Ibu (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 11 March 2020

Penutup mataku dibuka dan aku melihat Fera ada di hadapanku. Apa maksud semua ini? Kenapa Fera ada disini?
“Akhirnya aku menemukanmu, sayang,” ucapnya sambil mengecup keningku.
“Mmmmpppphhhhh,” aku berusaha berontak.
“Jangan khawatir, aku akan membawamu keluar dari sini. Berani sekali wanita j*lang itu merebutmu dariku.”
Fera kemudian mengangkat tubuhku dan meletakkannya di bahunya. Aku benar-benar tidak percaya, kenapa hari ini para wanita ini sangat kuat hingga sanggup menggendongku. Dia berjalan menuju garasi lalu membuka bagasi mobil dan meletakkanku disana.
“Aku akan membawamu ke tempat yang aman, sayang. Sebaiknya kau tidak melihatnya dulu,” ucapnya sambil menutup mataku dengan kain.
Tak lama kemudian kurasakan mobil berjalan. Oh Tuhan, apa lagi kesialan yang akan menimpaku?

Mobil berhenti cukup lama. Aku rasa sudah sampai ke tujuan. Cukup lama juga mobil ini berkendara. Itu artinya Fera membawaku ke tempat yang sangat jauh. Bagasi dibuka lalu Fera melepaskan kain yang menutup mataku.
“Lihatlah, kita sudah sampai,” katanya.

Kulihat daerah sekitar yang sangat sepi dan dipenuhi pohon-pohon. Aku merasa seperti di hutan. Aku merasa ngeri dengan keadaan sekitar ditambah lagi hari yang sudah gelap. Aku melihat sebuah rumah kecil tak jauh dari mobil. Tak ada rumah lagi selain rumah itu. Fera membawaku masuk ke rumah itu. Dia menidurkanku di ranjang di sebuah kamar. Dia membuka tali yang mengikat tanganku lalu menarik tangan kananku untuk diikat di tiang ranjang. Kulepaskan kain yang menyumpal mulutku dengan tangan kiriku lalu berusaha mencegah tangan kananku yang akan diikat menggunakan tangan kiriku yang bebas.

“Lepaskan aku, dasar psikopat,” ucapku sambil berusaha melepaskan tangan kananku. Namun aku tak cukup kuat untuk melepaskannya. Fera berhasil mengikat tangan kananku dan kemudian mengikat tangan kiriku.
“Hari sudah malam Alvin. Kurasa ini waktunya malam pertama kita,” ucapnya dengan senyuman penuh nafsu.
“Kumohon, jangan lakukan itu padaku. Aku ini anakmu, bukan?”
“Kau bukan anakku, Alvin. Kau kan sudah mengetahuinya.”
“Kumohon, lepaskan aku,” pintaku.
“Mana mungkin aku melepaskanmu. Kau tahu berapa lama aku menunggu waktu ini? Selama ini aku berusaha menjadi ibumu. Sebenarnya aku sudah muak dengan sandiwaraku sendiri tapi aku tak punya pilihan. Sekarang aku tak perlu bersandiwara lagi. Aku mencintaimu Alvin. Aku sudah mencintaimu sejak kau lahir, sayang,” ucapnya.
“KAU GILA!!! WANITA J*LANG!! PSIKOPAT!!” makiku.
“Makilah aku sepuasnya,” ucapnya dengan senyuman mengejek.

Aku mulai menangis. Aku berharap ada yang menolongku meskipun kecil kemungkinannya.
“Sayang, jangan menangis. Wajah tampanmu akan hilang jika kau menangis, ucapnya sambil menghapus air mataku.
Fera mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata, “Bagaimana kalau kita mulai sekarang?”
“Kumohon jangan,” pintaku.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar dan kemudian beberapa orang memakai seragam polisi masuk ke kamar tempatku dan Fera berada. Polisi dengan segera meringkus Fera dan melepaskan ikatanku. Aku duduk di ranjang dengan wajah bahagia sekaligus bingung. Bahagia karena aku sudah terselamatkan dan bingung kenapa ada polisi disini. Lalu sosok wanita yang kukenal datang menghampiriku dengan senyuman di wajahnya.

“Hai Alvin. Apa kau baik-baik saja?”
Aku memasang muka marah dan berdiri. “Kenapa kau ada disini, Rena? Apa yang kau inginkan? Kau ingin menculikku lagi?”
“Tenanglah Alvin. Aku tahu saat ini kau marah padaku. Aku bisa jelaskan semuanya. Maukah kau mendengarkannya?”
Aku duduk kembali. Aku berusaha tenang karena aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya.

“Aku akan cerita dari awal ketika aku datang ke rumahmu. Ketika aku datang dan ibumu mem…”
“Dia bukan ibuku,” potongku.
“Sorry, maksudku hmm,”
“Fera.”
“Ketika Fera membuka pintu dan aku menjelaskan kedatanganku dia bilang kalau kau tidak ada di rumah. Dia juga bilang kalau kau tidak akan bersekolah lagi disana sehingga dia menyuruhku untuk pergi dan jangan menemuimu lagi. Lalu ia menutup pintu. Sebenarnya aku sudah tahu kalau Fera berbohong. Karena aku sudah tahu semuanya. Sebelum aku mengetuk pintu rumahmu aku mendengar suara orang minta tolong. Aku mencari sumber suara dan mendapatkannya di sebuah kamar. Meskipun samar-samar tapi aku dapat mendengarnya. Aku mendengar percakapan kalian. Lalu aku berpura-pura mengetuk pintu rumahmu seolah tak tahu apa-apa. Aku hendak masuk dengan paksa namun sepertinya keadaan tak memihakku. Ketika Fera menutup pintu, aku mencoba mencari jalan masuk dan beruntungnya aku melihat ada jendela yang tidak terkunci sehingga aku langsung masuk. Saat aku melihatmu dalam keadaan terikat dan Fera membekapmu, aku langsung memukul Fera,” jelasnya.
“Kalau setelah itu aku sudah tahu apa yang terjadi. Jadi kau tak perlu menjelaskannya lagi,” kataku.
Rena hanya mengangguk.

“Yang membuatku bingung kenapa kau menculikku?” tanyaku kesal.
“Aku bukan menculikmu melainkan menyelamatkanmu,” katanya.
“Menyelamatkanku? Dengan menculikku?”
“Dengar dulu Alvin. Aku belum selesai bercerita.”
Aku hanya membuang muka.

“Aku berusaha bangkit ketika Fera membiusmu namun rasa sakit yang kualami membuatku tidak bisa bangkit. Setelah memastikan kau sudah pingsan, Fera lalu berusaha untuk memukulku lagi. Aku berpura-pura pingsan karena aku tahu aku tak akan bisa melawannya. Fera kemudian membawamu keluar dari kamar lalu kembali lagi. Dia kemudian menyiramkan minyak tanah ke seluruh ruangan dan ketika sudah selesai dia menyeretku ke ruang tamu. Fera kemudian meletakkan jariku di jerigen yang berisi minyak tanah. Lalu dia menyalakan api yang membuat ruangan terbakar. Dia segera keluar dan aku mendengar dia meminta tolong. Dia berteriak ada perempuan gila yang membakar rumahnya. Aku segera bangun dan mencari jalan keluar. Aku melihat ada pintu yang terhubung dengan garasi. Aku berlari menuju ke sana dan melihat ada mobil. Aku melihat bagasi terbuka dan menemukanmu di dalamnya. Tanpa pikir panjang aku langsung kabur dengan mobil. Beruntung kunci mobilnya ada disana dan untung saja aku sudah bisa mengendarai mobil,” ucapnya sambil cengengesan.

“Lalu kenapa kau tak melepaskan ikatanku?” tanyaku.
“Situasi sangat buruk untukku sehingga aku memutar otakku menyiapkan sebuah rencana,” katanya.
“Maksudmu?”
“Begini, tetangga sudah mengira ada wanita gila yang membakar rumahnya. Ditambah lagi ada yang membawa kabur mobil Fera. Tetangga akan percaya dengan Fera.”
“Tapikan ada aku. Aku adalah saksinya. Aku bisa menjelaskannya.”
“Fera itu cerdik. Aku yakin dia pasti sudah menyiapkan rencana yang bisa membuat orang-orang percaya padanya. Dia seorang psikopat. Dan kau tahu seorang psikopat dapat dengan mudah mengelabui orang-orang.”
Aku mengangguk mengiyakan penjelasan Rena.
“Jadi aku berpura-pura menculikmu. Aku membawamu ke rumahku. Kebetulan rumahku sedang tidak ada orang. Aku sengaja membuka pintu garasi sehingga memperlihatkan mobil Fera.”

“Tunggu dulu. Bukankah itu terlalu mencolok? Bagaimana jika Fera datang membawa polisi? Bukankah situasinya akan jadi lebih sulit bagimu? Ditambah aku dalam keadaan terikat?”
“Mungkin iya. Tapi aku sudah bilang kalau Fera itu cerdik, bukan? Ketika Fera menyiramkan seluruh ruangan dengan minyak tanah, aku tahu dia akan membakar rumah ini dan pergi ke tempat lain. Itu berarti Fera telah menyiapkan sebuah tempat rahasia. Aku pikir Fera akan pergi setelah membakar rumahnya tapi aku salah. Dia malah berteriak minta tolong kepada tetangga. Api mulai membesar terutama di kamar Fera. Saat aku menuju garasi, aku tidak menemukan tumpahan minyak di beberapa ruangan. Aku mulai berpikir dan menganalisa rencana Fera. Aku berpikir kalau Fera berencana membuat orang mengira kalau hanya dialah yang selamat dari peristiwa kebakaran itu.”

Aku mengernyitkan dahiku dan masih bingung dengan cerita Rena.
“Kau tau kenapa Fera hanya membakar sebagian rumahnya?”
Aku menggeleng.
“Fera ingin membuat orang-orang percaya kalau kau mati akibat kebakaran itu.”
“Aku masih tidak mengerti.”
“Mayat ayahmu.”
“Maksudmu?”
“Di kamar Fera ada mayat ayahmu. Jadi dia sengaja membakar kamarnya agar mayat ayahmu gosong dan tidak dapat dikenali lagi dan membuat orang mengira bahwa itu adalah kau.”
“Bagaimana jika pihak rumah sakit mengotopsinya?”
“Dia pasti menolak. Keluarga mempunyai hak untuk tidak mengotopsi korban.”
“Lalu?”
“Lalu dengan begitu orang-orang akan berpikir kau sudah mati dan dia dapat membawamu dengan tenang. Fera akan pergi dari sini bersamamu namun orang-orang akan berpikir dia pergi sendiri. Dengan begitu dia akan leluasa menyekapmu tanpa diketahui orang.”

“Jadi? Apa tujuanmu menculikku?”
“Aku hanya ingin membuat sebuah bukti yang kuat agar Fera tidak dapat mengelak lagi. Aku punya firasat dia akan menyusulku ke rumah. Itulah kenapa aku selalu mengintip melalui jendela. Ketika aku melihat Fera berada di depan gang rumahku, aku langsung menjalankan aksiku. Aku memberi kesempatan Fera untuk menculikmu kembali. Aku pergi keluar dan dengan sengaja menjatuhkan kunci rumahku. Aku tak menyangka Fera akan tertipu dengan permainan kecilku. Lalu kubiarkan dia membawamu.”

“Lalu bagaimana kau menemukanku?”
“Coba periksa kantong celanamu?”
Aku memeriksa kantongku dan menemukan sebuah alat kecil.
“Itu adalah alat pelacak buatanku. Aku meletakkannya tanpa kau sadari. Ketika Fera sudah pergi, dengan segera aku pergi ke kantor polisi. Aku menunjukkan pada mereka alat pelacakku. Kami terus mengikuti sinyal dari alat pelacak itu. Sampai akhirnya kami tiba disini. Dan untunglah Fera belum melakukan sesuatu yang buruk padamu.”

“Ya untung saja. Aku sempat berpikir kalau aku akan menghabiskan sisa hidupku di tangan psikopat itu. Tapi tunggu dulu, kenapa kau tidak memberitahuku tentang rencanamu ketika aku berada di rumahmu? Kau bisa mengatakannya kepadaku, bukan? Dengan begitu aku tidak akan berpikir buruk padamu.”
“Awalnya aku memang ingin memberitahumu namun aku urungkan niatku. Karena aku takut akan kehilangan fokusku pada Fera. Kau tidak tahu kejadian ketika kau pingsan. Akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjelaskan padamu. Jadi kupikir lebih baik tidak memberitahumu. Aku tahu kau akan membenciku ketika kau mengetahui aku telah menculikmu. Aku benar-benar minta maaf Alvin. Sungguh aku tak tega melihatmu dalam keadaan terikat. Aku ingin sekali melepaskan semua ikatanmu tapi aku tak bisa. Aku harus mengumpulkan bukti demi keselamatanku dan dirimu. Sekali lagi aku minta maaf,” katanya penuh sesal.
“Tak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena telah salah menilaimu,” ucapku.
“Untuk apa kau meminta maaf. Wajar kalau kau berpikir seperti itu. Jika aku berada dalam posisimu aku akan berpikir begitu.”

“Kalau begitu terima kasih. Terima kasih karena telah menyelamatkanku. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih Rena,” ucapku.
“Kau tak perlu berterima kasih sebanyak itu padaku,” ucapnya dengan muka yang mulai merah.
“Kau benar-benar cerdas Rena. Aku tak tahu bagaimana kau mengetahui rencana Fera.”
“Sebenarnya itu hanya analisaku saja.”
“Tapi analisamu sangat tepat. Kau sudah seperti detektif sejati.”
Kami tertawa bersama.

Polisi dengan segera mengautopsi mayat kedua orangtuaku. Aku benar-benar sedih melihat kondisinya. Mayat ayah yang sudah gosong dan ibuku hanya tinggal tulang belulang saja. Polisi mempertemukanku dengan keluarga ayah dan ibu. Aku bertemu dengan kakek, nenek, om serta tanteku. Mereka bahagia mengetahui bahwa aku masih hidup. Aku juga bahagia bertemu dengan mereka. Bagaimana nasib Fera? Fera harus membayar semua kesalahannya. Pengadilan memutuskan hukuman mati kepadanya. Aku bersyukur karena Fera mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya.

Selesai diautopsi, jenazah orangtuaku dikuburkan. Rena juga datang ke pemakaman orangtuaku. Aku berterima kasih lagi padanya karena jika Rena tak ada aku tak tahu bagaimana nasibku. Rena tersenyum mendengar perkataanku. Senyumnya sungguh indah membuat hatiku berdebar-debar. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Entahlah. Biarkan rasa ini tumbuh dengan sendirinya. Aku dan keluargaku pergi meninggalkan pemakaman. Sekarang aku harus melupakan masa lalu dan membangun kembali kehidupan baruku bersama keluargaku yang sesungguhnya.

The End

Cerpen Karangan: Siti Aisyah (Polar Bear)

Cerpen Ibu (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Alam

Oleh:
“Aku ingin kamu selalu ada dekat aku sayang, Oh iya, Jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku duluan, kamu janji ya sayang jangan pernah lupain aku..” ujar sarah pada kekasihnya

Marcen (Part 2)

Oleh:
Seperti mimpi buruk yang datang dalam tidurku semalam. Aku terus memimpikan bagian buram dari masa lalu yang tidak pernah jelas ketika ingin kuingat. Aku bangun dengan tergegas memastikan ini

Beauty and Not The Beast (Part 2)

Oleh:
Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *