walaupun gue nggak penasaran tapi nggak papa deh, gue bakal temenin lo, kasihan penasaran kok penakut.”
“Kalo nggak ikhlas nggak usah bantu, pake acara ngejek segala.” Jawab Dito ketus.
“Iya gue ikhlas detektif Dito yang pemberani.” Winto mengatakan dengan suara diberat-beratkan layaknya pembunuh bayaran. Keduanya tertawa.

Cahaya matahari meredup sayup-sayup. Kelelawar-kelelawar berterbangan keluar dari persembunyiannya, satu kelelawar tidak beruntung menabrak Dito, lalu terbang terburu-buru meninggalkan bunyi kelebak yang membuat Dito dan Winto kaget. Mereka baru sampai di Gunung Linjo saat matahari sudah beristirahat sementara dari tugasnya. Bau busuk menusuk hidung, leher mereka merasa tercekik membuat perut mereka terpaksa mengeluarkan apa yang baru saja mereka makan.
“Hoek.. Win kok kaya bau bangkai ya? Jangan-jangan ada mayat.”
“Hoek” Winto mengelap mulutnya dengan ujung kaos. “Paling Cuma bangkai binatang, apa susahnya sih berpikir positif jika berfikir negatif hanya membuat kita ketakutan.” Lanjut Winto.
“Bukankah terlalu berfikir positif akan membuat kita kesulitan menerka kemungkinan hal buruk atau bahaya? Apa salahnya?.” Sanggah Dito.
“Sudah diam! Kau mau kita mati di sini karena ketakutan?” Winto menata pikirannya untuk selalu berfikir positif.
“bahaya memang ada, tapi takut adalah pilihan.” Lanjut Winto yang akhirnya berhasil memaksa otaknya untuk menyimpulkan secara positif.
“Oke kita lanjut.” Balas Dito bersemangat setelah mencerna perkataan Winto.

Dering telephone berbunyi nyaring dari saku Dito. Winto dan Dito tersentak kaget karena kondisi mereka yang sedang was-was. Dito segera merogoh celana hijaunya, mengambil hp. Di layar tertera tulisan “1 message from: Mom” dengan segera ia tekan tombol open dan membaca isi pesan.
“Win kita lanjutin besok saja ya, mama aku nyariin nih nyuruh aku pulang.” Kata Dito setelah membaca pesan dari Mamanya.
“Ya Tuhan Dito, kita kan baru sampai, boro-boro dapat hasil nyari juga belum.”
“Tapi kan mama gue nyariin, gimana dong?.” Balas Dito sambil mengacak-acak rambutnya.
“Eh lo kan yang tadi antusias banget buat nyari tahu, gimana sih?.” Sahut Winto.
“Begini saja, kita ke sini lagi besok siang, lagi pula badan kita lemas gara-gara tadi muntah.” Usul Dito.
“Benar juga, kita bisa nyari tahu sebelum helikopter itu datang jam 04:30 sore.” Jawab Winto setuju.

Tepat pada saat matahari berada di tengah langit, Dito dan Winto kembali datang ke Gunung Linjo. Winto berjalan di depaan Dito. Kali ini mereka berjalan tanpa ragu dan takut. Bunyi langkah mereka yang menginjak daun-daun kering menimbulkan bunyi berisik yang membuat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap pada salah satu daun kering terkaget dan terbang menjauh.
“Dit lo ingat nggak di mana letak bau busuk kemartin?” Tanya Winto setelah mereka saling diam agak lama.
“Ya enggak lah, kan kemarin belum jadi nyari.” Jawab Dito “tapi gue inget, kayaknya sekitar pohon bambu sebelah sana.” Lanjut ditto sambil mengacungkan jarinya
“Kita ke sana.” Winto mengomando yang disusul anggukan kepala Dito.

Mereka sampai di bawah pohon bambu, tidak ada yang aneh di tempat itu, tidak ada bangkai binatang ataupun tetesan darah. Hanya bau busuk yang menusuk hidung mereka.
“Nggak ada apa-apa Dit.” Seru Winto sambil mengelap keringat di dahinya
“Menurut gue ada yang aneh sama gundukan tanah ini deh Win.” Kata Dito sambil menunjuk ke bawah.
“Apanya yang aneh, itu kan tanaman pisang yang baru ditanam, pantas saja kalau ada gundukan tanahnya.”
“Tapi Win, pohon pisangnya kan Cuma satu, kok gundukan tanahnya banyak banget, bau busuk juga.”
“Ya sudah, bagaimana kalau kita gali saja dit.”
“Bo boleh.” Jawab Dito menutupi rasa takutnya.

Mereka mencabut pohon pisang yang sepertinya belum lama ditanam. Walaupuun demikian mereka terjungkal karena pohon pisangnya cukup besar. Lalu mereka menggali dengan kayu. Setelah menggali cukup lama akhirnya terlihatlah sebuah peti besar.

“Win, peti Win, jangan-jangan…” Ucap Dito dengan mulut gemetar.
“Harta Karun!” Potong Winto yang kemudian membuka peti tersebut.
“Hoioek…,” winto memegangi perutnya “mayat Dit, banyak ada 10 lebih.” Lanjutnya.
“Ma mayat! Kita lapor ke polisi sekarang juga!”
“Ni mayat gimana?”
“Biar polisi yang urus, ayo cepat pergi agar polisi bisa bergerak lebih cepat, gue yakin ini ada kaitannya dengan Helikopter itu.” Kata Dito sambil menyeret Winto pergi.

Pagi-pagi sekali Dito pergi ke rumah Winto dengan membawa Koran yang sedang dicari-cari ayahnya. Ia akan menunjukan Koran dengan topik utama “TNI AU membunuh 11 rekan kerjanya” kepada Winto. Tentu saja Dito Sangat bersemangat karena di situ tercantum nama mereka.

Cerpen Karangan: Eka Wahyuni
Facebook: Eka W

Cerpen Helikopter 04.30 PM merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Hate U

Oleh:
Hai, namaku Handayani Brad Kyano. Aku kelas 10. Gue punya pacar. Namanya Amelia Putri Rahmat. Aku punya temen. Namanya Lala, Dhee dan Alifah. Walaupun nggak punya teman cowok 1

Richy

Oleh:
Masih pagi. Dari bawah aku melihat laki-laki yang berada di depan kelasku. Pandangannya sangat mengganggu. Wajahnya sama sekali tak kukenal. Pasti dia bocah baru disini. Namun setelah aku menginjak

Peremen Karet Cewek

Oleh:
Perkenalkan nama gue ahyad rosyad sering dipanggil ahyad. Katanya gue itu sedikit ganteng dan imut.. itu juga kata mamah gue, tidak banyak yang bilang seperti itu sih! Gue punya

Untitled Story (US)

Oleh:
“Selamat pagi semesta” sapaku sembari membuka jendela kamarku. Aku, Shafarra Keisha Andhara, aku yang sebelumnya tak pernah terlalu murung, kenapa seketika berubah? Ardinna Bella, sahabat terjenius yang selalu menuturkan

Sahabat Itu Nggak Ada Putusnya

Oleh:
Aku masih menatapnya tidak percaya saat ia mengatakan dengan jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin sejak lima tahun yang lalu. Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *